UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.363 - Berharganya Sebuah Waktu



"Em?!" Felix baru sadar melihat atap semakin menjauh.


"Kalau kau bertemu Custodicurae Hutan Cosmo, kau sudah mati!" kata Iriana berdecak kesal karena kecerobohan Felix.


Lantai keramik yang dipijaki Felix berubah menjadi tanah dengan rerumputan hijau segar, "Seharusnya aku bisa merasakannya saat tanah ini turun?! perasaan seperti naik lift begitu, tapi tidak ada sama sekali."


"Ini ujian pikiran level 20! berpikir realistis tidak akan menyelamatkanmu. Kalau begini, tanpa kau sadari kau sudah mati saat perang nanti." kata Iriana.


"Perkataanmu juga ... kalau mau memotivasi bukan begitu caranya!" kata Felix mencari solusi cara menangani pijakan kakinya yang terus turun itu.


"Kepintaran tidak terlalu berlaku disini, tapi imajinasimulah yang harus bekerja. Jangan hanya memikirkan bahwa saat kau berdiri dengan kakimulah baru dinamakan berdiri. Bahkan ada yang bisa berjalan tanpa itu ...." kata Iriana memberi petunjuk.


"Sepertinya Teo akan sangat hebat dalam dunia pikiran ...." kata Felix menyeringai.


Felix pun melompat dengan menjulurkan tangannya ke atas. Setelah merasa ada yang mengenai tangannya, selanjutnya Felix melompat lebih tinggi lagi dan meraih sesuatu yang tidak kelihatan. Felix pun kini bergelantungan lagi sambil meraba-raba apa yang sebenarnya dipegangnya itu, "Ini ... lampu ya?!" seketika tangan Felix tersengat listrik dan saat Felix melepaskan pegangannya dan terjatuh, dirinya sudah berada di sebuah kamar, "Kamar siapa ini?!"


"Ini bagian dari ingatanmu, harusnya kau tahu!" kata Iriana.


"Aku tidak ingat!" kata Felix.


"Benarkah?!" Iriana terdengar bersemangat, "Kalau begitu perhatikan semuanya baik-baik secara mendetail. Dalam ruang pikiran ini semua hal terbentuk dari pikiranmu dan terkadang ada juga dari masa depan yang belum terjadi diperlihatkan."


"Cepat! sebelum ruangan berubah lagi!" kata Iriana lagi yang lebih terburu-buru dibanding Felix yang tetap santai.


Sebuah tangan besar menerobos masuk dan merusak jendela kamar itu. Felix mundur mengenai dinding dan tenggelam masuk ke dalam dinding itu. Padahal Felix ingin melihat siapa pemilik tangan besar itu, "Itu tangan atau kaki?! makhluk apa itu?!" Felix tiba di dalam bawah air dengan masih membawa rasa penasarannya.


"Adalah pokoknya ... makhluk besar yang sangat menggangu kalau dibawa kemana-mana. Kau akan tahu juga nanti! daripada itu, kau sedang tenggelam tahu! SADARLAH!" kata Iriana yang diakhiri dengan teriakan.


Felix dengan santainya berenang ke permukaan, "Em ... jauhnya ...." keluh Felix tapi masih tetap santai.


Saat sudah bersusah payah berenang untuk sampai ke permukaan, hampir tiba tapi semua air menjadi membeku. Felix ingin tertawa keras karena tidak habis pikir tapi tidak bisa karena sekarang semua anggota tubuhnya tidak bisa digerakkan.


"Bisa gila aku lama-lama!" kata Felix dalam hati.


Felix sudah diajarkan oleh Kemp saat pertama kali memasuki ruang pikiran bagaimana cara kerjanya dan kemudian sudah bisa masuk sendirian tanpa Kemp di waktu berikutnya. Tapi hanya dua kali itu saja, saat itu Felix merasa dirinya akan gila terus disana. Jadi Felix tidak ingin melakukannya lagi dalam waktu dekat dan tidak pernah mendatangi ruangan itu lagi sejak saat itu.


"Disini otakmu tidak boleh berhenti bekerja! harus terus bekerja! apapun itu coba bayangkan sesuatu untuk melarikan diri dari es ini!" kata Iriana.


Felix menutup matanya dan dirinya yang sedang berada di dalam es tiba di lautan api dengan banyak orang yang mencoba meraihnya untuk dijadikan pelampung.


"Kau sudah gila, membawa dirimu sendiri kesini?!" teriak Iriana.


"Apa?! jangan salahkan imajinasiku!" kata Felix.


"Dasar gila! kau mau mati! kau lupa ya?! di ruang pikiran itu bukan hanya sebuah ilusinasi. Kalau kau terluka disini maka kau benar terluka, intinya kau bisa saja mati disini!" Iriana masih saja berteriak karena kini es yang mengelilingi Felix dengan cepat mencair.


"Eh?!" Felix merasakan dirinya tertarik sesuatu dan mendapati dirinya sudah kembali ke ruangan pertama saat tiba tadi.


"Tuan Muda ini lebih mirip uji nyali dibanding uji imajinasi." kata Rajawali besar.


Tiba-tiba saja muncul semburan air diantara Felix dan Rajawali, "Iya, saya Enzi ... Tuan Muda." semburan air berhenti dimanfaatkan Enzi untuk menarik Felix mendekat.


"Tunggu, ini tepat dimana semburan air akan keluar!" kata Felix panik, "Tadi ... kau bilang aku ini hanya uji nyali tapi kaupun juga sama!" Felix menyeringai.


Air mulai terasa menyentuh kaki mereka berdua. Tapi ruangan mulai akan terbalik lagi. Saat ruangan sudah mengalami kemiringan dan mereka berdua pasti akan tenggelam dalam beberapa saat, tiba-tiba muncullah paus dari bawah air itu dan menyemburkan air pada mereka berdua bersamaan dengan semburan air yang kedua juga keluar. Felix dan Enzi terlempar keluar dari ruangan pikiran.


"Masih mau mengatakan itu tidak kreatif, Tuan Muda?!" kata Enzi menggoyangkan dirinya untuk mengeringkan bulu-bulunya dengan keren.


"Kau sudah level berapa?" tanya Felix.


"697 Tuan Muda." jawab Enzi.


"Bahkan kaupun baru level itu ... lawanku saja level 900, menurutmu aku bisa mencapai level itu dengan waktu yang sempit ini?!" kata Felix.


"Saya masih hidup Tuan Muda ...." kata Enzi.


"Em? memangnya ada apa dengan itu?!" tanya Felix tidak mengerti.


"Jika saya menjadi Zewhit, level saya akan meningkat dua kali lipat menjadi level 1394. Keuntungan selama masih hidup adalah bisa terus menerus naik level sedangkan saat sudah menjadi Zewhit level tidak akan naik lagi tapi keuntungannya kekuatan dunia pikiran terbuka. Keuntungan Zewhit dengan dunia pikiran adalah mereka bisa membuat dunia itu semau mereka sedangkan kita yang hidup tidak bisa. Hanya bisa membayangkan satu hal yang bisa menyelamtkan kita. Menurut Tuan Muda yang mana lebih menguntungkan?!" kata Enzi tersenyum.


"Intinya kita hanya kalah dalam lokasi saja tapi kita punya peluang untuk menang ...." kata Felix.


"Tentu saja! Tuan Muda masih hidup, bernapas, melakukan aktivitas sehari-hari bersama orang-orang yang juga masih hidup. Pikiran dari makhluk hidup yang masih memiliki waktu yang terus berjalan berbeda dengan Zewhit yang menjalani hidup dengan waktu yang sudah berhenti." kata Enzi.


"Tidak Kemp, tidak kau ... semua Ruleorum sepertinya punya karakteristik yang sama dalam berbicara." kata Felix.


"Jadi ... katanya Tuan Muda mencari saya?!" kata Enzi mengalihkan pembicaraan.


"Ohiya, kenapa kau mengeluarkanku darisana?!" kata Felix membuat Enzi terbengong.


"Bukannya Tuan Muda mau dikeluarkan darisana?!" kata Enzi.


"Aku mau kau menemaniku di dalam! bukan mengeluarkanku!" kata Felix.


"Ah, begitu ...." Enzi mengepakkan sayapnya sambil tertawa. Enzi kemudian mulai mendorong lagi pintu dengan masih tertawa canggung.


"Tapi, kau tidak masalah kan menemaniku?! maksudku sangat menyebalkan melakukan hal gila di dalam sana ...." kata Felix.


"Setidaknya di ruangan ini tidak ada yang namanya bosan, Tuan Muda. Ibaratnya kalau Nona Iriana bilang disini seperti memasuki dunia permainan tanpa henti." kata Enzi terlihat biasa saja memasuki ruangan itu padahal Felix sudah siap sedia melihat kesegala arah untuk mengetahui apa yang akan terjadi, "Tapi karena ada aku yang menemani ... maka level di ruangan ini akan mengikuti dan menyeseuaikan dengan yang paling tinggi. Kecuali saat Tuan Muda yang pertama memasuki ruangan tadi, tentunya tetap akan mengikuti Quiris pertama yang masuk disini."


"Jadi maksudmu, kita akan menghadapi level 698?!" Felix tercengang.


"Sebenarnya ruangan bisa dibagi menjadi dua dan kita berada terpisah kalau Tuan Muda mau ...." kata Enzi.


"Tidak, ayo kita coba!" kata Felix tersenyum dengan menggertakkan giginya.


...-BERSAMBUNG-...