
Pak Egan yang melihat murid kelasnya sedang ada di luar dekat pintu keluar langsung meneriaki dan membuat Felix dan Cain jadi diam dan menurut saja untuk kembali masuk ke dalam kelas. Tiga kembar juga kembali ke kelas masing-masing.
Saat Felix membuka pintu kelas ia melihat Cain yang sedang terdiam dan tiba-tiba menatapnya, "Tidak! jangan!" Felix menggeleng-geleng berusaha menahan Cain untuk tidak pergi tapi Cain tiba-tiba menghilang dan masuk ke Bemfapirav.
"Ayo masuk!" kata Pak Egan dari dalam kelas.
Felix menutup pintu kelas dan masuk ke Bemfapirav juga.
"Eh ... kemana anak itu?!" kata Pak Egan membuka pintu dan melihat sekitar.
Cain terlihat berlari membuat Felix menambah kecepatannya untuk menarik Cain bersembunyi.
"Ssst!" mulut Cain dibungkam.
Cain yang menyadari hal itu langsung membuat garis pelindung emasnya agar tidak terlihat oleh orang yang mendekat itu. Setengah Sanguiber yang sedang membawa seseorang dengan dipenuhi ikatan meminta tolong tapi yang membawa hanya tertawa saja, "Kau mau berteriak bagaimanapun tidak akan ada yang bisa mendengar disini!" kata salah satu Setengah Sanguiber sambil tertawa.
"Kau lihat! banyak orang yang membutuhkan pertolongan ... kita tidak bisa hanya fokus pada satu orang saja!" kata Felix yang membuat Cain jadi mengacak-acak rambutnya frustasi.
"Tapi setidaknya kita menolong satu orang, kau bahkan tidak melakukan apa-apa sama sekali!" balas Cain yang bisa dilihat masih emosi.
"Menolong seseorang juga butuh persiapan rencana. Kalau tanpa kesiapan bisa-bisa bukannya menolong tapi malah mencelakai!" kata Felix berusaha membuat Cain mengerti.
"Susah membujuk atau menahan seorang Leaure untuk tidak menolong Tuan Muda!"
"Goldwin?!"
"Alarm saya tidak berhenti berbunyi Tuan Muda, hahh ... kalau perasaan Cain jadi tidak enak sedikit saja apalagi saat ini ... membuat telinga saya serasa mau tuli mendengar alarm yang tidak kunjung berhenti ...." kata Goldwin mengeluh.
"Haha ... tapi kau bisa memilih untuk datang atau tidak ... kalau aku tahu dia sedang dalam bahaya, tidak punya pilihan harus segera datang!" kata Felix berusaha bercanda.
"Kau tidak perlu melakukan itu!" kata Cain.
"Kau pikir aku melakukan itu karena paksaan? kalau terjadi sesuatu denganmu ... aku juga yang akan mendapat hukuman. Hukuman kesendirian! inilah resiko jika memiliki seseorang yang berharga. Saat bersama akan menjadi obat tapi jika terjadi sesuatu denganmu akan menjadi racun bagiku ... aku akan sendiri lagi!" kata Felix panjang lebar tapi intinya ia ingin memberitahu bahwa ia tulus dari hatinya yang paling dalam.
"Jadi bagaimana?" Cain mulai merendahkan suaranya karena mendengar pengakuan dari Felix yang sebenarnya ia sangat tahu dari kepribadian Felix akan sulit untuk mengatakan hal seperti itu.
"Mau bagaimana lagi? haha ... kita sudah terlanjur disini, ayo kita pergi!" kata Felix dengan tertawa kecil.
Goldwin mengeluarkan jam sakunya, "Kau bisa membawa kami berdua?" tanya Felix.
"Tentu saja!" kata Goldwin begitu percaya diri.
"Memangnya kau bisa berteleportasi?" tanya Cain yang tidak mengetahui kekuatan Unimaris nya sendiri, "Bagaimana kau bisa tahu?" tanya Cain pada Felix.
"Aku sudah bertanya dengan Iriana, apa saja kekuatan yang bisa dilakukan Leaure ...." jawab Felix.
Setelah mengetahui Cain yang bisa menggunakan waktu membuatnya lega sekaligus penasaran apa lagi yang bisa dilakukan Cain. Memang diketahui bahwa Cain dari masa depan pernah datang tapi bisa tidak terikat dengan jarak waktu antara Mundebris, Bemfapirav dan Mundclariss adalah sesuatu kekuatan yang luar biasa. Mengingat jarak waktu antara tiga dunia itu sangat menjadi masalah.
Rantai jam saku Goldwin memanjang dan mulai mengelilingi Felix dan Cain. Kemudian muncullah sebuah lubang dari pijakan kaki mereka.
"Aaaa!" teriak Cain, "Eh ... kenapa kita tidak jatuh?" tanya Cain karena saat ini berdiri diatas sebuah lubang tapi tidak jatuh.
"Karena belum ...." kata Goldwin yang serius mengotak-atik jamnya, "Em ... sudah!"
"Apanya yang sudah?" tanya Cain.
"Sudah waktunya!" jawab Goldwin.
"Waktunya apa?" tanya Felix.
"Sudah waktunya terjatuh, maksudku!" kata Goldwin santai terlihat melayang-layang.
"Apa hubungannya waktu dan ruang sebenarnya?" tanya Felix.
"Memangnya ini waktunya untuk bertanya?!" teriak Cain kesal, "Sampai kapan kita akan terjatuh begini?"
"Sampai tempat dan lokasi tujuan sudah ditentukan!" kata Goldwin.
"Kenapa tidak bilang daritadi?!" teriak Cain lagi kesal dan mulai membayangkan dan menyebutkan lokasi gedung sidang.
Mereka bertiga akhirnya sampai di atas atap gedung sidang. Cain terlihat mual dan mulai menutup mulutnya dan berlari kesana-kemari.
"Kalau kemampuan berpindah tempat saja sudah biasa tapi dengan menambahkan waktu ... kan akan lebih sempurna!" Goldwin menjawab pertanyaan Felix tadi.
"Tapi, setahuku ... tidak semua Leaure punya kekuatan gabungan ini ...."
"Hanya Leaure senior yang sudah melakukan banyak misi tapi karena partner saya adalah orang yang istimewa makanya mau tidak mau saya harus berlatih untuk menguasai kekuatan itu lebih cepat ...." kata Goldwin kemudian menutup matanya malu ketika melihat Cain tidak berhenti muntah.
"Terimakasih!" kata Felix.
"Eh?!" Goldwin bingung mendengar kata itu keluar dari mulut Felix.
"Selanjutnya, aku mohon bantuanmu dan tolong dampingi Cain terus!" kata Felix membuat Goldwin terlihat bengong, "Kau kenapa?"
"Tuan Muda terlihat bersinar!" kata Goldwin membuat Felix tertawa terbahak-bahak.
"Karena katamu dia adalah Leaure yang istimewa, mau tidak mau kau harus lebih berlatih lagi untuk menyamai Cain dan melindunginya kan? aku senang sekaligus bersyukur karena kau adalah Unimaris Cain ... kedepannya mohon bantuannya ya!" kata Felix pada Goldwin.
Felix dan Goldwin kemudian melihat ke bawah. Terlihat banyak petugas forensik yang sedang mengelilingi tubuh Ted sedangkan petugas polisi berusaha keras mengamankan lokasi kejadian karena banyaknya masyarakat yang hendak melihat langsung.
"Di ... mana dia?" tanya Cain yang mulai ikut berdiri disamping Felix dan Goldwin walau masih dalam keadaan tidak enak badan.
"Pasti ada diantara kerumunan itu!" jawab Felix.
"Itu ...." Goldwin menunjuk sesuatu.
"Roh Ted!" teriak Felix dan Cain bersamaan.
Mereka berdua langsung berlari turun dari atap menggunakan tangga meninggalkan Goldwin yang masih duduk di pembatas atap.
"Padahal aku bisa membuat mereka langsung turun kebawah ...." kata Goldwin melihat Felix dan Cain yang tiba-tiba berlari tapi malas berteriak juga.
Cain membuat garis pelindung sambil berlari mengitari Felix sebelum keluar gedung.
"Kau makin lihai saja membuat pelindung ini ...." kata Felix yang sebenarnya ingin membuat Cain tersenyum tapi kenyataannya Cain hanya diam tidak bereaksi apapun.
Roh Ted yang sedang berdiri melihat tubuhnya sendiri tiba-tiba diserang oleh seorang anak perempuan, "Mertie?!" Felix dan Cain bersamaan.
Masyarakat yang melihat, mengira dia gila karena memukul-mukul udara.
"Bagaimana dia bisa melihat roh Ted?" tanya Cain.
"Aku lupa bilang ya! seseorang yang pernah dibawa ke Bemfapirav mau tidak mau akan mendapatkan kekuatan bisa melihat penghuni Bemfapirav!" kata Goldwin yang muncul tiba-tiba.
"Berarti ini semua adalah salahku ... seharusnya Mertie tidak kubawa ke Bemfapirav waktu itu ...." Cain merasa bersalah.
...-BERSAMBUNG-...