UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.502 - Pahlawan Yang Sopan



Tan, Teo dan Tom akhirnya bisa berhenti berlari tapi kali ini mengayuh sepeda. Mereka ingin mengeluh karena kaki tetap digunakan saat sudah kelelahan berlari daritadi. Tapi ternyata sangat berbeda dengan berlari dan bersepeda.


"Teknologi memang ada untuk memudahkan ...." kata Teo begitu merasakan perbedaan berlari daripada bersepeda ternyata begitu besar.


"Tapi darimana kau bisa mendapatkan batu permata emerald sebanyak itu?!" tanya Tan.


"Aku mengambil di lemari Felix, banyak disana. Jadi aku ambil saja untuk jaga-jaga." jawab Tom.


"Wah, itu namanya mencuri." kata Teo.


"Felix sendiri bilang kalau perlu ambil saja." kata Tom.


Tom meninggalkan sekantung penuh batu permata emerald di depan rumah yang mempunyai sepeda tadi. Dengan catatan 'Sepedanya kami beli, emerald ini asli." Begitulah mereka kini bisa memakai tiga sepeda itu.


"Tapi, tetap saja rasanya tidak benar ...." kata Tan.


"Kau ini pengecut sekali! apa kita mengambil ini secara gratis? tidak kan?! emerald asli sangatlah mahal. Bahkan yang tadi diberikan Tom itu lebih mahal dari harga tiga sepeda ini." kata Teo.


"Terlebih lagi emerald dari Mundebris, langsung dari Istana besar Emerald Caelvita. Emerald itu dipenuhi dengan banyak energi baik. Bahkan mungkin punya sesuatu yang lebih dari itu ...." kata Tom.


"Kalian sangat lancar sekali berbicara kalau soal hal seperti ini ...." kata Tan menyindir bagaimana Teo dan Tom saling menyambung kalimat.


"Yang jelas, kita tidak mencuri dan saat ini kita sedang dalam perjalanan menyelamatkan dunia. Darimana dunia bisa mendapatkan pahlawan sebaik kita?! di film-film, pahlawan mencuri kendaraan. Semuanya karena alasan mereka sedang terburu-buru untuk menyelamatkan banyak nyawa yang membutuhkan. Tapi kita?! terburu-buru? iya! tapi tidak mencuri. Dunia ini sangat beruntung memiliki kita!" kata Teo sedang berbicara untuk menyenangkan dirinya sendiri.


Tan dan Tom sudah biasa dengan Teo yang seperti itu, jadi hanya perlu diabaikan. Lagipula Teo bahkan tidak memperhatikan yang mendengarkan. Hanya sibuk berbicara sendiri dengan hati yang sedang sangat senang.


Akhirnya mereka sampai, "Aku tidak mau meninggalkan sepeda mahal yang seharga sekantung emerald ini disini!" kata Teo mengambil tali di dalam tas Tom yang sudah diketahui oleh Teo bahwa Tom pasti membawa perlengkapan lengkap, "Aku akan mengikat sepeda ini dengan simpul mematikan. Namanya simpul mematikan karena sampai matipun tidak akan ada yang bisa membukanya." kata Teo tertawa keras sambil mulai menyimpul.


"Bahkan kau sendiri?!" kata Tom.


"Bahkan aku sendiri akan kesulitan membukanya." kata Teo begitu percaya diri, "Kalian duluan! beli tiket, aku akan segera menyusul." Teo masih sibuk mengikat tiga sepeda pada tiang dekat dekat stasiun bawah tanah disana. Setelah itu Teo menyusul saudaranya yang sudah menunggu di depan peron yang disebutkan dalam pesan yang diterima Teo. Tapi tanpa itupun, Teo bisa menemukan mereka berdua dengan mudah karena kekuatan Moshas.


"Rasanya aneh, kereta beroperasi ...." kata Tan merasa tidak enak karena berjalan sesuai apa yang diinginkannya, "Harusnya tidak begini ...."


"Kemana sisi positifmu itu?!" kata Tom tertawa.


"Dia lupa di asrama sepertinya." kata Teo.


"Semoga saja ini hanya perasaanku saja ...." kata Tan.


"Bersyukur saja! kalau tidak, kita harus mengayuh sepeda lagi. Dan berita buruknya, aku tidak percaya diri bisa melepaskan simpul tali yang baru saja kubuat itu. Akan memakan waktu lama untuk melepaskannya ...." kata Teo.


"Kau membuat pekerjaan bertambah saja." kata Tan.


"Tinggal di gunting atau menggunakan benda tajam yang lain, akan mudah dipotong." kata Tom.


"Ow, tidak bisa! aku sudah membuat tali seperti benang yang seperti kujahit disetiap bagian sepeda. Sehingga dipotong pun akan tetap sulit dilepas." kata Teo.


"Aku kagum dengan caramu yang hebat dalam melakukan hal yang tidak penting." kata Tom menyindir.


"Ini kereta kita." kata Tan menyela.


Mereka bertiga masuk ke dalam kereta yang ternyata banyak sekali orang tidak seperti yang dibayangkan.


"Ini karena bus dan taksi tidak beroperasi." kata Tom.


"Jarang-jarang kan, banyak penumpang begini setelah kejadian lubang itu." kata Teo.


"Umur jiwaku yang bolak-balik tiga dunia pasti sudah lebih tua dari orangtua yang ada di dunia ini." kata Teo sangat mendambakan duduk di kursi itu.


"Jaga sopan santun! kita ini berpendidikan." kata Tan menahan Teo yang sudah sangat tergiur untuk duduk.


"Hahh ...." Tom menghela napas kesal.


Tan dan Teo menoleh sebentar dan mendapati Tom sudah duduk di kursi khusus untuk lansia itu.


"Apa-apaan?!" Tan dan Teo tidak percaya apa yang baru saja dilihatnya.


Tom menunjuk kaca dibelakang Tan dan Teo, disana tidak terlihat ada seseorang yang duduk.


"Dasar licik! kau membuat dirimu tidak terlihat?!" kata Teo sebal.


"Kau lupa?! kita harus menghemat energi." kata Tom sudah santai duduk.


"Walau begitu ...." Tan masih tidak habis pikir.


"Kita membeli tiket seperti orang lain pada umumnya, disaat sebenarnya kita tidak terlalu membutuhkannya. Tapi, kita melakukannya agar menjaga hati nurani tetap menjunjung nilai moral yang baik." kata Tom.


Teo melihat sekeliling dan berjalan ke kamar mandi. Tapi itu dilakukan untuk membuat dirinya menghilang. Karena saat kembali Teo sudah ikut duduk di dekat Tom.


Tinggal Tan sendirian yang teguh pada pendiriannya. Lebih memilih duduk di lantai daripada harus menentang apa yang menurutnya tidak baik.


"Terkadang ... aku juga benci diriku sendiri." kata Tan tertawa melihat bagaimana kedua saudaranya itu menatapnya.


"Duduk disana saja dik!" kata salah satu Penumpang Kereta melihat Tan duduk di lantai.


"Tidak kak!" Tan kemudian kembali berdiri karena mengundang banyak perhatian pada penumpang lainnya atas tindakannya yang duduk di lantai itu.


"Tidak ada yang duduk disana juga ... tidak apa-apa!" kata Penumpang lainnya.


Teo dan Tom hanya tertawa melihat bagaimana Tan terlihat kebingungan karena tiba-tiba menjadi pusat perhatian.


"Memang tindakan yang berbudi pekerti luhur selalu menarik perhatian." kata Tom.


Teo yang tertawa keras berhenti seketika saat kereta yang ditumpanginya itu juga berhenti secara mendadak. Dari pengumuman terdengar kalau jalanan rel kereta terhalang oleh tumpukan salju.


"Sudah kuduga ... kita harusnya memang sial begini!" kata Tan akhirnya bisa tersenyum lega.


"Kita harus keluar!" kata Tom tidak bisa menunggu dengan waktu yang tidak ditentukan secara jelas oleh pihak kereta.


"Bagaimana caranya?!" tanya Teo.


"Harusnya aku yang bertanya begitu!" kata Tom.


"Aku lagi?! kau pikir aku ini bank ide apa?!" Teo protes.


"Kita harus cepat!" kata Tan menatap Teo untuk meminta cepat berpikir.


"Walau kau melotot padaku, itu tidak membantu sama sekali ... aku tidak terpikirkan apapun saat ini!" kata Teo, "Ah, aku punya ide!" baru berselang beberapa detik dari seseorang yang katanya tidak punya ide itu.


...-BERSAMBUNG-...