UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.539 - UNLUCKY : Perang Besar Pertama Caelvita-119 Part 22



"Memangnya dia mau bagaimana lagi?! dengan tubuh seperti itu ... ya ... cara untuk membunuh memang harus begitu." kata Tom.


"Aku tidak meminta pendapatmu, robot! dasar tidak berperasaan!" kata Teo.


"Kau membunuh lebih banyak iblis dariku, tahu?!" balas Tom.


"Mana mungkin ... jangan mengatakan kebohongan yang benar-benar mustahil untuk dipercayai!" kata Teo.


"Bohong ya bohong, tentu saja tidak akan ada percaya. Apa sih maksudmu?!" Tom heran dengan rangkaian kata Teo. Walau memang Teo sudah sering begitu tapi tiap kali didengar masih saja terus membuat kesal, seperti tidak akan pernah terbiasa dengan hal itu sampai kapanpun.


Bulu putih Raja Aluias dan Cain perlahan dipenuhi warna jingga, "Apa hanya aku yang merasa itu tidaklah terlalu menyeramkan ... karena menurutku yang sangat menyeramkan itu kalau mereka dipenuhi warna darah merah." kata Teo.


"Itu karena kita belum terbiasa saja dengan warna darah yang berbeda. Dipikiran kita hanya tertanam satu warna darah yaitu merah. Dan dipikiran kita menanamkan kalau warna darah merah itulah yang menyeramkan bukan warna lainnya." kata Tan.


"Aaaaaaa!" teriakan Teo lagi saat ada organ tubuh iblis yang jatuh didekatnya lagi.


"Tadi katamu tidak menyeramkan?!" Tom meledek.


"Maksudku Cain ... bulu Cain!" kata Teo membela diri dengan suara keras.


Memang benar yang dikatakan Teo, penampilan Raja Aluias dan Cain tidaklah menyeramkan dipenuhi oleh warna jingga. Malah seperti memang sengaja dihiasi warna seperti itu sehingga terlihat lebih indah dilihat. Tapi jika mereka dipenuhi oleh warna merah darah manusia, pasti penampilan mereka akan sangat menyeramkan dan mengerikan untuk dipandang.


"Ayo kita ikut bergabung!" kata Banks.


"Ayo!" Tan dan Tom kompak menyahut kemudian berbalik melihat Teo, "Kenapa kau tidak menyahut?!" tanya Tom sedangkan Tan menyenggol Teo.


"Kalian duluan saja, lagipula aku punya sayap. Secepat apapun kalian tidak akan bisa menandingi kecepatanku." kata Teo sombong.


"Awas saja kalau kau hanya tinggal!" kata Tom.


"Kau pikir aku ini orang seperti itu?!" Teo merasa tidak adil tidak dipercayai.


Goldwin dan Verlin maju disamping Felix melewati Ratu Sanguiber yang berada tepat dibelakang Felix sedang duduk.


Tom menoleh pada Earl, "Kau juga ikut kan?!" tanya Tom.


"Entahlah ... apa bisa membantu dengan situasi seperti ini." kata Earl yang tidak ada salahnya karena pertarungan saat ini berubah skalanya menjadi sangat besar.


"Apapun itu kalau dilakukan bersama-sama akan memberikan dampak juga. Kalau tinggal diam dan tidak melakukan sesuatu, barulah ... tidak membantu." kata Tom.


"Walaupun kita kecil, tapi kalau banyak. Akan berbeda pastinya!" kata Tan.


"Menyebalkan, kan mereka?!" kata Teo pada Earl saat Tan dan Tom sudah maju melangkah bersama Banks.


"Lucu juga, bagaimana tiga wajah yang sama tapi dengan karakter yang berbeda." kata Earl dalam hati, "Tapi itu juga yang membuat senjata Alvauden berbeda-beda. Karena senjata Alvauden hanya akan datang sesuai dengan kepribadian Alvauden itu sendiri." sambungnya lagi dalam hati.


"Apa maksud ekspresimu itu?!" tanya Teo dengan wajah curiga.


"Tidak ... tidak Yang Mulia!" Earl mencoba menyangkal.


"Kau ini ...." Teo dengan menyipitkan mata.


"Saya bukan Quiris seperti yang Yang Mulia bayangkan ...." kata Earl kelihatan heboh menyangkal.


"Hahaha ...." Teo tertawa keras dan memukul punggung Earl, "Maksudku kau kelihatan mudah diajak berteman. Kau pikir aku memikirkan hal apa sih?!" Teo masih terus tertawa.


"Ah, begitu ya ...." Earl kelihatan malu sendiri.


"Namaku Teo, yang kelihatan seperti mesin itu namanya Tom dan yang terdengar seperti kepala sekolah kalau sedang berbicara itu namanya Tan." kata Teo memperkenalkan saudaranya dengan cara unik.


"Earl." tidak tahu harus memperkenalkan bagaimana dirinya sendiri karena cara Teo yang sangat unik itu. Earl hanya bisa menyebut namanya saja dan mengajak bersalaman. Tapi Earl takjub bagaimana bisa mengenali mereka dengan benar berdasarkan deskripsi Teo itu.


"Okey, Earl sampai jumpa saat pesta kemenangan." kata Teo kelihatan mulai mengepakkan sayapnya.


"Apa maksudnya?! malah ... ini bagus! kalau besar akan sangat mudah dibuat jatuh!" kata Teo yang mendarat didepan Banks.


"Ini bukan film Teo! keseimbangan mereka sangat baik. Kau bisa melihatnya sendiri, mereka bertarung seakan tidak terpengaruh oleh ukuran tubuh. Bukan seperti orang yang dari ukuran kecil menjadi besar sehingga akan tidak terbiasa bertarung dengan ukuran tubuh yang tidak biasa digunakan itu. Tapi mereka seakan-akan sudah terbiasa dengan ukuran tubuh seperti itu." kata Tom.


"Dan ... lucu sekali kau mengatakan itu tepat dihadapan Banks yang mengenal iblis lebih daripada siapapun itu." kata Tan.


"Ah, terkadang aku lupa kalau guru adalah iblis juga." kata Teo dengan wajah polos.


"Apa wajahku masih belum bisa menjelaskan kalau aku ini apa, Teo ...." kata Banks sambil menghela napas.


"Maaf ...." Teo dengan senyuman yang malu-malu.


"Jadi, intinya ...." Banks kembali memfokuskan mereka, "Kita harus bersiap untuk segala hal buruk. Jangan meremehkan hanya karena ukuran mereka besar. Terutama kau Teo! karena mereka besar bukan berarti mereka lambat dan kau akan unggul dalam hal kecepatan. Jadi, tetap jaga jarak! jangan memutuskan ide aneh dengan mendekat, kau bisa mati bahkan kalau hanya kena satu sentilan jari saja."


"Okey!" Teo mengangguk tanda mengerti, rencana dan ide-idenya untuk mengalahkan raksasa berdasarkan referensi film yang pernah dinontonnya menjadi hancur seketika, "Jadi, kita harus bagaimana melawannya?!"


"Dengan ukuran kita yang kecil, kita bisa memanfaatkan sekitar." kata Banks.


"Maksudnya?!" tanya Teo.


"Ada satu kekurangan disaat merubah diri menjadi besar yaitu kepala. Seperti halnya kita yang kesusahan mendongak melihat mereka. Mereka juga akan kesulitan menunduk untuk melihat kita yang kecil." jawab Banks.


"Jadi, kita bisa menggunakan debu yang menutupi pergerakan kita ini ...." kata Tom.


"Kan, aura kita bisa dirasakan." kata Teo.


"Apa maksudmu?! ada dua ahli ramuan disini!" kata Banks menunjuk dirinya dan Tan.


"Tapi, sepertinya aku akan kesulitan menjaga diriku tetap fokus disituasi seperti ini." kata Teo.


"Tidak perlu harus terus menjaga agar wujud tidak terlihat. Hanya perlu tidak terlihat setidaknya sebentar tapi harus dengan pergerakan yang random dan cepat agar mereka tidak bisa menebak pergerakan kita mau kemana." kata Banks.


"Malah, sepertinya itu ide yang bagus Teo. Dengan muncul dan menghilang akan menjadi pengalihan yang bagus untuk mengalihkan mereka." kata Tan.


"Dan perlu seseorang untuk yang bisa terus fokus disaat ada yang lain menjadi pengalih perhatian. Sehingga yang tidak terlihat itu bisa menyerang disaat sibuk dengan pengalihan." kata Tom.


"Sempurna!" kata Banks, "Kalian siap?!"


"Teo, kau maju sebagai pengalih perhatian. Aku akan menyerang kalau sudah kelihatan mereka benar-benar teralihkan darimu." kata Tom.


"Apanya yang sempurna, sepertinya aku menggali kuburanku sendiri!" keluh Teo.


"Tan, akan melindungimu dengan kekuatannya saat kau maju. Tan lebih cocok untuk serangan jarak jauh. Sedangkan aku cocok kalau lawan tidak terus bergerak. Makanya kaulah satu-satunya yang sangat cocok untuk dijadikan pengalih perhatian." kata Tom.


Tan hanya tersenyum pada Teo tapi Teo tidak merasakan ada kelegaan dari senyuman Teo itu.


"Ide yang buruk, katakan saja kalau aku ini umpan. Tidak usah menyebutnya dengan kata keren 'Pengalih perhatian' segala." kata Teo sebal.


"Ayo maju!" kata Banks yang meninggalkan mereka untuk membantu Raja Aluias dan Cain.


...-BERSAMBUNG-...


Catatan Penulis :


Akhir-akhir ini viewers sepi ya?!🄲


Katanya sih, karena episode sudah banyak. Jadi viewers lebih banyak download semua episode kemudian baru dibaca offline daripada baca satu-satu katanya untuk dibaca online. Dilema juga sih, kalau episode sudah sebanyak ini.


Padahal sudah mau tamat, harapannya pengen bisa capai target 500k😄 tapi sepertinya gak bisa😢


Itu aja, cuman curhat ceritanya🄓