UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.485 - Karena Pahlawan Selalu Datang Belakangan



Tim bagian kanan sungai sudah turun ke bawah air terjun berada dan menyusuri sungai mencari area yang arusnya tenang untuk bisa disebrangi dengan aman.


Tan menahan tawanya saat tidak sengaja melirik Tanaman Leaure yang sedang menyemangati dengan posenya yang lucu.


"Bagaimanapun yang kita lakukan saat ini sangat konyol kan ...." kata Parish menoleh pada Tan.


"Em?!" Tan yang sedang tidak fokus itu hanya terus berlari tidak tahu harus menjawab apa dan hanya merespon dengan senyuman yang canggung.


Mereka sudah cukup jauh dari air terjun berada tapi arus air sungai tetap terlihat deras, "Kalau begini ... kita bisa-bisa akan sampai di dekat perkemahan." kata Dallas khawatir.


"Oh, lihat itu!" kata Salah satu kelompoknya yang melihat ada pohon besar tersangkut sehingga aliran air terlihat tidak terlalu deras disana.


"Itu dia, kesempatan kita!" kata Tan secepatnya mengambil alih pimpinan untuk berlari di depan. Dengan arus air yang deras, Tan takut jika kayu itu akan hanyut lagi dan menghilangkan kesempatan mereka untuk menyebrang.


"Masing-masing pegang tali orang yang di depan! kalau terjadi sesuatu, apapun itu ... jangan pernah lepaskan tali itu!" kata Tan.


"Ooooow ... sudah diduga dari Tan." kata Parish dalam hati mengagumi bagaimana kepemimpinan Tan yang cepat dalam berpikir dan mengambil tindakan.


"Kita harus bergerak cepat!" teriak Dallas seperti ingin berlari diatas air saking terburu-buru dan khawatirnya saat ini.


Sambil berenang mereka saling menjaga masing-masing, tidak meninggalkan satu orang pun. Kalau ada yang kesulitan, langsung mereka bergerak ke arah yang sama untuk membantu.


Tanpa istirahat, mereka harus kembali berlari setelah berhasil menyebrang. Untuk kembali naik ke atas puncak air terjun dimana kelompok lain berada dan kotak harta karun berada.


"Pohon tadi, kelihatannya baru saja tumbang." kata Tan.


"Pasti dari atas sana." kata Dallas.


"Tidak ada pohon yang kulihat hanyut tadi ...." kata Parish.


"Mungkin saat kita menghangatkan diri di depan api unggun makanya kita tidak melihatnya." kata Dallas.


"Pohon sebesar itu tidak mungkin kita lewatkan, pasti akan sangat mencolok dari segi suara dan visual." kata Parish merasa mustahil kalau melewatkan pohon itu.


"Sudahlah ... yang jelasnya kita tertolong oleh pohon itu. Sangat disayangkan pohon itu tumbang tapi itu juga berhasil menyelamatkan kita." kata Tan yang memperhatikan pohon tadi kelihatan sangatlah sehat.


Kelompok Teo dan Tom mendapatkan cukup istirahat berkat itu. Sehingga bisa merasakan kalau perlahan tenaga mereka kembali naik. Tapi lain dengan kelompok Tan yang kehabisan napas karena berlari. Setelah sampai berhadapan sekarang, kelompok Teo memberi sinyal untuk segera turun tapi Tan meminta waktu dulu.


"Kita akan berenang ... dengan keadaan kehabisan napas begini, kita bisa mati." kata Dallas dengan bahasa tubuh.


"Okey! istirahatlah sebentar." kata Teo membalas.


Setelah beberapa menit berlalu, kelompok Tan mulai berdiri dan mengikatkan tali keselamatan pada pohon. Tali kayu untuk penghalang perangkap juga diikat. Teo dan Tom menganggap itu sinyal untuk bersiap-siap juga.


"Ayo kita ambil harta karun ini dan kembali ke tenda tidur!" teriak Teo memberi semangat.


"Nyawa kita terhubung sekarang, kalau kau mati ... aku juga mati. Jadi, kita harus saling menjaga!" kata Dallas pada Teman yang satu tali dengannya. Tan dan Parish pura-pura tidak mendengar itu.


Mereka semua mengambil napas dalam-dalam beberapa kali kemudian perlahan masuk ke dalam air. Tanpa bersusah payah, seakan air menarik mereka semua untuk segera masuk. Kayu yang mereka bawa untungnya diikat, makanya bisa bertahan tapi harus ditarik karena terlepas dari pegangan.


Kelompok Teo dan Tom sudah tiba di depan kotak harta karun. Teo berada paling depan sementara Tom dan yang lainnya membantu Teo agar tetap bertahan di posisi itu meski arus air terus membawa mereka ke tempat lain.


"Kau juga berusaha dong!" teriak Tom sambil memukul Teo yang kelihatan tidak terlalu berusaha karena ada yang lainnya terus menahannya.


Sementara kelompok Tan masih kesulitan menarik tali yang mengikat kayu. Seperti sedang lomba tarik menarik dengan lawan yang mustahil untuk dikalahkan.


"Tidak!!!" teriak Kelompok Tan melihat tiga kayu terlepas dari tali dan hanyut.


"Tinggal satu, kita harus menyelamatkan kayu itu apapun yang terjadi." kata Parish.


"Hanya satu?!" Teo kaget melihat kedatangan kelompok Tan yang hanya memabawa satu kayu sebagai penghalang, "Kau mau membunuhku, ya?!"


"Mau bagaimana lagi?! kau mau kita kembali naik lagi dan melakukannya lagi dari awal?!" kata Dallas.


"Gunakan saja ini! pasti bisa bertahan ... tarik dengan cepat!" kata Parish.


"Gampang sekali kalian kalau bicara!" Teo berteriak kencang.


"Lakukan saja!" kata Tom.


"Okey, siap! bersamaan ... dalam hitungan 1 ... 2 ... 3!!!" Kelompok Tan menaruh satu kayu untuk menghalangi jebakan menyentuh kotak yang ada di bawah. Kayu yang dipasang itu berukuran lebih kecil dari semua kayu yang disiapkan dan kelihatannya terus bergoyang karena arus air disebabkan kayu itu kecil dan ringan.


Teo merasa ragu menarik kotak tapi memberanikan diri juga untuk mencoba. Rupanya kotak itu lebih berat daripada yang dibayangkan. Benar yang dikatakan Felix, segera setelah kotak itu ditarik dari tempatnya. Jebakan akan langsung menghantam kebawah. Entah itu mengancurkan kotak harta karun ataupun terancam tangan Teo lah yang menggantikan.


Tom yang tadinya ada di belakang Teo untuk terus menahan Teo, bergerak ke depan membantu karena melihat Teo kesulitan. Memang berhasil berkat kekuatan Tom yang terbiasa mengangkat Sesemax yang berat itu. Tapi semakin terangkat kotak itu, semakin turun juga jebakan. Kayu yang menahan jebakan kelihatan tidak kuat.


"Cepat tarik!" teriak Dallas panik melihat kayu yang sepertinya akan langsung terbelah dua dalam beberapa saat lagi.


Tapi kotak itu sangatlah berat dari kelihatannya, hanya Teo dan Tom yang menarik karena kekurangan orang setelah berpindah ke kelompok Tan sehingga yang lainnya pun juga kesulitan menjaga Teo dan Tom tidak terbawa arus. Mungkin akan mudah kalau melakukan itu di daratan tanpa arus deras air yang terus menganggu.


Suara air yang deras meredam suara apapun tapi entah bagaimana suara kayu yang menjadi penghalang itu teredengar sangat keras kalau sedang retak. Kelompok Tan yang memegangi kayu itu juga panik dan ingin lepas tangan tapi Tan meyakinkan mereka untuk bertahan.


"Ayo, sedikit lagi!" teriak Teo dan Tom menarik kotak itu.


Dalam situasi yang sedang menegangkan itu terdengar musik begitu keras mengalun dari pinggir sungai. Diikuti dengan penerangan yang begitu banyak mengenai mereka.


"Harta karun kali ini milik Gallagher angkatan 89!" teriakan yang begitu keras dari banyak orang.


Dari belakang kelompok Tan muncul banyak teman-teman yang membawa sesuatu seperti batang logam. Sangat berguna dari kayu yang mereka bawa tentunya, "Ini ... kan! tiang bendera." kata Parish.


"Berarti kalian menyiapkan ini dari perkemahan?!" tanya Dallas.


"Dia yang memanggil kami!" kata salah satu Anak yang datang membantu.


"Siapa?!" tanya Parish.


"Kalian butuh bantuan?!" kata Felix datang membantu menarik kotak harta karun yang berat itu.


Sorakan dan tepuk tangan mulai terdengar dari kedua sisi sungai. Semua angkatan Felix dan Tiga Kembar ikut dalam perburuan harta karun terakhir masa SD itu.


"Ah, dasar ...." Tom sangat ingin memaki tapi berakhir tertawa juga.


...-BERSAMBUNG-...