UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.435 - Pemikiran Felix



FT3 memeriksa lokasi yang akan dijadikan tempat untuk perkemahan sekolah.


"Wah, lebih bagus dari yang kubayangkan ...." kata Tan.


"Lebih bagus dari semua lokasi yang selama ini kita tempati sebelumnya." kata Tom setuju dengan Tan.


"Bagaimana kau bisa menemukan tempat ini?! aku tidak tahu kau seupdate ini soal lokasi perkemahan yang keren begini ...." kata Teo pada Felix.


"Aku tidak mencarinya di internet, karena tujuan utamaku hanyalah mencari hutan yang luas ... secara tidak sengaja aku menemukan tempat ini saat berjalan menelusuri hutan." kata Felix.


"Tempat ini sangat terkenal di internet karena luas dan perlengkapannya yang lengkap. Banyak yang syuting film, drama dan variety show disini ...." kata Teo.


"Aku menyetujui lokasi ini karena hutan yang ada disini dipenuhi energi positif. Kalian juga pasti merasakannya kan?!" kata Felix.


"Benar juga, aku tidak merasa takut atau merinding. Hanya fokus melihat dan menikmati pemandangan saja, padahal biasanya kalau melihat hutan akan ada saja perasaan aneh ...." kata Tan.


"Kalau sudah kau yang mengatakan berarti memang tidak diragukan lagi, disini sangatlah aman." kata Felix dalam hati.


Tiga Kembar menanam batu permata emerald disekeliling lokasi perkemahan. Butuh waktu lama karena lokasi luas dan mereka hanya bertiga. Sedangkan Felix memeriksa rumah pengelola tempat perkemahan yang ada di depan gerbang masuk.


Rumah yang serba kaca termasuk atapnya juga kaca. Felix memeriksa semua pikiran pekerja yang ada disana. Tapi tidak ditemukan adanya insiden apapun. Memang ada kecelakaan kecil yang terjadi tapi bukanlah hal yang perlu dikhawatirkan.


Semua pegawai pengelola di perkemahan itu terlihat sibuk menyiapkan perlengkapan karena Sekolah Gallagher akan tiba besok. Mereka memeriksa kemananan yang ada di hutan dari segi pagar dan kamera cctv. Pagar yang melindungi dari binatang buas dan kamera yang bisa merekam semua kejadian. Keamanan aliran listrik dan kebutuhan air diperiksa semua. Tenda sudah terpasang semua disana, hanya tinggal diperbaiki jika ada yang perlu diperbaiki atau dibersihkan.


"Ini ya, yang namanya glamping ...." kata Teo memasuki salah satu tenda mewah.


"Mertie sepertinya menghabiskan banyak anggaran untuk perkemahan tahun ini." kata Tom.


"Sejak kapan sekolah kita mengeluh soal uang ...." kata Tan.


Felix memeriksa catatan pengunjung, "Semuanya sangat sempurna ... apa ini berita bagus atau buruk?!" Felix jadi ragu juga padahal fakta didepannya sudah menjadi bukti.


"Ada panggung juga ...." kata Tom menunjuk area kosong yang hanya ada panggung pertunjukan besar di ujung area itu.


"Negeri kita memang terkenal akan hutan yang banyak dibanding dengan negara lain. Sepertinya negeri kita juga akan terkenal sebagai tempat kemping terbaik di dunia." kata Teo.


"Hem, ya ... ya ... kau dan tanah airmu!" kata Felix muncul dari belakang Teo.


"Bagaimana?! apa ada yang aneh?!" tanya Tan.


"Tentu saja tidak, aku memilih tempat ini karena auranya yang baik tapi bahkan pegawai pengelola disini juga semuanya aman. Mereka juga bersih dari aura buruk, seperti mereka melakukan pekerjaan disini karena memang suka. Bukan karena sekedar bekerja saja ...." kata Felix.


"Hal yang jarang sekali terjadi ...." kata Tom.


"Aku akan masuk ke dalam hutan!" kata Felix meninggalkan mereka lagi yang masih sibuk menanam batu permata emerald.


"Padahal kukira dia akan membantu menanam kali ini ...." kata Teo melihat punggung Felix menjauh.


"Aku sudah capek-capek mengambil batu permata emerald, kau mau aku lagi yang menanamnya?!" kata Felix lewat Jaringan Alvauden.


"Kau sengaja kan?! tentu saja dia dengar!" kata Tom.


Teo berpura-pura tidak tahu apa-apa dan hanya kembali menanam seperti tidak ada yang terjadi.


"Dasar tidak tahu malu!" Tom memaki diamnya Teo itu.


Tan tidak perduli dengan dua saudaranya dan hanya terus melakukan apa yang dilakukannya yakni menanam batu permata emerald, "Apa sebaiknya kita menaruhnya di Mundebris?! seperti dulu?!" tanya Tan lewat Jaringan Alvauden.


"Tidak, kalau di Mundebris ... aku tidak bisa menggunakannya untuk melindungi disini. Hanya bisa dipakai sebagai pendeteksi saja." jawab Felix yang sudah ada di dalam hutan.


"Bilang saja kalau kau mau pamer disini penuh dengan batu permatamu!" kata Tom.


"Ya, itu salah satunya." kata Felix datar.


"Kalian berdua benar-benar menyebalkan!" kata Tom pada Felix sambil menatap Teo.


"Kalau di Mundebris akan sulit untuk diketahui ada batu permata apa tertanam terlebih lagi tanaman di Mundebris akan melindungi. Tapi kalau di Mundclariss akan sangat jelas terlihat. Jadi, kalau ada yang mau datang mengganggu setidaknya akan berpikir dua kali atau segan ...." kata Felix.


"Intinya kau mau pamer ...." kata Tom.


"Sudah kubilang, memang iya!" kata Felix menendang ranting karena sebal. Felix telah berjalan jauh masuk ke dalam hutan tapi masih seperti saat pertama kali kesana. Rasanya damai sekali, tidak memberi perasaan takut sama sekali, "Sepertinya apa yang ada di Mundebris dan Bemfapirav sangat berpengaruh pada apa yang ada di Mundclariss begitupun sebaliknya. Dunia ini saling terhubung satu sama lain tapi sayangnya manusia tidak diberkahi kekuatan yang sama dengan Quiris. Selamanya manusia akan lemah dibanding dengan Quiris Mundebris dan menjadi bahan kejahilan Zewhit Bemfapirav. Rasanya sangat tidak adil ...."


"Kau itu Caelvita, jangan menaruh hatimu pada manusia." kata Iriana, "Kita adalah pemimpin di Mundebris dan itu menandakan bahwa Quiris lah yang harus kita pedulikan paling utama." sambung Iriana.


"Maka dari itu, karena mereka kuat jadi harus ditempatkan di dunia kegelapan. Karena mereka kuat adalah sebuah kelemahan. Selamanya mereka harus bersembunyi, seakan Mundebris dicipatakan untuk mereka agar terus terkucilkan." kata Felix.


"Jadi, apa maksudmu?!" kata Iriana bingung Felix berpihak pada siapa.


"Maksudku, aku ingin agar tidak ada yang menginjak siapa. Tidak ada yang menjahili siapa. Aku ingin agar semuanya hanya menjalani hidup dengan damai dan bebas. Tanpa membawa nama sebuah kaum ataupun dunia lain." kata Felix.


"Dulunya, dunia hanya ada satu ... tapi setelah Caelvita 1 menyadari bahwa ada berbeda-beda jenis makhluk hidup yang tidak bisa hidup bersama. Makanya dia menjadi pembimbing untuk Caelvita 2 agar menciptakan dunia untuk masing-masing makhluk. Manusia berhak untuk hidup di dunia yang ada matahari menyinari, Quiris yang memiliki kekuatan harus tinggal di dunia yang hanya terus malam agar mereka bisa menyembunyikan kekuatan dan rupanya yang tidak wajar, Zewhit yang memiliki dendam harus dibuatkan dunia juga karena jika terus berada dekat dengan makhluk hidup akan membahayakan kedua belah pihak. Dunia sudah diciptakan sempurna untuk cocok masing-masing dengan penghuninya ... untuk menciptakan kedamaian yang kau maksud itu." kata Iriana.


"Mungkin kedamaian bisa tercapai, tapi kebebasan terkekang. Buktinya Quiris Mundebris ingin agar hidup di dunia yang ada sinar matahari. Manusia ingin mendapatkan kekuatan. Jika Zewhit ingin terus hidup harus mendapatkan energi dari manusia. Pada dasarnya semuanya memiliki ambisi untuk bebas hidup dan lama kelamaan merusak perdamaian itu." kata Felix.


"Apa yang ingin kau katakan?!" kata Iriana sudah menebak apa yang akan Felix katakan tapi tetap saja bertanya.


"Dunia yang berbeda-beda ini bisa saja menjadi solusi yang salah dari awal dan seharusnya tidak diciptakan. Seharusnya dunia ini hanya terus satu saja, dengan begitu ... biarkan semuanya berbaur dan terbiasa satu sama lain." kata Felix.


"Apa dunia akan sampai dimasamu saat ini jika kau menerapkan itu?! rasanya dunia akan hancur dan kiamat dalam sekejap atau manusia akan musnah karena menjadi yang paling lemah. Bahkan kau tidak sempat lahir, semuanya sudah musnah." kata Iriana.


"Aku hanya menyatakan pendapatku saja ...." kata Felix.


"Em, luar biasa! 0 poin untukmu!" kata Iriana dengan nada seperti guru.


...-BERSAMBUNG-...