
"Jadi maksud dari dik Cain, semua yang terjadi pada putri duyung adalah karena ambisi dari putri duyung sendiri?" tanya Produser laki-laki.
"Tapi ... sebelum itu, bukankah seharusnya kakak memperkenalkan diri dulu?! id card kakak juga semuanya terbalik, saya tidak tahu harus memanggil apa ...." kata Cain memasang senyum sepolos mungkin.
"Ah, itu ...." Produser laki-laki itu bukannya membalik id cardnya malah semakin menyembunyikannya.
"Kena deh! sangat jelas mereka takut kalau aku mengetahui nama mereka dan mengira aku akan memasukkannya dalam permainan? tapi bagaimana bisa mereka langsung percaya saja tentang hal ini? kurasa tidak semudah itu membuat orang lain percaya soal permainan yang mustahil ini ...." kata Cain dalam hati, "Haha ... maaf kak! tidak boleh ya?! hanya saja ... salah satu ibu panti saya juga seseorang yang bekerja di bagian penyiaran tv!" kata Cain.
"Begitu ya ... haha ... nama kakak Kramer, dan kakak disamping Linn!" kata Produser laki-laki memperkenalkan dengan canggung dan terbata-bata.
"Bahkan Kiana juga akan tahu kalau nama itu nama samaran ditambah lagi biasanya kalau memperkenalkan diri harusnya dengan nama lengkap ...." kata Cain dalam hati menahan tawa.
"Jadi kita mulai kembali pertanyaannya?" tanya Linn.
Cain hanya mengangguk dan meminta kembali pertanyaan tadi karena pura-pura lupa.
"Jadi semua yang terjadi pada putri duyung adalah karena ambisi dari putri duyung sendiri?" tanya Kramer.
"Begitu yang dikatakan ibu di panti setelah selesai membaca dongeng ...." jawab Cain.
"Kalau menurut Cain sendiri?" tanya Linn.
"Kalau menurut saya ... em ... sudah takdir putri duyung!" jawab Cain.
"Takdir?" tanya Kramer.
"Semua yang terjadi sudah menjadi takdir putri duyung, dia bisa saja hidup lebih lama dengan menjadi putri duyung saja tapi berambisi memilih untuk bisa mendapat kaki ... pilihan putri duyung itulah yang menjadi takdir dari putri duyung!" jawab Cain.
"Takdir ...." kata Kramer dan Linn memasang wajah tidak puas.
"Apa ada yang salah dengan jawaban saya kak?" tanya Cain.
"Ah, tidak ... tidak!" Kramer dan Linn langsung mengubah ekspresinya.
"Masih ada pertanyaan lagi kak?" tanya Cain.
"Sudah selesai! Cain boleh kembali ...." jawab Linn.
Cain dengan senang hati langsung berdiri dengan cepat dan saat berbalik wajahnya berubah total dari yang sebelumnya tersenyum menjadi kesal.
"Tapi ...." kata Kramer menghentikan langkah kaki Cain.
"Iya kak!" Cain mengubah kembali ekspresinya sebelum menoleh ke arah kedua produser itu.
"Ah, tidak ... Cain boleh kembali ke kelas!" kata Kramer.
"Sulit rasanya mengetahui apa dia benar anak yang memiliki kekuatan spesial atau tidak ... semua anak dari kelas itu punya cara pemikiran tidak sesuai dengan umur mereka! apa semua anak di sekolah ini sepintar ini?" kata Kramer yang didengar oleh Cain yang menggunakan garis pelindung segera setelah keluar ruangan dan kembali masuk untuk mendengar pembicaraan mereka.
"Tapi hanya dia yang mengatakan bahwa yang terjadi pada putri duyung adalah takdir ...." kata Linn.
"Takdir apanya?! maksudnya permainan tukar kematian itu adalah takdir? yang benar saja! jelas-jelas bahwa permainan itu dibuat oleh psikopat!" kata Kramer.
Haera datang bergelantungan di bahu Cain, "Ian kesal?" tanya Haera.
"Memang begitu kan image dari pewaris permainan tukar kematian! aku hanya bisa maklum ...." jawab Cain.
"Tentu saja! jangan dipikirkan ... pahlawan tidak selamanya harus dipuji-puji!" kata Haera mengelus-elus pipi Cain kemudian menghilang.
"Cepat kembali!" kata Cain memukul punggung Felix.
Aura Felix entah bisa dirasakan atau tidak oleh Kramer dan Linn. Saat Felix memasuki ruangan interview, Kramer dan Linn terlihat terintimidasi oleh kedatangan Felix.
"Felix Fane Farrel?" Linn memaksakan tersenyum.
"Iya!" sahut Felix.
"Dik Felix suka membaca dongeng? pernah membaca dongeng atau sekarang sudah berhenti?" tanya Kramer.
"Tidak! saya tidak suka membaca dongeng! tidak pernah membaca dongeng, hanya pernah dibacakan!" jawab Felix.
"Jadi, Felix tidak percaya dengan dongeng atau semacamnya yang tidak mustahil terjadi?" tanya Linn.
"Saya sudah berusia 11 tahun, bukankah sudah waktunya untuk keluar dari cerita dunia dongeng ke dunia nyata!" jawab Felix yang sangat bertolak belakang dengan jawaban Cain.
"Apa tidak terlalu cepat?" tanya Kramer.
"Seharusnya malah terlambat ...." jawab Felix.
"Jadi, Felix tahu tidak dengan dongeng putri duyung yang pergi meminta pertolongan penyihir laut dan membuat perjanjian. Ia menukar suara indahnya dengan sepasang kaki. Tapi sang pangeran malah menikahi perempuan lain. Penyihir laut yang mengetahui hal itu memberi tawaran baru. Si penyihir meminta agar putri duyung membunuh pangeran tersebut bila ingin selamat dari siksaan kaki ... bagaimana menurut Felix soal kejahatan tukar menukar yang dilakukan oleh Penyihir dan Putri duyung?" kata Linn menggunakan pertanyaan yang sama.
"Bukannya putri duyung menikah dengan pangeran dan hidup bahagia?" tanya Felix.
"Itu versi d*sney, kalau versi dongeng berbeda lagi ... bagaimanapun juga cerita harus disesuaikan dengan usia penonton kan?!" jawab Kramer.
"Maaf, tapi dongeng yang saya dengar akhirnya seperti itu! karena biasanya saya hanya mendengar bukan membaca sendiri ...." kata Felix.
"Tapi bukankah Cain dan Felix satu panti asuhan dan sangat dekat satu sama lain? kenapa cerita tentang putri duyung yang kalian dengar berdua berbeda ya?!" tanya Linn.
"Kena deh!" kata Felix dalam hati, "Bagaimana bisa kakak tahu soal latar belakang kami? tidak mungkin guru memberikan informasi pribadi murid ... apa kakak melakukan penyelidikan latar belakang? apa seperlu itu hanya untuk wawancara biasa? satu kelas ada 37 murid, tidak mungkin mengetahui semua informasi pribadi dari 37 murid ... jangan bilang wawancara ini hanya alibi untuk menargetkan khusus beberapa siswa saja?" Felix maju menyerang hingga ke ujung jurang perangkap mereka sendiri.
"Ada apa dengan anak ini?!" kata Kramer dalam hati tidak tahu harus menjawab bagaimana.
"Maaf, saya punya kepribadian yang kurang bisa bersosialisasi dengan baik! mungkin kalian berdua juga sudah tahu itu dari informasi yang kalian kumpulkan ...." kata Felix hendak pamit meninggalkan ruangan karena sudah mendapat jawaban yang diinginkan.
"Felix ... Felix!" teriak Linn tapi Felix sudah keluar ruangan dan menutup pintu.
"Jadi bagaimana wawancara kalian?" tanya Tan.
"Kujawab apa adanya!" sahut Tom.
"Aku juga!" sahut Teo.
"Kau Felix?" tanya Cain melihat wajah Felix yang kesal.
"Percuma! mereka sudah bertemu Efrain ... bagaimanapun kita berpura-pura, mereka sudah sangat mempercayai Efrain! walau terlihat mereka mulai goyah setelah interview tapi mereka memang pada dasarnya adalah produser acara supernatural. Jadi mereka sangat percaya pada hal seperti ini ...." jawab Felix.
"Jadi maksudmu ...." kata Tom.
"Hasil interview tadi akan dilaporkan ke putra Lander dan mereka akan mengawasi kita terus untuk memastikan alibi kita saat terjadi penukaran kematian!" kata Felix.
...-BERSAMBUNG-...