UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.271 - Tertipu



"Sudah kubilang, pakai kamera yang mahal!" kata Teo.


"Bagiku, mahal bukanlah hal penting yang membuat perubahan pada kualitas. Yang penting adalah siapa yang memakai kamera itu. Dan itu adalah aku ...." kata Mertie begitu percaya diri, "Benda ... mau itu mahal atau murah jika ditangan seseorang yang professional atau amatir semuanya bisa berubah."


"Ohya, jadi bagaimana sekarang?!" suara Tom terdengar kesal dari earpiece, "Apa yang kita lakukan kemarin itu percuma? kau pikir kami sekurang kerjaan itu sehingga harus melakukan hal yang berakhir sia-sia ...."


"Bagaimana mungkin, semua kamera mati? bersamaan? di tempat yang berbeda ...." suara Felix terdengar berguncang karena mulai berlari.


"Ow!" Mertie dan Tiga Kembar tersadar dan mulai ikut berlari juga.


"Aku yang paling dekat dengan lokasi tempat Teo kemarin!" kata Mertie.


"Aku sedang di jalan kesana ...." kata Teo menuju tempat Mertie atau tempat yang diawasinya kemarin.


"Kalau dipikir-pikir ... kelima tempat hari ini, yang berada di tengah-tengah adalah tempat yang Teo awasi kemarin ...." kata Tom.


"Mungkin ini hanya kebetulan ...." kata Tan.


"Tidak ada yang namanya kebetulan di dunia ini ...." kata Felix.


"Yah, kau ahlinya ...." kata Tan menyeringai.


"Aku sudah sampai!" seru Mertie.


"Apa yang kau lihat?" tanya Felix dan Tiga Kembar bersamaan di telinga Mertie.


"Aku masih mencari ...." kata Mertie berkeliling di dalam mall besar mencari sesuatu yang bahkan tidak tahu apa, "Oh, tidak! semua kameraku hancur ...." Mertie memungut sisa kepingan kamera kecilnya di lantai, "Tapi, bagaimana? ini tidaklah dilihat oleh bagian keamanan ... bahkan tidak ada seorangpun mendekat untuk dicurigai hendak menghancurkan ini ... tidak mungkin juga ini hancur sendiri kan?!"


"Kau tidak melihat sesuatu?" tanya Felix yang tidak memperdulikan lampu lalu lintas dan hanya terus berlari, beberapa kali mobil menembus tubuhnya.


"Aku ... tid ... sepertinya aku sedang ...." kata Mertie tidak jelas.


"Kau dimana? aku sudah ada di dalam mall!" kata Teo sedang menstabilkan napasnya.


"Di lantai dua! cepatlah! lihat ... yang aku katakan semuanya benar!" kata Mertie begitu bahagia, "Ow, iya ... aku harus merekam ini!" Mertie mengambil handphonenya tanpa mengalihkan pandangannya.


"Mertie?!" teriak Teo.


"Ssssssst!" Mertie kesal bukan main.


"Jadi, dimana? apa yang kau lihat?!" Teo melihat sekeliling.


"Jangan sampai ketahuan!" kata Mertie memukul kepala Teo yang selalu saja mengintip.


"Itu ...." Teo menatap apa yang dimaksud oleh Mertie.


"Kau lihat kan? itu yang dinamakan orang sedang dihipnotis ...." kata Mertie masih serius memegang handphonenya untuk merekam kejadian itu.


"Kau tidak melihatnya?" tanya Teo.


"Melihat apa?" tanya Mertie.


"Tentu saja dia tidak melihatnya! dia hanya punya mata Bemfapirav." kata Felix yang sudah datang, "Tom! tangkap orang yang sedang menghipnotis itu! kau yang paling dekat ...."


"Ok! sampai jumpa di Bemfapirav." kata Tom.


"Apa yang kalian maksud?" tanya Mertie tidak mengerti situasi dan pembicaraan saat itu.


"Yang melakukan hipnotis itu ... di rasuki oleh Iblis!" kata Teo.


"Ap ... apa?!" Mertie kaget.


"Yang bisa kau lihat hanyalah Zewhit atau hantu ... tentu saja kau tidak bisa melihat Iblis yang saat ini sedang masuk ke dalam tubuh manusia dan memanipulasinya ...." kata Felix, "Tan! kau sudah tiba?" tanya Felix.


"Ya, aku sudah siap!" kata Tan.


"Bagus, ayo kita berangkat juga!" kata Felix.


"Aku bahkan tidak mendengar suara Tan ... apa yang kalian rencanakan?" tanya Mertie.


"Aku sedang tidak berbicara dengannya melalui earpiece yang kau berikan ini ...." jawab Felix.


"Jadi lewat apa?" tanya Mertie.


"Ini kami sebut Jaringan Alvauden!" kata Teo tertawa.


"Alva apa?!" tanya Mertie.


"Jaringan luas yang bisa mencakup tiga dunia tapi hanya bisa digunakan oleh lima orang." jawab Teo.


"Hey ... aku bahkan tidak tahu apa yang akan kita lakukan. Bisa tidak kalian bagi rencana yang akan kalian lakukan ... jangan sampai aku mengacaukannya ...." kata Mertie.


"Rencana apa? tidak ada rencana!" kata Teo.


"Hahh?! jadi maksudmu ...." kata Mertie tidak habis pikir, "Kita hanya menyerang langsung tanpa rencana sama sekali?!"


"Ya, itu rencananya!" kata Felix.


"Kalian benar- benar ...." Mertie mencemooh.


"Ow ... ow! dilarang menyumpahi ...." kata Teo menghentikan Mertie menyelesaikan kalimatnya.


Tom sudah sampai di dekat orang yang sedang menghipnotis itu. Tom dengan mengedipkan matanya memberi tanda pada Felix. Felix langsung memegang bahu Mertie, Teo menutup matanya dan tibalah mereka di Bemfapirav. Disana sudah ada Tan yang memasang simbol sihir yang dibuat dari ramuan pengikat seperti yang diajarkan oleh Banks.


Tom tiba di Bemfapirav dengan membawa orang yang menghipnotis itu tepat di tengah-tengah simbol, orang yang menghipnotis itu diikat menggunakan rantai pemberian Banks yang katanya berguna untuk menangkap Iblis. Penggunaannya sederhana, hanya perlu memegang tangan seseorang dan jika memang iblis pasti rantai itu akan langsung mengikat otomatis.


Felix dan Teo siap sedia dengan senjatanya menghadang dari arah depan dan belakang. Mertie hanya bisa duduk diam dan menonton. Tom mengeluarkan senjatanya juga yang sudah siap sedia menargetkan leher.


"Jangan bergerak atau kau akan mati sebelum mengucapkan satu kata pun ...." kata Felix mengancam.


"Apa ... yang ... aku sedang ada dimana?" kata orang itu yang memang terlihat kebingungan.


"Jangan bercanda dan keluarlah dari tubuh manusia ini!" teriak Felix.


"Apa maksudmu dik?" tanya orang itu.


"Dik?!" Teo tidak bisa menahan tawanya.


"Usaha yang bagus tapi bukan akting yang bagus!" kata Tom mengayunkan kapaknya.


"Hahh?! apa yang akan kau lakukan?!" orang itu langsung terduduk lemas dan berlutut memohon dengan kedua tangannya.


Tom bingung dengan sikap orang itu dan mulai menatap Felix.


"Jangan tertipu!" kata Felix lewat pikiran, "Aku bilang keluar! atau aku tidak akan segan-segan memenggal kepala orang yang kau rasuki saat ini ... setahuku, iblis yang merasuki tubuh manusia akan mati juga jika orang yang dirasuki itu mati. Percayalah, aku tidak akan ragu melakukan itu!" kata Felix dengan tatapan tanpa keraguan sama sekali.


"Felix ...." Tan merasa khawatir apa yang akan dilakukan Felix, begitupun Teo yang sudah berkeringat dingin. Mertie juga gemetar ketakutan dengan kejadian seram yang tidak lama lagi pasti akan terjadi tepat di depan matanya.


"Felix ... sepertinya ada yang tidak beres!" kata Tom.


"Mundur, Tom. Kalau kau tidak bisa biar aku yang melakukannya!" Felix mengayunkan pedangnya.


"Felix!" Tom menghalangi Felix, "Ini tidak benar ...."


"Apanya?!" tanya Felix.


"Kau jadi tidak terhentikan begini, ada apa?!" tanya Tom.


"Aku kenapa? aku baik-baik saja ...." jawab Felix.


"Kau benar-benar berniat membunuhnya ...." kata Tom.


"Ada yang salah dengan itu?!" tanya Felix.


"Aku tidak akan membiarkan itu terjadi!" kata Tom.


"Hahh ... aku pikir kau ini sepemikiran denganku. Ternyata kau sama saja ... terlalu lembut!" kata Felix mendengus kasar.


"Tunggu ... Felix!" Tan juga datang menghalangi.


"Minggir, Tan!" Felix memperingatkan.


"Sepertinya Iblisnya sudah pergi ...." kata Tan.


"Apa maksudmu? rantai itu masih dengan erat mengikatnya. Itu menunjukkan ada iblis di dalam tubuhnya." kata Felix.


"Ada ... tapi mungkin saja hanya auranya." kata Tom.


Dan benar, rantai yang mengikat orang itu mulai lepas dengan sendirinya.


"Kita lengah!" kata Tan.


"Tidak mungkin ...." Felix berbalik ke belakang mendengar suara teriakan yang serempak masuk ke dalam telinganya, "Kita tertipu ...." Felix menjatuhkan pedangnya.


...-BERSAMBUNG-...