UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.497- Badai Yang Mendekat



"Memang benar bahwa kesuksesan murid pasti ada guru hebat dibaliknya." kata Tan.


"Belum tentu, ada juga murid yang memang terlahir dengan bakat spesial tanpa perlu guru yang hebat sekalipun akan tetap sukses. Hanya perlu diberi sedikit pengetahuan, tapi bisa sendiri meluaskan pengetahuan itu. Murid yang hebat tidaklah memerlukan guru yang hebat." kata Banks.


Keduanya tidak ada yang mau mengalah memuji hingga lupa waktu karena keterusan mengobrol lama dan ternyata matahari sudah mau terbit walau masih butuh satu atau dua jam tapi langit kelihatan sudah lebih terang saat mereka mulai mengobrol.


"Sepertinya ini yang namanya bolos ... memang menyenangkan seperti yang dibicarakan." kata Tan dalam hati meninggalkan Desa Navaeh untuk kembali ke sekolah.


Teo dan Tom berhasil melakukan kontrak tapi masing-masing hanya satu. Mereka berdua juga bergegas untuk kembali ke Mundclariss dengan menggunakan kacamata hadiah ulangtahun dari Felix buatan Banks terlebih dahulu agar bisa melihat apa yang ada di Mundclariss sebelum dimasuki.


Teo sendiri memilih untuk masuk Mundclariss dekat dengan penjual roti bakar agar bisa langsung sarapan.


"Kami belum siap ...." kata Penjual.


"Yang seadanya saja kak untuk mengganjal perut menaiki kereta pertama." kata Teo.


Penjual roti bakar itupun terlihat terburu-buru menyiapkan isian roti bakar yang masih belum disiapkan karena tempat menjual pun belum sepenuhnya selesai dibereskan.


Teo menaiki kereta dengan roti bakar dengan isian yang tidak rapi dan tidak teratur. Tapi tetap saja Teo menikmati sarapannya itu dengan susu hangat yang ikut dibelinya juga.


"Entah, apa tubuhku bisa memetabolisme semua ini tanpa tidur. Kaulah yang paling kasihan ...." kata Teo pada dirinya sendiri.


"Tapi makanan memang paling enak dimakan kalau sudah bekerja keras." kembali Teo menikmati sarapannya dengan lahap.


Tom sudah akan menaiki bus yang menuju sekolah jadi waktunya untuk bersiap fokus agar tidak terlihat lagi. Tom menghilangkan wujudnya saat berada diantara kerumunan yang ingin menaiki bus. Tubuhnya yang kecil diantara pekerja kantoran yang tinggi mudah untuk bersembunyi.


...****************...


Bukan hal yang pertama lagi bagi mereka begadang kemudian melakukan aktivitas tanpa tidur. Jadi, mereka sudah tahu bagaimana mengatasi hal itu. Mengurangi rasa kantuk dan lelah dengan cara masing-masing yang menurut mereka cocok.


"Felix, belum datang ...." kata Tom lewat Jaringan Alvauden saat memasuki kelas.


"Sepertinya dia terlalu berlebihan lagi sampai-sampai lupa waktu." kata Tan.


"Lupa waktu?! mana mungkin ... perhitunganku tidak pernah salah! aku akan kembali saat kelas akan dimulai." kata Felix.


"Apa hanya aku yang mendengar suara aneh saat Felix berbicara tadi?!" tanya Teo.


"Aku juga dengar, sepertinya dia sedang bertarung." kata Tom.


"Kita juga butuh latihan ...." kata Tan.


"Tidak, simpan energi kalian! sekarang lakukan kontrak sebanyak mungkin." kata Felix.


"Itu juga tidak membuat kami memunculkan batu permata sapphire tertinggi dalam waktu dekat ...." kata Teo.


"Walau begitu, lakukan saja!" kata Felix.


...****************...


Kelas sudah akan dimulai, Tom mulai khawatir kalau Felix tak kunjung datang juga. Tapi betapa terkejutnya Tom saat menoleh ternyata Felix sudah ada disampingnya dipenuhi keringat dan seragam yang sepertinya dipakai secara terburu-buru.


"Sejak kapan kau sampai?!" tanya Tom.


"Barusaja." sahut Felix mengeluarkan buku.


"Aku tidak melihatmu datang." kata Tom.


"Memangnya aku seseorang yang perlu membuka pintu untuk masuk?!" kata Felix.


"Memang benar begitu tapi bagaimana dengan anak-anak lain yang bisa saja curiga ...." kata Tom.


"Biasakan dirimu Tom! kita adalah orang yang seperti ini." kata Felix.


Tom tidak lagi merespon karena pelajaran pertama akan segera dimulai dengan guru menutup tirai dinding kaca kelas dan menyalakan proyektor di dalam kelas yang lampunya dimatikan seperti sedang berada di bioskop.


"Ada apa?! kau sakit kepala?!" tanya Tom.


"Hanya saja ... aku baru dari ruangan gelap dan serasa seperti kembali lagi." jawab Felix.


"Kau sudah level berapa dunia pikiran?" tanya Tom.


Felix tidak menjawab pertanyaan Tom itu karena suara kendaraan dari luar sekolah bersamaan masuk menyerang telinganya. Butuh perjuangan untuk bisa terlihat baik-baik saja dengan hal itu. Tapi bukan hal yang sulit lagi, bagi Felix untuk mengendalikan dirinya tetap tenang dan kelihatan baik-baik saja.


"Permintaanku untuk ikut latihan dunia pikiran masih tetap kusimpan." kata Tom.


"Saat berada di Dunia Zewhit waktu itu sudah lebih dari cukup ...." kata Felix.


"Aku sudah lupa bagaimana rasa dan sensasinya ... bisa saja aku tidak bisa melakukan apa-apa nantinya." kata Tom.


"Walau lama sudah tidak memakai sepeda, tidak akan ada yang lupa bagaimana menggunakan sepeda." kata Felix.


"Aku berharap begitu ... tapi kalau kau khawatir soal efek dunia pikiran dengan kami, rasanya itu tidak perlu. Lagipula kau lihat sendiri kan, kami baik-baik saja setelah memasuki dunia Zewhit Badut dan Kurcaci." kata Tom.


"Berbeda! aku sudah mencari tahu ... kau disana sebagai target, bukan sebagai lawan." kata Felix.


"Apa bedanya?! bukankah target adalah lawan?!" tanya Tom.


Diam-diam Tan dan Teo juga ikut mendengar percakapan Felix dan Tom itu. Berharap kalau Felix mengizinkan mereka untuk ikut latihan juga.


"Ayo, Tom!" kata Tan dalam hati.


"Semangat Tom!" kata Teo juga dalam hati.


"Setidaknya terget Zewhit, jiwanya tetap dijaga agar tidak terluka, walau tubuh tidak diperdulikan akan terluka separah apapun. Tapi setidaknya, para Zewhit sudah berjanji tidak akan melukai jiwa target mereka. Jadi, jiwa kalian tetaplah aman tidak terluka karena peraturan yang mengikat dari Ruleorum itu." kata Felix.


Tom ingin membalas tapi dihentikan oleh Felix, "Jiwa akan rusak kalau berada di dalam dunia pikiran dan lama kelamaan kau akan menjadi Meinimeirav seperti Dave yang kini entah keberadaannya ada dimana. Beruntunglah kalian karena Zewhit Badut dan Kurcaci tidak berniat melukai jiwa kalian makanya tidak melukai tubuh kalian juga untuk dibunuh. Kalau Zewhit lain, kalian pasti akan langsung dibunuh dan jiwa kalian akan selamanya menjadi tawanan Zewhit dan hidup sebagai Meinimeirav selamanya." kata Felix.


"Tidak berniat membunuh?! rasanya tidak begitu ...." kata Tom mengingat bagaimana saat disiksa di dalam dunia Zewhit waktu itu.


"Kuakui mereka memang melukai tapi tidak sampai membunuh kan?! Tanpa kau sadari, mereka sangatlah berhati-hati dalam menyerang." kata Felix.


"Entahlah ...." kata Tom berdecak kesal.


...****************...


Hari demi hari berlalu, tanpa sadar penghujung tahun akhirnya sudah dekat. Felix sendiri gemetar ketakutan kalau melihat tanggal. Banyak berita tentang orang hilang, kecelakaan dan juga pembunuhan dimana-mana. Dan tempat yang dimaksud dari berita, cocok dengan titik yang sudah ditandai berpotensi menjadi titik gerbang neraka.


Tapi Felix hanya terus menyuruh Tan, Teo dan Tom untuk melakukan kontrak saja. Felix sendiri juga lebih banyak menghabiskan waktu di Istana Ruleorum.


"Badai sudah dekat ...." kata Cain yang membuka tudung jubahnya dan bersamaan dengan itu suara menggelegar dilangit bersamaan dengan petir yang menjadi lampu dimalam yang gelap dan dingin oleh hujan itu.


"Ayo, Cain!" teriak Goldwin bersama dengan beberapa orang dengan memakai jubah hitam yang sama menunggu Cain yang menghentikan langkahnya.


"Apakah jantungku yang berdebar ini karena takut atau karena bersemangat tidak lama lagi akan bertemu mereka lagi ...." kata Cain menyeringai.


"Cepatlah, atau akan aku gunakan tali untuk menarikmu." kata Goldwin.


"Kau pikir aku ini hewan peliharaan?!" Cain protes.


"Makanya cepat! hujan di Mundebris dua kali lipat lebih deras dari Mundclariss. Dan sepertinya memang sangat deras juga di Mundclariss, sehingga kita bisa saja terkena banjir kalau tidak cepat pergi darisini." kata Goldwin menjelaskan dengan bulu yang sudah basah semua.


"Kau terlihat menyedihkan dengan bulu yang basah, seperti kucing liar tidak punya rumah ...." kata Cain kembali dalam barisan dan mengangkat Goldwin untuk masuk ke dalam kantong jubah depannya.


Goldwin senang karena tidak perlu repot lagi berjalan tapi kemudian tersadar, "Apa katamu tadi?! kucing liar?!" amukan Goldwin yang terbilang terlambat.


...-BERSAMBUNG-...