UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.189 - Sebuah Cela



"Dokter Mari tidak mungkin datang hanya karena ingin agar kami menyelamatkan Catriona kan?" tanya Tan merasa masih ada alasan lain yang disembunyikan dan Dokter Mari juga bukan tipe yang jika memiliki pasien seorang pemain tukar kematian akan membuatnya luluh dan menjadikannya terobsesi untuk menyelamatkan pasiennya itu. Walau Dokter Mari adalah setengah Leaure juga tapi selama ini Dokter Mari yang dikenal tidak menandakan seorang Leaure sama sekali. Tidak bisa ditebak pikiran seorang Dokter Mari.


"Mana mungkin aku datang hanya karena itu ...." jawab Dokter Mari.


"Sudah kuduga ...." kata Tom dalam hati.


"Tidak usah berputar-putar, langsung ke intinya saja!" kata Cain.


"Apa tidak ada yang aneh dari pengawasan kalian?" tanya Dokter Mari.


"Di kamera pengawas tidak ada keanehan sama sekali ... tapi itu tidak menjelaskan bahwa tidak ada yang terjadi karena para pemain tahu jika ada kamera pengawas yang kami pasang!" jawab Tom.


"Kalian memasang kamera pengawas ya? bagaimanapun juga akan sulit mengawasi disaat kalian juga harus sekolah ... jadi kalian memasangnya dimana saja? apa hanya di asrama Catriona?" kata Dokter Mari.


"Bagaimanapun juga, saat itu pikiran kami hanya untuk mengawasi pemain ... tidak terpikirkan bagi kami bahwa keluarga pemain juga ikut serta dalam permainan ... jadi hanya di asrama Catriona saja!" kata Tan.


"Bagaimana dengan Tuoli?" tanya Dokter Mari.


"Ba ... bagaimana Dokter Mari tahu kalau Catriona terhubung dengan Tuoli?" tanya Felix.


"Setelah Catriona menyerahkan surat misi ini, sepertinya kedua keluarga mereka mendapat pemberitahuan bahwa mereka saling terhubung dan sekarang dari masing-masing keluarga bersikeras untuk mempertahankan Catriona begitupun dari pihak keluarga Tuoli ...." jawab Dokter Mari.


"Mereka mendapat pemberitahuan untuk siapa yang mau mengalah atau rela menukar kematian salah satu dari mereka?!" kata Felix menganalisa.


"Dokter Mari mengikutinya? bagaimana Dokter Mari bisa tahu?" tanya Teo.


"Kalian hanya memasang kamera pengawas di asrama Catriona, begitupun dengan Tuoli ... pasti kalian hanya memasangnya di studio kerjanya kan?" kata Dokter Mari yang mengira-ngira karena mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan mereka berdua.


"Akhirnya, muncul juga kelemahanku dalam permainan ini ... kukira sudah sempurna tapi ternyata ada cela!" kata Felix tidak mengira semua ini akan terjadi.


"Teo, Cain dan Tom kalian selidiki Catriona, Tan ikut aku menyelidiki Tuoli! kita harus memperbaiki kesalahan ini secepatnya sebelum terjadi sesuatu yang tidak diinginkan ...." kata Felix.


Felix mengelompokkan Teo, Cain dan Tom karena harus ada yang seperti dirinya yakni Tom untuk berpikir secara realistis disaat bersama Teo yang lebih mementingkan perasaannya. Tapi untuk jaga-jaga Felix menambahkan Cain yang bisa menjaga mereka kalau seandainya bertemu anak buah Efrain atau lebih buruk lagi bertemu Efrain sendiri. Sementara dirinya ditemani Tan yang dewasa dalam berpikir, serealistis apapun Felix memikirkan solusi tapi akan tetap ada kekurangan jika tidak berpikir secara dewasa.


"Kau yakin hanya ditemani aku?" tanya Tan merasa tidak yakin karena Felix sekarang sedang tidak sehat.


"Walau terlihat lemah tapi aku tetap bisa diandalkan!" sahut Felix, "Baiklah ... ayo kita berangkat!" semuanya yang baru saja sampai harus keluar rumah lagi.


"Felix mungkin melakukan ini karena kewajibannya sebagai seorang Caelvita dan kami mungkin melakukan ini karena merupakan kewajiban kami sebagai Alvauden ... tapi sebenarnya, bukan hanya karena kewajiban tapi kami yang memilih untuk melakukan ini! baik itu Felix maupun kami, sebenarnya bisa memilih untuk tidak melakukan ini tapi tetap kami lakukan ... tidak bisa melakukan hal yang seumuran kami lakukan bukanlah suatu yang buruk tapi dunia hanya memilih membesarkan kami dengan cara ini!" kata Tan.


"Aku seperti sedang berbicara dengan kakek-kakek saja!" kata Dokter Mari tertawa membuat yang lainnya juga ikut tertawa, "Biar, ibu antar kalau begitu!"


"Dokter Mari, punya hal lain yang perlu dilakukan ...." kata Felix tidak melanjutkan kalimatnya dan hanya menatap Dokter Mari.


"Baiklah ... kalian hati-hati!" kata Dokter Mari.


Dokter Mari mulai berangkat dengan mobilnya dan kedua kelompok yang sudah dibagi Felix kini mulai berjalan berlawanan arah.


"Apa benar tidak apa, hanya aku yang bersamamu? tidak perlu Cain ikut kita? kau tidak perlu mengkhawatirkan Teo dan Tom ... mereka bisa menjaga diri sendiri!" kata Tan.


"Cain bisa kupercayakan menjaga mereka berdua tapi kau ... kaulah yang terpenting Tan! kau harus selalu di dekatku ...." kata Felix dalam hati, "Bisa tidak kau berhenti menanyakan hal itu! saat ini aku hanya ingin memfokuskan tenagaku untuk berjalan ...." kata Felix.


Selama ini mereka hanya terus mengawasi Tuoli yang di studio kerjanya sibuk melukis jadi tidak tahu bagaimana keadaan di rumah keluarga besar Tuoli. Felix dan Tan dikagetkan dengan penjagaan super ketat dari pemampilannya bukanlah kemanan resmi melainkan mereka preman yang disewa untuk berjaga diluar. Terdengar sampai luar suara berisik dari dalam rumah membuat Felix harus masuk ke dalam untuk memastikan tapi Tan menarik pergelangan tangan Felix, "Aku tidak memakai garis pelindung!" kata Tan.


"Apa sekarang saja dicoba ...." kata Felix menutup matanya untuk mencari Cain, setelah menemukan keberadaan Cain barulah Felix bisa berbicara melalui pikiran, "Coba lakukan!" kata Felix.


Cain sudah lama ingin mengembangkan garis pelindungnya, bukan selamanya harus dengan menggambar secara manual tapi menggambar dari jauh agar bisa menyembunyikan dan melindungi Tiga Kembar. Selama ini terus ia coba tapi gagal, bahkan saat Tan, Teo dan Tom berada di dekatnya. Tapi kali ini Cain punya motivasi untuk melakukan itu, dengan kejadian ini digunakan sebagai peluang untuk mengembangkan kekuatannya.


Perlahan percikan sinar emas mulai muncul membentuk garis didekat kaki Tan tapi masih datang dan menghilang. Felix memegang bahu Tan dan garis pelindung Cain dengan sempurna terpasang. Selama ini Cain mengatakan bahwa dia tidak bisa melakukannya karena seperti jalannya menuju Tiga Kembar seperti terhalang dan tidak jelas. Tapi Felix ternyata bisa menjadi seseorang yang membukakan jalan itu.


"Sudah kuduga ... kau juga memiliki kekuatan pencari sepertiku! saat ini kau masih tidak bisa melakukannya sama sepertiku ... jadi untuk saat ini, biar aku yang menjadi penunjuk jalanmu!" kata Felix.


Felix dan Tan mulai berjalan diantara para preman itu dan masuk ke dalam rumah. Terdengar ada suara perdebatan yang sengit, "Aku yang akan membunuh anak itu sendiri!" kata seorang perempuan di samping Tuoli.


"Itu calon istrinya!" kata Tan.


"Bagaimana kalau semua ini hanyalah rekayasa penipuan dari seseorang!" kata seorang perempuan yang sudah berumur.


"Ibu Tuoli!" kata Tan.


"Setelah Tuoli meninggal barulah nanti ibu sadar dan menyesal! dan aku akan kehilangan calon suamiku!"


...-BERSAMBUNG-...