UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.490 - Titik Baru Gerbang Neraka



Felix terlihat sudah kesulitan untuk berdiri dibelakang Tom. Memang jika tidak ada Tom yang membantunya tadi, pasti Felix sudah mati ditangan Efrain. Dengan keadaan terluka setelah kecelakaan dan harus bertarung lagi, bahkan dengan tubuh sehat saja mustahil untuk bisa mengalahkan Efrain.


Efrain berusaha menarik Moshas Teo yang menancap di dadanya itu tapi Teo sendiri yang berlari maju melompati Felix dan Tom kemudian menarik Moshasnya sendiri dan kembali menyerang Efrain dengan gerakan cepat. Teo memang unggul dalam kecepatan dibanding yang lainnya. Tapi tidaklah sekuat Tom dalam serangan, sehingga Efrain mungkin kelihatan kesulitan karena gerakan cepat Teo itu tapi tetap bisa menahan serangan Teo.


"Kau cepat tapi tidak kuat, dia kuat tapi lambat. Alvaudenmu sangat menyedihkan Felix ...." kata Efrain menendang Teo.


Beruntungnya Teo bisa bertahan agar tidak terlempar jauh dengan menggunakan Moshasnya pada aspal.


Suara sirene ambulance mulai terdengar mendekat. Walau lokasi kejadian itu masih jauh dari kota tapi ambulance ternyata lebih cepat datang dari perkiraan.


Karena itulah Efrain terlihat terburu-buru melakukan sesuatu sebelum ambulance itu sampai. Efrain mengeluarkan batu permata Imperial Topaz berwarna jingga yang bersinar seperti lampu itu. Batu permata itu dijatuhkan dan Efrain meneteskan darahnya diatas batu itu. Sehingga muncullah sebuah tali yang ternyata merupakan rantai setelah dilihat dari dekat saat tali itu melewati samping Tom dan Felix.


Arwah yang meninggal dalam kecelakaan bus itu semuanya tertarik keluar dari dalam bus karena rantai itu. Semuanya tertarik menuju batu permata itu berada.


"Kau akan menanamnya di Mundclariss kali ini?! kau sudah gila?!" teriak Teo mencoba menghentikan Efrain tapi kali ini Teo mendapat serangan Isvintria dari Efrain hingga tak sadarkan diri.


Satu per satu roh mulai masuk ke dalam batu permata itu. Felix mencoba untuk berdiri melakukan sesuatu tapi tubuhnya menolak menerima perintah. Teriakan demi teriakan terus terdengar, Tom sudah berusaha keras menghalangi tapi berakhir melukai roh teman-temannya sendiri karena sedang memakai gelang Alexandrite.


Tom ingin melepas gelangnya itu tapi dilarang oleh Felix, "Jangan ...." kata Felix dengan suara serak karena lehernya habis dicekik oleh Efrain tadi.


"Tapi, bagaimana aku bisa menolong mereka?! setidaknya biarkan aku menolong Demelza ...." kata Tom frustasi.


"Demelza tidak bisa ditangkap!" kata Felix.


"Apa maksudmu?!" tanya Tom tidak mengerti.


Pertanyaan Tom itu terjawab saat Zewhit Badut langsung muncul tiba-tiba memotong rantai yang menarik Roh Demelza untuk masuk kedalam batu permata.


"Apa ... bagaiamana mungkin?!" kata Tom masih tidak mengerti apa yang barusaja terjadi.


"Para Target akan mendapat kutukan. Kutukan yang membuat mereka terikat dengan Zewhit, walau mati sekalipun ... roh mereka akan dibawa oleh Zewhit yang pernah mengganggunya. Itulah salah satu kekurangan dari menjadi target tapi siapa yang menyangka kalau disaat seperti ini bisa menjadi keberuntungan. Roh Demelza tidak akan bisa digunakan oleh Efrain." kata Felix lewat Jaringan Alvauden sehingga tidak harus kesulitan berbicara langsung.


"Sudah kuduga, kau akan menjadi penghalang kalau bukan berada dipihakku." kata Efrain berdecak kesal melihat Zewhit Badut.


"Kau ... sepertinya aku pernah melihatmu." kata Demelza lega melihat rantai yang mengikatnya terpotong dan melihat siapa yang menyelamatkannya. Zewhit Badut tidak merespon apapun hanya membantu Demelza berdiri dengan mengulurkan tangan tapi setelah itu mereka berdua langsung menghilang.


"Hahh?! kemana mereka?!" tanya Tom.


"Jangan khawatir, Roh Demelza aman sekarang." jawab Felix.


"Apanya yang jangan khawatir?! walau dia tidak masuk kedalam batu permata ini ... tapi jumlah korban masih lebih dari yang dibutuhkan. Jadi, tidak masalah ...." kata Efrain terlihat santai.


"Kalau begitu lepaskan yang lainnya! kalau sudah mencukupi jumlah roh yang kau butuhkan untuk menanam batu permata itu maka lepaskan yang lainnya!" kata Tom yang membuat Arwah dari teman-teman seangkatannya itu meminta hal yang sama agar dilepaskan walau sebenarnya tidak tahu pasti apa yang sedang dibicarakan.


Efrain hanya menyeringai dan menarik satu roh lagi masuk kedalam batu permata dan otomatis batu permata itu masuk kedalam tanah tertanam sempurna. Sedangkan arwah lainnya ditarik oleh Efrain seperti menarik hewan liar.


"Tom ...." Felix meminta Tom untuk tidak mengejar Efrain.


"Tapi ...." Tom tidak rela melihat itu terjadi didepan matanya.


"Aku tidak bisa membantumu kalau terjadi sesuatu ...." kata Felix yang kemudian kesadarannya mulai menghilang.


"Felix?!" teriak Tom panik tapi juga kasihan melihat arwah teman-temannya dibawa oleh Efrain. Tom meneteskan air mata dan mulai berteriak untuk melampiaskan amarahnya.


Tan datang setelah mendengar teriakan Tom itu bersamaan Efrain juga menghilang bersama dengan arwah korban satu angkatannya.


"Teo?!" Tan berlari kearah Teo dan melihat keadaan Teo yang memang sudah terluka tadinya saat kecelakaan bertambah lagi setelah pertarungan.


Ambulance terlihat sudah sangat dekat, Tan meninggalkan Teo menuju tempat Felix berada.


"Apa itu?!" tanya Tom.


"Ramuan untuk mengubah warna darah Felix untuk sementara, itupun aku tidak tahu apa ini cukup ... aku tidak tahu bagaimana organ dalam Felix ... apa tetap sama dengan manusia biasa atau berbeda. Apa aku bawa saja ke Bemfapirav sehingga tidak usah dibawa ke rumah sakit?!" kata Tan kebingungan.


"Tidak, para guru akan khawatir kalau tidak melihat keberadaan Felix." kata Tom.


"Jadi, bagaimana?!" tanya Tan.


"Aku punya rencana, tenang saja." kata Tom bersamaan dengan ambulance sudah tiba dibelakangnya


Para petugas ambulance kaget dan heran karena melihat korban terlempar sampai kedepan bus atau kalaupun dikeluarkan dari bus seharusnya tidak random dan jauh seperti itu. Tapi tidak ada waktu untuk mempertanyakan hal itu. Semuanya lansung sibuk membawa pasien naik keatas ambulance.


Ada 11 korban yang meninggal, 6 roh korban masuk kedalam batu permata yang tertanam termasuk diantaranya ada Roh Pak Rodney, guru yang bertugas menjaga di bus. Rohnya yang paling pertama tertarik masuk kedalam batu permata dan begitu cepat terjadi sehingga Tom sendiripun hanya bisa melihat sekilas hal itu terjadi.


Roh Demelza dibawa oleh Zewhit Badut, sehingga Efrain hanya bisa membawa pergi tiga roh termasuk Roh Kelsey salah satunya.


Jumlah korban untuk titik gerbang neraka bertambah satu. Saat memulai kembali atau merestart gerbang neraka jumlah korban juga akan bertambah. Sehingga mengacaukan gerbang neraka waktu itu sebenarnya adalah sebuah bantuan sekaligus kesalahan. Bantuan karena bisa beristirahat untuk sementara waktu tapi berubah menjadi kesalahan saat ini.


Semua korban sudah tiba di rumah sakit terdekat. Anak-anak lainnya yang hanya luka ringan dibawa pulang ke sekolah.


"Entah ini memang sudah direncanakan, titik gerbang neraka yang baru disana atau tiba-tiba saja Efrain melakukan itu sengaja untuk memprovokasi kita." kata Tan setengah sadar menggunakan Jaringan Alvauden saat merasakan kalau Felix sudah sadar.


"Sepertinya sengaja ... karena aku tidak sempat melakukan sesuatu. Masa depan yang kulihat terjadi hanya kisaran detik berlalu langsung terjadi juga. Tidak memberiku kesempatan untuk mencegahnya. Efrain tahu kalau membunuh secara besar-besaran aku pasti akan tahu makanya ... dia melakukan ini secara tiba-tiba untuk mengakaliku." kata Felix yang dipindahkan oleh petugas ambulance dan juga perawat unit gawat darurat rumah sakit.


"Tidak usah memikirkan itu dulu Felix, sekarang panggil Banks dulu! kita harus menghentikan kau diperiksa dan dirawat ...." kata Tom.


...-BERSAMBUNG-...