
Teo sedang tidak bercanda tapi memang benar pusing dan mual mendengar perkataan Felix yang membuat pikirannya tertekan saat ini. Tapi kepercayaan diri Felix menyelamatkan Kiana pasti bukanlah omong kosong semata. Pasti dia sudah tahu bagaimana cara menyelamatkan Kiana makanya ia tidak ragu sedikitpun. Begitulah yang dipikirkan Cain. Felix yang mengikutsertakan Alvauden adalah hal yang butuh lama untuk dipikirkan. Sebenarnya selama ini Felix hanya berpura-pura kalau sedang mengikutkan Alvaudennya dalam permainan. Hanya dengan menyuruh terus mengawasi pemain tapi tidak pernah secara benar menjelaskan apa yang harus dilakukan kemudian.
Sampai di panti, Cain dan Tiga Kembar enggan untuk memasuki gerbang karena terhalang kelabang yang memenuhi halaman panti dan masih sibuk turun naik ke dalam tanah tepat seperti yang dikatakan Cain.
"Sebenarnya apa yang mereka lakukan?" tanya Tom.
"Bukankah sudah kukatakan!" sahut Felix mulai berjalan di antara para kelabang yang berwarna hitam tapi banyak batu safir yang menempel juga di tubuh mereka, "Oh iya ... kalian sudah melakukan kontrak dengan mereka?" tanya Felix, tapi setelah melihat ekspresi mereka yang sangat jelas bahwa belum, "Kalau belum, lakukan saja sekarang! kebetulan kan mereka ada disini ... cukup sulit untuk bisa menemukan mereka!"
"Syukurlah kalau sulit menemukannya!" kata Cain tersenyum.
Teo menyenggol Tom, "Kau saja sana!"
"Heh?!" Tom merasa tidak adil dijadikan korban.
"Permisi ...." kata Tan mengangkat tangannya membuat Teo dan Tom panik seketika.
Salah satu kelabang menoleh dan perlahan mulai mendatangi mereka, "Dia datang ... datang ...." kata Teo mencubit Cain dan Tom yang berdiri disampingnya.
"Ada apa Tuan Muda?" tanya kelabang itu.
"Apa kau mau melakukan kontrak dengan kami?" tanya Teo dengan cepat bahkan tidak seperti biasanya yang berbasa-basi dulu untuk membujuk.
"Haha ... boleh! tapi akan sulit ... tidak apa-apa kan?"
"Tidak apa-apa ...." kata Cain.
"Kenapa kau yang menjawab, kami yang akan melakukan kontraknya tahu!" kata Tom emosi.
"Memangnya sesulit apa?" tanya Tan.
"Lebih dari kata sulit sih sebenarnya ... memang untuk melakukan kontrak dengan tanaman atau hewan Ruleorum sangatlah sulit ... terlebih lagi kontrak dengan kaum kami harus dengan gigitan!"
"Jadi karena itu tanaman yang dekat dengan Istana Ruleorum menolak melakukan kontrak karena cara kontraknya sulit atau sampai akan melukai kami?" tanya Teo.
"Semacam itulah ... perkataan mereka saat menolak mungkin akan sangat kasar dan menyakiti hati tapi percayalah itu juga untuk kebaikan Tuan Muda ...."
"Aku tidak tahu itu dan hanya terus memaki mereka dalam hati ...." kata Teo merasa bersalah.
"Memangnya kalau digigit akan sesakit apa?" tanya Tom sepertinya ingin memberanikan diri.
"Kami punya racun, Tuan Muda ... racun yang masuk ke dalam tubuh itulah yang akan tinggal menjadi kontrak!"
"Apa yang terjadi jika terkena racun itu?" tanya Tan.
"Dalam beberapa hari, Tuan Muda akan sakit ... tapi racun itu bukannya membahayakan karena racun untuk kontrak dan racun untuk membunuh berbeda ...."
"Kami tidak boleh sakit dulu sekarang karena harus melakukan sesuatu ... tapi kalau bukan sekarang, kami tidak percaya diri akan menemukan kalian lagi ...." kata Teo.
"Heh?! kan ada Tuan Muda Caelvita! beliau tahu betul dimana tempat kami ...."
"Menurut informasi yang saya dapat ... Tuan Muda berbagi kontrak, yang mana jika salah satu melakukan kontrak maka yang lainnya juga otomatis mengikut. Itu menandakan racun kontrak akan dibagi dalam ketiga tubuh menjadikannya tidaklah terlalu sakit. Tidak seperti Verlin dulu yang harus menanggung racun sendirian, bahkan harus berdiam diri di rumah selama berbulan-bulan ...."
"Tapi, kenapa tidak seperti tanaman atau hewan lainnya yang menolak ... kenapa kau bersedia dengan mudahnya begini ... apa karena Felix memaksa kalian?" kata Cain.
"Tuan Muda bahkan tidak mengatakan apapun soal ini ... murni ini adalah karena keputusan saya sendiri tentunya saudara saya yang lain juga setuju ... lagipula kami ini sangat berguna kalau ada misi yang akan dilakukan dalam bawah tanah atau ingin kabur atau bersembunyi dari bahaya, tinggal memanggil kami ... pasti kami akan datang membantu. Racun kami yang menjadi kontrak juga tinggal menjadi antibodi yang bisa menawar segala racun." awalnya ingin membanggakan diri tapi malah terlihat seperti mempromosikan diri.
"Sudah jelas jika Felix memberitahu mereka!" kata Cain dalam hati setelah mengetahui apa yang mereka bisa lakukan dan mulai tertawa, "Lakukan saja! pasti efeknya hanya akan sama dengan melakukan vaksin ...." kata Cain yang tahu jika Felix pasti sudah menyetujui hal ini dan sudah memperkirakan kalau tidaklah berbahaya melakukan kontrak dengan mereka.
"Jadi siapa yang akan kami gigit? perlu diingat bahwa bekas gigitan kami akan berbekas selamanya!"
"Biar aku saja!" kata Tan mengajukan diri.
"Yang lainnya bersiap, racunnya akan otomatis langsung masuk ke dalam tubuh Tuan Muda lainnya. Tentunya dengan jumlah yang sudah dibagi rata!"
Kelabang mulai membuka mulutnya dan racun berwarna biru keunguan mulai menetes. Teo dan Tom menutup matanya tidak sanggup melihat padahal Tan lah yang akan digigit. Kelabang itu menggigit pundak sebelah kanan Tan meninggalkan bekas yang langsung sembuh dengan sebuah batu safir kecil tumbuh di atas gigitan itu. Tak lama Tan, Teo dan Tom seperti tersengat listrik dan terjatuh sambil menahan rasa sakit yang luar biasa.
Saking kencangnya teriakan mereka bertiga seisi panti langsung keluar semua melihat keadaan mereka kecuali Felix yang tetap tinggal di dalam, "Racun kami tidak akan terdeteksi di Mundclariss, jadi jangan khawatir!"
"Kau pikir aku mengkahwatirkan itu!" kata Cain.
"Kalau dibawa ke rumah sakit kan pasti Tuan Muda akan khawatir kalau racunnya bisa terdeteksi dan bagaimana jika diberi obat penawar yang pasti membuat Tuan Muda akan mengkhawatirkan apa kontraknya akan tidak jadi ...."
Cain hanya menghela napas jengkel, "Aku bahkan tidak mengkhawatirkan itu sama sekali! tapi malah kau yang terdengar khawatir berlebihan ...."
Bu Corliss mulai sibuk menelepon Dokter Mari dengan tangan yang gemetaran. Tiga Kembar ingin dipindahkan ke dalam panti tapi disentuh sedikit saja mereka bertiga langsung berteriak keras.
"Jangan disentuh dulu, sentuhan sekecil apapun akan terasa sangat sakit!" kata Kelabang itu tanpa rasa bersalah sama sekali.
Anak-anak panti yang lain panik melihat keadaan mereka bertiga, "Zan, bawa masuk adik-adikmu!" perintah Bu Corliss.
"Dimana kau Felix?!" kata Cain mencari keberadaan Felix yang daritadi tidak keluar juga melihat keadaan Tan, Teo dan Tom.
"Jangan cari aku! kalau aku keluar dan melihat keadaan mereka aku bisa saja menarik racun itu dan menggagalkan kontraknya!" kata Felix yang sedang mendengar musik agar tidak mendengar suara teriakan Tiga Kembar tapi tetap bisa mendengar pikiran Cain.
"Kau yang mengatur semua ini kan?" tanya Cain.
"Kontrak dengan mereka akan sangat membantu, kau tidak perlu khawatir!" jawab Felix.
"Baiklah ... jangan khawatir! dan berhenti gemetaran begitu!" kata Cain yang mendengar suara Felix yang jelas sedang panik.
"Sepertinya aku harus ke Bemfapirav dulu! nanti aku kembali ...." kata Felix tidak tahan lagi, bahkan suara teriakan kesakitan lewat pikiran Tan, Teo dan Tom kini terdengar jelas.
"Felix, selama ini bukan hanya mencari cara untuk menyelamatkan Kiana tapi juga mencari cara menyelamatkan Tan, Teo dan Tom. Harusnya aku membantunya tapi malah larut dalam kesedihan karena permainan tukar kematian ... pasti berat, Felix harus membawa beban banyak sendirian!" kata Cain dalam hati setelah hubungan komunikasinya dengan pikiran Felix terputus.
...-BERSAMBUNG-...