UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.305 - Ultisidium Pada Tiga Kembar



Felix selesai makan dan mulai membuang sampahnya kemudian mulai bersiap melanjutkan perjalanan lagi. Felix baru berjalan sebentar tapi ada suara teriakan dari belakang. Rupanya itu penjaga kasir yang tadi, "Kau yakin akan berjalan kaki ke bandara?"


"Ya!" balas Felix santai.


Penjaga kasir itu berlari menghampiri Felix, "Pakai yang ini!" mengganti senter Felix yang kecil dengan senter baru yang besar, "Disini taksi tidak akan datang jika dipanggil walau dibayar mahal sekalipun. Kalau kau mau, kau bisa menginap disini. Besok baru berangkat! lebih aman daripada malam begini ...."


"Rupanya dia orang baik ...." kata Felix dalam hati, "Tidak, ini sudah cukup! terimakasih." Felix menunjuk senter pemberian penjaga kasir itu.


"Memang tidak ada penjahat disini, makanya aku aman hanya sendirian berjaga disini. Tapi banyak hantu ... bahkan tidak sengaja menyentuh pohon saja akan membuat sial jadi tidak ada cctv dipasang dijalan ini, bahkan ada yang pernah berkemah disini tapi pulang dengan keadaan terluka. Masih banyak lagi kejadian yang mengerikan terjadi disini ...."


"Rupanya ada Nucusno disini ...." kata Felix dalam hati sambil tersenyum, "Tidak apa-apa! saya lebih takut tidak bisa masuk sekolah besok ...." kata Felix bercanda.


"Baiklah, hubungi nomor ini jika terjadi sesuatu atau kabari setelah kau melewati jalan ini dan sampai di bandara!"


"Ok." Felix meraih nomor telepon itu, "Ini bayaran untuk senter!" Felix mengeluarkan gelang buatannya, dengan gelang itu Felix bisa merasakan jika penjaga kasir itu dalam bahaya.


"Terimakasih!" penjaga kasir itu langsung memakainya, "Hati-hati di jalan ...."


Felix melanjutkan perjalanan dengan menggunakan senter besar pemberian penjaga kasir itu. Walau sebenarnya Felix tidak perlu senter karena kini mata hijaunya dapat melihat dalam kegelapan. Senter kecil yang dibawanya hanya sebagai hiasan saja karena akan aneh jika berjalan di malam hari tanpa senter.


Jika tidak mengambil rute lain pastinya Felix tidak akan menemukan jalan ini dan tidak akan menemukan jawaban dari pencariannya. Sudah jelas bahwa 8 Iblis yang datang kesini itu adalah Nucusno. Felix melihat aura jingga bersinar terang di dalam hutan. Tapi bisa disimpulkan bahwa mereka itu berpihak pada Efrain. Felix ingin masuk ke dalam hutan tapi diurungkan niatnya. Setidaknya dia sudah mendapatkan jawabannya. Nucusno tidak mungkin terlalu lama meninggalkan pohonnya jadi tidak perlu terlalu dikhawatirkan. Fakta bahwa mereka dari Eartha pusat setelah Purgaedis sepertinya mereka dipanggil oleh Efrain.


"Dan yang satu sudah kembali ...." kata Felix melihat Iblis yang baru saja melewati pendeteksi emeraldnya yang ada di bandara. 1 dari 8 Iblis yang dari Eartha pusat itu sepertinya sudah kembali.


Iblis yang baru saja kembali itu dengan secepat kilat sudah sampai dan melirik Felix sebentar saat akan memasuki hutan.


"Apa mereka akan menyerangku?" Felix tidak takut tapi tetap berhati-hati dan waspada saat berjalan disana.


Hingga akhrinya Felix merasakan udara panas, berbeda dari jalanan tadi yang dipenuhi pohon yang udaranya sejuk.


Felix melihat jam tangannya yang menunjukkan 01.40 am. Jalanan sudah sepi tidak seperti tadi pagi. Felix merogoh saku celananya dan mencari tempat duduk untuk memotong kukunya. Setelah memotong kukunya, Felix harus membagi-baginya lagi agar jumlahnya lebih banyak. Kuku Felix kini jadi berbentuk lebih kecil dari butiran pasir karena dipotong sampai kecil. Dikumpulkan dalam sebuah kotak dan Felix mulai mencari tempat untuk menaruh kukunya itu.


Felix mencabut tiang yang sedang ada berkibar poster kampanye dari calon gubernur, "Disamping trotoar jalan harusnya pohon, bukan ini!" diambilnya satu potongan kuku dan dilemparkan ke tempat tiang tadi berada dan tumbuhlah pohon yang setinggi pinggang Felix itu. Penyangga tiang dan beton hancur karena pohon yang tumbuh memasukkan akarnya ke dalam tanah yang berada di bawah beton jalan itu. Walau begitu tetap terlihat rapi seperti memang sengaja dibuat lubang di beton itu untuk sebuah pohon.


Felix mulai mengumpulkan banyak tiang dan poster kain di sepanjang jalan itu dan menumbuhkan pohon satu per satu dengan kukunya. Setelah itu dia berpindah lagi ke seberang jalan dan melakukan hal yang sama walau dengan poster calon yang berbeda kini, "Memangnya melakukan ini akan membuat orang tertarik untuk memilih?" Felix sudah agak muak melihat foto calon dan tulisan janji-janjinya di poster itu.


Kali ini Felix berpindah ke median atau bagian tengah jalan yang memberi pemisah antara jalur satu dengan lainnya.


"Apa yang harus aku lakukan disini? menanam pohon disini rasanya akan mengganggu jalan jika musim gugur, apa aku tanam bunga saja ya?!" Felix mengeluarkan benih bunga yang tadi dibelinya, "Bagaimana aku menanamnya? tidak ada tanah sama sekali, tidak seperti pohon yang bisa tumbuh sendiri ...." Felix bingung karena bagian median hanya beton saja.


"Iya, iya, iya, iya, iya, iya!" para benih bunga itu menjawab berulang-ulang dan bersamaan.


"Iya, ok! cukup! berhenti!" Akhirnya Felix menarik pedang dari punggungnya dan mulai menusukkannya ke dalam beton itu sampai menyentuh tanah yang ada di bawahnya. Felix langsung menaruh benih bunga ke dalam lubang yang terbentuk oleh pedang Felix itu, "Oh, tidak ... warna bungamu apa?" Felix tidak memikirkan terlebih dahulu soal konsepnya. Bagaimanapun juga supaya tidak dicabut akan lebih baik jika membuatnya tampak cantik untuk dilihat.


"Ungu!" teriak benih bunga itu yang sudah ada di dalam lubang.


"Oh, iya ok!" Felix mulai menanyai satu per satu dari benih itu untuk mengatur penempatan warna.


"Butuh bantuan Yang Mulia?" suara dari seseorang yang berasal dari belakang Felix langsung membuat Felix bersiaga dan secepatnya berbalik untuk melihat siapa yang bertanya dan memasang posisi bertahan.


Ternyata itu adalah 8 Iblis yang pernah dilihatnya menyebrang itu dan salah satunya yang tadi berpapasan dengannya di jalan.


"Bantuan?" Felix merasa dirinya salah dengar.


"Kami adalah Iblis dan sudah kewajiban bagi kami menjadi bagian dari prajurit Yang Mulia Efrain tapi itu tidak menandakan bahwa kami harus selalu menaati semua perintahnya. Kami juga berhak hidup menurut kata hati kami ...." kata Iblis dengan tubuh seperti kunang-kunang bahkan juga mengeluarkan cahaya yang sama.


"Lagipula kota ini akan lebih bagus jika bukan dipenuhi oleh tanaman palsu." kata Iblis berwajah ayam.


"Baiklah ...." Felix menyerahkan dan membagi-bagikan amplop kertas yang berisi benih bunga pada kedepalan Iblis itu. Mereka langsung menancapkan pedang masing-masing sama seperti cara Felix tadi dan mulai menanam benih bunga.


Kini jalanan dekat bandara dipenuhi pohon kecil dan Felix mulai menyentuh aspal untuk membuat benih bunga tadi tumbuh. Serbuk hijau menyebar masuk ke dalam tanah dibawah tangan Felix dan mulai keluar bersamaan dengan bunga yang tumbuh langsung dengan bunga yang bermekaran berwarna warni.


"Kami pamit, Yang Mulia!" kata kedelapan Iblis setelah selesai membantu. Felix merasa canggung dengan suasana itu tapi pekerjaannya jauh lebih mudah dan cepat berkat mereka.


Saat ini kedepalan Iblis itu sedang memegang pedang masing-masing dan tentunya tidak punya pilihan lain selain harus memihak Efrain karena bagaimanapun Efrain adalah raja mereka. Tapi dengan ini menandakan tidak semua prajurit Efrain setia melainkan hanya terpaksa harus bergabung saja.


Felix mengumpulkan tiang dan poster lalu meletakkannya di depan bandara dengan menulis catatan, "Ini tidak menghasilkan oksigen!"


Setelah meninggalkan catatan itu Felix bersiap untuk masuk ke dalam bandara untuk pulang tapi jantungnya tiba-tiba berdegup kencang seperti ada yang memukulnya dari dalam dadanya atau seperti ada yang ingin keluar dari dalam tubuhnya itu saking kerasnya, "Mereka ... dalam bahaya?!" tiba-tiba Felix langsung tiba di sebuah rumah yang asing dan belum pernah didatangi sebelumnya. Felix langsung merangkul dari belakang mereka bertiga dan mulai membawanya menghilang dan menuju ke halaman Istana Ruleorum.


"Hahh?! kita ada dimana?" tanya Teo melihat sekeliling, "Barusan kita ada di dalam Rumah Osborn ...."


"Kalian sudah gila? apa yang kalian lakukan? kalian berniat bunuh diri?!" Felix berteriak dengan nada yang menakutkan.


...-BERSAMBUNG-...