
Walau Felix kelihatan tidak terlalu peduli dan cuek dengan petugas panti dan dengan anak panti lain yang bahkan hanya mengenal beberapa saja bahkan ada yang tidak Felix tahu namanya tapi tetap membuatkan gelang pelindung yang berfungsi seperti setengah alvauden itu. Felix memberi gelang itu pada Dokter Mari karena jika dikatakan hadiah dari Felix yang bahkan tidak pernah menyapa akan sangat aneh. Tapi jika dikatakan hadiah dari Dokter Mari semuanya pasti akan memakainya. Felix tidak ingin lagi kejadian seperti saat ia berada di Panti Asuhan Helianthus terulang lagi. Tidak seperti dulu, Felix tidak terlalu dekat dengan anak di Panti Asuhan Helianthus tapi sekarang Felix akan sangat terpukul jika terjadi sesuatu di Panti Asuhan Arbor yang mulai ada orang berharga baginya dan benar-benar serasa rumah bukan tempat penampungan lagi.
Felix juga tidak berhenti melamun dan terus memikirkan siapa sebenarnya orang tadi yang menolong Luna.
"Kau tidak tidur?" bisik Cain melihat Felix yang terus memandangi atap kamar, "Aku tidak tahu kau begitu memperdulikan Kak Luna?" sambung Cain karena tidak diperdulikan.
Felix jadi berbalik membelakangi Cain mendengar pertanyaan itu.
"Kenapa tidak berhenti memandang atap lagi?" tanya Cain menggoda Felix.
***
FCT3 menyiapkan segala sesuatu untuk perlengkapan ke sekolah. Tidak seperti biasanya yang hanya membawa buku, alat tulis, baju olahraga dan lain sebagainya. Hari ini adalah hari pelatihan osis dan akan menginap di sekolah.
Disaat yang lain terlihat bersemangat untuk menginap di sekolah Felix malah terlihat gelisah dan banyak diam saja bahkan lelucon Cain tidak ada yang membuatnya tertawa.
"Jangan khawatir!" kata Cain.
"Kau sudah mengatakan itu 26 kali!" kata Teo.
"Dasar aneh! kau menghitungnya?!" balas Cain.
"Memangnya kenapa Felix? kau tidak suka ikut pelatihan ini atau bagaimana? tapi setahuku kau bukan orang yang seperti itu ...." kata Tan.
"Kenapa kalian tidak memakai gelang yang kuberikan?" Felix yang terus menunduk akhirnya memperhatikan masing-masing pergelangan tangan mereka satu per satu.
"Kau ingin kami memakai dua gelang sekaligus? mana lagi jam tangan! hahh ...." Teo dengan hebohnya menjelaskan.
"Rasanya tidak perlu deh kami memakai yang seperti itu kan mereka itu Alvauden!" kata Cain lewat pikiran.
"Aku belum pernah melakukan Ultisidium ke mereka, baru hanya kau saja!" balas Felix.
"Kalau begitu aku tidak perlu memakainya kan?!" kata Cain.
Felix jadi berteriak karena Cain dan mengagetkan mereka semua.
"Kau kenapa?" Teo jadi menjatuhkan kotak alat tulisnya dan kini berserakan di lantai.
"Iya ... iya kami pakai!" Tom langsung memasang gelangnya itu.
Cain yang sibuk memasukkan barangnya didalam tas ditarik lengannya oleh Felix dan dipasangi gelang.
"Nanti biar aku pasa ...." kata Cain saat Felix memasangkan gelang tapi karena melihat ekspresi wajah Felix akhirnya pasrah saja.
"Kan ada aku! kau tidak sendiri ...." Cain menepuk punggung Felix.
"Aku bahkan susah membaca pikiranmu sekarang, bagaimana kalau kau dalam bahaya dan aku tidak bisa datang melindungimu!" kata Felix lewat pikiran.
Felix hanya bisa berbicara saja lewat pikiran tapi sudah sulit melihat dan membaca pikiran Cain lagi akhir-akhir ini.
"Apa kau menambah segel pikiranmu atau bagaimana?" tanya Felix.
"Aku bahkan tidak tahu bagaimana cara melakukannya!" kata Cain lewat pikiran tapi yang didengar tiga kembar hanya tertawanya.
"Apanya yang lucu?" tanya Teo.
"Melihatmu saja sudah lucu!" balas Cain.
"Kau perlu pakai kacamata!" teriak Teo kesal.
"Kalau kau tidak membuat segel pikiran berarti ada sesuatu hal lain yang terjadi ... bagaimana ini? apa gelar Alvauden bisa hilang?" Felix makin gelisah.
"Kalau seperti itu sih aku sangat bersyukur!" balas Cain, "Kau tidak perlu melindungiku lagi ... biar aku yang melindungimu!" sambungnya.
"Para Setengah Sanguiber tidak akan mengambil banyak anak kan malam ini? bagaimanapun juga menurutku itu sangatlah tindakan yang sangat ceroboh jika mereka melakukan itu. Tapi aku masih tidak tahu apa sebenarnya niat mereka tiba-tiba mendaftar menjadi guru ... aku punya banyak hal untuk dipikirkan tapi saat ini aku malah memikirkan bagaimana ujian final yang akan datang ...." Felix merasa tidak bisa diandalkan sebagai Caelvita.
"Itu hanya perasaanmu saja ... tidak akan ada yang akan terjadi!" Cain merasa bersalah karena baru tahu kalau Felix ternyata banyak pikiran seperti itu, "Lagipula kau itu Caelvita! tugas utama Caelvita adalah sumber kehidupan bagi Mundebris! aku berharap kau hanya fokus dalam hal itu saja ... yang lainnya biar aku yang urus!"
"Bagaimana bisa aku begitu, jika aku tahu bisa melakukan lebih dari itu ... memiliki kemampuan melindungi banyak orang dan duduk diam saja tanpa melakukan apapun adalah hal yang paling buruk dan merupakan tindakan yang sangat pengecut."
"Kau mungkin lupa Felix tapi kau ini ...." Cain mendorong Felix ke depan cermin, "Kau itu baru 10 tahun dan kelas 3 SD, anak lain yang seumuran denganmu pasti hanya pusing memikirkan untuk membeli mainan baru ... tapi kau, kau sudah menyelamatkan aku, Tan, Teo dan Tom dari bahaya bahkan menyelamatkan seluruh penumpang pesawat yang jatuh. Tidak apa kadang kala melakukan hal yang sesuai umur, kau tidak bersalah melakukan itu ... kenapa? karena kita masih anak-anak!"
"Ayo berangkat!" kata Tan.
"Apakah usia yang menjadikan seseorang membatasi hal yang dilakukan? kenapa? aku tidak tahu kenapa ada hal seperti itu ... apa hanya orang dewasa yang harus bersikap dewasa dan bertanggung jawab dalam suatu hal. Apakah anak kecil masih tidak diwajibkan melakukan suatu tanggung jawab? apa anak seumuran kami harusnya hanya bermain dan tidak bisa menjadi pemimpin? aku rasa tidak semua orang dewasa bisa menjadi pemimpin, tidak semua bisa bertanggung jawab, tidak semua memiliki prinsip. Kenapa hidup ini selalu saja dibatasi oleh usia?" kata Felix dalam hati duduk didalam bus.
Saat turun dari bus tiba-tiba ada suara yang didengar Felix berbicara melalui pikirannya, "Batasan itu hanya ada di Mundclariss! di Mundebris usia bukanlah batasan tapi kekuatan. Kau memiliki tanggung jawab dan kau harus menanggung beban itu dan melaksanakannya sebaik mungkin. Kau juga tidak perlu khawatir! tidak seperti Sang Caldway yang hanya memiliki ibu Viviandem tapi ayah manusia. Kau memiliki ibu dan juga ayah yang semua Viviandem. Kau tidak sendiri! Ayah akan selalu disampingmu!"
Felix mulai mencari asal suara itu dan memeriksa semua orang yang turun dari bus dan naik lagi ke dalam bus memeriksa tapi tidak ada yang sesuai dengan yang dicarinya. Tidak ada aura Viviandem yang dirasakannya. Felix turun bus dan mulai mencari sekeliling lagi dan Cain mulai menghentikannya.
"Kau mencari siapa?" tanya Cain heran melihat Felix, untung saja tiga kembar sudah pergi duluan tadi.
Sebuah mobil berlalu lalang dan diseberang jalan terlihat seorang laki-laki dengan rambut putih berdiri membelakangi. Saat sebuah bus singgah dan menutupi pandangan Felix kemudian bus itu berangkat lagi, sosok laki-laki itu sudah menghilang.
...-BERSAMBUNG-...