UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.294 - Kedatangan Pemburu Iblis



Terpaksa Felix yang tinggal di Mundclariss untuk berjaga. Tapi bukannya berdiam diri di kamar menatap monitor saja melainkan keluar berjalan. Membawa handphone bersama Tiga Kembar yang ditinggalkan di kamar asrama karena Mertie bisa saja mendapat sesuatu yang dilewatkan oleh Felix.


Felix memang membawa laptop tapi menurutnya menyebalkan melihat itu seharian. Menurutnya itu membuang-buang waktu dan lebih baik menunggu kabar saja. Lain lagi menurut Mertie kebalikan dari Felix yang menganggap hal itu serius dan tidak ingin melewatkan sedetikpun pengawasan.


Saat ini Felix sedang berada di atas sebuah atap rumah yang tidak ada pemiliknya. Bagian perumahan yang akan segera diratakan karena akan dibangun apartemen disana. Felix duduk dan memperhatikan sekitarnya. Memang tidaklah berada di tempat yang begitu tinggi tapi setidaknya memudahkannya untuk melihat apa yang ingin dilihatnya. Bisa melihat sekaligus sekeliling bangunan tinggi dan bangunan biasa lainnya.


"Siapa yang berjaga?" tanya Mertie lewat pesan.


Felix hanya menjawab dengan tanda titik karena malas mengetik tapi itu sudah cukup menjawab pertanyaan Mertie.


Felix merasakan ada yang baru saja melewati garis dari batu permata emerald. Felix menutup matanya dan matanya terbuka dari batu permata emerald itu melihat di atas tanah ada sekumpulan Iblis yang sedang berjalan di Mundclariss menuju bagian selatan dari Provinsi Eartha yakni tempat Tan menyimpan batu permata.


"Ada apa mereka kesana?" tanya Felix dalam hati.


Pesan masuk membuat Felix membuka matanya dan menjadi tidak fokus. Felix berusaha kembali tapi pesan kedua masuk lagi dan diikuti panggilan masuk setelahnya.


"Ada apa?" jawab Felix sebal.


"Ada orang asing yang baru saja lewat masuk ke dalam Desa Kimber dengan membawa sesuatu di punggungnya ...." kata Mertie.


"Itu bisa saja cuma alat musik atau alat lainnya." kata Felix.


"Aku tahu bagaimana membedakannya! dan ini kelihatan seperti sebuah senjata ...." kata Mertie kesal.


Felix akhirnya membuka laptop dan memeriksa apa yang dimaksud oleh Mertie, "Berapa menit yang lalu?" tanya Felix.


"8 menit lewat 3 detik." jawab Mertie.


Felix memutar ulang ke waktu yang disebutkan oleh Mertie, "Aku akan kesana, sekarang!"


"Benar kan yang kubilang ...." kata Mertie.


"Entahlah, tapi akan aku periksa." kata Felix.


"Kau sendirian saja? tidak mau kutemani?" tanya Mertie.


"Memangnya kau bisa membantu apa?!" kata Felix menohok.


"Wah, perkataanmu itu seperti pisau saja." kata Mertie.


Felix menutup laptop dan memasukkannya dalam tas. Saat ingin melompat turun dari atap rumah, Felix melihat sekeliling dahulu.


"Aku masih tidak bisa melihat apa-apa." kata Felix merasa membuang waktunya naik ke atas atap rumah.


"Saat menjadi Caelvita resmi kau akan bisa melihatnya." kata Iriana.


"Sulit rasanya kalau menggunakan suara, dengan melihat pasti akan lebih mudah ...." kata Felix.


"Kau mungkin berpikir begitu sekarang ... tapi tunggu setelah kau bisa melakukannya." kata Iriana.


Felix menyampaikan apa yang baru saja dilihatnya dengan Mertie pada Tiga Kembar dan mengatakan akan segera ke Desa Kimber.


"Aku juga akan kesana menyusul!" kata Tom.


"Hah? kau harus disini membantuku menangkap kadal itu!" kata Teo kesal.


"Aku harus kesana!" Tom bersikeras.


"Sangat keras tapi bisa menjadi begini juga ...." kata Felix.


"Hah? apa maksudmu Felix?" tanya Tan.


"Tidak, aku tidak berbicara dengan kalian!" jawab Felix.


"Lalu kau berbicara dengan siapa?" Teo heran.


"Aku berangkat!" Tom mengambil tasnya dan mulai bersiul memanggil kudanya.


"Kau ini kenapa?! kau sedang mau lari dari pekerjaan ya?!" teriak Teo.


"Memangnya aku ini kau?!" balas Tom.


"Hati-hati ...." kata Tan.


"Hati-hati?!" Teo heran bagaimana Tan bereaksi biasa-biasa saja, "Semoga kau jatuh dari Ackerley!" Teo menyumpahi.


"Tuan Muda ...." kata Ackerley.


"Iya?" sahut Teo menjeda kalimat Ackerley.


"Itu tidak akan terjadi!" sambung Ackerley membuat Teo sebal.


"Kuda dan orangnya sama persis!" kata Teo.


"Tentu saja, kuda itu mencerminkan diri dari seorang." kata Tan.


***


"Begitu yang kudengar dari Duxvilbus." jawab Ackerley.


"Kenapa rasanya cepat sekali? Duxvilbus apa pernah membuat kesalahan?" tanya Tom turun dari Ackerley.


"Memang saya cepat soal berlari Tuan Muda dan Duxvilbus tidak mungkin pernah salah karena merupakan inti dari sebuah desa atau penjaga desa yang memberi petunjuk jalan dan terhubung pada semua kuda yang ada di Mundebris. Walau penjaga desa masih belum bangkit sekarang tapi ada sistem yang dipakai untuk membuatnya tetap bisa berfungsi." jawab Ackerley.


"Semacam gps ya?! baiklah, kau boleh kembali ...." Tom memanggil Gerbang Alvaudennya untuk memasuki Mundclariss. Setelah tiba Tom melihat jamnya menunjukkan pukul 8 malam lewat. Berarti ia menghabiskan sekitar 15 menit di Mundebris dan 8 menit perjalanan dengan Ackerley. Tepatnya 6 jam ditambah 3 jam waktu Mundclariss, "Padahal baru saja tadi siang rasanya ...." Tom masih belum bisa terbiasa dengan perubahan waktu padahal ini bukan pertama kalinya.


"Felix? kau dimana?" tanya Tom.


"Masuklah ... aku ada di dalam desa." jawab Felix.


Tom memasuki Desa Kimber yang sedang terlihat ramai dan berisik tidak seperti biasanya, "Ada acara apa?" tanya Tom.


"Ada acara ulang tahun." jawab Felix yang terlihat sedang duduk santai dan melambaikan tangannya untuk menunjukkan dirinya pada Tom.


Tom melihat Felix yang memakai Idibalte, "Kau tidak terlihat ya ...."


"Tom!" sapa seseorang.


"Nek Hylmi?!" Tom kaget.


"Kau kabur lagi dari rumah? kau tidak tahu bagaimana khawatirnya aku saat kau tiba-tiba menghilang saat kejadian mengerikan itu terjadi ...." kata Nek Hylmi yang perlahan suaranya menjadi semakin rendah karena tidak ingin orang lain mendengar ada yang membicarakan tentang kejadian yang baru saja terjadi itu. Di desa masih sensitif jika menyangkut soal kejadian baru-baru itu.


"Kabur dari rumah?" tanya Felix menyeringai.


"Jadi apa yang terjadi disini?" tanya Tom.


"Nenek disebelahmu itu merayakan ulang tahunnya yang ke 80!" jawab Felix.


"Nenek ulang tahun ...." kata Tom kaget setelah mendengar perkataan Felix.


"Iya, ada bagusnya kau kabur ... ayo, nenek punya banyak makanan enak untukmu!" Nek Hylmi menyeret Tom.


"Enak, ya?!" Felix datang di dekat Tom yang sedang makan.


"Makanya perlihatkan dirimu!" kata Tom.


"Aku tidak mau mengambil resiko ...." kata Felix bersandar.


"Jadi ... apa? dimana orang itu?" tanya Tom.


Felix mengarahkan pandangannya pada seseorang yang sedang duduk sendirian padahal yang lainnya sedang sibuk mengobrol berkelompok, ada yang bernyanyi atau menari. Hal yang biasa dilakukan orang desa jika sedang ada pesta.


"Sangat kentara kalau dia itu orang asing, bagaimana dia bisa masuk kesini?" tanya Tom.


"Nenek yang berulang tahun itu mengizinkan masuk karena senang bisa berbagi makanan ...." jawab Felix.


"Hahh ... sudah kuduga!" kata Tom.


"Orang itu ... bukan orang biasa!" kata Felix.


"Maksudmu ...." Tom mengira-ngira.


"Senjata yang disembunyikan di punggungnya itu adalah Pedang Aluias. Aku bisa merasakan batu permata berlian tertempel di pedang itu ...." kata Felix.


"Jadi, dia adalah keturunan asli dari Viviandem Aluias yang menjadi dongeng itu?" tanya Tom.


"Ya sepertinya begitu, tapi walaupun begitu ... auranya tidak ada aura Aluias sama sekali. Sudah waktu yang sangat lama sekali juga, mana mungkin ...." kata Felix.


"Apa yang dia lakukan disini?" tanya Tom.


"Aku membaca pikirannya tadi, tapi katanya akan ada yang dirasuki oleh Iblis disini ... kugali informasinya lebih lanjut tapi yang memberitahu tidak ada dalam ingatannya." jawab Felix.


"Aku sudah membuka kotak mainan di luar desa tapi tidak ada Iblis sama sekali. Apa jangan-jangan Iblis yang memanipulasinya?" kata Tom.


"Bukan, aku tidak merasakan atau melihat aura Iblis darinya ...." kata Felix.


"Jadi apa? saat ini seharusnya semua masih baik-baik saja karena Purgaedis baru saja terjadi." kata Tom.


"Efeknya sudah hilang, Tom." kata Felix jujur merasa bersalah.


"Hah? secepat itu? mana mungkin." kata Tom.


"Aku tidak ingin membuat kalian khawatir tapi efeknya hanya berlangsung selama sehari waktu itu ... Iblis sudah mulai kembali melakukan aktivitasnya dengan bebas lagi dan ada juga yang sedang menuju bagian selatan." kata Felix.


"Tapi ... tidak ada Iblis disekitar sini!" kata Tom heran kenapa Pemburu Iblis itu datang kesini.


Tas ransel Tom terlihat bergerak, Tom segera membuka tasnya dan melihat kotak mainan itu terbuka menunjukkan sebuah wajah Iblis yang familiar.


"Ditte!" kata Felix.


"Kenapa Iblis kepercayaan Efrain turun tangan sendiri?" tanya Tom sudah merinding.


...-BERSAMBUNG-...