UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.66 - Pewaris Carlton Group



Cain menggunakan garis pelindung dan turun ke ruangan bawah tanah itu. Terlihat ada dua orang anak sekarang diikat di kursi dengan cahaya lampu tepat berada diatas mereka.


"Syukurlah ... dia belum disiksa sama sekali ... cepat selamatkan dia! adikku yang laki-laki itu, bukan yang perempuan ...." kata Idalina.


"Bukan hanya Miller saja tapi kita harus menyelamatkan mereka berdua!" jawab Cain mulai panik ketika orang itu berbalik memperlihatkan wajahnya setelah memilih alat di sebuah meja, "Dia orang yang tadi! dia masih muda tapi kenapa melakukan hal seperti ini?"


"Umur tidak menjadi patokan untuk sebuah hobby!" kata Goldwin.


"Hobby?!" Cain berbalik menatap Goldwin.


"Sama denganmu yang suka menolong, dia juga begitu ... hanya saja hobbynya membunuh!"


"Jadi kita bersenang-senang dengan apa malam ini? hemm ... sayangnya Mesin cukur rambut rusak karena kemarin ada anak yang keras sekali kepalanya ... hahaha ... dasar! mengingatnya saja ingin ku pecahkan kepalanya sekali lagi ... kalau begitu kita gunakan gunting rambut malam ini ... hahahaha!" Laki-laki itu berbicara sendiri dan sangat menikmati melihat ekspresi anak-anak yang sedang ketakutan.


"Tolong ... tolong ...." teriak kedua anak itu membuat laki-laki itu semakin bersemangat memilih gunting. Bukannya yang baru tapi yang sudah berkarat.


"Bagaimana cara mengalihkan perhatiannya?" tanya Cain pada Goldwin santai ... padahal Idalina daritadi sudah menangis tak henti-hentinya.


"Apa yang kau lakukan? bisa cepat tidak?!" teriak Idalina.


Goldwin membuat keributan dengan membuka pintu tadi dan menjatuhkan barang-barang dari lantai atas, "Siapa itu?" tanya Laki-laki itu langsung berlari.


"Baiklah ...." Cain menghilangkan garis pelindung.


"Hahh?!" teriak kedua anak itu kaget melihat keberadaan Cain tiba-tiba muncul dihadapannya.


"Sssst!" perintah Cain sambil tersenyum, "Kakak akan mengeluarkan kalian dari sini tapi kalian harus berjanji untuk menutup mata, janji? jangan dibuka sampai kakak suruh ... oke?!"


"Janji!" sahut kedua anak itu.


Cain memegang kedua tangan anak itu dan membawanya ke Bemfapirav kemudian dilepasnya ikatan pada kedua anak itu yang masih setia menutup matanya. Cain menyuruh begitu agar mereka tidak tahu sedang masuk ke dunia lain.


Digandengnya kedua anak itu berjalan jauh dari tempat tadi dan kembali ke Mundclariss tapi Cain dan kedua anak itu langsung berteriak, "Adu ... duh!" Cain hanya berjalan memperkirakan sejauh mungkin darisana tapi tidak memperhitungkan bisa langsung tiba dengan terbentur di tembok. Walau begitu kedua anak itu hanya tertawa terbahak-bahak setelah membuka matanya, "Terimakasih kak!" kata mereka bersamaan.


"Kau tinggal dimana?" tanya Cain pada anak perempuan itu.


"Di apartemen Poppy lantai 6 nomor 628!" jawab anak perempuan itu.


"Pintar sekali! kakak antar kalau begitu ...."


"Terimakasih!" kata Idalina.


Cain hanya tersenyum dan berbalik melihat Goldwin yang sedang sibuk menjilati bulu berharganya, "Ck!"


***


Diantarnya anak perempuan itu ke apartemennya yang ternyata sudah ada polisi disana, "Itu disana orangtuaku!" katanya.


"Kalau begitu kakak antar sampai disini saja ya ... bisa kesana sendirian kan?!"


"Em ...." angguknya, "Terimakasih kakak?"


"Lebih baik kita tidak usah memberitahu nama satu sama lain kan?" kata Cain.


"Kalau besar nanti ... aku akan mencari kakak untuk menikah dan melindungi kakak!"


Cain tertawa, "Baiklah, sampai ketemu di pelaminan kalau begitu!" canda Cain mengacak-acak poni anak perempuan itu.


Cain mulai pergi dan anak perempuan itu juga berlari dengan semangatnya dan disambut langsung oleh kedua orangtuanya. Polisi dan warga sekitar yang ada disana bertepuk tangan saat anak perempuan itu berpelukan dengan kedua orangtuanya.


Idalina yang melihat itu merasa kasihan dengan adiknya yang tidak akan disambut bahagia oleh siapapun bahkan setelah hampir mengalami kejadian mengerikan, "Maafkan kakak ... Miller!"


***


Cain membawa Miller ikut kembali ke panti dan cepat-cepat ingin langsung dibawa ke ruangan Bu Corliss dengan membangunkan Pak Satpam untuk membuka gerbang dan langsung membangunkan Bu Corliss. Miller menatap Cain dan Cain hanya mengangguk. Akhirnya Miller menceritakan semuanya membuat Bu Corliss menitikkan air mata, "Berarti bisa jadi kau akan dicari ... kalau begitu kita tidak boleh menerima tamu dari luar sementara ini!" kata Bu Corliss pada Luna yang membawakan susu coklat.


"Walau tindakanmu sangatlah hebat tapi berjalan keluar mencari makanan sangat berbahaya Cain!" kata Bu Corliss pada Cain yang sebenarnya Cain berbohong mengatakan bertemu Miller tidak sengaja saat lapar di Rumah Daisy.


"Tidak akan saya ulangi bu!" jawab Cain dengan nada ceria.


"TanTeTom tidak ikut kamu kesini? dan bayar taksi kamu pakai uang darimana?" tanya Bu Corliss.


"Mereka sudah tidur bu, tidak enak saya bangunkan ... pakai kartu yang ditinggalkan Bu Sissy di rumahnya."


"Dia akan kaget melihat tagihan kartu pastinya ...." kata Luna yang mengingat perjalanan jauh dengan menggunakan taksi.


"Untuk sekarang biar Miller tidur di kamar kamu dengan Felix dulu ... besok setelah perkenalan dengan anak lain baru diberi kamar baru ... tidak apa-apa kan Miller?" kata Bu Corliss.


"Baik, terimakasih banyak bu ...." jawab Miller.


"Terimakasih banyak ...." kata Idalina yang ikut juga ke panti.


***


Keesokan harinya, dua hari sebelum Felix bangun. Cain berangkat pagi-pagi sekali bahkan Miller yang tidur di ranjang Felix belum bangun. Cain yang hanya tidur sejam berjalan sambil meminum susu yang dibuat banyak dalam botol besar.


"Tidak cukup hanya dengan meminum susu!" kata Goldwin yang muncul tiba-tiba tanpa dipanggil.


Cain tersedak susu dan terbatuk-batuk, "Lebih baik aku minum susu satu galon daripada harus makan buah darah!" katanya.


"Terserah!" kata Goldwin lalu menghilang lagi.


"Uhh dasar!"


Sampai disekolah Cain dan Mertie tidak berhenti menatap smartphonenya untuk menunggu berita, "Kan baru dikirim ya ... pasti masih diselidiki ...." kata Cain dalam hati.


Tapi sampai pulang sekolah tidak ada berita tentang Carlton Group sama sekali, hanya ada berita sahamnya naik pesat.


"Kejaksaan mungkin masih menyelidiki ... lagipula bukti yang kita kirim tidak terlalu kuat ...." kata Cain menghibur Mertie.


"Kalau begitu ayo kita cari lagi ... tapi kalau dengan bukti kuat dan masih tidak ada pergerakan dari kejaksaan ... aku yang akan bertindak sendiri!" kata Mertie tegas.


"Dianya semangat begitu ... padahal kemarin aku bertemu pembunuh ... hahh ...." kata Cain dalam hati sambil menghela napas.


***


Kali ini bukan dokumen yang berupa kertas tapi dokumen yang tersimpan di dalam komputer, sebisa mungkin juga Mertie mencatat semua email untuk dihack.


Mertie berjalan keluar dari ruangan sekretaris direktur tapi ditarik bersembunyi oleh Cain.


Terdengar perempuan sedang berlari kearahnya, Cain panik dan hendak membawa Mertie ke Bemfapirav tapi saat perempuan itu terjatuh dan melihat Cain dan Mertie ditempat persembunyian, perempuan itu yang tadinya berteriak ketakutan itu langsung diam saat ditarik oleh laki-laki pembunuh itu, "Dia tidak ingin kita dalam bahaya ...." kata Mertie menitikkan air mata.


"Bagus! diam begini akan aku hadiahi kematian yang cepat ...." kata Laki-laki pembunuh itu, "Dagingmu akan kupotong-potong dan kukirimkan ke orangtuamu besok ... hahaha!"


Mertie berusaha keras menahan tangan dimulutnya walau sudah basah karena air mata.


Tak lama suara langkah kaki dari laki-laki itu menjauh sambil membopong tubuh perempuan tadi yang sudah dibius.


"Jadi benar yang kau katakan itu?!" tanya Mertie yang kini sudah terisak.


"Ayo kita selamatkan perempuan tadi ... jika tadi dia memberitahu sedang melihat kita ... pasti sekarang kita juga dalam bahaya saat ini ... tapi dia mengorbankan dirinya demi kita ...." Cain mengulurkan tangannya pada Mertie untuk dibantu berdiri.


"Orang itu ... dia ... dia adalah kakak dari Era, pewaris dari Carlton Group!" kata Mertie.


"Apa?!" Cain kaget pembunuh itu ternyata dari keluarga yang sempurna.


...-BERSAMBUNG-...