UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.215 - Beban Sekaligus Peluang



"Ada apa ini?" tanya Felix datang setelah mendengar Cain meninggikan suaranya.


"Saya, pergi dulu ...." kata Dokter Mari pamit.


"Sudah kubilang tidak perlu formal begitu ...." kata Felix merasa tidak nyaman Dokter Mari bersikap begitu, bagaimanapun juga Dokter Mari lebih tua darinya.


Dokter Mari menghilang dengan cara yang sulit dan rumit, tidak seperti mereka yang hanya cukup menutup mata dan merapalkan kata Bemfapirav. Dokter Mari terlihat perlu memakan sesuatu, beberapa saat kemudian Dokter Mari terlihat kehilangan keseimbangan dan terjatuh kemudian menghilang. Sama seperti tadi saat datang membawa masker dan tabung oksigen yang berjatuhan kemana-mana karena pusing katanya.


"Kalau di Mundclariss disebut obat tidur, bukan obat tidur biasa yang hanya menenangkan tapi harus yang benar-benar kuat ... karena untuk masuk atau keluar dari Bemfapirav haruslah dalam keadaan tidak sadar!" kata Banks menjelaskan karena mereka terlihat kebingungan.


"Kalau, Banks masuk ke Bemfapirav bagaimana?" tanya Teo penasaran.


"Iblis bisa dengan mudahnya masuk dan keluar dari Bemfapirav sama seperti Caelvita dan Alvauden!" jawab Banks.


"Jadi yang perlu memakai obat tidur begitu hanya Setengah Viviandem?" tanya Tan.


"Biasanya ada juga manusia yang merupakan keturunan dari Setengah Viviandem yang menikah dengan manusia biasa ... anak mereka akan memiliki kemampuan untuk bisa masuk Bemfapirav dengan cara tertidur kemudian roh mereka masuk menjelajah Bemfapirav dan tubuh mereka ditinggal di Mundclariss ... Setengah Viviandem bisa masuk Bemfapirav dengan tubuh, walau harus memakai obat tidur dengan dosis yang tinggi seperti yang kalian lihat tadi ... sedangkan Viviandem hanya bisa masuk dan keluar dari Bemfapirav menggunakan pintu yang telah disediakan di lapangan pusat Kota Ruleorum dan diawasi oleh Petugas Ruleorum yang berjaga, yang bisa melewati pintu hanya yang punya surat izin. Karena Viviandem dilarang untuk masuk Bemfapirav secara ilegal ...." penjelasan panjang lebar Banks tentang ada manusia yang bisa masuk Bemfapirav, bagaimana Setengah Viviandem masuk Bemfapirav dan Viviandem yang lebih sulit lagi karena harus memiliki surat izin.


"Kenapa Viviandem tidak bisa bebas pergi sesuka hati ke Bemfapirav?" tanya Tom.


"Sama seperti manusia yang pergi keluar negeri harus mempunyai passport, Viviandem yang masuk Bemfapirav sama saja dengan memasuki negara lain. Dulu sekali pernah ada Viviandem yang memasuki Bemfapirav dan menghancurkan tatanan Bemfapirav, bagaimanapun juga Viviandem adalah Quiris Mundebris yang memiliki kekuatan yang hebat ...." jawab Banks.


"Sepertinya kita harus mempelajari peraturan lebih banyak lagi ...." kata Tan.


"Tapi, hebat juga Banks! bisa mengetahui banyak tentang Mundclariss ...." kata Tom yang mendengar Banks tahu tentang passport.


"Semua yang ahli dalam menyembuhkan termasuk Daemonimed salah satunya diberi keleluasan untuk mengetahui banyak pengetahuan tentang dunia lain ...." kata Banks.


Cain daritadi hanya diam dan tidak tertarik sama sekali ikut dalam percakapan. Tan menceritakan kejadian tadi diam-diam pada Felix tanpa sepengetahuan Cain.


"Wajar, Tuan Muda ...." kata Banks yang tidak sengaja mendengar, "Biasanya semua Alvauden yang memiliki pedang Orogla tidak akan menyukai bila mendapat bantuan karena pemilik pedang Orogla adalah pemimpin dari Alvauden ...." sambungnya.


"Seharusnya pemimpin memang mendapat bantuan sebanyak mungkin, pemimpin seharusnya memang diikuti oleh banyak orang ...." kata Tan tidak mengerti.


"Pemimpin Alvauden cenderung tidak mempercayai Quiris lain dan hanya mempercayai sesama Alvauden ... ada yang bilang kalau itu karena pengaruh Orogla ...." kata Banks.


"Cain bukanlah orang yang seperti itu ... kau tahu kan Felix, bagaimana dia punya banyak teman ... di sekolah tidak ada yang tidak mengenalnya!" kata Tan.


"Dia tidak berubah ... jangan khawatir!" kata Felix.


"Tapi, perlahan rasanya Cain menjadi orang lain saja ...." kata Tan tidak terbiasa dengan Cain yang seperti itu.


"Kau lebih lama mengenalnya dibanding aku ... pasti tahu bagaimana Cain selama ini, dia bukanlah seseorang yang dengan mudahnya berubah ...." kata Felix.


"Aku harap begitu ...." kata Tan lesuh.


Tidak terasa sudah hari kelima belas, pasangan pemain ke 37. Haera datang ke atas meja Cain tepat di atas buku yang sedang dipelajari, Cain menggeser Haera sedikit ke tengah dekat meja Felix.


"Kau sudah makan?" tanya Cain.


Cain mengelus-elus bulu Haera sambil mendengar penjelasan dari Bu Janet.


"Tidak ada masalah dengan pemain kan?" tanya Felix.


Haera mengangguk dan mulai tidur di atas tangan Cain. Teo sudah sangat gemas melihat Haera tapi ditahan karena kelas masih berlangsung.


Felix ingin menanyakan alasan kenapa Cain bersikap dingin pada Dokter Mari. Meski sedang marah tapi tidak seharusnya sampai harus melakukan itu juga. Terlebih lagi Cain bukanlah seseorang yang tidak menyukai dibantu. Malah tujuan Cain memiliki banyak teman adalah untuk itu, jika membutuhkan sesuatu banyak yang bisa dimintai tolong. Tapi Felix juga tidak bisa menanyakannya.


Tidak dapat dipungkiri memang Cain lama kelamaan seperti menjadi orang lain, tapi jika dipikirkan pasti Cain memiliki alasan untuk itu. Menjadi Leaure Sejati dan Pewaris Sementara Pusaka Papan Permainan Tukar Kematian adalah beban berat sekaligus sebuah peluang untuk mengetahui banyak pengetahuan.


Haera memiliki pengetahuan dari Dicoisvi sebelumnya sedangkan Cain memiliki kekuatan untuk pergi ke waktu manapun. Gabungan kedua itu bisa membuka jalan bagi Cain untuk menjadi Quiris hebat yang tak tertandingi. Memiliki masa lalu dan bisa membuat masa depan yang diimpikan.


Kramer dan Linn terlihat terus mengamati dari kejauhan. Bagaimanapun juga FCT3 tidak berhasil membuat alibi saat kebakaran terjadi karena kejadian tidak terduga, tidak bisa kembali ke panti dan harus melewatkan satu hari langsung ke sekolah tanpa dilihat keluar dari panti disaat Kramer dan Linn setia menunggu di luar panti. Tidak heran jika mereka sudah sangat yakin. Bagaimana bisa mereka bisa pergi sekolah tanpa kelihatan meninggalkan panti. Begitulah kesimpulan mereka berdua.


Putra dari Lander seharusnya terpuruk setelah membakar perusahaannya sendiri tapi anehnya tidak. Bahkan tidak ada masalah finansial sama sekali, tidak ada berita bahwa dia bangkrut. Malahan semakin sukses saja dan kini membangun kembali gedung perusahaan penyiaran yang lebih besar dari sebelumnya di tempat yang berbeda. Sementara gedung lama tetap dibiarkan terbengkalai.


Felix pernah lewat dan mendengar apa yang dipikirkan Kramer dan Linn, katanya mereka ingin mengungkap jati diri sebenarnya dari Felix dan Cain serta Tiga Kembar yang juga sudah diketahui identitasnya karena telah diberitahu oleh Efrain. Tidak sulit juga untuk menemukan Tiga Kembar, karena hanya mereka satu-satunya yang kembar tiga di sekolah itu yang lainnya hanya ada dua kembar.


Mertie yang membantu dalam permainan tukar kematian, seharusnya takut atau setidaknya merasa tidak nyaman untuk ikut membantu tapi ternyata semakin hari Mertie kagum dengan FCT3 walau tidak diperlihatkan. Dia juga mulai mengembangkan dan memperluas keahliannya dalam menggunakan teknologi yang bisa mempermudah dalam melakukan suatu hal.


Haera terbangun tiba-tiba dan langsung berdiri menatap ke arah pintu. Felix melihat Cain yang tidak berhenti merinding.


"Ada apa?" tanya Felix.


"Ada yang baru saja datang!" sahut Cain.


Tak lama kemudian terdengar ada suara teriakan dari kelas lain yang tidak jauh dari kelas Felix dan Cain berada.


"Aura yang sama seperti yang meninggalkan potongan jari kelingking!" kata Cain.


"Seperti Magdalene?" tanya Felix.


Semua anak-anak dari kelas terlihat berlari berhamburan keluar dari kelas itu.


"Ada apa? ada apa?" tanya Dea membuka jendela kelas bertanya dengan cerianya.


"Ada potongan jari kelingking seperti Magdalene dulu!" jawab salah satu murid yang berlari.


"Siapa yang menghilang?" tanya Parish.


"Tidak ada yang menghilang!" sahut anak-anak yang berlarian di luar kelas.


"Eh?!" Teo dan Tom bingung.


...-BERSAMBUNG-...