
Beruntungnya lalu lintas tidak macet dan Mertie bisa sampai lebih cepat dari perkiraannya. 17 menit waktu yang dibutuhkan dengan menggunakan taksi dari Gallagher ke Mall Eartha. Walau sebenarnya Mertie terus mendesak Sopir Taksi itu untuk mengebut.
Turun dari Taksi, Mertie langsung mulai berlari untuk cepat masuk ke dalam pusat perbelanjaan yang cabangnya ada di seluruh kota di Provinsi Eartha itu. Mertie sudah menghubungi polisi dengan memberitahu bahwa ada kasus penghipnotisan lagi yang terjadi.
Tentunya polisi tidak percaya tapi Mertie kemudian memperkenalkan dirinya sebagai anak perempuan yang dicari-cari itu. Anak perempuan yang memiliki rekaman kejadian penghipnotisan. Mertie tidak berniat menyerahkan bukti rekaman itu hanya menggunakannya untuk memanggil polisi dan sepertinya itu berhasil.
Mertie mendatangi toko perhiasan merk Tifanny dulu, tapi tidak ditemukan ciri-ciri yang dimaksud oleh Felix itu, "Jangan bilang kalau dia sudah pulang ...." Mertie panik dan mulai mencari lagi ke tempat selanjutnya yakni Piaget dan matanya langsung tertuju pada seorang laki-laki yang persis sama yang dijelaskan oleh Felix sedang melihat-lihat perhiasan, "Diakah orangnya? tapi dia tidak terlihat kelelahan sama sekali, wajahnya segar sekali untuk dikatakan mengantuk ...." Mertie ragu apa dia memang benar target Iblis.
Mall saat ini sedang ramai karena Jum'at malam, banyak pengunjung yang sedang menikmati akhir pekannya. Mertie gelisah terus memperhatikan laki-laki itu dan disisi lain saat ini banyak sekali orang di dalam mall.
"Kau dimana?" pesan masuk itu langsung membuat Mertie lega.
"Aku di Mall Eartha, bagian toko perhiasan merk Piaget. Cepat kesini!" Mertie membalas dengan secepat kilat.
Sejenak Mertie mengalihkan pandangannya dari laki-laki itu dan setelah melihatnya lagi laki-laki itu telah menjatuhkan tasnya di lantai dan memegang kepalanya seperti kesakitan.
"Tuan, tidak apa-apa?" tanya Pegawai toko itu mengambilkan tasnya yang terjatuh.
"Ya, tidak apa-apa. Tolong bungkuskan kalung ini!" kata Laki-laki itu.
Pegawai toko langsung bergerak cepat dan laki-laki itu mengeluarkan dompetnya untuk membayar kalung itu dengan menggunakan kartunya. Laki-laki itu terlihat pucat meninggalkan toko perhiasan saat berpapasan dengan Mertie.
"Apa itu tanda kalau dia sudah dirasuki?" tanya Mertie dalam hati.
Mertie terus mengikuti laki-laki itu yang kini perlahan berjalan normal tidak seperti tadi yang berjalan tidak karuan. Benar saja, kini laki-laki itu memegang bahu seseorang yang berdiri didepannya di eskalator. Laki-laki itu mulai berbisik ke telinga pria di depannya. Saat turun dari eskalator, mereka berdua berpisah.
Mertie berhenti mengikuti laki-laki tadi dan mulai mengikuti laki-laki yang baru saja dihipnotis atau Iblis yang ada di dalam tubuh laki-laki yang membeli perhiasan tadi kini seperti yang dikura telah berpindah ke tubuh laki-laki lainnya, begitulah seharusnya polanya tapi celakanya ternyata yang dihipnotis itu sedang bersama keluarganya. Kedua anaknya menyambutnya di lantai tiga dengan tiket bioskop ditangan.
"Tidak! bagaimana ini ...." Mertie mengacak-acak rambutnya.
"Dia orangnya?" tanya seseorang dari belakang memegang bahunya.
Mertie kaget bukan main karena ada yang memegang bahunya. Tapi setelah berbalik ternyata itu Tan, Teo dan Tom.
"Hahh ... kalian rupanya!" kata Mertie begitu lega dan mencoba menormalkan irama jantungnya dengan menarik napas melalui hidung dan menghembuskannya melalui mulut.
"Di dalam bioskop ... akan sangat berbahaya ini!" kata Tan.
"Terlebih lagi ada istri dan kedua putrinya. Pertama kalinya mungkin ada pelaku yang bersama dengan keluarganya ...." kata Tom.
"Laki-laki itu sepertinya baru pulang bekerja dan langsung kesini untuk menonton bersama keluarganya." kata Tan.
"Sudah malam begini, kenapa menontonnya di jam ini padahal ada anak kecil ...." kata Teo.
"Dia hanya beda lima tahun dari kita tahu!" kata Mertie.
"Tidak ada pilihan lain karena Sang Ayah hanya pulang jam segini ...." kata Tan.
"Kenapa bukan besok saja? mereka punya waktu seharian penuh ...." kata Teo.
"Bisa saja sudah ada rencana lain besok dan anaknya ingin menonton film sebelum liburan bersama keluarga ...." kata Tom.
"Apanya yang bagaimana? tidak ada pilihan lain, kita juga ikut menonton dong!" kata Tom tersenyum.
Tan membeli tiket untuk mereka berempat, untung saja film yang akan dinonton oleh keluarga itu adalah film kartun jadi Tan sendiri bisa membelinya tanpa harus ada orang dewasa yang menggantikannya membeli.
"Aku tidak yakin apa orang itu dirasuki, dia baik-baik saja kelihatannya ...." Mertie berbisik karena sudah berada di dalam bioskop.
"Kami juga tidak yakin, karena tidak ada Felix yang bisa merasakan aura Iblis. Kami hanya bisa melihatnya sebelum memasuki tubuh manusia. Tapi kau kan sudah melihatnya sendiri kalau dia yang dihipnotis ...." kata Tom.
Mata mereka berempat terus tertuju ke keluarga itu bukan pada film. Di dalam bioskop yang gelap itu sangat berbahaya karena penglihatan tidak terlalu jelas.
Film selesai dan lampu bioskop menyala, semua penonton mulai berjalan ke pintu keluar.
"Tidak ada yang terjadi ...." kata Mertie.
Setelah keluar dari bioskop, mereka terus mengikuti keluarga itu sampai ke parkiran mobil di bawah tanah.
"Dia tidak akan melakukannya disini? apa di rumahnya baru beraksi? tidak seperti biasanya saja ... biasanya kan setidaknya di luar, jauh dari rumah pelaku dan dekat dari tempat keramaian." kata Teo.
"Bagaimana kita mengikutinya? oh tidak mereka mulai berangkat ... ayo cepat! kita cari taksi di luar!" kata Tom mulai berlari.
"EP 1813 Y ... aku sudah menghafal plat nomor kendaraannya." kata Tan.
Saat mereka berlari untuk keluar dari parkiran di bawah tanah itu, mereka tiba-tiba berhenti dan leher mereka kaku untuk menoleh. Disebelah kiri, ada mobil yang terparkir dengan dua orang di dalamnya. Laki-laki yang ada di kursi penumpang sedang memukulkan kepala seorang perempuan yang duduk di kursi pengemudi. Kepala perempuan itu terus membentur kaca yang ada di pintu mobil. Darah sudah memenuhi kaca mobil tapi laki-laki itu masih belum menghentikan perbuatannya bahkan perempuan itu sudah tidak dalam keadaan sadar.
"Laki-laki itu ...." Mertie menutup mulutnya dan mulai terjatuh.
"Apa dia yang menjadi penghipnotis itu?" tanya Tom.
Mertie diam tanpa kata dan gemetaran, Tom menyadarkannya dengan memegang kedua pipi Mertie untuk disadarkan, "Lihat aku! dia adalah yang menghipnotis tadi atau bukan?!" teriak Tom.
Mertie hanya bisa mengangguk dan mengeluarkan air mata, "Ini salahku ...."
"Tidak, sepertinya kita dipermainkan lagi. Iblis itu tidak memindahkan dirinya tapi tetap di dalam tubuh penghipnotis itu ...." kata Tan.
"Kau sudah telepon polisi kan?" tanya Tom.
"Aku melihat ada polisi tadi di lantai dua!" kata Teo.
"Oke, kalau begitu!" Tom menyeringai.
"1 ... 2 ... 3!" Tan menghitung, setelah hitungan ketiga mereka berteriak sekeras-kerasnya.
"Apa yang kalian lakukan?" tanya Mertie.
"Disaat seperti ini, menyelamatkannya adalah dengan bertingkah menjadi anak kecil yang ketakutan ...." jawab Tan kemudiam mulai berteriak lagi minta tolong.
Tak lama kemudian banyak yang datang ke tempat anak-anak yang berteriak itu, ada yang sedang ingin masuk ke dalam mobil tidak jadi dan menuju tempat mereka juga.
...-BERSAMBUNG-...