
"Sampai kapan kita akan berjalan dilorong emas ini?" tanya Tom yang dipenuhi keluhan.
Awalnya Tiga Kembar terlihat terpana dengan pemandangan lorong itu tapi setelah lama berjalan membuat mereka muak karena sudah terlalu lama berjalan. Bahkan Tan yang penyabar sudah mulai memasang wajah tidak nyaman.
Memasuki Mundebris mereka langsung disambut oleh pohon berwarna-warni seperti pelangi. Setiap daunnya bervariasi warna dalam satu tangkai. Disaat Tiga Kembar mengagumi pemandangan itu, Cain langsung menarik napas dalam dan mulai menenangkan dirinya.
Tak lama peri kecil berdatangan dan mulai berbaris dihadapan Cain, "Ada apa Tuan Muda?" tanya salah satu peri kecil yang kelihatan terburu-buru sampai-sampai sayapnya ada yang terluka sedikit.
"Apa disekitar sini ada Unimaris besar? yang bisa dipakai secepatnya untuk pergi ke Istana Besar Emerald? atau apapun itu yang bisa digunakan sebagai transportasi?" tanya Cain.
"Sesuatu benar terjadi dengan Caelvita?" tanya rumput dekat kaki Teo. Teo yang masih tidak siap untuk melihat dan menerima hal aneh dihadapannya langsung melompat ketakutan, diikuti Tom dan Tan yang langsung mendekati Cain.
"Ya!" Cain menjawab sambil memandang bulan yang tertutupi awan hitam sebagian.
Para peri terlihat mengerti dan membagi kelompok menjadi dua. Kelompok pertama yang mencari Unimaris atau kendaraan lainnya yang bisa dipakai, sementara kelompok kedua untuk mengambil air.
Kelompok kedua cepat datang dengan membawa gelembung air besar dengan dibawa secara berkelompok.
"Aku tidak apa-apa! yang sangat berpengaruh adalah tanaman yang ada di Istana Emerald!" kata rumput yang disirami air.
"Pohon ini tidak disiram?" tanya Tom.
"Itu hanya pohon hiasan atau pohon palsu! tidak ada gunanya menyiraminya!" kata Cain terlihat sudah tidak sabar menunggu kelompok pertama.
"Cain, mungkin ini bukanlah waktu yang tepat tapi bisa tidak kau ceritakan sedikit apa yang sedang terjadi dan bagaimana ini bisa terjadi?" kata Tan terlihat frustasi.
"Ya! buat kami mengerti!" sambung Teo.
Saat Cain ingin berbicara, kelompok pertama peri kecil itu datang dengan sosok Unimaris yang familiar dibelakang peri kecil yang ikut terbang.
"Duarte!" kata Cain tidak menyangka.
"Tuan Muda! ooooh ... Alvauden yang lain?" kata Duarte heboh.
"Alvauden? ketiga lainnya itu juga Alvauden?" tanya peri kecil.
"Karena Caelvita sedang terluka dan diambang kematian tanda Alvauden yang ada di dahi meredup!" kata Duarte.
"Begitu ya? makanya tanda Alvauden Tuan Muda Cain juga tidak terlihat ...." kata peri kecil baru menyadari.
"Berarti untuk memastikan Felix sudah baikan adalah dengan tanda Alvauden kami muncul kembali?" tanya Cain.
Duarte membesarkan ukurannya, "Ayo kita cepat munculkan kembali Mahkota Alvauden!" kata Duarte menundukkan dirinya agar mudah dinaiki.
Teo dan Tom enggan menaiki Duarte membuat Duarte jadi tertawa, "Walau saya adalah kelelawar tapi tidak berbau seperti kelelawar yang ada di Mundclariss ... dunia manusia maksud saya!" Duarte tahu jika mereka itu masih tidak tahu istilah Mundebris.
Tan menarik Teo dan Tom dengan paksa, Cain sudah naik daritadi diatas punggung Duarte.
"Oh iya ya!" Teo dan Tom mengendus bau Duarte.
"Jangan lupa sembuhkan sayapmu itu!" kata Cain pada peri yang terluka tadi.
"Tuan Muda Felix sedang terluka tapi tetap bisa setenang ini hehe ... dan mengkhawatirkan orang lain ...." kata Duarte.
"Kau yang terlihat sangat bahagia begitu tidak berhak mengkritikku!" kata Cain.
"Bagaimana bisa kau ada didekat sini?" tanya Cain.
"Tuan Muda Felix memerintahkan agar mengawasi diam-diam guru-guru Setengah Sanguiber! kebetulan saja hari ini saya jadwalnya kesini ... seperti sudah ditakdirkan saja ya hehehe ...." kata Duarte memaksakan tertawa, "Tapi apa tidak apa-apa membawa ketiga Tuan Muda kembar masuk ke Mundebris dan mengetahui semuanya? Tuan Muda Felix terus menerus mengkhawatirkan mereka bertiga agar tidak menginjakkan kaki disini tapi saya yang terus menerus mendengar keluh kesahnya malah menjadi salah satu yang paling awal menyapa ...."
"Jika saja tidak dilarang Felix, sudah lama aku memberitahu mereka!" kata Cain.
"Tuan Muda Felix sudah mengetahui hal itu!" kata Duarte tertawa.
Sayangnya ekspresi lucu Tan, Teo dan Tom saat Duarte beralih ke kecepatan cahaya tidak bisa Cain lihat karena sudah tidak memikirkan hal lain selain bisa secepatnya sampai.
"Tadi katanya kita akan ke istana? mana istananya?" tanya Tom.
"Kita tidak bisa melihatnya! hanya Felix seorang yang bisa melihat ...." kata Cain segera melompat bahkan saat Duarte belum mendarat.
Terlihat para peri sudah banyak yang berkumpul menyirami tanaman yang sudah layu. Lapangan yang biasanya selalu berwarnakan hijau segar itu kini berubah menjadi kering. Para peri sudah terlihat kelelahan, pasti sudah berulang kali bolak balik mengambil air.
"Bahkan tanpa kita sudah ada yang menyiramnya?" tanya Tan.
"Tapi jika Alvauden yang menyiram akan berbeda!" kata rumput yang sudah terlihat akan mati itu.
Teo dan Tom sebisa mungkin menjinjitkan kakinya agar tidak menginjak tanaman apapun.
Betul yang dikatakan rumput tadi bahwa jika Alvauden yang menyiram akan berbeda dengan peri yang sudah berusaha keras dari tadi. Sesaat setelah Cain menyirami air, tanaman itu langsung berubah menjadi segar kembali.
"Tulusnya perasaan seorang Alvauden pada Caelvita akan membuat keajaiban!" kata Duarte.
Tan, Teo dan Tom semakin bersemangat menyirami semua tanaman yang ada disana, bahkan yang terkecil sekalipun. Tak lama semua tanaman perlahan kembali sehat seperti semula.
"Ooooh!" Teo dan Tom saling menunjuk dahi.
"Inikah yang dinamakan tanda Alvauden?" tanya Tan.
Duarte mengangguk saking bahagianya, "Lihat! sudah kuduga ... semuanya akan baik-baik saja kan!" Duarte menabrakan dirinya pada pipi Cain.
"Bisakah kau ke tempat Felix berada sekarang untuk mengeceknya?" tanya Cain masih kurang percaya.
"Saya tidak bisa pergi ke tempat Tuan Muda Felix tanpa di panggil karena saya bukan Unimaris resmi tapi hanya Unimaris ... em bagaimana menjelaskannya ya ... em ... ah, sewaan! seperti itu ...." kata Duarte.
"Dia sudah baikan!" suara Iriana menggema dari arah belakang tempat istana berada.
Tan, Teo dan Tom akhirnya bisa bernapas lega dan membaringkan dirinya tanpa sadar jika rumput yang ditempatinya baring itu hidup.
"Rasanya kami sudah harus menerima penjelasan!" kata Tan.
Cain melirik Duarte untuk menyuruh dia yang bercerita, "Tuan Muda akan membunuhku!" kata Duarte heboh.
"Hahh ... baiklah! biar aku saja ...." Cain mengehela napas panjang dan mulai menceritakan segalanya. Tiga Kembar ingin tidak percaya tapi bahkan saat ini saja sedang berada di dunia yang seperti dongeng ini mau tidak mau hanya bisa percaya.
"Jadi jika kejadian hari ini tidak pernah terjadi, kami tidak akan pernah tahu apa-apa?" tanya Teo.
"Bukan hari ini tapi empat hari yang lalu! sudah empat jam waktu Mundebris berlalu ...." kata Cain santai membuat panik Tan, Teo dan Tom.
...-BERSAMBUNG-...