
Cain yang bahkan tidak mengeluarkan Aura Leaure, kini mengeluarkan Aura Alvauden juga. Seharusnya Felix bisa dengan mudah menemukannya tapi karena Cain ternyata punya cara untuk mengatasi hal itu.
Dari jarak dekat, Felix bisa dengan mudah mengetahui keberadaan Alavudennya bahkan jika mereka menyembunyikan dirinya sekalipun. Tapi Cain menggunakan itu untuk bersembunyi dengan menjaga jarak aman, hanya perlu tidak terlalu dekat dengan Felix agar tidak bisa ditemukan.
Bukan hanya Cain yang merasa tersiksa dengan aura yang sangat besar itu tapi Tan, Teo dan Tom merasa terbebani oleh aura itu. Terlebih lagi tidak ada Cain yang bisa menggambarkan garis pelindung jika harus menyelinap masuk ke daerah musuh atau bersembunyi dari musuh.
Dulunya mereka hanya menggunakan ramuan biasa yang dibuat oleh Banks agar tidak terlihat setelah kepergian Cain tapi setelah memunculkan aura besar itu, cara untuk menyembunyikan diri yang sempurna haruslah dengan cara yang sulit.
Saat ini Teo berusaha keras untuk terus fokus agar dirinya tidak terlihat atau auranya akan muncul dan dirasakan sedang berada di daerah musuh.
"Balduino tidak mungkin ada di luar sini ...." maksud Teo adalah lapangan luas tak berujung itu yang dipenuhi oleh lautan api yang membakar tanpa ampun milayaran manusia.
"Aku bilang abaikan! kita hanya perlu memeriksa sel penjara saja ...." kata Felix memutar wajah Teo untuk menghadap ke depan saja tanpa menoleh ke kanan dan ke kiri.
Neraka khusus untuk manusia sangatlah luas, seperti berupa negara kecil yang khusus sengaja disediakan. Sel penjara berjejeran membentuk lingkaran sedangkan di tengah-tengah ada lapangan atau lebih tepatnya lautan api. Tapi tak hanya itu, ternyata ada juga neraka lainnya di lantai atas. Teo hanya bisa membaca tulisan yang berada di lantai tiga yakni Neraka Es. Selanjutnya sudah tidak bisa lagi dibaca karena terlalu jauh, padahal masih banyak tingkatan lantai yang tidak bisa terhitung jumlahnya karena menjulang tinggi sampai menyentuh langit.
"Kita tidak bisa mencarinya disini!" kata Teo sudah pesimis.
"Kita coba saja dulu! kalau tidak ditemukan kita coba cari diluar ...." kata Felix.
"Kalau belum ketemu juga?" tanya Teo.
"Hyacifla tadi memberitahu kita kalau Roh Balduino ada di Neraka ... tapi siapa tau dia ada di sisi lain dari neraka yakni Bemfapirav. Siapa tahu saja dia ada disana!" jawab Felix masih belum menyerah.
"Apa kau memang orang yang seperti ini selama ini? atau aku baru menyadarinya?" kata Teo dalam hati menatap Felix yang begitu bersungguh-sungguh mencari Balduino.
Teo sudah cukup lama berada di dalam neraka itu dan sibuk mencari keberadaan Balduino tapi itu tidak membuatnya sudah beradaptasi disana. Malah semakin lama dia disana, rasanya semakin campur aduk saja perasaannya. Seperti masuk ke dalam mimpi buruk atau masuk ke dalam sebuah film horor yang sangat ditakutinya. Sedangkan Felix terlihat terus memeriksa satu per satu isi sel penjara dengan menjinjitkan kakinya yang pendek.
"Bagaimana kalau kita sampai tua disini?" kata Teo yang berlebihan tapi tidak salah juga karena untuk memeriksa semua sel penjara akan membutuhkan waktu yang sangat lama, "Bahkan terkadang aku bingung dengan umurku sendiri karena seringnya bolak-balik tiga dunia yang memiliki waktu yang berbeda ...."
"Haha ... jangan khawatir! Waktu Mundebris dan Bemfapirav sama sekali tidak berpengaruh dengan tubuh, kecuali jiwa mungkin iya ...." kata Felix.
"Usia jiwaku sekarang sudah 100 tahun dan usia tubuhku baru 12 tahun ...." kata Teo tertawa dengan ekspresi wajah yang lucu.
"Sebaiknya kita kembali!" kata Felix yang membuat Teo begitu senang tapi berubah saat Felix melanjutkan, "Besok kita kembali lagi!"
"Apa? besok lagi?!" kata Teo membuat dirinya muncul sekilas seperti kilatan petir karena tidak fokus.
"Tidak perlu kita! hanya aku sendiri saja juga bisa ...." kata Felix.
"Bagaimana kau bisa mencarinya sendiri?! bahkan jika memanggil ratusan orang membantu, masih akan memakan waktu bertahun-tahun lamanya untuk selesai memeriksa neraka ini!" kata Teo.
"Jadi maksudmu apa sebenarnya? kau mau membantuku atau hanya berceramah saja?!" kata Felix.
"Besok aku akan menemanimu lagi ...." kata Teo dengan nada lesuh.
"Tidak perlu ... besok biar aku membawa Tom! kalian bergantian saja ... tidak baik juga terpapar terus menerus api neraka walau sudah meminum ramuan penyesuain tubuh." kata Felix.
"Kau bagaimana ...." kata Teo.
"Aku? hahh ... jangan mengkhawatirkan aku yang punya banyak nyawa dan punya banyak cara untuk bisa hidup kembali." kata Felix.
"Sudahlah ... kita lanjut sedikit lagi baru kemudian pulang!" kata Felix.
"Caelvita yang mempunyai banyak nyawa ... membuatku penasaran bagaimana Caelvita sebelumnya, Iriana bisa mati? sekuat apa musuhnya atau apa yang sebenarnya dia lakukan sehingga membuang nyawanya sekaligus ... tidak ... aku tidak tahu apa yang terjadi ... bisa saja, bukannya karena musuh terakhirnya itu tapi prosesnya selama menjadi Caelvita sudah membuatnya menggunakan satu per satu nyawanya seperti yang sedang Felix lakukan saat ini ... katanya Iriana menjadi Caelvita yang paling berumur pendek, aku harap Felix tidak mengikuti jejak Iriana itu!" kata Teo dalam hati.
"Siapa itu?" tanya seseorang dibalik jeruji besi.
"A ... ap ... apa dia melihatku? jangan-jangan tadi aku sempat melamun ...." kata Teo mulai gemetaran dan takut untuk menoleh melihat siapa pemilik suara itu dan hanya mulai berlari menuju Felix.
"Ada apa? kenapa kau berlari?" tanya Felix merasakan Teo menabraknya dari belakang.
"Ayo kita pergi!" kata Teo menggigiti bibirnya dan menggepalkan tangannya dengan kaki terus berlari di tempat yang sama.
"Kau ini tidak sabaran sekali ... baiklah!" kata Felix menuruti permintaan Teo.
Untuk keluar dari neraka itu saja membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Mereka berdua sudah lumayan jauh mencari tapi tetap saja masih jauh untuk bisa dibilang sampai setengahnya.
"Tuan Muda!" suara Duarte yang tiba-tiba masuk ke dalam pikiran Felix.
"Tunggu! sebentar lagi aku keluar ...." kata Felix mempercepat langkah kakinya.
"Tidak! jangan keluar dulu!" kata Duarte berteriak.
"Ada apa? apa ada seseorang yang datang?" tanya Felix menghentikan langkahnya.
"Hah? siapa? Efrain kah?" tanya Teo.
"Tidak! aku tidak merasakan aura Efrain sama sekali ...." jawab Felix.
"Pokoknya jangan keluar dulu, Tuan Muda! tunggu sampai aku beri tanda!" kata Duarte.
"Kau! apa yang kau lakukan disini?" tanya seseorang yang suaranya masuk ke dalam telinga Felix karena Felix mencoba untuk mendengar suara di luar dan mencari tahu apa yang membuat Duarte menghentikannya untuk keluar.
"Yang Mulia Ratu! itu ... Tuan Muda ada disini!" kata Duarte dengan suara gugup.
"Felix ada disini? aku tidak merasakan auranya!" kata suara perempuan yang menurut Felix bukan pertama kalinya ia mendengar suara itu.
"Suara ini!" Felix langsung berlari keluar dengan cepat.
"Kata Duarte jangan keluar dulu, kenapa kau malah berlari?" teriak Teo berusaha mengejar Felix.
"Aku tahu suara ini ...." kata Felix akhirnya sampai di luar dan menemukan seseorang yang tidak sadarkan diri dengan ikatan diseluruh tubuhnya.
"Siapa dia?" tanya Felix melihat Aura Setengah Aluias terpancar dari tubuhnya, "Kemana orang itu?"
"Siapa dia? kemana orang itu? apa maksudnya? kau sedang membicarakan berapa orang sih?" tanya Teo bingung.
...-BERSAMBUNG-...