UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.403 - Tidak Terduga



Teo dan Tom baru sadar ketika pijakannya sudah hilang dan mulai terjatuh ke dalam air. Teriakan histeris Tan terdengar begitu keras melihat Teo dan Tom saat ini sedang tercebur masuk ke dalam air yang dipenuhi es. Tan sambil memukul-mukul dinding tidak terlihat itu berusaha untuk memasuki dunia Zewhit Kurcaci untuk menolong Teo dan dan Tom tapi bagaimanapun Tan mencoba tetap tidak bisa menghancurkan dinding itu.


"Hahh ... kalian tidak apa-apa?! cepatlah keluar darisana!" kata Tan begitu lega setelah melihat Teo dan Tom muncul ke permukaan.


"Tentu saja kami tidak apa-apa. Kau ini bodoh atau bagaimana?! kan kita bukan target ...." Tom menunjukkan pakaiannya yang tetap kering.


"Kau sendiri juga bodoh kalau begitu! mengkhawatirkanku, padahal mereka bukannya mengejarku tapi mengejar Demelza." kata Tan.


"Aku lupa ...." kata Tom mengalihkan pandangannya.


"Aku juga lupa ...." kata Tan tertawa malu.


"Dimana Osvald?! hahh ... gara-gara kau, kita jadi kehilangan jejaknya!" kata Teo menyalahkan Tan.


"Gara-gara kau juga aku kehilangan jejak Demelza tahu?!" balas Tan.


"Setidaknya kau mudah ... bisa mengikuti arah kejaran orang-orang itu. Pasti semuanya menuju tempat Demelza berada. Sedangkan kami, tidak ada satu orangpun disini." kata Tom.


"Jejak kaki! kan jelas dilihat di salju ...." kata Tan memberi solusi.


"Kau tidak lihat salju yang tidak berhenti turun ini?! langsung menutupi jejak kaki yang ada." kata Tom.


"Demelza juga pintar bersembunyi jadi susah untuk ditemukan kalau sudah bersembunyi." kata Tan.


"Baiklah ... kalau begitu ...." kata Teo memegang dinding.


"Apa?!" tanya Tan, "Kau mengajak tos?!" Tan malu sendiri melihat tingkah Teo.


"Cepat lakukan saja!" kata Tom sudah menempelkan tangannya juga.


"Aku sering lupa kalau kau juga suka yang seperti ini ...." kata Tan terpaksa menaruh tangannya pada dinding itu juga, "Auh, cepat pergi sana! bikin malu saja." Tan langsung pergi setelah adu tos dengan dinding penghalang yang tidak terlihat itu. Sangat memalukan tapi sangat memberi semangat juga.


Teo dan Tom mulai berjalan juga mencari keberadaan Osvald dengan badai salju yang lebih parah dari malam sebelumnya. Dinginnya juga semakin terasa masuk meski dengan pelindung dimensi buatan.


"Dimana lagi ini?!" tanya Teo melihat area baru di dunia Zewhit Kurcaci yang belum pernah dilihat sebelumnya.


"Kukira akan ke desa itu lagi ...." kata Tom mengira Osvald akan disiksa seperti kemarin malam lagi. Sehingga sudah mempersiapkan banyak hal ditasnya.


Tan juga kesulitan mencari Demelza, sambil melihat Teo dan Tom juga perlahan menjauh dari pandangannya, "Pasti sangat dingin disana ... wajar jika mereka menggunakan baju tebal seperti mau berperang." kata Tan menyesal sudah meledek kedua saudaranya.


Teo menoleh melihat Tan tapi sudah tidak jelas karena sudah jauh, "Dia pasti bisa menjaga diri sendiri dengan baik. Buktinya dia bisa melewati setiap malam sendirian. Kalau kau pasti sudah menjadi target juga dari malam pertama." kata Tom membuat Teo jadi jengkel.


"Aku selalu saja penasaran dengan Zewhit setelah membaca banyak hal tentang Bemfapirav. Bertemu dengan mereka berdua adalah suatu kehormatan. Tapi setelah merasakannya sendiri, bertemu dan masuk ke dunia mereka. Rasanya ... diluar dugaan ...." kata Tan yang sedang menatap jalan yang dibawahnya ada banyak harimau yang siap menerkam sedangkan jalan hanya ada seutas tali untuk menyebrang, "Tidak mungkin Demelza lewat sini ...." Tan ingin memutar arah, "Tapi kalau aku terjatuh kan, mereka juga tidak bisa melihatku ...." Tan ingin memberanikan diri dengan menginjakkan satu kaki pada tali tapi mundur setelah merasakan tali itu terus bergoyang, bukannya tertarik dengan ketat.


"Hahh?! Osvald!!!" teriak Teo dan Tom mulai berlari melihat Osvald sedang berusaha keras menghindar tapi kelihatannya sudah terluka karena ada cairan berwarna merah terus menetes dari lengannya.


"Apa itu?! manusia salju?!" Teo baru bisa memperhatikan dengan jelas setelah mulai mendekati arah dimana Osvald berada, "Astaga ...." Teo menutup mulutnya melihat sebuah ranting pohon kini menusuk lengan kanan Osvald.


"Manusia salju yang satu itu kehilangan satu tangannya!" kata Tom menunjuk.


"Dia terlihat benar berdarah ...." kata Teo.


"Ini hanya sebuah ilusi." kata Tom.


"Ilusi?! tapi dia merasakan sakit juga!" Teo marah-marah.


"Aku tahu ... maksudku, ini memang nyata terjadi ... tapi hanya terjadi disini. Tubuh aslinya tidak apa-apa di Mundclariss." kata Tom.


"Walau begitu ...." kata Teo tetap tidak mau memahami sistem itu.


Tan mendengar ada suara napas yang tidak beraturan mulai mendekat, "Tidak mungkin para hantu figuran itu yang kesulitan bernapas ...." kata Tan menoleh kebelakang dan mendapati Demelza sedang berlari ke arahnya, "Ow, hampir saja!" Tan menghindar dengan cepat saat Demelza berlari menuju tempatnya berdiri.


"Hahh?! apa-apaan ini?!" kata Demelza panik melihat tali dan harimau.


"Tidak masuk akal kan?!" kata Tan tertawa kecut mengerti apa yang dirasakan Demelza, "Kukira kau sudah menyebrang kesana! eeeeeeh!" Tan kaget setelah melihat Demelza dengan beraninya langsung berjalan di atas tali itu.


Memang awalnya terlihat baik-baik saja dengan bermodalkan kenekatan dan keberuntungan semata tapi setelah itu semua itu sudah tidak berguna lagi. Demelza terjatuh tapi untungnya masih sempat menggapai tali itu. Harimau yang ada dibawah sana melompat dengan ganasnya hampir mengenai kaki Demelza padahal mereka sangat jauh dibawah jurang sana.


"Kau benar-benar sudah gila?!" kata Tan ingin berjalan di atas tali itu juga untuk menyelamatkan Demelza, "Hem?!" Tan mundur kembali setelah melihat Demelza bergelantungan pada tali itu dan mulai bergerak ke arah seberang, "Wah ... bagaimana dia bisa melakukan itu?! untuk melakukan itu harus dengan kekuatan lengan yang kuat dan terlatih ...."


Suara tawa yang sudah familiar bagi Tan terdengar, "Zewhit Badut?!" Tan menoleh mencari arah suara itu tapi Zewhit Badut muncul dari atas dan langsung mendarat di atas tali dengan sepeda roda satu.


Tan kaget dengan peristiwa itu yang bahkan sudah terbiasa dengan Zewhit Badut apalagi Demelza yang tidak terbiasa langsung histeris luar biasa dan bergerak lebih cepat tapi tali itu seperti tidak ada habisnya. Disaat Demelza mengira sudah akan sampai, tali itu memanjang lagi. Zewhit Badut terus mengayuh sepedanya maju mundur mendekati Demelza.


Sementara itu Osvald yang masih sibuk menghindar tidak bisa lari karena jika membelakangi mereka pasti akan langsung terkena serangan. Osvald mulai membuat strategi, bukan menghindar tapi berlari ke arah manusia salju berada.


"Apa itu akan berhasil?!" tanya Tom sudah membaca apa yang ingin dilakukan Osvald.


Manusia salju yang didekati Osvald tidak bisa menembakkan ranting dengan jarak sedekat itu dan saat diserang oleh manusia salju yang lain Osvald langsung menghindar. Akhirnya manusia salju menyerang manusia salju yang lain.


"Berhasil ...." kata Teo tidak percaya melihat manusia salju yang berada di dekat Osvald hancur terkena serangan ranting pohon manusia salju yang lain.


Osvald tersenyum melihat rencananya berhasil dan tangan ranting pohon manusia salju yang lain berkurang karena serangan sia-sia itu.


"Ternyata setelah mengenai suatu target tangannya tidak bisa kembali." kata Osvald tersenyum.


"Bisa-bisanya dia tersenyum disaat seperti ini!" kata Teo tidak habis pikir.


Disaat Osvald mulai memimpin permainan, Demelza telihat sedang dalam ambang kekalahan. Roda dari sepeda Zewhit Badut kini menginjak tangan Demelza berulang kali. Bukan hanya tersiksa akan itu tapi penampakan dari Zewhit Badut yang mengerikan makin membuat Demelza ketakutan dan merasa menjatuhkan diri pada harimau lebih baik.


"Tidak!" teriak Tan yang dibarengi oleh sesuatu yang jatuh dari langit mengenai tali hingga putus. Demelza bisa selamat berkat itu karena tali terbelah dua dan dirinya langsung terbawa ke seberang oleh tali walau masih harus memanjat lagi untuk naik keatas, "Apa itu?!" Tan melihat ke bawah jurang tempat dimana ada banyak harimau berada. Bahkan Zewhit Badut juga heran melihat itu, "Zeki?! apa yang kau lakukan disini?!" seru Tan melihat Zeki berhasil naik di dekatnya.


"Ow, hai!" sapa Zeki yang langsung kembali terbang ke langit.


"Hehh?!" Tan heran apa yang baru saja terjadi, "Kenapa Zeki bisa masuk kesini?!"


...-BERSAMBUNG-...