
Felix langsung tersungkur ke lantai panggung dengan menutup telinganya. Cain dengan cepat membantu dan meminta tolong pada Goldwin tapi Goldwin hanya diam saja, "Tidak ada yang bisa diperbuat! Tuan Muda sedang mendengar banyak pikiran sekaligus ... kupikir Tuan Muda sudah terbiasa dengan kekuatan itu?" kata Goldwin.
"Kukira Felix sudah bisa mengontrol kekuatan itu karena biasanya dia hanya memilih untuk mendengar pikiran siapa dan dimana. Tidak langsung sekaligus begini ...." kata Cain tidak tega melihat Felix saat ini.
"Kekuatan mendengarkan itu tidak bisa dikontrol dengan memilih siapa suara yang ingin didengar saja. Karena tugas Caelvita adalah mendengarkan semua suara. Tapi dengan begini menunjukkan kekuatan itu sudah bangkit!" kata Goldwin.
"Apa kita ke Bemfapirav saja dulu untuk istirahat?" tanya Cain pada Felix.
"Ti ... dak, Pak ... Egan a ... kan men ... cari ki ... ta!" kata Felix susah payah.
"Tapi dengan kondisi seperti ini, apa kau tidak apa-apa?" kata Cain.
"Jangan mengkhawatirkanku! aku tidak apa-apa!" Felix dengan memaksakan berdiri sendiri tanpa bantuan Cain, "Jika aku terus mengeluh ... bukannya menjadi kelebihan tapi malah akan menjadi kelemahan!" kata Felix dalam hati.
Cain hanya melihat dengan berat hati karena Goldwin melarangnya untuk mengasihani Felix yang sedang berjuang menerima bukan lagi melawan kekuatan mendengar itu.
Daisy yang kebingungan sendiri karena tertidur untuk pertama kalinya saat sedang bekerja langsung mencuci muka tapi lebih tepatnya terus menampar diri sendiri dan meminum minuman penambah stamina. Setelah itu langsung pergi mewawancarai Pak Gubernur Jagger, tokoh politik lain dan panitia acara.
"Kalian darimana saja?" tanya Pak Egan.
"Felix sakit pak!" kata Cain yang memang mengatakan yang sejujurnya.
"Sakit? sakit apa?" tanya Pak Egan lagi, meminta penjelasan tapi setelah melihat Felix yang melepas sapu tangan dari telinganya terlihat mengeluarkan darah, Pak Egan langsung panik, "Ayo kita ke Rumah Sakit cepat!"
"Tidak usah pak!" kata Felix, "Karena ini memang bukan untuk diobati tapi sudah menjadi beban yang harus aku tanggung seumur hidup!" sambungnya dalam hati.
"Kalian berdua kalau begitu langsung pulang saja! Nanti, biar bapak yang bicara dengan guru yang mengajar hari ini ...." kata Pak Egan.
"Kenapa berdua pak? saya saja! kenapa Cain diikutkan?!" Felix heran dengan keputusan Pak Egan.
Cain menyenggol Felix dengan ekspresi memohon pada Felix, "Kan aku harus menemanimu! Bagaimana kalau terjadi apa-apa dan kau hanya sendirian di rumah?" Cain melebih-lebihkan.
"Dasar!" maki Felix dalam hati.
Pak Egan mengantar Felix dan Cain pulang ke Rumah Daisy dan singgah di apotek meminta obat tapi Apoteker menyarankan untuk memeriksakan ke dokter terlebih dahulu karena telinga Felix terlihat sedang terluka di dalam dan perlu perawatan. Pak Egan yang mendengar nasehat dari Apoteker itu ingin mengantar Felix lagi tapi Felix menolak lagi dan hanya meminta obat pereda nyeri saja.
***
"Kau memimpikan apa tadi?" tanya Felix sambil berbaring setelah meminum pereda nyerinya.
"Tidak memimpikan apa-apa!" jawab Cain tanpa menatap wajah Felix.
"Jangan berbohong! aku membaca beberapa pikiran yang tertidur tadi ... Ted memberi mimpi untuk membangunkan niat jahat yang terpendam. Aku tidak bisa membaca bahkan mendengar pikiranmu sesuka hati lagi seperti dulu ... seperti kau punya rahasia saja padahal kau kan tidak punya hal seperti itu!" kata Felix.
"Aku juga tidak tahu kenapa level segel pikiranku terus naik padahal aku tidak melakukan apa-apa dan memang tidak berniat untuk menaikkannya!" kata Cain.
"Kau belum menjawab pertanyaanku!" kata Felix.
"Kau tahu kan aku tidak keberatan jika kau membaca pikiranku sesuka hati ...." Cain mengeles lagi, "Tapi memang ada baiknya jika Felix tidak mengetahui semua yang ada di kepalaku!" lanjutnya dalam hati.
Felix menghela napas panjang, Cain adalah satu-satunya yang membuat Felix bersabar dengan terus bertanya. Padahal itu adalah hal yang sangat ia benci.
"Cain?!" Felix dengan penuh penekanan, " Aku perlu tahu apa yang kau mimpikan, bisa saja memang bukan apa-apa tapi Ted melakukan itu ... masa hanya untuk memberi mimpi saja? tidak mungkin!"
"Ayo kita berangkat!" kata Felix setelah tidak menerima jawaban.
"Kemana? kau masih sakit!" kata Cain.
"Jangan sok khawatir dengan orang yang tidak perlu kau jawab pertanyaannya!" Felix jengkel.
"Aku ini Leaure! kau tidak perlu mengkhawatirkan aku mempunyai niat untuk melakukan hal jahat ... kalau kau tidak percaya kau bisa tanya Goldwin. Mimpi seperti itu tidak mempan terhadapku! yang perlu dikhawatirkan adalah Bu Daisy yang juga tertidur tadi ...." kata Cain.
"Aku membencimu!" kata Felix.
"Jangan khawatir! aku lebih membencimu!" balas Cain tertawa.
***
Felix dan Cain berangkat ke penjara tempat Ayah Viola ditahan. Tidak ada jejak kaki Makhluk Mundebris datang dan tidak ada juga tanda-tanda jejak aura tertinggal serta tidak ada kehebohan di penjara yang menandakan tidak terjadi apa-apa.
Cain memutari luar penjara dengan memasang sebuah rantai perisai emas yang terbuat dari tetesan darahnya. Felix sudah siap sedia dengan susu untuk memulihkan stamina Cain yang menggunakan banyak darahnya untuk membuat perisai pelindung.
"Apa tidak memanggil Goldwin untuk mengambilkan Buah Darah saja?!" kata Felix khawatir karena melihat Cain terlihat pucat.
"Coba saja panggil kalau berani! aku akan menghajarmu!" kata Cain mengancam.
"Masih kuat juga dia mengancam begitu ...." kata Felix dalam hati, "Bukan hanya disini tapi kita perlu juga ke rumah Viola dan memberi ibunya gelang yang aku buat!"
"Aku bisa melakukan semuanya tanpa harus memakan Buah Darah!" Cain kerasa kepala.
"Padahal kalau kau menutup mata pasti bisa lewat juga ...." kata Felix.
"Kalau begitu kau saja yang makan!" Cain menendang Felix.
"Lihat! tendanganmu saja lemah begitu!" Felix mengejek.
Cain berniat menendang lagi dan kini dengan menggunakan seluruh kekuatannya tapi Felix menghindar hingga Cain terjatuh membuat Felix tertawa lepas.
"Sejak kapan kau bisa tertawa sekeras ini?" Cain tidak habis pikir.
Felix berhenti tertawa tapi saat perjalanan ke Rumah Viola, ia tertawa lagi. Cain terlihat kesal dengan ejekan Felix itu tapi di dalam hatinya begitu bahagia melihat Felix tertawa bahagia seperti itu.
Cain mengetuk-ngetuk pintu tapi tidak ada jawaban serta tanda-tanda akan dibukakan pintu oleh pemilik rumah.
"Sudah beberapa hari Ibunya Viola tidak keluar rumah semenjak suaminya ditahan ...." kata tetangga yang lewat.
"Jangan-jangan ...." Cain panik dan bergegas ingin masuk Bemfapirav untuk bisa masuk ke dalam rumah tapi ditahan Felix, "Baiklah setelah ibu-ibu itu masuk ke dalam rumahnya!" kata Cain menurut.
"Bukan ... bukan itu maksudku!" kata Felix.
"Heh?!"
"Kau tahu apa yang ada di Bemfapirav? disini memang apartemen! tapi di Mundebris kita akan terjatuh dari ketinggian 20 meter!" kata Felix.
...-BERSAMBUNG-...