
Garis lingkaran berhasil tergambar penuh. Tan, Teo dan Tom serasa ingin mati dan menjatuhkan dirinya masuk ke dalam lingkaran bersinar jingga itu, "Selamat beristirahat Tuan Muda ...." kata Banks, kemudian mereka bertiga terhisap masuk ke dalam lingkaran itu dan tiba di atas tempat tidur setelah seperti terjatuh dari atap kamar.
"Apa yang terjadi?" tanya Teo mencium bau bantal yang dirindukannya dan menarik selimut tebal dan lembutnya.
"Permainan Gerbang Neraka ini menghadiahkan pemainnya dengan diciptakannya gerbang yang akan membawa kemanapun yang diinginkan pemain. Untuk saat ini Tuan Muda sekalian sepertinya ingin ke kamar ini atau memang hanya ingin sekali tidur, makanya dibawa kesini." kata Banks
Tiga Kembar hanya tertawa dan tanpa sadar mulai tertidur karena kelelahan. Lucunya juga mereka mendatangi tempat yang sama. Padahal biasanya keinginan masing-masing orang berbeda.
Biasanya permainan ini diadakan untuk memberi pekerja bonus liburan kemanapun yang diinginkan setelah bekerja tiada henti di Kantor Neraka. Untuk segala usia juga bisa melakukan permainan ini tapi skalanya juga diatur untuk disesuaikan. Seperti usia dini, misinya hanya untuk menyatukan puzzle dan permainan mudah lainnya. Kemudian gerbang neraka akan membawa mereka ke tempat yang dipenuhi hadiah mainan.
"Apa-apaan?! barusan aku mendengar mereka tertawa, sekarang mereka mendengkur." kata Cain membuka pintu kamar.
"Jangan ganggu mereka!" teriak Felix.
"Kalau begitu biarkan aku mengganggumu!" kata Cain tertawa.
"Ah, ganggu saja mereka! aku tidak peduli ...." kata Felix tapi Cain sudah menutup pintu kamar dan berlari menuju Felix, "Apa?! jangan dekat-dekat!" teriak Felix.
(Kembali ke masa kini ....)
Tan membeli peta di toko buku kecil di luar stasiun kereta di pagi hari saat toko buku itu baru saja buka.
"Aku jadi teringat masa latihan ...." kata Teo sambil tersenyum-senyum sendiri.
"Kau teringat seakan sudah tidak perlu latihan lagi. Sadarlah! kau itu masih dalam tahap latihan!" kata Felix.
"Hahh ... kenangan indahku jadi rusak karenamu!" keluh Teo.
"Jadi bagaimana Kak Cairo latihan? apa ada kenangan indah yang bisa diceritakan?" tanya Teo setelah memperbaiki moodnya kembali
"Tidak bisa dikatakan kenangan indah, menurutku ...." kata Cairo yang disetujui dengan anggukan dan tawa.
Tan kembali dengan peta Provinsi Eartha di tangannya.
"Ini tehmu." Teo menyerahkan minuman hangat yang dibeli dari mesin otomatis saat Tan masuk ke dalam toko buku.
"Jadi ... Desa Kimber ada disini dan Desa Parama ada disini." Tan menandai kedua desa itu dengan spidol merah.
"Bagiamana dengan yang ada ditengah kota itu? maksudku yang pelaku pembunuhan lupa ingatan itu ... tandai juga kota Eartha pusat." kata Teo.
"Tidak ... itu hanya pengalihan." kata Tom melihat titiknya tidak sesuai untuk membentuk lingkaran.
"Pengalihan?" tanya Teo.
"Kita harus mencari apa ada orang hilang atau yang tiba-tiba meninggal karena kecelakaan dekat dari kedua desa ini." kata Tom.
"Jadi ... menurutmu kejadian pembunuhan lupa ingatan di kota itu untuk menutupi pembunuhan yang dilakukan di desa?" tanya Cairo.
Tom merasa senang karena Cairo begitu cepat mengerti, "Apa karena dia lebih tua? tidak ... Teo di usia itu pasti akan tetap telat dalam berpikir seperti sekarang." kata Tom dalam hati memaki saudaranya.
"Apa-apaan tatapan itu?!" Teo tersinggung melihat Tom menatapnya.
"Itu tandanya ... ini sudah dimulai dari sejak lama. Entah sudah sampai mana garis lingkarannya ...." kata Tan.
"Sama dengan permainan, pasti korbannya tidaklah asal pilih ... pasti ada kriterianya atau hal lainnya. Kalau memang benar, kita bisa mengamankan penduduk desa dan fokus melindungi mereka yang akan dijadikan target saja." kata Tom.
"Kita juga harus berpencar mencari desa lainnya untuk mengetahui sudah sampai mana garis lingkaran gerbang itu. Mencari orang hilang atau yang meninggal secara tidak wajar ...." kata Cairo.
"Ini hari minggu, jadi harus kita pergunakan sebaik mungkin. Ayo kita mulai!" kata Felix tidak ingin mereka lama diam untuk berpikir.
"Sebelum itu, kita ke toko handphone dulu!" kata Cairo.
"Untuk?" tanya Teo.
"Aku lihat kalian hanya memakai satu handphone berempat, bagaimana aku bisa menghubungi kalian jika terpisah-pisah. Jadi akan aku belikan dulu kalian handphone untuk kalian masing-masing." kata Cairo.
"Tidak ... tidak usah kak! kami sebenarnya tidak terlalu memerlukan handphone karena ...." Tan tidak menyelesaikan kalimatnya, "Karena kami punya Jaringan Alvauden." sambungnya dalam hati.
"Tapi aku perlu! bagaimana aku menghubungi kalian?! tidak apa-apa ... aku punya banyak uang dan sangat cukup untuk membelikan kalian semua. Menurut kalian karena tinggal di gunung, aku tidak punya uang?! malah karena tinggal digunung makanya aku punya banyak uang yang menumpuk karena tidak ada cara untuk menghabiskannya." kata Cairo.
"Baiklah ... beli dua saja untuk mereka. Untukku tidak usah! berkomunikasi dengan mereka saja sudah cukup, kan?" kata Felix.
"Iya, tidak usah membelikan Felix! dia itu punya banyak uang ... hanya memang tidak mau membeli saja." kata Teo menyipitkan matanya.
Felix kembali ke Desa Parama sedangkan Tiga Kembar mengikuti Cairo yang berbaik hati ingin membelikan handphone baru untuk mereka.
"Tapi ngomong-ngomong Kak Cairo dapat uang darimana?" tanya Teo tidak sopan.
"Pemburu Iblis akan dihadiahi sekantong berlian tapi kebanyakan setelah melakukan misi mereka meninggal atau dipenjara. Kakek, Nenek, Paman, Bibi, Ayah dan Ibuku semuanya meninggal saat melakukan misi tapi karena berhasil membunuh iblis makanya diberi hadiah dan akhirnya semua hadiah itu menjadi milikku karena mereka sudah tidak ada." jawab Cairo.
"Miris sekali ...." kata Teo dalam hati menatap Cairo penuh kasihan.
"Tidak perlu menatapku begitu ... mereka bisa saja tidak perlu melakukan itu tapi tetap mereka lakukan jadi lebih baik menghormati pengorbanan mereka dibanding mengingatnya untuk dikasihani." kata Cairo.
"Maaf kak ...." kata Tan tanpa sadar juga menatap sama seperti Teo.
"Kalian tidak ikut andil dalam kematian mereka, tidak perlu meminta maaf dan tidak perlu turut prihatin karena aku yang ditinggalkan tidak merasa berduka sama sekali ...." kata Cairo tertawa karena sudah sangat sering melihat tatapan itu yang pada akhirnya akan mengatakan hal yang sama, "Mungkin saat umurku seperti kalian saat ini ... kalian bisa mengatakan itu untuk menghiburku tapi sekarang sudah berbeda. Bukannya tidak merasakan sedih lagi atau tidak merasakan apa-apa lagi sih ... tapi karena aku menghormati pilihan mereka dan bagaimana mereka begitu bertanggung jawab dalam melakukan pekerjaan mereka ... kini yang tersisa hanya perasaan bangga saja." kata Cairo.
"Kak Cairo bisa menjadi sosok seperti mereka tanpa harus mati dan tanpa harus membunuh." kata Tom.
"Mungkin ... kalian memberiku kemungkinan itu tadi malam. Mata yang kalian berikan ini mungkin saja akan memberi pengaruh besar ...." kata Cairo.
"Tidak semua pemburu iblis bisa diberikan mata itu karena tidak semuanya bisa dipercaya. Bukan berarti kami mempercayai 100% Kak Cairo tapi kami hanya mencoba percaya ...." kata Tan.
"Akan aku buktikan kalian tidak salah dalam memilih orang untuk dipercayai ...." kata Cairo tersenyum menyerahkan dua handphone baru.
"Ini bukan sogokan, kan?!" kata Teo mengundang tawa.
"Sogokan itu tergantung bagaimana aku memberikan dan bagaimana kalian menerima. Tapi walaupun aku memberikannya dengan niat untuk menyogok kalian untuk mempercayaiku, kalau kalian menolak untuk menerima ini sebagai sogokan ... maka ini bukan sogokan melainkan hanya hadiah saja." kata Cairo tersenyum.
"Baiklah ... saatnya untuk memutus garis lingkaran!" kata Tom.
...-BERSAMBUNG-...