UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.464 - Showtime



Teo maju sebagai perwakilan untuk mencabut nomor urut. Sementara Demelza terus berharap kalau Teo mendapat nomor urut paling belakang.


"Hanya karena kalian yang memilih, belum tentu bisa menemukan nomor urut yang kalian inginkan." kata Demelza masih optimis.


"Aku 100% yakin kalau Teo akan mengambil nomor urut 1." kata Tom.


"Apa-apaan kau?! darimana rasa percaya diri yang tinggi itu datang?! kukira kau itu lebih percaya sebuah fakta daripada peluang yang hanya sedikit ...." kata Demelza.


"Fakta dan peluang semuanya berada dipihakku." kata Tom dengan percaya diri melihat Teo naik ke atas panggung bersama Felix disampingnya yang tidak dilihat oleh anak-anak lain.


"Rasanya seperti sedang menyontek saat ujian, beginilah rasanya ... seperti saat ini." kata Tan merasa agak bersalah melakukan hal buruk.


"Kau sangat polos ...." kata Tom.


Ditengah panggung ada kotak berisikan bola dengan nomor urut didalamnya. Teo terus mendesak Felix untuk segera memeriksa mana yang punya nomor urut satu.


"Tunggu!" Felix jadi jengkel juga karena terus-terusan didesak. Felix seperti memindai semua bola dengan matanya layaknya seperti X-ray.


Karena Felix masih terlihat mencari, Teo berusaha mengulur waktu agar penarikan nomor urut ditunda sampai Felix memberi tanda kalau nomor urut satu sudah ditemukan.


"Nomor satu biasanya dihindari oleh orang lain tapi kalian malah sangat menginginkan itu ... lucu sekali!" kata Demelza.


Felix memberi tanda kalau sudah menemukan nomor urut satu, "Bola warna putih yang paling bawah seblah kanan, seblah kiri bola warna putih itu isinya nomor 11." Felix menunjuk dari luar dan tersadar kalau tidak percaya dirinya sedang melakukan apa sekarang, "Aku ini sedang apa sebenarnya?!"


Teo sudah siap berperang untuk memperebutkan bola yang ditunjukkan oleh Felix. Teo terus memperhatikan kalau saja ada yang mengambil bola itu maka harus dibujuk untuk bertukar. Kali ini giliran Teo dan Parish yang memilih, tapi ada dua bola sekarang yang berwarna putih. Teo sendiri jadi bingung karena posisi sudah berubah semenjak banyak bola yang ditarik. Teo berbalik meminta Felix membantunya tapi saat akan mengambil bola, "Ow, itu yang diambil Parish nomor satu." kata Felix.


"Apa?!" Teo jadi gelagapan dan panik langsung memutar otaknya untuk mencari cara membujuk Parish dengan mengambil bola warna putih yang sama.


"Hey, Parish!" sapa Teo berdiri disamping Parish.


"Hey!" Parish menyapa balik.


"Kau mau nomor urut berapa?!" tanya Teo blak-blakan.


"Aku mau nomor urut satu." jawab Parish.


"Ah, begitu ya ...." Teo jadi kehilangan semangat, bagaimanapun juga Parish adalah sahabat baik saudaranya Tan. Rasanya tidak enak bagi Teo untuk membujuknya menukar bola dengan nomor urut yang sedang ada ditangannya karena itu memang adalah pilihan yang diinginkannya.


"Hahh ... dasar! percuma saja semua yang kulakukan." kata Felix sebal dan turun dari panggung.


"Ada apa?!" tanya Tom lewat Jaringan Alvauden karena ekspresi Teo terlihat sangat jelas sedang ada masalah.


"Parish mengambil yang nomor urut satu, bantu aku Tan." kata Teo.


"Tadi kutanya dia juga mau nomor urut satu, dia beruntung sekali mendapatkan itu tanpa harus melakukan hal curang seperti kita ...." kata Tan tertawa.


"Jangan tertawa! jadi kau mau merelakan begitu saja padahal sudah sejauh ini ...." kata Tom.


"Jadi kau mau aku membujuknya menukar dengan punya kita?! jelas-jelas kalau yang ditangannya adalah yang diinginkannya." kata Tan.


"Kau lebih memilih sahabatmu dibanding saudaramu begitu?!" kata Tom mengeluarkan kalimat ancaman pamungkasnya.


"Hahh ... kata itu lagi! aku sudah bosan! itu sudah tidak mempan untukku." kata Tan.


"Akan aku coba ...." kata Teo.


"Parish, kau mau bertukar denganku!" kata Teo sekedar mencoba.


"Okey!" sahut Parish.


"Em?!" Teo bingung karena Parish menerima bujukannya dengan cepat, "Kau yakin?!" Teo jadi merasa bersalah juga.


"Tidak jadi?! kau tidak mau?!" Parish jadi bingung sendiri juga dengan ekspresi Teo yang tidak terduga itu.


"Tidak ... ini!" Teo merasa bersalah menukar bola itu tapi tetap juga dilakukan karena bahkan sudah mengerjai Demelza. Rasanya tidak enak kalau mundur begitu saja.


"Kita benar-benar sangat buruk!" kata Tan.


"Ini hanya keisengan kecil saja ... baru begini saja kalian sudah takut. Dasar amatir! akhirnya ada bedanya kalau Cain dengan kalian, dia tidak akan semudah itu merasa bersalah. Malah bersenang-senang karena telah mengerjai seseorang." kata Tom.


"Jangan libatkan aku! aku memang tidak mirip dengan Cain." kata Tan.


"Teo yang kukira mirip dengan Cain, akhirnya terlihat juga perbedaannya." kata Tom.


"Itu pujian atau makian?!" kata Teo sambil membuka bola dengan nomor urut bersamaan dengan anak-anak lainnya diatas panggung.


Parish melihat nomor urut yang ditangannya kemudian nomor urut Teo, "Hahaha ... ternyata aku sudah memilih yang benar!" Parish tertawa melihat bagaimana semuanya tidak berjalan sesuai yang diinginkannya. Nomor urut yang diinginkannya malah sengaja ditukar oleh dirinya sendiri, "Takdir memang tidak bisa diubah, sesuatu yang sudah ada di depan mata bisa saja berubah karena satu pilihan kecil." kata Parish dalam hati.


Sedangkan Teo hanya bisa memaksakan tertawa karena berhasil mendapatkan nomor urut dengan cara curang.


"Seharusnya kau bersenang-senang setelah mendapatkan itu!" kata Felix.


"Style ini masih tidak cocok untukku, ini menandakan kalau aku ini terlalu baik." kata Teo.


Perlengkapan kelompok disusun berdasarkan nomor urut di belakang panggung. Setelah itu selain nomor satu sampai dua, semuanya kembali ke depan panggung untuk menonton pertunjukan sekaligus menunggu giliran naik.


Felix akhirnya membuka Idibaltenya dan bergabung dengan satu kelompoknya.


"Kau darimana saja?!" tanya Demelza.


"Memangnya kau siapa aku harus melapor kedatangan dan kepergianku?!" balas Felix.


Tiga Kembar dan Osvald hanya bisa tertawa karena tahu kalau Felix mengatakan itu bukan untuk niat kasar tapi memang kepribadiannya yang spontan mengatakan apa yang sebenarnya.


"Sini pakai microphone!" kata Tan memasangkan flesh colored microphone pada Felix sementara dirinya dan yang lain sudah siap daritadi.


"Benar kalau dia tahu apa yang harus dilakukan?!" tanya Demelza karena Felix tidak ikut latihan sama sekali.


"Dia peringkat satu diangkatan kita." kata Teo.


"Memangnya apa hubungannya dengan ini?! pertunjukan ya pertunjukan ... belum tentu orang pintar bisa melakukan pertunjukan karena hanya terus bersama bukunya." kata Demelza.


"Hahh ... kalian mirip sekali! kalau soal mengeluarkan kata kasar ... kalian ahlinya." kata Tan.


"Lama-lama aku jadi terbiasa kalau dimaki karena sudah kuat mental terus bergaul dengan kalian." kata Osvald diluar dugaan membuat Tiga Kembar tertawa. Sementara Felix dan Demelza tidak ikut tertawa karena menurut mereka tidak ada hal yang bisa ditertawakan dari itu.


"Okey, nomor urut satu siap?!" tanya Pak Egan yang kebelakang panggung menyiapkan mereka.


"Siap, pak!"


"Okey, mari kita sambut nomor urut pertama." kata Pak Egan dengan nada pembawa acaranya yang ceria kembali ke tengah panggung.


"Ayo semangat!" kata Osvald.


"Jangan gugup, semuanya sesuai dengan kisah kita semasa sekolah jadi tidak perlu khawatir. Semuanya akan berjalan dengan lancar ...." kata Tan.


Mereka semua bersorak dengan tangan disatukan, Felix hanya terpaksa mengikutkan tangannya.


"Showtime!" teriak Teo dengan reaksi berlebihan.


...-BERSAMBUNG-...