
"Tapi aku belum pernah mencoba melakukannya sih!" kata Cain sambil menggaruk-garuk kepalanya.
"Cih, kau ini benar-benar tidak bisa dipercaya!" kata Felix memukul tangan Cain yang tidak berhenti menggaruk-garuk itu.
Cain hanya tersenyum malu dan mulai merangkul Felix, "Sebenarnya apa yang ingin kau ubah? kau melihat masa depan lagi?" tanya Cain.
Felix hanya diam sambil berjalan dirangkul Cain, "Hem ... aku jadi penasaran!" kata Cain dengan ekspresi wajah yang menyebalkan.
Felix berhenti berjalan melihat ekspresi Cain itu dan langsung memukul wajahnya. Cain yang dipukul wajahnya hanya tertawa.
Tak jauh dari tempat Felix dan Cain berada terdengar letusan dan kobaran api yang sangat besar membuat orang-orang di dalam mobil yang sedang menunggu lampu hijau langsung keluar semua. Cain yang hampir jatuh dari trotoar saking kagetnya untung ada Felix yang merespon cepat menolongnya.
"Bagaimana ini? kita harus kesana membantu!" kata Cain terlihat pucat.
"Tidak perlu!" balas Felix.
"Heh ... apa maksudmu? kau tidak lihat itu ...." Cain dengan hebohnya tapi dihentikan oleh Felix.
"Tidak ada korban jiwa!" kata Felix.
"Ba ... gaimana kau bisa tahu dan seyakin itu?!" tanya Cain.
"Hanya tahu saja!" kata Felix, "Tapi jika kau tidak percaya kita bisa kesana!"
Felix dan Cain datang ke lokasi kejadian, walau jauh tapi tetap jelas dan terasa panas yang menyengat dari gedung panti asuhan yang terbakar itu. Para pemadam kebakaran begitu cepat datang karena lokasinya berada di tengah kota tapi api tak kunjung padam juga.
Cain melihat reaksi Felix melihat pemandangan yang tidaklah asing lagi baginya ini.
"Aku tidak apa-apa!" kata Felix yang tahu jika Cain mengkhawatirkannya.
Sebuah microphone terasa sengaja mengenai kepala Felix dan Cain. Saat berbalik ia melihat sosok yang familiar, "Haha ... ibu! mau meliput berita?" kata Cain dengan wajah polos.
"Kalian sedang apa disini sudah hampir tengah malam begini!" kata Daisy.
"Sama dengan ibu, penasaran! sepertinya kami akan mengikuti jejak ibu dan menjadi wartawan juga!" kata Cain dengan ekspresi dan nada bicara yang dilebih-lebihkan.
"Wah ... benarkah?" Daisy dengan wajah berseri-seri, "Kalian berharap aku mengatakan ini kan?!" ekspresi Daisy langsung berubah.
Felix dan Cain hanya memaksakan tertawa setelah alasan asal-asalanya gagal.
"Cepat pulang setelah taxi yang ibu panggil datang!" Daisy langsung mengeluarkan smartphonenya.
"Baik!" kata Cain dengan nada lesuh.
Mereka berdua langsung pulang dengan taxi yang dipesan oleh Daisy. Sementara Daisy terlihat sibuk membaca informasi yang didapatnya di lokasi kejadian barusan.
"Begitu ya kalau benar-benar melakukan pekerjaan yang dicintai ... tidak pernah mengeluh dan selalu bersemangat bahkan kurang tidur dan ...."
Felix melanjutkan, "Jarang mandi!" mereka berdua langsung tertawa terbahak-bahak membuat sopir taxi jadi mengintip dari kaca spion nya.
***
"Tapi bagaimana kau tahu tadi kalau tidak ada korban jiwa?" tanya Cain saat menekan kata sandi pintu.
"Karena aku yang melakukannya!" jawab Felix dalam hati.
Cain yang masih menunggu jawaban akhirnya menyerah karena hanya mendapat senyuman menyebalkan dari Felix.
"Aw!" teriak Felix dan Cain setelah membuka pintu untuk masuk ke dalam rumah.
"Ah! kami pikir pencuri!" kata Teo.
"Kan biasanya hanya pencuri yang datang jam segini!" tambah Tom.
"Padahal sebenarnya kita hampir tiga hari tidak pulang!" kata Cain dalam hati sambil tertawa yang didengar juga oleh Felix.
Keesokan paginya semua murid Gallagher terlihat sibuk memandangi ponsel masing-masing dan televisi yang dipasang di loby sekolah terlihat dipenuhi penonton yang sedang melihat Ted dari penjara dibawa untuk melakukan sidang.
"Putusannya bagaimana ya nanti?" bisik salah seorang anak.
FCT3 yang melihat Mertie hanya lewat saja sudah tidak sudi melihat wajah bahkan berita tentang Ted lagi.
"Tapi Mertie sebenarnya sangat sabar ya?!" kata Teo.
"Eh?!" kata Tom merasa tidak setuju.
"Kalau aku adalah Mertie, aku pasti akan ke ruang sidang dan melakukan sesuatu pada Ted!" kata Teo.
"Dengan kepribadian Mertie rasanya mustahil dia tidak melakukan apa-apa ... mengingat dia adalah hantu merah muda dan dengan mempunyai emosi yang meledak-ledak, kecuali terjadi sesuatu atau sedang menyimpan rencana besar ...." kata Cain menghisap lolipopnya.
Rombongan guru Setengah sanguiber terlihat datang mendekat, Felix dan Cain segera menarik tiga kembar untuk menjauh.
"Eh, aku masih mau lihat be ...." kata Tom yang dipaksa ditarik.
Saat mereka hendak pergi darisana terdengar dari belakang anak-anak berteriak histeris melihat berita secara langsung itu. Mereka berlima yang penasaran mendengar itu langsung kembali ke barisan penonton juga.
Pemandangan menyeramkan saat kepala Ted tertembus peluru hendak menaiki tangga untuk memasuki gedung sidang. Semua wartawan yang ada disana langsung panik bukan main dan terlihat bersamaan menunduk. Tapi tak lama televisi langsung dimatikan oleh pihak sekolah karena berita langsung yang tiba-tiba menjadi tontonan horor itu.
Ada anak-anak yang menyayangkan karena tv dimatikan tapi ada juga yang bersyukur karena tidak bisa melihat hal mengerikan seperti itu.
Mertie yang tiba-tiba datang dengan berlari setelah mendengar dari anak-anak di dalam kelas yang tiba-tiba melempar smartphonenya karena melihat kejadian mengerikan itu.
"Tidak! jangan mati! jangan mati sampai aku yang membunuhmu sendiri!" teriak Mertie dalam hati yang bisa didengar oleh Felix.
Cain segera mengejar Mertie untuk dihentikan ke tempat kejadian tapi baik itu Cain yang lebih dulu mengejar tidak bisa mendekati Mertie sama sekali.
"Apa dia itu Quicksilver?!" kata Teo kehabisan napas.
"Tidak! ini sih sudah kekuatan Superman!" balas Tom yang ikut berhenti juga.
Bahkan Pak Acton tidak bisa menghentikannya.
"Dia akan baik-baik saja kan?" tanya Tan.
"Apa kita perlu menyusulnya?" tanya Cain pada Felix lewat pikirian.
"Dia pasti bisa menjaga dirinya sendiri!" balas Felix.
"Tapi bagaimana kalau dia melakukan hal yang tidak-tidak? sedangkan menurutku dia ini hanya bisa bertahan hidup karena Ted juga masih hidup tapi jika Ted meninggal ... apa yang akan terjadi pada Mertie?" kata Cain.
"Itu bukan urusan kita! kalau dia mau bunuh diri, itu adalah pilihannya!" kata Felix dingin.
"Bagaimana bisa kau mengatakan itu dengan santainya? apa kau tidak tega sama sekali dengan Mertie?!" Cain mulai emosi.
"Lalu kau maunya aku bagaimana? memanjat pagar sekolah dan bolos tidak masuk pelajaran hanya untuk memastikan Mertie baik-baik saja?" balas Felix.
Teo dan Tom mulai saling kode melihat dua orang itu bertengkar lagi.
"Hanya?! nyawa Mertie bagimu tidak ada artinya ... hanya?!" Cain tidak habis pikir dengan perkataan Felix.
Tan menghela napas panjang, "Diam!" teriak Tan, "Kau ... Cain! kalau memang mau menolong Mertie berhenti bertengkar dengan Felix dan segera pergi mengejar Mertie! dan kau Felix! jangan meladeni Cain bertengkar untuk mengulur waktu karena kau tidak ingin Cain pergi mengejar Mertie ...."
Cain hanya memikirkan bagaimana untuk mengejar Mertie tapi Felix hanya memikirkan bagaimana menghentikan Cain. Persahabatan yang rumit, saat Cain berusaha meyakinkan Felix yang egois tidak memperdulikan orang lain tapi Felix sendiri yang egois hanya memperdulikan sahabatnya sendiri.
...-BERSAMBUNG-...