UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.41 - Gelang Safir Cain Hancur



Akhirnya kini mereka masuk kedalam rumah dan pura-pura akan mengerjakan tugas yang nyatanya hanya menulis hal yang sama berulang-ulang.


Setelah masuk ke dalam rumah kini mereka tahu kenapa harus makan diluar tadi. Di dalam rumah sangatlah sempit tapi hampir tidak berisi barang atau perabotan, "Karena sering pindah jadi begini ...." kata Mertie mengharap mereka maklum.


Cain menatap Felix yang sedang melihat ke sekeliling ruangan tapi kemudian Felix menggeleng-geleng menyadari rasa penasaran Cain.


Rumah yang tidak memiliki Alexavier bisa jadi karena pernah terjadi kejahatan atau Alexavier di rumah ini diberhentikan begitulah yang diketahui Felix.


"Sebenarnya dari perusahaan ayahmu bekerja terjadi apa? sampai dikejar-kejar begini?" bisik Teo.


"Ayo kita keluar!" ajak Mertie tiba-tiba.


"Hah?" Teo dan Tom bersamaan.


"Kau tahu sebenarnya akan kemana?" Felix kesal karena daritadi berputar-putar di lorong sempit.


"Aku juga baru kesini, tidak tahu jalan ...." Mertie berhenti dan mengatur napasnya dan mencoba mengingat, "Oh iya lewat sini ...."


"Awas saja kalau bohong ...." Cain ditarik oleh Felix untuk berdiri.


Sampailah mereka di sebuah gedung tua, "Tunggu ... kenapa kita kesini?" Teo menghentikan langkahnya.


"Kau mau aku menjawab pertanyaan tadi di rumahku ... ayo!" tidak mungkin Mertie menjawab pertanyaan Teo disaat ada orangtua Mertie.


Sebelum mereka memasuki gedung tua itu tiba-tiba Felix mendengar banyak yang berteriak dan kemudian dilihatnya banyak cahaya hitam beterbangan pergi, "Malexpir kah?" Felix berlari masuk ke dalam gedung mendahului Mertie, Cain yang melihat itu langsung mengikutinya juga.


Saat mulai memasuki gedung itu, Felix dihentikan oleh Cain, "Kenapa?" tanya Felix.


"Perasaanku tidak enak ...." Cain tiba-tiba gemetaran.


Baru kali ini Felix melihat Cain seperti itu, "Baiklah ...." Felix mengikuti perkataan Cain dan ikut mundur tapi sebuah tangan langsung menahannya.


"Mau kemana kau?" kata suara yang lama kelamaan kini mulai terlihat tubuhnya, "Terimakasih ...." katanya sambil mendorong Felix dan menarik paksa tangan Cain yang terdapat gelang safir dan gelang alexandrite. Dengan tangan yang kini terbakar tapi hantu itu terus saja mencoba menarik gelang safir itu dan akhirnya gelang itu putus, batu safir berceceran di tanah dan tangan hantu itu terlihat hanya tulang saja, "Selamat datang di dunia yang akan segera kiamat!" kata hantu laki-laki itu yang kini mulai berlari pergi.


Mertie, Tan, Teo dan Tom yang baru tiba, "Siapa laki-laki itu?" tanya Tan mencoba membantu Felix berdiri.


Cain terduduk lemas dan memandangi batu safir yang perlahan kini menjadi abu dan Felix bergegas ingin memungut batu safir itu tapi saat digenggam sudah menghilang.


"Kau tahu sesuatu kan Felix? kenapa kau tidak memberitahuku?" Cain mencoba berdiri, "Jawab aku Felix? kenapa aku bisa mempunyai gelang yang selama ini tidak pernah kulihat?" teriak Cain.


"Kalian kenapa lagi bertengkar?! Tom mencoba menarik Cain.


***


Felix dan Cain yang diam tidak saling bicara saat Mertie menjelaskan di dalam gedung tua itu.


"Mereka berdua yah ... bisa-bisanya bertengkar dua hari berturut-turut ...." Teo mengusap-usap keningnya.


"Jadi intinya ayahku tidak sengaja melihat sebuah kejadian yang tidak seharusnya dilihat ...."


"Biasanya yang seperti itu akan langsung dibunuh ... eh sorry!" Tom menutup mulutnya.


"Sepertinya ayahku punya sesuatu yang setidaknya bisa menjamin sementara, karena ayahku pernah di kurung tapi tak lama kemudian dilepas untuk mendapatkan sesuatu tetapi berhasil kabur."


"Jadi hanya ayahmu yang melihat kejadian itu?" tanya Cain.


"Iya."


"Kenapa ayahmu tidak ke luar negeri saja dan hidup terpisah dengan kau dan ibumu agar kalian bisa hidup aman. Kan kalian bisa memulai hidup baru dengan membuat identitas baru ...." kata Felix melirik Cain setelah mendengar pertanyaan Cain tadi.


"Ayahku sudah sering ingin meninggalkan aku dan ibuku tapi entah apa yang terjadi hingga ayahku berubah pikiran."


"Penderitaan jika ditanggung bersama akan membuat penderitaan itu bertambah dua kali lipat!" kata Felix.


"Masalah akan terselesaikan jika mencari solusi bersama!" balas Cain.


"Bukannya solusi tapi akan terluka bersama!" balas Felix, "Harusnya ayahmu dari awal tidak usah memberitahu ibumu dan pergi meninggalkan kalian berdua tanpa mengetahui apa-apa!" sambungnya.


"Cain!!!"


"Apa!!!"


"Harusnya aku tidak memilih kalian ...." Mertie memukul dahinya.


***


Karena pembicaraan mereka tidak berjalan dengan lancar maka rapat pertama mereka berakhir cepat. Felix langsung pergi sendiri entah kemana.


"Tadi bukannya bertengkar, kenapa wajahmu khawatir begitu?" tanya Tan kepada Cain yang tidak berhenti mondar-mandir keluar masuk Rumah Daisy menunggu Felix pulang.


"Aku sedang menunggu truk makanan yang sering parkir di sana ...." Cain menunjuk taman yang bisa terlihat dari depan Rumah Daisy.


"Ini hari libur, biasanya tidak datang!"


"Jadi kalau hari libur tidak datang yah ...." Cain langsung kaget tidak bisa meneruskan kalimatnya karena menyadari yang bicara tadi adalah suara perempuan, bukan Tan.


"Oh ya? kalau tahu kenapa menunggunya ...." Tan menggodanya.


"Cain?" Tan memanggil karena Cain terlihat sedang diam mematung.


"Kak Lia?" Cain kaget.


"Kau bisa melihatku?" Lia lebih kaget lagi.


"Kak Lia? siapa itu?" Tan mencari keberadaan orang lain tapi tidak ada siapapun selain mereka berdua.


Tak lama Cain langsung jatuh duduk di jalanan membuat Tan panik, "Kau baik-baik saja?"


"Jelas sedang tidak baik-baik saja ...." Cain dipenuhi keringat dingin melihat banyak hantu kini mengelilinginya.


"Kenapa kalian datang kesini semua?" tanya Lia pada hantu lainnya.


"Entahlah, kami seperti tertarik kesini ... apa dia bisa melihat kita?"


"Dulu tidak, tapi sepertinya sekarang bisa ... dia teman penerus Sang Caldway ...." kata Lia yang langsung membuat hantu itu ketakutan dan terbang kembali ke rumah masing-masing.


***


Sementara Felix kini berada di depan Optik Gavin sambil memanggil Verlin untuk keluar, "Aku tidak melihatmu datang ...." kata Verlin berpikir sambil mengingat-ingat.


"Kau benar teman dekat Sang Caldway? bagaimana bisa kemampuanmu melihat masa depan menyedihkan begini ...."


"Ini karena aku sudah menjadi Zewhit ... kalau saja aku masih hidup sebagai Viviandem, kau akan terkejut dengan kemampuanku ... Sang Caldway saja rela mengerahkan seluruh Alvauden dan Optimebris saat aku ditangkap oleh para pemberontak ...." Verlin merasa sangat tersinggung.


"Apa yang terjadi jika gelang safir milik Cain hancur?" tanya Felix.


"Gelangnya hancur?"


"Apa yang akan terjadi? kau tahu kan? gelang safir kan ciri khas keluargamu, kau pernah bilang sendiri ... dan hantu selain kamu tidak bisa melihat gelang itu."


"Kekuatannya sebagai Viviandem yang terkurung oleh batu safir akan bebas ... kalau memang benar-benar hancur, kau harus bersamanya sekarang! bukannya malah disini denganku ...."


"Bagaimana aku bisa menemukan batu safir seperti itu lagi?" tanya Felix.


"Di Kerajaan Ruleorum ...."


Belum selesai kalimat Verlin, "Itu hanya ada di Mundebris kan?" Felix menyela.


"Tentu saja ...."


"Kalau begitu ajari aku masuk ke Mundebris!" kata Felix berhenti berjalan setelah sampai di taman, batas antara Jl. Ferench dan Jl. Fawn yang menjadi tempat bertemunya dengan Aloysius dan tempat meninggalnya Nenek Alviani.


...-BERSAMBUNG-...