UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.375 - Keanehan Teo



Pak Acton yang ditinggalkan sendiri kini merasa khawatir jika Teo akan menimbulkan masalah dari perkataan asalnya barusan.


Teo masuk ke dalam kelas yang masih beberapa saja yang sudah datang. Bahkan Tan juga belum ada di dalam kelas, "Kemana dia?! apa bersama Tom dan Felix?! apa mereka berdiskusi tanpa mengikutkanku?! ah ... biarkan saja! aku juga punya hal lain yang harus kukerjakan."


"Kau dimana?!" pesan masuk ke handphone Teo dari Tan.


"Aku, Tan dan Felix ada di atap sekarang!" pesan dari Tom.


"Aku sedang sibuk." balas Teo langsung mematikan suara notifikasinya dan mulai mengambil buku dan pulpenya.


"Dia sedang sibuk katanya!" kata Tom.


"Hahh?! dia sibuk?! hal baru yang kudengar tahun ini!" kata Tan.


Felix hanya diam saja saat mendengar bahwa Teo tidak ingin datang. Felix mengira bahwa Teo masih sedang kesal dengan kejadian di bus tadi. Tapi, sebenarnya Teo sedang sibuk menuliskan banyak nama di bukunya. Mulai dari nama sekelasnya, nama semua kenalannya dan bahkan mencari di internet nama-nama mulai dari alfabet A sampai Z.


"Pasti akan ada salah satunya disini!" kata Teo menyeringai sambil terus menulis.


"SAVA!" teriak Teo saat Sava yang satu kelasnya membuka pintu kelas.


"Apa-apaan kau?! pagi-pagi begini sudah gila!" mood Sava jadi berubah buruk karena sapaan Teo itu padahal tadinya Sava memasuki kelas dengan senyuman tapi setelah membuka earphone nya teriakan Teo mengacaukan semuanya.


Sedangkan Teo tidak perduli bahkan saat disebut gila. Teo hanya langsung mencoret nama Sava di dalam daftarnya, "Bukan juga ...." Teo sudah melakukan itu berulang kali. Semua teman sekelasnya tidak berhenti memakinya karena sapaan teriakan Teo yang menyebutkan nama itu.


Tan yang sekelas dengan Teo juga memasuki kelas saat bunyi bell pelajaran pertama akan dimulai. Tapi Tan melihat semua teman sekelasnya sedang menatap Teo dengan tatapan kebencian bahkan ada yang sedang memaki Teo.


"Ada ap ...." Tan mendekati bangku Teo untuk bertanya tapi kaget saat mendengar Teo tiba-tiba meneriakkan sebuah nama, "Ah, bikin kaget saja!" Tan memukul punggung Teo, "Kau ini kenapa?!" tapi bukannya menjawab pertanyaan Tan itu, Teo masih melanjutkan meneriakkan nama lainnya lagi, "Kau sudah gila ya?!" bisik Tan.


Tan akhirnya tahu kenapa semua teman sekelasnya seperti akan memakan Teo hidup-hidup. Tapi Teo memang sering melakukan hal aneh, ini bukan yang pertama kalinya jadi Tan tidak terlalu menghiraukan apa yang dilakukan Teo, "Kau sedang melakukan tantangan baru ya?! kali ini nama-nama?! untuk apa kali ini?!" biasanya hal itu dilakukan Teo jika hanya sedang kebosanan saja tapi mustahil bosan akhir-akhir ini karena jadwal malam yang padat.


Teo masih tidak menjawab Tan, sedangkan guru untuk mata pelajaran yang pertama sudah memasuki kelas. Teo menutup buku daftar namanya itu.


"Kukira kau akan tetap melakukannya ...." kata Sava.


"Aku tidak segila itu ...." kata Teo.


"Kau itu lebih dari gila dari yang kau bayangkan!" kata Sava mengutuk dengan ekspresi wajahnya.


Teo hanya membalas dengan melakukan ekspresi muka jelek membuat Sava ingin mencuci matanya setelah melihat itu. Teo sangat puas melihat ekspresi Sava yang itu.


Jam makan siang, Teo menyuruh Tan untuk duluan pergi tanpa dirinya.


"Kalau kau merasa bersalah dengan Felix, lebih baik kau segera melakukan sesuatu ... jangan menghindarinya!" kata Tan.


"Aku tidak menghindarinya! aku bilang duluan saja ...." kata Teo dengan senyuman.


Tan akhirnya menyerah dengan cepat dan pergi ke kantin tanpa Teo.


"Mana Teo?!" tanya Tom yang sudah duduk bersama Felix.


"Entahlah ... penyakitnya kambuh lagi!" jawab Tan.


"Jangan bilang dia melakukan sesuatu yang membuat anak-anak akan memukulnya karena jengkel ...." kata Tom.


"Sepertinya dia akan kena pukul saat pulang sekolah nanti." kata Tan yang membuat Tom tertawa.


"Bahkan aku tidak mengerti dengan sisi Teo yang itu ...." kata Tom.


Felix, Tan dan Tom akan kembali ke kelas masing-masing dengan melewati kerumunan anak-anak yang sedang berisik mengobrolkan sesuatu.


"Dia itu sudah gila atau apa?!" kata Seseorang yang lewat dekat mereka.


"Jangan bilang?!" Tan dan Tom saling menatap dan mulai berlari dan menemukan Teo yang sedang menutup jalan tercepat untuk kembali ke kelas setelah dari kantin. Teo dengan membawa buku daftar nama sedang meneriakkan nama dalam daftarnya itu dan juga meneriakkan nama setelah membaca papan nama murid yang tidak dikenalnya.


"Kau sudah gila ya?! kau sedang apa disini?! apa yang kau lakukan?!" Tom merampas buku Teo dengan paksa sementara Tan membuka jalan dan meminta maaf pada anak-anak yang ada disana.


"Ini bukan kejahilan semata ...." kata Iriana.


"Apa maksudmu?! dia memang suka melakukan sesuatu yang aneh-aneh ...." kata Felix.


"Aku pernah mendengar dari Caelvita 97 kalau dia mempunyai Alvauden yang sangat unik. Alvauden itu pemilik Moshas juga ...." kata Iriana.


"Kau kan sudah menceritakannya sebelumnya, tentang kekuatan unik Moshas itu ...." kata Felix.


"Iya, tapi ... aku belum menceritakan kalau Caelvita 97 mengatakan bahwa pernah mendapati secara tidak sengaja Alvauden nya yang pemilik Moshas itu sedang berbicara dengan Moshas." kata Iriana.


"Apa itu mungkin?! senjata di Mundebris kan merupakan bagian dari tubuh ... bagaimana bisa berbicara." kata Felix.


"Tapi berbeda dengan senjata Alvauden. Senjata Alvauden bukan terlahir dari bagian tubuh pemiliknya. Tapi datang pada seorang Alvauden yang cocok dengannya ...." kata Iriana.


"Maksudmu ... senjata Alvauden itu hidup?!" tanya Felix melihat Teo sedang dimarahi oleh Tan dan Tom.


"Kemungkinan besar, tapi aku tidak pernah melihat Zeki berbicara dengan Moshas. Begitupun dengan Efrain dan Dave ... Informasi Moshas juga hanya bisa kudapat dari Caelvita 97 karena Zeki tidak mau mengatakan apa-apa, itupun hanya itu saja ... sementara Caelvita lainnya kutanyai yang memiliki Alvauden dengan Moshas tidak mengatakan soal berbicara dengan Moshas malah menganggapku aneh saat bertanya soal itu. Itu juga karena aku hanya bisa membuka beberapa pintu dan berbicara dengan beberapa Caelvita saja ...." kata Iriana yang kekurangan informasi juga.


"Kalau begitu ... dari apa yang sedang dilakukan Teo saat ini ...." kata Felix tidak selesai.


"Sepertinya dia berusaha menyebutkan banyak nama ...." Iriana melanjutkan.


Teo ditarik paksa oleh Tan dan Tom dengan cara dibungkam karena masih tidak berhenti menyebutkan nama juga bahkan dengan mulut tertutup tetap mencoba mengoceh tidak jelas. Akhir sekolah, Teo dihadiahi siraman air dari Mertie karena meneriakkan nama Mertie dengan sangat keras. Teo hanya mengelap wajahnya dengan santai, "Bukan juga ...." dan Teo pergi begitu saja setelah mencoret nama Mertie di bukunya.


"Teo ...." Felix memanggil nama Teo yang sedang berjalan tapi tidak melihat kedepan melainkan sibuk melihat bukunya.


"Ow, Felix!" lagi-lagi kali ini Teo berteriak, "Bukan juga ...." Teo mencari nama Felix dan mencoretnya, "Soal yang tadi pagi ... aku minta maaf!" Teo mulai merendahkan suaranya.


"Apa sebenarnya yang kau lakukan?" tanya Felix tidak menghiraukan permintaan maaf Teo.


"Tidak ada ... ah, ini!" Teo menunjukkan bukunya, "Hanya iseng saja!" Teo tertawa dan berjalan hendak meninggalkan Felix di jembatan menuju asrama itu. Tapi kembali lagi ke tempat Felix berada, "Bagaimana kalau kau ditantang seseorang untuk menebak nama padahal baru pertama kali bertemu?! bagaimana kau menjawabnya?! dengan catatan kau tidak bisa menolak untuk tidak menjawabnya!" Teo mencoba meminta solusi dari Felix.


"Jadi benar ... Moshas sepertinya mengajaknya berbicara dan menantangnya untuk menyebutkan namanya." kata Iriana.


"Itulah kenapa dia melakukan hal menyebalkan itu hari ini ...." kata Felix dalam hati.


"Felix?!" Teo menjetikkan jarinya karena Felix hanya diam saja.


"Menurutku ... daripada menebaknya, bagaimana kalau menamainya saja!" kata Felix.


"Hahh?!" Teo bingung.


"Maksudku ... daripada menebaknya, kan lebih baik memberinya nama! kau baru pertama kali bertemu dan dia tidak mau memberi tahu namanya. Kau juga tidak punya kenalannya untuk ditanyai. Bukankah itu tandanya, dia bukannya menantangmu untuk menebak siapa namanya melainkan menurutku, dia yang kau maksud itu ingin agar kau menamainya!" kata Felix.


Teo melongo lama di depan Felix dan kemudian tersenyum, "Seharusnya aku bertanya dari awal denganmu!" Teo menepuk bahu Felix dan mulai berlari pergi meninggalkan Felix, "Jadi begitu ...." gumam Teo berlari sambil tertawa.


...-BERSAMBUNG-...