
Osvald membuka matanya dan mendapati matanya lembab dan pipinya yang basah, "Ada apa denganku?! sepertinya aku bermimpi ... tapi aku lupa apa ...."
Demelza juga sudah bangun, sama seperti Osvald keheranan karena menghapus air mata yang memenuhi pipinya, "Apa atap bocor atau bagaimana?! bahkan aku tidak pernah menangis walau sedang sedih sekalipun, masa iya aku menangis tanpa kusadari?!" kata Demelza masih menjadi dirinya yang biasa sok kuat.
Tan, Teo dan Tom membuka matanya di dekat taman sekolah. Felix, Zeki dan Verlin juga tidak jauh darisana. Begitulah Dunia Zewhit berakhir dan gangguan Zewhit Badut dan Kurcaci pada targetnya Demelza dan Osvald selama 7 malam. Diakhiri dengan kisah memilukan Charleston dan Calvin.
"Urus dirimu sendiri dulu! baru mengkhawatirkan orang lain ...." kata Felix melihat Tan seperti ingin ke suatu tempat.
"Aku ingin mengecek Osvald dan Demelza dulu!" kata Tan.
"Mereka sangat ... sangat baik-baik saja!" kata Felix.
Dan memang benar adanya yang dikatakan Felix itu, karena Osvald dan Demelza seakan hanya terbangun dari mimpi buruk yang bahkan sudah dilupakannya dengan keadaan baik-baik saja tanpa luka segorespun.
Saat Teo mengeluh kesakitan barulah Tan sadar kalau saudaranya lebih membutuhkan pertolongannya saat ini. Tom juga terlihat menggigil disebabkan oleh gigitan nyamuk raksasa yang area bekas gigitannya sudah mulai menurun pembengkakannya tapi Tom terlihat sangat pucat.
Zeki dan Verlin juga membutuhkan pertolongan segera. Sementara luka Felix sudah perlahan menutup, "Ah, ini karena Veneormi yang membantu menyembuhkan ...." kata Felix melihat Tan memandangi.
"Banks tidak bisa datang ya?!" kata Tan kesulitan merawat semua yang ada disana sendirian sementara dirinya sendiri juga membutuhkan perawatan segera.
"Kalau bisa datang, pasti aku sudah memanggilnya dari tadi ...." kata Felix.
Tan ingin menanyakan tugas penting apa yang dilakukan oleh Banks sampai tidak bisa datang tapi karena sudah tahu kalau Felix tidak akan menjawab pertanyaannya itu maka diurungkan niatnya untuk bertanya. Terkadang untuk bertanya juga harus dipastikan apakah akan mendapat jawaban atau tidak.
Tan menyerahkan ramuan pada Felix yang berfungsi untuk membuat dirinya menjadi tidak terlihat. Sulit untuk memindahkan empat orang sekaligus saat ini, jadi Tan memutuskan untuk merawat mereka semua disana saja.
Felix menuangkan ramuan dengan cara memutari tempat Tiga Kembar, Zeki dan Verlin berada. Saat selesai memutar dan membuat garis dengan lengkap maka terbentuklah sebuah kubangan seperti balon transparan yang kemudian perlahan mengecil dan membuat yang ada di dalam garis itu menjadi tidak terlihat.
"Wah, ramuan ini sangat berguna ...." kata Felix.
"Hanya untuk menghilangkan orang yang ada di dalam garis saja, bukan sebagai perisai. Kalau hujan ya, kita terkena hujan kalau ada yang melemparkan senjata ya, kita bisa terkena juga. Tidak terlalu berguna menurutku ...." kata Tan.
"Setidaknya bisa membuat tidak terlihat, menurutku berguna." kata Felix.
"Hanya berlaku untuk mata manusia saja, mata Quiris tidak akan tertipu oleh ramuan rendahan seperti ini. Kalau untuk ramuan yang lebih berguna harus diminum." kata Tan sibuk bolak-balik.
"Memang untuk sesuatu yang besar harus juga dengan pengorbanan besar. Sebuah kekuatan terlihat dari kesungguhan dan kerja keras. Harus ada gantinya untuk mendapatkan sesuatu yang berguna. Tapi toh, menurutku ini sangatlah berguna karena kedepannya sangat dibutuhkan kalau dihadapkan dengan kondisi seperti sekarang ini agar tidak terlihat oleh manusia." kata Felix.
"Hahh! kau mengganggu saja! berhenti mengajakku berbicara! kau tidak lihat aku sedang sibuk?!" kata Tan daritadi hanya menahan emosinya tapi kali ini sudah tidak bisa seiring Felix yang seperti sengaja terus mengajaknya mengobrol.
"Padahal aku hanya ingin menghibur saja ...." kata Felix dalam hati.
Ramuan yang tadi ditumpahkan Felix perlahan mulai menguap dan menghilang, "Sudah habis!" kata Felix yang ingin memperbarui garis tapi isi botol ramuan sudah kosong.
"Kalian bisa bangun?!" tanya Tan dengan pelan tapi tidak ada yang menjawab, "BANGUN!" kali ini Tan memakai suara yang tidak main-main kerasnya membuat semuanya langsung bangun sesegera mungkin.
"Kita harus berpindah ke kamar sekarang, ramuan yang membuat kita tidak terlihat sudah habis. Jadi, bisa atau tidak bisa ... harus dibisakan!" kata Tan tegas.
"Terkadang kau membuatku takut ...." kata Teo memaksakan dirinya berdiri.
"Siapa orang bodoh yang memutuskan untuk tinggal di lantai paling atas begini?!" kata Zeki mengomel naik tangga.
"Aku!" kata Tom pelan.
Zeki menyadari kalau ternyata yang membantunya berjalan itu adalah yang memiliki pemikiran bodoh itu. Zeki kemudian menarik Tom untuk menunduk dan Zeki naik ke punggung Tom untuk digendong, "Ini adalah hukuman karena kebodohanmu!"
"Aku juga baru menyesalinya sekarang ...." kata Tom dengan pasrah menggendong Zeki menaiki tangga.
Zewhit Badut dan Kurcaci terlihat mondar-mandir menembus kamar yang satu kemudian masuk ke kamar lainnya dekat dengan kamar Tiga Kembar berada.
"Hahh ... mereka sudah mulai lagi! padahal baru saja selesai ...." kata Tom tidak habis pikir.
"Mereka juga sudah melupakan lagi kisah tragis mereka itu dan menjalani kehidupan sebagai Zewhit seperti biasanya. Akan mengingatnya kembali kalau mendapat target baru di musim panas 10 tahun kedepan kemudian melupakannya lagi setelah selesai seperti hari ini. Begitulah seterusnya, karena bagi mereka lupa adalah obat yang terbaik. Maka dari itu, mereka memutuskan kalau target juga harus lupa setelah terbangun karena mereka sudah tahu betul kalau mereka ingat hal buruk pasti tidak akan bisa hidup dengan normal lagi ...." kata Felix.
"Bijaksana sekali ...." kata Tan hanya memaksakan tertawa. Setelah apa yang dilalui, rasanya sangat sulit untuk tidak menyimpam dendam pada mereka.
***
Teo menjatuhkan handphone nya karena kaget, "Padahal aku masih terharu setelah tahu kisah mereka berdua tapi sudah mulai membenci mereka lagi." Teo hanya ingin memeriksa notifikasi yang masuk karena semalaman tidak dilihat tapi dikagetkan oleh Zewhit Badut yang muncul dari atap dan tertawa menyeramkan.
Felix datang membawa makanan ke dalam kamar untuk mereka berempat. Sementara Zeki dan Verlin tidak bisa memulihkan tenaga dengan makanan manusia. Felix mencoba menyembuhkan dengan menyentuh luka Zeki dan Verlin tapi hanya berpengaruh sedikit. Entah itu karena Zeki yang sudah hampir menjadi Amantasia, Verlin yang merupakan Zewhit Viviandem atau karena tubuh Felix sekarang sedang fokus menyembuhkan diri sendiri dulu.
"Maaf, aku tidak bisa membantu banyak ... andaikan ada Cain pasti dia bisa sangat membantu." kata Felix.
"Apa belum ada tanda-tanda kemunculannya?! masa hukuman dengan Sang Penghukum Leaure biasanya tidaklah selama ini karena meski Leaure melanggar sesuatu pasti alasan utamanya adalah untuk menolong juga walau harus mengorbankan sesuatu tapi tetap saja ... tujuan utamanya pasti menolong. Bayangkan berapa banyak manusia yang terselamatkan berkat pembantaian Setengah Sanguiber?! tanpa Cain melakukan itu, pasti saat ini masih banyak korban berjatuhan ... yang dilakukan oleh Cain memang salah sebagai Leaure tapi aku menghormati pilihannya." kata Zeki.
"Apa dia tidak pernah menghubungi kalian?!" tanya Verlin.
Teo menatap Felix tapi diabaikan, "Kalau dia sudah menjalani hukuman pasti dia akan menemui kita ...." kata Tan.
"Benar juga ...." kata Verlin.
"Berarti dia masih dalam masa hukuman." kata Zeki.
Tidak seperti Felix, Teo tidak bisa menyembunyikan ekspresinya tapi Tan dan Tom hanya mengira itu adalah ekspresi kekhawatiran bukan ekspresi seseorang yang menyembunyikan sesuatu.
"Dia akan kembali menjadi seseorang yang sangat berbeda, bersiaplah!" kata Verlin.
"Ya, semua yang di Mundebris sangat penasaran sekaligus takut dengan Cain. Sang Pembantai Setengah Sanguiber terlebih lagi seorang Leaure dan Pemimpin Alvauden." kata Zeki.
"Cain akan tetaplah Cain, tidak akan ada yang berubah ...." kata Teo membuat suasana menjadi sunyi tanpa suara.
"Tentu saja, kau pikir dia akan berubah bagaimana?!" kata Tan tertawa kecil tapi tidak ditanggapi sebagai lelucon dengan yang lainnya.
"Begitukah, menurut kalian?!" kata Verlin.
...-BERSAMBUNG-...