UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.405 - Menjadi Target



Meskipun Verlin sudah tahu akan kalah tapi bagaimanapun juga dia punya pengalaman bertarung lebih banyak dari Juro 2020 yang lebih muda darinya itu. Dari segi kekuatan Verlin memang tidak sebanding dengan Juro tapi jika menggunakan strategi yang baik Verlin berharap setidaknya bisa mengulur waktu sampai matahari terbit.


Juro 2020 menyerang Verlin yang hanya bisa menahan pedang Juro saja. Melihat itu, Juro mengerahkan tenaganya dan memakai tehnik berputar terkenalnya yang sangat cepat dan terus menyerang Verlin tanpa jeda.


"Hahh ...." Verlin banyak terluka akibat serangan itu tapi tetap bisa melindungi titik vitalnya agar tidak terkena serangan, "Kau tahu ... di Mundclariss kaum mu sangatlah lambat!" Verlin entah kenapa mengeluarkan candaan kuno itu.


"Sepertinya, pengalaman memang tidak berbohong. Walau bukan petarung tapi bisa menghindari serangan yang biasanya akan bisa langsung menumbangkan seseorang." kata Juro dalam hati memikirkan strategi untuk melawan Verlin dan tidak memperdulikan lelucon Verlin yang sudah biasa didengarnya itu.


Verlin tahu saat Juro diam dan berpikir adalah hal yang harus dihentikan. Karena Juro terkenal akan ahli strategi, tidak boleh diberi kesempatan untuk berpikir. Verlin memunculkan batu permata safir di telapak tangannya dan mengubahnya menjadi busur dan panah.


"Padahal Juro adalah aset Mundebris ... tapi apa boleh buat, aku harus melakukan sesuatu!" kata Verlin ragu harus melukai Juro dengan anak panah dari batu permata tertinggi.


"Verlin?!" seru Teo.


"Apa yang kau lakukan disini?!" tanya Tom.


"Aku juga menanyakan hal yang sama, apa yang kulakukan disini?!" kata Verlin yang mendarat dekat kaki Teo dan Tom berada. Verlin memakai kekuatan andalannya tapi berakhir terkena serangan Juro juga dan masuk ke dalam dunia Zewhit Kurcaci, "Dingin sekali disini ... aku pergi dulu! hem?!" Verlin bangun dan membersihkan pakaiannya dari salju tapi malah diserang oleh manusia salju yang menyerang Osvald. Verlin dengan mudah menghancurkan kedelapan manusia salju itu, "Hai! ah ... kau tidak akan ingat aku juga ya?! kalau begitu sampai jumpa!" Verlin menyapa Osvald dan mulai terbang keluar menuju Juro berada.


"Apa-apaan ini?!" Teo dan Tom heran apa yang sedang terjadi tapi tenang juga melihat Osvald sudah terbebas dari manusia salju itu.


Setelah kepergian Verlin, terdengar gemuruh besar dari samping. Teo dan Tom melihat itu langsung berlari, Osvald juga sudah berlari jauh di depan melupakan sakit di lengannya untuk menyelamatkan diri dari gelombang besar tsunami salju yang sedang mengejar.


"Rasanya ada yang salah ...." kata Teo berlari panik.


Mau berlari sejauh apapun, tetap dikejar. Tidak ada tempat untuk bisa berlindung dan kaki sudah mulai melemah untuk berlari.


"Tidak ada ruang untuk kita menonton, semua tempat akan tersapu." kata Tom menyadari memang ada yang salah. Kalau terjadi sesuatu biasanya hanya menuju arah Osvald saja tapi kali ini semua wilayah disapu bersih.


"Aaaaaaaa!" teriak Teo, Tom dan Osvald saat gelombang salju itu tinggal berjarak sedikit. Teriakan mereka teredam setelah tersapu oleh gelombang salju itu. Mereka semua kehilangan kesadaran saat itu terjadi dan baru sadar saat berusaha keluar dari tumpukan salju yang menguburnya.


"Hahh ... kukira aku akan mati. Tom? kau dimana? kau tidak mati kan?!" teriak Teo.


"Aku disini!" Tom juga muncul ke permukaan.


"Teo, Tom?! apa yang ...." Osvald kaget melihat Teo dan Tom berada disana juga.


"Kau bisa melihat kami?!" Tom juga kaget saat akan menarik Teo keluar tapi malah terjatuh kebelakang.


"Kalian?! bagaimana bisa kalian ada disini?!" tanya Osvald.


"Apa kita tidak sengaja menyentuhnya saat badai tadi?!" Teo dan Tom saling bertatapan mencari alasan yang tepat untuk dijelaskan pada Osvald.


"Tapi, kan dia tidak akan ingat ini juga." kata Tom.


"Apa maksudmu?!" tanya Osvald kemudian mulai mengingat bagaimana dia lupa saat bangun tapi ingat saat kembali kesini, "Bagaimana kalian tahu hal itu?! jangan-jangan ... kalianlah yang melakukan ini?! kalian yang mengerjaiku?!" Osvald mulai mundur dari Teo dan Tom berada.


Osvald merasa tidak bisa mempercayai Teo dan Tom lagi jadi memilih untuk lari menjauh darisana.


"Osvald?!" teriak Tom.


"Hahh ...." Teo menyesalkan dirinya tidak bisa menjelaskan dengan baik.


"Teo ...." Tom terdengar dengan nada panik.


"Hem?!" Teo belum menyadari apa yang telah disadari oleh Tom.


"Bajumu penuh salju!" kata Tom.


"Tentu saja dengan apa yang baru saja terjadi ... hahh?!" Teo yang baru sadar juga panik, "Pelindung dimensi buatan menghilang?!"


"Kita ... menjadi target juga!" kata Tom.


***


Tan memastikan dulu Demelza apa baik-baik saja baru berlari melindungi dirinya juga. Semua wahana permainan rusak dan terus berjatuhan. Terutama yang berada paling tinggi terus berjatuhan menghantam apapun yang ada dibawahnya.


"Aku jadi seperti semut yang sedang berlari menghindari sepatu agar tidak terinjak ...." kata Tan random entah kenapa memikirkan hal itu.


Tan terus berlari menghindar, "Apa Demelza baik-baik saja?!" Tan menyesalkan tidak bisa mengikuti Demelza karena dia berada di seberang jurang. Akhirnya dia merasa bersalah sendiri menyelamatkan dirinya sendiri disaat Demelza saat ini tidak diketahui bagaimana keadannya, "Wooow ...." tanah yang dipijaki Tan retak dan mulai runtuh. Tan bergerak cepat tapi semuanya lebih cepat lagi terjadi. Akhirnya Tan melompat menggunakan seluruh kekuatan dan memanfaatkan latihan kerasnya selama ini. Semua tanah runtuh dibelakang Tan, bahkan Tan sendiri masih bergelantungan di tepi jurang dan baru mulai memanjat naik tapi terjatuh lagi, "Tidak ada pilihan lain ...." Tan memanggil Tellopper nya, "Demelza?!" Tan menghilangkan Telloppernya dengan cepat dan meraih tangan Demelza.


"Aku punya banyak pertanyaan denganmu, jadi jangan mati!" kata Demelza menarik Tan naik dari jurang itu.


"Kau bisa melihatku?!" tanya Tan setelah berhasil naik.


"Apa maksudmu?! jadi selama ini kau ada disini dan aku tidak bisa melihatmu, begitu?!" kata Demelza mulai emosi.


"Aku ... aku juga sama sepertimu. Entah bagaimana tiba-tiba ada disini tiap malam, tapi aku melihatmu sedangkan kau tidak melihatku." kata Tan menjelaskan, "Lagipula yang kukatakan memang benar ...." kata Tan dalam hati merasa bersalah telah berbohong, "Bukan ini saatnya ... aku sekarang menjadi target juga kalau begitu." Tan menggaruk kepalanya frustasi, "Bagaimana bisa aku dilihat Demelza? aku bahkan daritadi terus berjauhan dengannya ...."


"Ayo, cepat lari!" teriak Demelza melihat Tan hanya terus mengacak-acak rambutnya sementara ada yang sedang mendekatinya dari belakang, "Kau ini siapa?!" tanya Demelza tidak bisa mengenali siapa jika tiga kembar tidak memakai papan nama.


"Tan!" sahut Tan sambil terus berlari, selama ini dia hanya berlari seperlunya saja agar tidak kehilangan jejak Demelza tapi kali ini harus berlari sekuat tenaga untuk menyelamatkan diri.


"Kenapa kau memakai masker?!" tanya Demelza.


"Memangnya itu penting sekarang?!" teriak Tan.


"Tentu saja, aku selalu memakai piyama karena terbangun disini saat tidur. Tapi, kau ... apa kau memakai pakaian itu untuk tidur?!" Demelza mengetahui ada yang aneh dari Tan.


...-BERSAMBUNG-...