
"Seharusnya Haera terus bersama kita! hahh ... bagaimana menemukannya? kau tahu kan?!" kata Cain berusaha tenang.
"Aku tidak akan mati!" kata Felix tertawa.
"Mungkin dia belum jauh ... biar aku susul ke Bemfapirav!" kata Cain.
"Haera tidak akan bisa membunuhku dengan apa yang dikatakannya! ceritanya panjang ... yang jelas kau tidak perlu mengkhawatirkanku ...." kata Felix.
"Bagaimana bisa kau seyakin itu?!" teriak Cain, "Kalau begitu ceritakan! jelaskan! aku tidak peduli sepanjang apa ceritanya! selama ini kau selalu saja menyembunyikan sesuatu ... kali ini tidak akan kubiarkan!" Cain sudah kehilangan kesabaran.
"Kau mau membuang waktu hanya untuk penjelasan yang tidak penting disaat besok ada 19 orang yang akan mati?!" balas Felix penuh penekanan.
"Tidak penting? tidak penting katamu?! kau lebih penting dari 19 orang yang akan mati itu!" teriak Cain.
"Kau ini Leaure! tidak seharusnya kau mengatakan hal seperti itu ...." kata Felix.
"Mereka hanya orang lain! kau ini sahabatku! mana mungkin orang lain yang tidak mengenalku itu lebih penting darimu?!" kata Cain.
Felix menyerah dan mulai menceritakannya pada Cain. Cain terbilang sabar tapi Felix tahu betul kepribadian Cain, sekali Cain menginginkan sesuatu. Cain tidak akan menyerah sampai mendapatkan yang diinginkannya itu.
"Jadi kau sudah tidak pusing lagi?" tanya Cain.
"Kau sudah puas kan sekarang?!" kata Felix kesal.
"Kukira Haera itu tidak terlalu pintar berbicara tapi ternyata dia banyak berbicara melalui pikiran ya ...." kata Cain.
Felix mulai berjalan meninggalkan Cain, "Tunggu!" teriak Cain melihat Felix sudah menaiki tangga.
"Jadi disini kamar Bella?" tanya Cain.
Felix langsung membuka laci bawah ranjang Bella, "Memangnya ada apa disana?" tanya Cain ikut melihat juga, "Hahh! bunganya disimpan disini?"
"Kering!" kata Cain memeriksa tanah seluruh bunga yang ditanam di pot kecil.
Felix membuka lemari pakaian, "Masih ada 7! berarti dia tidak menggunakan satupun minuman minggu ini ...." kata Cain muncul di belakang Felix menghitung jumlah botol.
"Bukan hanya minggu ini ... tapi dia memang tidak pernah menyiramkan minuman yang berisi darah iblis pada bunga!" kata Felix.
"Apa itu tandanya?" tanya Cain.
"Dia tidak berniat menukar kematiannya!" sahut Felix.
Cain langsung duduk memegang kepalanya, "Aku benci permainan ini! mungkin ini adalah permainan paling terburuk yang pernah ada di dunia ini!" Cain bingung kenapa Felix yang sering kesini tidak bisa mendapatkan surat misi, ternyata jika kesini perasaan akan seperti yang dirasakan Cain saat ini, "Seharusnya kau membawaku jika kesini!" kata Cain tidak bisa membayangkan bagaimana selama ini Felix mengulangi terus menerus merasakan perasaan yang dirasakannya saat ini.
"Bella juga tidak punya umur yang panjang! dia hanya bisa sampai di umur 17 tahun ...." kata Felix.
"17 tahun adalah waktu yang lama dibanding sekarang yang hanya lebih sebulan saja menuju ...." kata Cain tidak bisa melanjutkan kalimatnya.
"Tapi Kiana punya umur yang panjang, Cain ... bukankah itu sudah menjadi alasan yang paling dasar dalam memilih Kiana tanpa pengaruh dari perasaan kita ...." kata Felix.
Felix dan Cain lama duduk disana hanya diam tanpa saling berbicara. Hanya duduk bersandar di dinding sambil berpikir. Tak lama setelah itu Bella dan teman sekamarnya masuk ke dalam kamar.
Bella mengambil satu botol minuman dari dalam lemarinya. Felix dan Cain terkejut melihat itu, mengira Bella akan menyirami bunga para pemain lainnya tapi ternyata, "Kau mau meminum ini?" Bella menawarkan pada teman sekamarnya itu.
"Thankyou! minuman kesukaanmu ini memang terbaik untuk memulihkan tenaga ...." kata teman Bella yang mengira itu adalah minuman kesukaan Bella karena tiap minggu selalu memesan munuman itu.
Cain tidak bisa menahan diri lagi dan mulai meneteskan air mata dan berlari ke luar kamar Bella. Felix mengejar tapi melihat Cain sangat tersiksa menangis tersedu-sedu di tangga.
Goldwin muncul disamping Cain, "Apa yang terjadi? kenapa kau ada di masa lalu?" tanya Goldwin.
Goldwin merubah bentuknya menjadi singa dan mulai mendekatkan dirinya untuk bisa dipeluk Cain, "Bahkan manusia biasa yang terlalu baik saja akan sangat terluka jika tidak bisa melakukan sesuatu untuk menolong yang membutuhkan ... apalagi kau yang seorang Leaure! tidak bisa dibayangkan bagaimana sakitnya perasaan Leaure yang seorang malaikat pelindung tidak bisa melakukan apa-apa ...." kata Goldwin.
"Apa tidak ada yang bisa membuat semuanya bisa hidup tanpa harus mengorbankan orang lain untuk membuat orang lainnya hidup ...." kata Cain.
"Hidup tidaklah sesederhana itu ... dalam meraih suatu hal, sudah seharusnya kita tahu kalau itu tidaklah gratis. Pasti kita akan membayarnya ... begitupun dalam mendapatkan kehidupan dan untuk terlepas dari permainan ini harus dengan bayaran kematian orang lain ...." kata Goldwin.
"Kau bisa berhenti jika kau merasa sudah tidak sanggup Cain ... aku tidak akan menghentikanmu!" kata Felix.
"Tidak ... aku tidak akan lari!" kata Cain mulai menenangkan dirinya.
Setelah lama tinggal duduk untuk menenangkan diri, Goldwin mulai pamit untuk kembali, "Benar tidak apa-apa aku pergi?" tanya Goldwin masih ragu.
"Tidak apa-apa!" sahut Cain.
"Aku titip dia, Tuan Muda!" kata Goldwin.
Felix mengangguk dan Goldwin mulai menghilang karena katanya ada yang sedang mencarinya di istana, "Dia sudah mulai berani pergi ke masa lalu tanpa aku ada disampingnya ... apa sudah waktunya?" kata Goldwin dalam hati.
"Tidak ada tempat pemujaan iblis?" tanya Cain.
"Tidak ada! dia tidak menyiapkan itu ... bukan karena tinggal di asrama tapi bagaimanapun juga Bella bisa melakukan itu di sekitar gedung sekolah yang tidak terpakai tapi tetap tidak dilakukannya ...." jawab Felix.
"Kasihan Bella ... tapi bagaimana setelah meni ... meninggal? rohnya bagaimana?" tanya Cain agak ragu tapi tetap ditanyakan karena khawatir roh Bella akan berkeliaran dan hal terburuk bisa jadi menjadi Malexpir.
"Tenang saja, semua roh yang meninggal dengan permainan ini akan diantar langsung oleh Franklin ... dijamin jiwa mereka tidak akan berkeliaran tidak jelas tapi langsung dibawa ke jembatan Ruleorum dan bersiap untuk terlahir kembali ... begitu yang dikatakan Kemp!" jawab Felix.
"Ayo kita cari! surat misi itu ...." kata Cain menarik napas dalam.
Sebelum masuk kembali ke kamar, Cain memasang earphone dan mendengarkan musik untuk menghindari mendengar yang bisa membuat perasaannya tidak tega lagi. Felix tidak tega melihat Cain memaksakan diri begitu tapi dia juga tidak bisa melarang Cain karena memang harus terbiasa dalam keadaan seperti ini.
"Aku duluan, Bella!" kata teman sekamar Bella.
"Iya!" sahut Bella.
Saat Bella sudah sendirian di dalam kamar, Bella menarik laci panjang sepanjang ranjangnya yang ada di bawah dan saling terhubung itu. Bella terlihat sedang merenung kemudian menarik salah satu bunga dan ternyata berhasil tertarik. Bella sendiri kaget melihat dirinya berhasil, Bella kemudian memeriksa nama yang ada di akar bunga itu dan kembali menanamnya.
"Disaat pemain lain langsung melakukan apa saja agar bunga yang berhasil dicabut bisa hancur tapi Bella tidak melakukan apapun ...." kata Cain melepas earphonenya.
Bella mulai berjalan keluar kamar, "Apa kita ikuti? atau mulai mencari ulang lagi?" tanya Cain karena tidak menemukan apapun di kamar itu.
Felix dan Cain akhirnya mengikuti Bella yang ternyata menuju perpustakaan.
"Kau selalu saja memilih buku itu! memangnya kau tidak bosan membacanya?" kata teman Bella.
Bella hanya tertawa dan mulai memeluk buku itu untuk dibawa. Bukannya dibawa ke meja untuk bisa dibaca tapi dibawa ke sudut ruangan perpustakaan. Bella membuka lembaran buku, "Surat misi!" kata Felix dan Cain bersamaan melihat Bella membuka lembaran demi lembaran yang terdapat surat misi secara terpisah.
"Apa dia memisahkannya berdasarkan waktu datangnya?" tanya Cain.
"Pemberitahuan pada 98 pemain permainan tukar kematian! besok akan ada 19 pemain yang akan mati, jika tidak ingin menjadi salah satunya segeralah tukar kematianmu dengan pemain lain! Sekarang mulailah keluar ke jalan dan bila menemukan hewan apapun itu langsung bunuh! siapa yang paling banyak membunuh hewan akan selamat dan berhak untuk mendapatkan kesempatan untuk menarik bunga dari pemain lain dan langsung bisa dihancurkan!"
"Hahh?!" Cain merinding membaca surat misi itu.
"Kejam sekali! bagaimana bisa menyuruh membunuh hewan ...." kata Bella.
...-BERSAMBUNG-...