
Pukul 7 malam, Semua murid Gallagher terlihat bergegas untuk pulang setelah mengumpulkan hasil kesimpulan pelajaran yang dibuat di Ruang Belajar Mandiri.
"Aku duluan!" kata Felix.
"Tidak menunggu Tan dan Teo? katanya mereka juga sudah selesai. Akan lebih bagus pulang ke asrama bersama-sama ...." kata Tom.
"Tidak, aku duluan ... oh iya, ada yang ingin berbicara denganmu!" kata Felix kembali lagi setelah baru berjalan beberapa langkah.
"Hem? siapa? dimana?" tanya Tom.
"Nanti kau akan melihatnya sendiri ...." jawab Felix sudah benar-benar pergi kali ini.
(Beberapa saat kemudian ....)
"Mana Felix?" tanya Teo.
"Dia sudah pergi duluan ...." jawab Tom.
"Hah? sendirian?" tanya Tan.
"Katanya ada yang ingin bicara denganku ...." kata Tom.
"Heh? siapa?" tanya Teo.
Terjawab saat mereka berjalan ke lantai satu gedung sekolah.
"Ah, dia ...." kata Teo.
"Sudah kuduga, pasti dia yang mengambil dompetku." kata Tom.
"Luar biasa penyamarannya! lebih keren dari penyamaran pahlawan superman atau spiderman ...." kata Kayle.
Tom menjulurkan tangannya dan Kayle langsung mengembalikan dompet Tom dan memimpin jalan menuju taman sekolah yang berada di tengah-tengah gedung sekolah.
"Ini namanya mencuri dan terlebih lagi pelanggaran identitas pribadi seseorang, memangnya polisi bisa melakukan hal seperti ini?!" kata Tom.
"Namanya mencuri kalau tidak dikembalikan, tapi ini kukembalikan!" kata Kayle tidak tahu malu.
"Jadi ada apa? tidak mungkin kesini hanya untuk melihat sekolah kami saja ...." kata Teo.
"Aku terkejut, kalian sama seperti anak lainnya yang melakukan aktivitas sehari-hari layaknya anak sekolahan pada umumnya terlebih lagi sekolah di sekolah bergengsi seperti Gallagher ini. Sekolah nomor satu di Yardley yang terkenal sibuk tapi kalian tetap bisa menjadi pahlawan di malam hari ... jadi kapan kalian tidurnya?" kata Kayle.
"Jadi, apa terpikir kalau kami ini tidak sekolah dan hanya bersembunyi di gua rahasia begitu ...." kata Teo mengundang tawa.
"Kalian manusia biasa kan?" tanya Kayle.
"Tentu saja." sahut Tom.
"Karena yang kita lawan tadi malam itu bukanlah dari dunia ini ...." kata Kayle.
"Yang kita lawan tadi malam adalah iblis yang sedang balas dendam. Disaat kita membunuh iblis untuk melindungi manusia, disaat itu kita juga dapat membuat iblis menyerang balik dengan dalih balas dendam. Jadi ... kami merasa harus lebih berhati-hati lagi dalam melawan iblis." kata Tan.
"Lucu sekali! padahal mereka yang salah tapi mereka juga yang meminta ganti rugi ...." kata Kayle tidak habis pikir.
"Begitulah yang terjadi ... suatu saat mungkin akan terjadi lagi yang seperti ini. Tapi kami tidak berjanji bisa terus ada melindungi." kata Tom.
"Kalian tidak apa-apa?" tanya Kayle setelah baru ingat kalau mereka juga pasti terluka.
"Tidak parah ...." kata Tom seadanya.
"Kemana anak yang berambut hijau itu? dia tidak bersekolah disini?" tanya Kayle.
"Lebih baik kalau penasaran akan sesuatu, tanyakan pada kami saja. Felix sudah terbebani banyak hal ...." kata Tan.
"Mereka itu pemimpin kalian kan, biarkan aku berbicara dengannya sebentar ...." kata Kayle.
"Dia juga pasti sedang mendengarkan sekarang ...." kata Teo membuat Kayle melihat sekeliling.
"Apa yang ingin diketehui oleh polisi eh ... sekarang Agen Y.B.I ya ...." kata Tom melihat sedikit gambar logo Y.B.I di kaos yang tertutupi jaket itu.
"Aku sudah menelepon kalian berkali-kali, ternyata kalian ada disini!" teriak Mertie sambil berjalan dengan marah-marah.
Kayle yang tertutupi oleh Tiga Kembar muncul membuat Mertie kaget, "Hahh?!"
"Kau juga sekolah disini rupanya ...." kata Kayle.
Mertie ingin memutar arah tapi sudah terlambat, "Katanya dia akan merahasiakan identitas kita, sedang apa dia disini?" Mertie berbisik-bisik.
"Aku sudah berbicara dengan bagian penerimaan tamu sekolah, aku kesini sebagai perwakilan Universitas Yardley untuk melihat-lihat murid yang berbakat ...." kata Kayle, "Itu hanya alasan, aku kesini mau menunjukkan daftar yang tidak ada di desa tadi malam." sambungnya mengeluarkan kertas.
"Kakak polisi lulusan Universitas Yardley?" tanya Mertie mulai menatap dengan tatapan berbeda.
"Apa kelihatannya tidak begitu?" tanya Kayle, "Percaya atau tidak tapi aku ini lulusan terbaik criminal profiler. Hanya saja berkali-kali jabatanku diturunkan hingga ke bagian daerah tapi sekarang sudah menjadi Agen Y.B.I." kata Kayle bangga.
"Kalau begitu tidak aneh, bagaimana bisa menemukan dan menyelidiki apa yang tidak bisa ditemukan dan diselidiki oleh polisi lain ...." kata Tan.
"Aku juga tidak percaya tapi setelah melihatnya secara langsung saat di Desa Kimber malam itu. Semuanya menjadi jelas, teka-teki yang selama ini tidak bisa kupecahkan akhirnya perlahan mulai terususun. Pintu yang tidak bisa kubuka akhirnya kuncinya sudah ditanganku. Jadi aku kesini untuk menanyakan apa kunci yang kupegang saat ini untuk membuka pintu itu atau mengunci pintu itu?" kata Kayle.
"Kunci itu untuk mengunci!" kata Felix yang tiba-tiba datang dari belakang Kayle.
Tiga Kembar dan Mertie cepat tanggap meninggalkan mereka berdua untuk berbicara.
"Kau yakin hal ini untuk disembunyikan? bukannya lebih baik untuk dibuka agar masyarakat mempersiapkan diri ...." kata Kayle.
"Memang untuk saat ini ada baiknya mengetahui bahaya yang datang tapi ini bukanlah satu-satunya masalah. Suatu saat nanti pengetahuan ini akan berdampak besar dan mengakibatkan bencana lebih besar." kata Felix.
"Baiklah ... aku mempercayaimu! lagipula saat ini Y.B.I sudah mengambil alih kasus ini. Jika terjadi sesuatu kami akan membantu mengungsikan penduduk dan membantu melawan ... iblis itu." kata Kayle.
Felix merasa Kayle sudah mendapatkan jawabannya sehingga mulai ingin pergi darisana.
"Kau sudah menduga hal ini kan? membiarkanku mengingat malam itu, sengaja memilih Y.B.I untuk dikirimi video bukannya YCIA ...." kata Kayle.
"Lagipula pemerintah tidak akan membiarkan hal seperti ini diketahui publik dan menurutku yang terbaik adalah Y.B.I untuk melakukan hal itu, jadi Mertie sudah kuingatkan jika terjadi sesuatu harus mengirimi bukti ke Y.B.I." kata Felix.
"Lalu ...." kata Kayle.
"Kenapa aku memilihmu?" kata Felix mengerti tatapan dan nada bicara Kayle.
"Apa hanya kebetulan saja karena aku berada disana malam itu?" tanya Kayle.
"Karena kau kenalan seseorang yang kukenal ...." jawab Felix.
"Siapa? kau mengenal seseorang yang kukenal?" tanya Kayle.
"Iriana, kau ingat nama itu?!" kata Felix.
Kayle terdiam beberapa saat, "Dia sudah meninggal 13 tahun yang lalu."
"Aku tahu, katanya kau teman yang baik." kata Felix.
"Aku hanya bertemu dan berbicara dengannya beberapa kali saat masih SMA, kami tidak dekat dan tidak ada kenangan yang bisa dibilang berharga ...." kata Kayle.
"Itu karena kau tidak mengingatnya." kata Felix meninggalkan Kayle yang terdiam.
"Apa? apa dia menghapus ingatanku juga?" tanya Kayle dalam hati.
"Seharusnya kau tidak mengatakan itu." kata Iriana.
"Dia pernah membunuh Pemimpin Perkumpulan Setengah Sanguiber di usianya yang baru 19 tahun dan pernah bekerjasama dengan Efrain. Lucu sekali kan?! karena dia tidak mengingat apa-apa ...." kata Felix.
"Jika dia tetap ingat, dia akan tetap diburu oleh Perkumpulan Setengah Sanguiber. Efrain yang menghapus ingatannya, sehingga karma pada Kayle juga menghilang." kata Iriana.
"Keluarganya yang dibantai oleh Perkumpulan Setengah Sanguiber, dia berhasil membalaskan dendamnya tapi tidak mengingatnya. Miris sekali bukan?!" kata Felix.
"Katakan saja kalau kau tertarik akan bakatnya ...." kata Iriana.
...-BERSAMBUNG-...