UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.243 - Untukmu Yang Kubanggakan ....



Dokter Mari juga ikut menghilang tidak lama setelah Cain menghilang.


"Jika hal ini bisa dilakukan, kenapa pewaris-pewaris sebelumnya tidak melakukan apa yang dilakukan Cain saat ini. Maka tidak ada lagi masalah Perkumpulan Setengah Sanguiber dari tiap generasi ...." kata Tom.


"Karena Cain adalah Leaure ... itulah kenapa dia mengambil jalan beresiko ini ...." kata Felix.


"Aku juga baru tahu kebenaran dari Pewaris Permainan Tukar Kematian hari ini ...." kata Zeki.


Mereka hanya bisa duduk melamun di tengah-tengah mayat Setengah Sanguiber. Masih tidak percaya apa yang terjadi dengan Cain. Tapi pemandangan disekeliling mau tidak mau memaksa untuk percaya. Kejadian hari ini serasa semuanya seperti mimpi karena terlalu berlebihan untuk hanya disebut sebagai imajinasi.


Pertempuran melawan ribuan Iblis dan Efrain yang seorang Raja Iblis, Bella yang merelakan nyawanya ditukar agar Kiana bisa hidup, Rahasia seorang Pewaris Permainan Tukar Kematian, Cain yang membantai Perkumpulan Setengah Sanguiber dan dijatuhi hukuman. Semua kejadian besar yang terjadi hanya dalam satu hari siapa yang akan percaya.


Sekolah yang ada di Bemfapirav sudah hancur tidak seperti sekolah yang ada di Mundclariss lagi. Bahkan api masih tidak bosannya kesana kemari mengelilingi sekolah seakan tidak mau menyisakan sedikitpun tanpa terbakar.


"Apa yang harus dilakukan dengan semua mayat ini?" tanya Tan.


Walau mereka benci dengan Setengah Sanguiber itu tapi sebagai seseorang yang memiliki perasaan dan juga sesama makhluk hidup, melihat mayat yang hanya berserakan seperti itu membuat hati merasa iba juga. Bagaimanapun mereka tidaklah bisa memilih terlahir sebagai Setengah Sanguiber.


"Kalian kembalilah dulu ...." jawab Felix.


Tan,Teo dan Tom saat ini masih sangat terpukul setelah kepergian Cain. Seperti tidak ada semangat hidup lagi. Melihat sosok ketiga sahabat yang biasanya selalu ceria menjadi seperti itu siapa yang tidak merasa bersalah. Mereka sudah dipenuhi luka, bahkan hampir mati tadinya. Ini sudah seperti penyiksaan yang tidak disengaja oleh Felix sendiri.


"Zeki, tolong temani mereka pulang!" kata Felix.


"Baiklah ... kita tinggalkan saja Felix disini sendiri! dia tahu bagaimana menyelesaikan ini semua ...." kata Zeki pada Tiga Kembar.


"Bagaimana dengan roh mereka semua ini?" tanya Teo.


"Cain memakai Pedang Ruleorum, dibunuh oleh Pedang itu ... roh akan langsung dikirim otomatis ke Jembatan Ruleorum." jawab Felix.


"Bahkan Cain sudah memikirkan sampai situ ... baiklah, kami akan pergi dulu!" kata Tom.


Tentu saja pasti Cain sudah memikirkannya sampai situ karena jika Zewhit dari Setengah Sanguiber bergentayangan, pasti akan membuat mereka menjadi Malexpir karena dendam. Sama saja jika Cain menciptakan musuh baru dalam bentuk lain lagi.


"Kau yakin Felix untuk tinggal disini sendiri mengurus ini semua? walau tidak bisa membantu setidaknya kami bisa menemani agar kau tidak sendiri ...." kata Tan.


"Terimakasih Tan, tapi aku tidak ingin kalian lebih lama lagi disini ... rasanya seharian ini sudah cukup kalian melihat kejadian yang tidak enak. Tidak baik juga terlalu banyak pengalaman sekaligus ...." kata Felix mencoba bercanda.


"Dia bercanda?" tanya Tan dalam hati, "Itu tandanya Felix benar-benar terpukul kehilangan Cain ... tidak biasanya dia bercanda begini!"


"Kami pergi!" kata Tom pamit.


"Istirahatlah ... tidak lama lagi juga aku akan kembali setelah yang disini selesai." kata Felix.


"Cain?" tanya Teo.


"Nanti kita cari solusi untuk Cain juga! sekarang kalian pulang dulu ... pikiran dan tubuh saat ini tidak memungkinkan untuk memikirkan solusi untuk Cain ...." jawab Felix.


Setelah Zeki dan Tiga Kembar kembali ke Mundclariss, Felix tersungkur ke tanah. Tak lama suara isakan terdengar, Felix menangisi kesuksesannya yang kosong itu. Cain dijatuhi hukuman merupakan kegagalan besarnya.


"Seharusnya aku bisa melakukan sesuatu ...." kata Felix memukul-mukul tanah.


Tapi sebenarnya tidak ada yang bisa dilakukan Felix, dari pengetahuan yang didapatnya di Perpustakaan Setengah Sanguiber hanya bisa dilakukan saat menjadi Caelvita resmi nanti. Meskipun begitu ada variabel baru yaitu ibunya, Felix mencoba bertemu tapi tidak bisa. Seakan memang sengaja bersembunyi dan sengaja membuat dirinya tidak ada di dunia ini.


Setelah lama menangis dan merenungi penyesalan, alarm jam tiga dunia Felix berbunyi yakni jam Mundclariss menandakan hari sudah berlalu. Setelah mendengar itu, Felix menyadarkan dirinya. Menghapus air mata penyesalannya dan mulai berdiri menghentakkan kakinya. Tanah mulai bergerak turun ke bawah membentuk lubang kuburan berukuran besar. Semua mayat ikut berjatuhan masuk ke dalam lubang itu, bahkan mayat yang ada di dalam sekolah yang masih terbakar itu juga melayang keluar dan masuk ke dalam lubang.


Felix berdiri di depan lubang kuburan besar itu dengan mayat tak terhitung jumlahnya. Melihat itu Felix terdiam sebentar, "Mereka ini adalah rakyatku juga ... kematian mereka bukanlah kesalahan Cain melainkan kegagalanku ...." belum pernah Felix merasa terikat oleh seseorang sebelumnya selain sahabatnya dan orang panti. Sepertinya jiwa Caelvitanya sudah mulai tumbuh di dalam dirinya tanpa disadari. Felix menutup matanya dan sebuah kain sutra berwarna merah darah datang melayang dari dalam tangan Felix membungkus semua mayat satu per satu. Setelah itu tanah mulai menutupi mayat itu dan menjadi sebuah kuburan besar.


"Maafkan kegagalanku sebagai Caelvita kalian ... selanjutnya aku akan mencari cara yang lebih tepat untuk melindungi kalian serta melindungi dunia dari kalian juga ... beristirahatlah dengan tenang dan terlahirlah menjadi manusia biasa di kehidupan selanjutnya." Felix menaiki puncak kuburan itu menaruh kayu sebagai batu nisan diambil dari sisa bangunan sekolah yang masih terbakar. Felix menuliskan sesuatu di batu nisan itu dengan menggunakan pisau kecil, "Yang Berdosa, Yang Tidak Punya Pilihan, Rakyat Mundebris, Setengah Sanguiber Yang Gagal!"


Tidak bisa dipungkiri bagaimana bencinya Felix dengan Setengah Sanguiber, dosa mereka terhadap kaum manusia yang tidak bisa ditebus dan tidak ada hukuman yang sepadan untuk mereka, tapi kenyataan mereka tidak punya pilihan harus terlahir sebagai Setengah Sanguiber merupakan hal yang membuat hati iba juga bagaimanapun mereka adalah Rakyat Mundebris juga. Seharusnya mereka beradaptasi dengan kaum lainnya dan bisa hidup tanpa harus menyakiti manusia tapi mereka memilih menuruti napsu yang sebenarnya bisa di kendalikan. Jadi mereka memang adalah Setengah Sanguiber yang gagal.


Felix kembali ke Mundclariss dengan matahari yang membuat mata harus ditutup dahulu untuk terbiasa karena barusaja dari Bemfapirav, dunia yang selalu gelap itu. Hari itu merupakan hari libur jadi setidaknya Felix masih bisa beristirahat meskipun sudah menjelang sore hari karena terlalu lama menangisi kegagalannya. Seseorang yang seharusnya ada disampingnya sekarang tidak diketahui keadaannya bagaimana. Cain yang seharusnya ada disampingnya membuat lelucon benar-benar sudah tidak ada. Ingin cepat pulang ke panti menemuinya tapi disana juga Cain sudah tidak ada. Felix menoleh ke kiri dan ke kanan, mencari keberadaan sang pembuat lelucon itu. Tapi kini dia berubah menjadi Sang Pembantai.


"Aku gagal sebagai Caelvita ... gagal sebagai sahabat. Tapi Cain sukses sebagai Pewaris Permainan Tukar Kematian, gagal sebagai Leaure karena tidak cekatannya aku dalam bertindak dan menyadari keadaan sekitar. Tapi ... Cain kau sukses menjadi sahabat dan sukses menjadi Alvauden!" kata Felix yang awalnya murung tapi berakhir dengan senyuman bangga.


...-BERSAMBUNG-...