
"Kita tidak bisa berbuat apa-apa soal itu ...." kata Tan merasa bersalah.
"Apa?! kalian tidak punya solusi untuk itu?" tanya Mertie.
"Memangnya akan ada yang percaya kalau dia dirasuki oleh iblis? yang ada ... fakta itu akan ditertawakan ...." kata Tom.
"Aku percaya!" kata Mertie.
"Ya, kau percaya ... tapi kepolisian, kejaksaan ... tidak akan ada yang percaya! bagi orang normal ini adalah mustahil!" kata Tom.
"Apa lebih baik memanggil dukun untuk membuktikan ini?" tanya Teo memperburuk suasana.
"Dukun? bahkan perkataan dukun yang tersohor sekalipun tetap tidak akan dipercayai! kalian tidak lihat bagaimana dukun diperlakukan seperti orang gila?!" kata Tom.
"Selama aku percaya ... semua orang akan percaya juga!" kata Mertie begitu bertekad.
"Apa yang akan kau lakukan?" tanya Tan, "Jangan berpikiran bodoh atau berencana melakukan hal nekat!" Tan khawatir.
"Aku tidak akan membiarkan orang yang tidak bersalah dipenjara ... masih banyak penjahat yang seharusnya dipenjara tapi berkeliaran bebas. Walau mungkin butuh waktu lama, tapi aku akan membuktikan mereka tidak bersalah dan membebaskan mereka ... aku janji!" kata Mertie.
"Jangan berjanji kalau kau tidak yakin bisa menepatinya!" kata Felix.
"Akan aku tepati!" kata Mertie.
"Kau itu tidak seperti kami yang memang berkewajiban melakukan hal seperti ini ... kau seharusnya bisa menjalani kehidupan normal! aku tidak melarangmu melakukan hal seperti ini tapi jangan buat ini sebagai jalan hidupmu sehingga kau tidak bisa menikmati hidupmu selayaknya manusia biasa pada umumnya ...." kata Felix.
"Kalian pikir ini bukan hal yang wajib aku lakukan? kalian salah! jika seseorang memiliki kemampuan menolong seseorang dan tidak mempergunakannya maka hidup sebagai manusia saja, tidak pantas!" kata Mertie.
"Aku mengerti perasaanmu! tapi kau tidak harus memaksakan diri melakukan semua ini ...." kata Felix.
"Siapa bilang aku memaksakan diri? aku menikmati setiap detiknya malahan ...." kata Mertie tersenyum, "Benar bahwa semua orang membutuhkan hobby dan sepertinya hobby ku adalah ini ...."
"Aku sudah memperingatkan, selebihnya kau harus melindungi dirimu sendiri agar tidak terluka melakukan ... yang kau sebut hobby itu!" kata Felix sarkastik.
"Jangan khawatir! sebaliknya jika kau membutuhkan pertolongan, pasti akan aku tolong ...." kata Mertie mengejek membuat Tiga Kembar tertawa.
Mereka kembali ke asrama setelah jam 2, untuk masuk asrama tidak menggunakan cara Felix dan Tiga Kembar seperti biasanya yakni menggunakan Bemfapirav tentunya. Dikarenakan ada Mertie, tidak mungkin memperlihatkan kuburan massal yang ada di Bemfapirav sisi lain sekolah itu.
Jadi mereka menggunakan cara Mertie, sangat sederhana sampai-sampai membuat mereka merasa bodoh karena selama ini tidak menggunakan cara itu dan harus bolak balik menggunakan Bemfapirav yang aura disana membuat bulu kuduk merinding.
Ada dua halangan untuk masuk atau keluar dari sekolah tidak menggunakan pintu depan yakni cctv dan Perangkat Pendeteksi Gerakan (Motion Sensor) yang dipasang di seluruh sekolah, pada pagi hari hanya bagian pagar saja yang aktif tapi pada malam hari saat jam tidur membuat lampu sensor menyala di lorong asrama akan membuat alarm hidup apalagi menuruni tangga dari asrama akan membuat para penjaga keamanan datang dan menadapatkan pengurangan poin jika tidak memiliki kepentingan yang sudah mendapat izin dari guru atau penjaga asrama.
Tapi cctv saja bisa dengan mudah Mertie manipulasi untuk tidak merekamnya, tentu saja sensor gerak bukanlah masalah baginya. Mertie sudah masuk ke dalam sistem dan mengetahui kode untuk sensor gerak yang dipasang di sekolah sehingga dengan mudah bisa mengatur zona untuk dilewati sesuai yang diinginkannya dengan santai tanpa harus terburu-buru. Zona pelariannya telah diatur sehingga tidak akan membuat alarm berbunyi jika dilalui oleh seseorang. Lampu yang terhubung sensor juga tidak akan menyala.
"Baru 12 tahun saja kau sudah sehebat ini, aku tidak bisa membayangkan bagaimana saat kau dewasa nanti ... kau bisa saja dengan santainya keluar masuk Rumah Presiden mungkin." kata Teo.
"Tujuanku tidaklah sesimpel itu!" kata Mertie.
"Menurutmu itu simpel?" tanya Teo heran, "Jangan bilang kau akan membukakan pintu penjara pada ...."
"Ide yang bagus! tapi aku akan mengeluarkan mereka dari sana sesuai kebenaran fakta yang ada ...." jawab Mertie.
Mertie sudah sampai di depan pintu masuk asramanya sedangkan Felix dan Tiga Kembar mulai berjalan menuju asrama laki-laki yang ada diujung.
"Bagaimana bisa kalian melakukan ini?" tanya Mertie menghentikan langkah Felix dan Tiga Kembar, "Maksudku ... aku sudah lama membantu kalian tapi lebih dari itu pastinya banyak yang kalian lewati tanpa aku ... kejadian mengerikan seperti hari ini, apa kalian baik-baik saja?"
"Tidak mungkin! terlebih lagi kau dan Tan ... aku tahu betul bagaimana sifat kalian ....." kata Mertie.
"Bukan hanya aku dan Teo tapi Tom juga Felix ... kami semua merasakan hal yang sama, yakni penyesalan. Menyesal karena terlambat, menyesal karena tidak bisa berbuat apa-apa, menyesal karena tidak menggunakan seluruh kekuatan, menyesal karena tidak berlatih lebih keras ... segala macam penyesalan semuanya kami rasakan tapi kemudian kami sadar bahwa penyesalan itu tidaklah membantu sama sekali ...." kata Tan.
"Makanya kami putuskan untuk menikmatinya atau lebih tepatnya mungkin berpura-pura menikmatinya ... kalau terus-terusan membawa perasaan, kami tidak akan bisa bertahan ...." sambung Teo.
"Akan aku ajari lagi cara menjadi hacker dari awal untuk pemula ...." kata Mertie sebelum mereka pergi.
"Kali ini jangan pakai marah-marah ya?!" kata Teo.
"Akan kuusahakan!" sahut Mertie.
"Karena selalu bersama, aku tidak merasakan perbedaan dari segi fisik ... tapi ternyata mereka sudah tumbuh dewasa dari segi mental." kata Felix dalam hati dan mulai tersenyum.
Keesokan harinya sekolah ramai karena kejadian semalam yang masuk dalam berita di tv dan juga beredar di internet. Pembunuhan di Pusat Perbelanjaan terbesar di pusat kota yakni Mall Pippa. Pelaku pembunuh lupa ingatan resmi sudah 10. Seperti biasa, tidak ada bukti yang jelas seperti cctv untuk membuktikan. Bahkan kamera yang dipasang Mertie rusak dan tentu saja kamera cctv Mall juga mengalami hal serupa.
Tapi kali ini ada saksi yang melihat kejadian itu, menurut penuturan saksi ia melihat ada dua anak kecil sedang bersembunyi dan anak perempuan itu terlihat merekam kejadian itu. Saksi itu akhirnya bisa melihat juga apa yang direkam oleh anak perempuan yang sebenarnya adalah Mertie sendiri.
Saksi tidak merekam kejadian itu dengan alasan bahwa handphonenya kehabisan baterai. Dia hanya menyarankan untuk mencari anak itu meminta bukti.
"Jadi, kau mau ke kantor polisi?" tanya Teo.
"Yang benar saja!" jawab Mertie.
"Katanya kau ingin membuktikan bahwa pelaku tidak bersalah ...." kata Teo.
"Jika aku memperlihatkan bukti rekaman ini, pelakunya akan berubah menjadi yang penghipnotis itu ... sama saja kan?! melepaskan yang tidak bersalah untuk memenjarakan yang tidak bersalah juga." kata Mertie.
"Jadi bagaimana rencanamu?" tanya Tan.
"Kau yang bagaimana rencanamu?" Mertie balik bertanya.
"Kami tentunya tetap ke tempat ramai itu untuk mencari terget iblis sehingga bisa menangkapnya ...." jawab Tan.
"Akan sulit! tempat ramai bukan hanya 9 tempat yang kita datangi ...." kata Mertie.
"Target iblis itu harus dipelajari, dengan mempelajari bagaimana ia memilih targetnya kita bisa mulai mempersempit sedikit." kata Tom.
"Kalau random bagaimana?" tanya Mertie.
"Tidak ada yang namanya random. Iblis selalu memilih targetnya karena suatu alasan tertentu ...." jawab Felix.
"Bagaimana denganmu?" tanya Teo.
"Masih terlalu dini untuk menanyakan itu!" jawab Mertie.
"Jadi kapan waktu yang tepat untuk menanyakannya?" tanya Teo.
"Pasti akan tiba waktunya!" jawab Mertie terlihat murung.
...-BERSAMBUNG-...