UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.389 - Menjadi Tangguh



"Menyembunyikan sesuatu? itu juga kalau ada yang bisa disembunyikan ... kalaupun ada, kau pikir aku bisa menyembunyikannya darimu?!" kata Teo.


"Tepat sekali! dia bahkan tidak bisa menyimpan rahasia ... menurutmu dia punya informasi penting yang bisa disembunyikan?! mana mungkin!" kata Felix.


"Terimakasih Felix ...." kata Teo dalam hati menatap Felix, "Kenapa aku malah tersinggung ya?! mendengar itu?!" kata Teo berkebalikan dengan kata hatinya. Walau berhasil keluar dari kecurigaan Tom tapi serasa harga dirinya diinjak-injak.


"Benar juga, kebodohannya saja tidak bisa ia sembunyikan." kata Tom yang membuat Teo tertawa keras.


Tawa Teo mulai berhenti tiba-tiba, "Sini, kau!" Teo ingin menarik rambut Tom tapi Tom bisa menghindar dengan mudah. Sehingga membuat Teo tertawa lagi, "Hahaha ...." tapi beberapa detik kemudian Teo memutar Moshas nya untuk menyerang Tom dengan bagian tumpul Moshas.


"Sepertinya Teo sudah emosi, bahkan sudah menggunakan Moshas nya." kata Banks tertawa.


"Kalau benar emosi, dia pasti akan menyerang dengan bagian yang tajam ...." kata Tan juga ikut tertawa.


"Kau sudah berbicara nyaman dengan mereka ... tapi denganku masih formal ...." kata Felix pada Banks.


"Bagaimana mungkin saya berbicara informal dengan Yang Mulia?!" kata Banks.


"Hubungan kami adalah guru dan murid jadi wajar kalau sudah dekat dan nyaman satu sama lain ...." kata Tan.


"Perlu kau ingat, aku lebih dulu diajarnya darimu ...." kata Felix dengan senyuman miring.


"Memangnya kau sama dengan kami?!" kata Tan menyeringai.


"Kau juga mau mengajakku berkelahi?!" kata Felix menatap dengan tatapan serius.


Tan menyadari itu langsung mundur sedikit dari dekat Felix, "Kau mau mengalami hal yang sama dengan Tom ...." kata Felix tersenyum menakutkan, "Aku tidak akan memperlakukanmu sama seperti yang Teo lakukan, aku akan langsung melemparmu dengan bagian pedangku yang tajam." sambung Felix yang sudah membuat Tan kabur duluan sebelum Felix menyelesaikan kalimatnya. Banks hanya bisa tersenyum melihat pemandangan itu.


"Kau benar akan tetap berbicara formal denganku?!" tanya Felix.


"Tentu saja, Yang Mulia." sahut Banks tanpa keraguan sama sekali.


"Bahkan jika aku menghapus sistem itu?! aku berniat menghapus sistem panggilan itu ... semua di Mundebris bisa memanggil dengan santai nama Caelvita." kata Felix yang langsung membuat Banks menghentikan aktivitasnya yang sedang membalut luka ditangan Felix.


"Jangan, Yang Mulia. Itu akan membuat Quiris meremehkan Yang Mulia dan bebas memanggil dengan cara tidak sopan. Saya sangat menentang hal itu!" kata Banks tegas, "Lagipula ... perintah seperti itu hanya bisa berlaku jika disetujui oleh Alvauden. Tuan Muda Cain tidak akan menyetujui hal itu! harus ada batas antara Caelvita dan Quiris Mundebris ...."


"Kau sama saja dengan Kemp, kuno sekali! sudah zaman modern begini juga ...." kata Felix.


"Tidak boleh, Yang Mulia ...." kata Banks terlihat serius.


"Tidak perlu panggilan hormat untuk dihormati sebenarnya ... orang-orang juga tahu mana yang perlu dihormati dan tidak." kata Felix.


"Pokoknya jangan Yang Mulia. Bahkan mengajukan perintah itupun jangan! kalau terdengar bahwa Yang Mulia mengajukan perintah itu untuk dimasukkan dalam undang-undang Mundebris. Mungkin awalnya para Quiris akan menyebut Yang Mulia sangatlah baik tapi tak lama kemudian Yang Mulia tidak akan ditakuti dan disegani lagi bahkan perlahan tidak dihormati lagi. Saya tahu betul karena sudah pernah melihatnya secara langsung ...." kata Banks.


"Kukira saat itu kau masih sangat kecil?! kau bisa ingat?! menakjubkan juga ...." kata Felix.


"Tentu saja, saya ingat Yang Mulia." jawab Banks mengikat perban dengan kuat.


"Aw! kau sengaja melakukan ini kan?!" kata Felix sebal.


"Yang Mulia kesal kan diperlakukan seperti ini?! kalau Yang Mulia melakukan itu pasti akan diperlakukan seperti ini dengan semua Quiris Mundebris?! apa tidak apa-apa?!" kata Banks seperti mengancam.


"Bahkan dipikirkan pun jangan!" kata Banks.


"Hahh ... kau kaku sekali! seperti fosil prasejarah saja, kuno!" kata Felix.


***


Felix dan Tiga Kembar kembali ke sekolah sebelum matahari terbit. Sebenarnya bisa saja Felix tidak perlu memutar waktu karena libur musim panas terlebih lagi habis menjadi korban pengganti. Tapi karena Zewhit Badut dan Kurcaci mereka harus kembali walau harus absen satu malam tidak masuk ke dalam dunia pikiran mereka. Felix juga dirawat oleh Banks makanya bisa memutar waktu mundur dengan mudah.


Tanpa sarapan dahulu, Tiga Kembar langsung tidur karena kelelahan. Setelah dibanting terus menerus oleh Wadi semalam, tanpa ramuan Banks mungkin mereka harus dirawat di rumah sakit karena menderita patah tulang.


"Daemonimed memang kuakui kuat sekali!" kata Tom yang terbangun karena merasakan nyeri di punggungnya.


"Tidak kubayangkan bagaimana kuatnya Banks ... selama ini bagaimana dia bisa menahan diri saat melawan kita." kata Teo.


Tan hanya diam saja walau sebenarnya terbangun juga. Tapi tidak ikut dalam percakapan Teo dan Tom.


"Dia tidak sekuat itu lagi ... bagaimanapun juga dia sudah menjadi Zewhit." kata Tan dalam hati merasa sedih.


Sementara Tiga Kembar mengistirahatkan diri, Felix menemui Zeki dan Verlin untuk mengetahui apa yang terjadi tadi malam.


Tan, Teo dan Tom kembali tidur setelah terbangun akibat nyeri yang lolos dari ramuan Banks dan bangun saat malam tiba. Mereka berlari menuju ruang makan tanpa mencuci muka dulu karena sudah terlalu lapar. Mereka makan sampai sekenyang-kenyangnya. Bahkan makanan banyak yang langsung ditelan tanpa dikunyah terlebih dahulu.


"Kalian ... seperti habis kelaparan berhari-hari." kata Demelza yang lewat melihat mereka seperti jijik.


Tiga Kembar berhenti seketika melihat Demelza yang merupakan target Zewhit Badut, "Kau tidak apa-apa?!" tanya Teo berbicara dengan mulut penuh sehingga makanan jadi tumpah-tumpah keluar dari dalam mulutnya.


Demelza yang melihat itu terlihat jijik dan langsung pergi menjauh.


"Sepertinya dia baik-baik saja ...." kata Tan melihat ekspresi Demelza yang memang selalu dimilikinya itu.


"Mungkin karena lupa ...." kata Tom.


"Walau lupa tapi saat malam pertama mereka dari dunia pikiran waktu itu mereka langsung tidak enak badan ...." kata Tan heran melihat Demelza terlihat sangat sehat.


Felix ikut bergabung di meja Tiga Kembar berada setelah mengambil makanan.


"Kalian ini makan seperti kucing saja!" kata Felix langsung berdiri pergi setelah melihat bagaimana berantakannya meja mereka.


Walau lega karena telah memutus garis tapi pasti disuatu tempat ada garis baru yang terhubung lagi. Pasti ada korban baru berjatuhan lagi. Dari semua masalah, gerbang neraka ini benar-benar membuat kepala Felix sering sakit akhir-akhir ini.


Malam keempat tahap gangguan akhir Zewhit Badut dan Kurcaci. Semuanya masih sama saja membuat Tiga Kembar terlihat sudah mulai menguap karena kebosanan. Tapi mata mereka melotot setelah melihat Osvald dan Demelza begitu berbeda kali ini.


Teo dan Tom melongo melihat Osvald yang bukannya meringkuk kedingingan seperti biasanya tapi malah berlari kesana-kemari mengumpulkan kayu dan ranting pohon yang terjatuh. Bahkan sampai memotong dan menarik kayu dari pohon. Osvald terlihat sangat aktif sekali berusaha melindungi dirinya dengan membuat alas dari kayu sehingga tidak langsung menginjak salju dan membuat dinding dan atap sehingga terlindung dari angin dingin.


"Dia beradaptasi!" kata Teo masih melongo.


"Bukannya hanya pasrah menerima apa yang terjadi seperti sebelumnya. Dia sudah berusaha bertahan hidup." kata Tom juga kagum melihat perubahan Osvald itu, "Dia jadi tangguh begini ...."


...-BERSAMBUNG-...