UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.203 - Tidak Diberi Istirahat



Baru kali ini mereka melihat sisi Teo yang sangat serius. Biasanya jika serius tetap saja akan ada candaan yang menyelip, tapi kali ini Teo benar-benar serius. Seharusnya Felix merasa bangga karena Teo sudah mulai berpikiran serius tapi malah itu membuatnya merasa bersalah. Teo yang ceria perlahan juga sudah mulai tenggelam dalam penderitaan beratnya sebuah anggung jawab.


Daisy pulang saat mereka akan berangkat ke sekolah, "Ini, kalian sarapan di bus!" Daisy menyerahkan bungkusan toast bread yang singgah dibelinya tadi di perjalanan pulang. Untuk dirinya dan untuk FCT3 juga.


"Tumben ibu pulang?" tanya Tom.


"Ibu juga bingung ... kenapa ya pulang?!" sahut Daisy tidak jelas.


"Gelang ibu dimana?" tanya Felix.


"Ah, itu ... hilang! sepertinya saat pergi ke TKP kemarin ...." jawab Daisy.


Felix mengeluarkan gelang buatannya dari dalam tas ranselnya. Felix sudah membuat banyak gelang cadangan jika terjadi sesuatu seperti saat ini.


"Jadi ini ... kau yang buat ya? Marissa itu ...." kata Daisy kesal, "Felix ...." kata Daisy terus memanggil karena Felix hanya diam saja masih memegang pergelangan tangannya.


"Felix!" Cain menepuk bahu Felix.


"Ayo berangkat!" kata Tan sudah lama membuka pintu.


Felix terakhir keluar dari rumah dan yang terakhir menutup pintu, "Yang ingin ibu lakukan, bisa tidak ibu tidak lakukan?!" kata Felix.


Daisy tertawa kecil, "Tidak usah mengkhawatirkan orang dewasa! kalianlah yang jangan melakukan hal yang berbahaya ...."


***


Di bus mereka sarapan sambil berdiri karena tempat duduk semuanya penuh.


"Kau membaca pikiran Bu Sissy kan?" tanya Cain.


"Bagaimanapun juga ... Bu Sissy sepertinya pasti akan mengalami kejadian buruk lagi!" jawab Felix.


"Memangnya ibu itu punya 9 nyawa, ya?! kenapa tidak takut sama sekali melakukan hal yang beresiko dan tentunya berbahaya ...." kata Teo.


"Aku tidak terlalu khawatir karena ibu punya umur yang panjang jika dilihat dari buku takdirnya tapi bagaimanapun juga kita tidak bisa membiarkannya terluka ...." kata Felix.


"Bu Sissy memang suka sekali menantang bahaya, seperti tidak ada takutnya sama sekali!" kata Tom.


"Mungkin Bu Sissy kira kalau terluka tidak akan terasa sakit ...." kata Teo membuat yang lainnya tertawa.


"Oooi Os!" teriak Teo dan Tom dari jendela bus.


"Ooo ToTeo! Halo juga Tan!" balas Osvald sambil melambaikan tangan.


Bus berhenti di halte bus dekat sekolah, Teo dan Tom langsung menyapa teman dekatnya itu.


"Hanya kau yang tidak punya teman lain selain kami!" kata Cain pada Felix.


"Punya banyak teman juga tidak baik ...." kata Felix.


"Itu hanya anggapanmu saja! kalau memang kau berpikir begitu, punya banyak teman juga tidak ada buruknya ...." kata Cain.


"Memiliki teman juga sama dengan memiliki tanggung jawab! bukan hanya sekedar berteman saja tapi ada tanggung jawab juga yang harus dilakukan ... harus bisa menyapa, mengajak berbicara, mengajak jalan, melakukan hal bersama ... memikirkannya saja sudah menyusahkan!" kata Felix.


Cain dan Tan tertawa mendengar pemikiran Felix yang rumit itu soal hubungan pertemanan.


"Ya ... ya ... tidak usah! jangan lakukan!" kata Cain masih tertawa, "Kau ini kaku sekali! sangat membosankan ...."


Parish datang dari belakang dan langsung merangkul Tan. Kini tinggal Cain yang menemani Felix berjalan.


"Lihat kan, kalau tidak ada aku bagaimana?!" kata Cain masih ingin merubah pikiran Felix untuk mencari teman dekat lainnya juga.


"Kalian sudah lebih dari cukup untukku ...." kata Felix.


***


Hari ini memang tidak ada berita menggemparkan berupa kejadian yang bisa dicegah tapi mereka tetap was-was dan terus melihat ke arah gerbang sekolah. Memang keamanan sekolah sudah sangat ketat, Pak Acton juga tidak sendirian lagi menjaga gerbang. Telepon darurat dari kepolisian telah di pasang di sekolah, jadi jika terjadi sesuatu polisi akan langsung datang secepatnya. Perjalanan ke sekolah dan pulang dari sekolahlah yang membuat mereka khawatir karena di sekolah mereka bisa terjamin aman tapi di jalan tidak.


Perjalanan damai dan membosankan yang tiap hari dirasakan Felix, Cain dan Tiga Kembar. Malam itu berubah menjadi perjalanan paling menegangkan. Mereka dihadang oleh lima iblis sekaligus yang sudah siap sedia dengan senjata di bahu mereka. Karena masih di depan gerbang sekolah maka masih banyak siswa/siswi Gallagher yang lewat. Tidak bisa langsung mengeluarkan senjata dan melawan. Akhirnya mereka mengambil jalan yang berlawanan arah.


"Kalian mau kemana? tidak langsung pulang?" tanya Parish.


"Iya, mau ke pusat kota dulu ...." jawab Tan.


Tapi kelima iblis itu datang menghadang mereka lagi. Kini mereka hanya bisa diam mematung, menunggu sampai semuanya sudah menjauh.


"Ada Pak Acton dan penjaga baru! bagaimana ini?!" tanya Tom.


"Ayo kita lari!" kata Felix lewat pikiran.


"Eh ... eh? lari kemana?" tanya Teo panik.


"Apa sebaiknya kita masuk Bemfapirav saja?" tanya Tom.


"Bemfapirav? kita akan langsung disambut oleh Perkumpulan Setengah Sanguiber ... hehh? iya ya ada mereka! ayo kita kesana!" jawab Felix baru terpikirkan ide bagus dari Tom, "Kalian siap? dalam hitungan ketiga kita semua langsung berlari ke seberang jalan dan masuk ke Bemfapirav saat mereka mengejar kita! okey ... 1 ... 2 ...."


"Apa ini kenapa kalian diam saja?" tanya Iblis seperti meremehkan.


"Berani-beraninya kalian! walau mau melawan kami ... setidaknya beri hormat dulu pada Caelvita!" kata Cain membalas ejekan iblis itu dengan candaan.


"Apa Caelvita dan Alvauden 119 tidak punya nyali?!" kata Iblis mulai tertawa.


"Kenapa kalian tidak pulang?" tanya Pak Acton.


"3!" kata Felix lewat pikiran dan mereka semua langsung berlari ke tengah jalan yang sedang banyak mobil berlalu lalang. Rupanya Felix menunggu lampu hijau dengan banyak mobil yang melintas. Klakson dan bunyi rem dadakan dari mobil memeriahkan pelarian mereka malam itu.


"Hati-hati!" teriak Pak Acton.


Mereka berhasil ke seberang jalan sedangkan iblis masih ada di tengah jalan. Melihat itu, mereka menjadikan itu sebagai kesempatan untuk masuk Bemfapirav. Banyaknya mobil berlalu-lalang menyembunyikan pelarian mereka. Tapi setelah memasuki Bemfapirav mereka dikagetkan oleh banyaknya setengah Sanguiber yang sedang lewat di dekat mereka.


"Hahh?! bagaimana ini?" Teo panik.


"Lihat kaki kalian!" seru Felix.


"Sejak kapan?" tanya Tan.


"Sempat-sempatnya kau melakukan ini! terimakasih Cain!" kata Teo memeluk Cain yang ternyata membuatkan mereka garis pelindung jadi tidak terlihat.


"Saat berlari tadi, Cain sudah mulai membuat garis hingga ke sampai ke seberang jalan garis pelindung sudah selesai dibuat!" kata Tom yang mengamati pergerakan Cain.


"Kau ini ... bisa tidak, setidaknya berpura-pura terkejut?! lihat bagaimana reaksi Teo yang sangat bagus!" kata Cain.


"Jadi, itulah kenapa kau lari memutar bolak balik tidak jelas, kukira kau sudah gila!" kata Teo.


Kelima iblis itu juga ikut memasuki Bemfapirav tapi karena Cain memasang garis pelindung level dua jadi mereka tidak kelihatan. Semua setengah Sanguiber berkumpul karena kedatangan mendadak dari lima iblis.


"Ada apa ini?! berani-beraninya kalian datang tanpa pemberitahuan sama sekali?!" teriak seseorang yang sepertinya pemimpin setengah Sanguiber tapi wajahnya tidak kelihatan karena tudung yang menutupi.


"Dasar penghisap darah! memangnya kalian punya hak apa melarang kami kesini?!" balas Iblis yang sama sekali tidak takut walau saat ini sedang kalah jumlah.


"Perjanjian tetaplah perjanjian! daerah ini adalah wilayah kami!" semua setengah Sanguiber yang ada disana mengepung lima iblis itu dengan senjata masing-masing.


...-BERSAMBUNG-...