
Raja Aluias dan Cain kini berubah menjadi serigala dengan ukuran yang sangat besar. Dengan bulu berwarna putih bersinar dan Cain yang ada sedikit warna emas.
"Setidaknya kita bisa membedakan yang mana Cain ...." kata Teo.
"Memangnya kenapa kalau kau bisa membedakannya?!" tanya Tom.
"Kan, kita bisa membantunya kalau ...." kata Teo berbicara tidak diselesaikan.
"Membantunya atau malah mengganggunya." kata Tom menyelesaikan.
"Kalau saja ... sifat Felix ada sedikit diambil dari ayahnya pasti akan lebih baik. Tapi sepertinya semuanya diambil dari ibunya." kata Teo berbisik membuka obrolan baru dengan tema baru.
"Aku bisa mendengarmu!" kata Felix dan Ratu Sanguiber bersamaan tanpa menoleh.
"Ah, maaf ...." kata Teo sontak kaget.
"Kau tidak tahu saja kalau Raja Aluias, sifatnya lebih buruk daripada Ratu Sanguiber." kali ini Verlin yang berbisik.
"Masa?!" Tiga Kembar tidak percaya, bagaimanapun daritadi Raja Aluias kelihatan tidak terlalu agresif dalam bertarung dan hanya santai saja. Tidak seperti Ratu Sanguiber yang sudah membunuh banyak iblis dengan cara yang tidak pernah sama atau kalau kata Teo bilang 'Sangat Kreatif'.
"Lucu sekali rasanya mereka terus berbicara padahal sudah tahu kalau kita mendengar." kata Ratu Sanguiber tidak habis pikir.
"Aku sudah terbiasa." kata Felix datar.
"Memang, dari yang kutahu kalau Caelvita dapat mendengar semua suara bahkan seluruh suara yang ada di dunia ini kalau berhasil mencapai kekuatan maksimal." kata Ratu Sanguiber.
Felix hanya diam saja tidak merespon sehingga Ratu Sanguiber kembali membuka obrolan, "Waktu itu ... te ... terimakasih." agak sulit diucpkan tapi setelah diucapkan langsung diakhiri dengan cepat.
"Aku juga secara tidak sadar langsung tertarik kesana, itu bukan keinginanku sendiri yang memang ingin kesana tapi semuanya hanya langsung terjadi begitu saja." kata Felix.
"Apa sulit mengatakan sama-sama?! Terimakasih kembali?! Kau tidak tahu bagaimana sulitnya aku mengatakan itu?!" kata Ratu Sanguiber kesal, "Ultisidium bukanlah kekuatan Caelvita semata tapi kekuatan yang berdasarkan naluriah untuk menolong kerabat terdekat."
"Bukan naluriah tapi memang sistem yang sudah diatur seperti itu. Buktinya aku menyelamatkan seseorang yang bahkan tidak aku kenal." kata Felix.
"Tidak kau kenal?! aku yang melahirkanmu!" kata Ratu Sanguiber.
"Aku tidak yakin karena tidak ingat soal itu." kata Felix datar.
"Ultisidium hanya berfungsi jika itu adalah orangtua ataupun Alvauden. Hanya dua hubungan ikatan itu yang bisa membuat Caelvita melakukan Ultisidium." kata Ratu Sanguiber mencoba menahan emosinya agar tidak meledak.
"Siapa yang ...." Felix menggerakkan sedikit lehernya untuk berbalik tapi tidak jadi, bahkan menolehpun tidak dilakukan dan kalimatnya juga tidak diselesaikan.
"Ibu dari Sang Caldway pernah menemuiku ...." kata Ratu Sanguiber menjawab saja bahkan tanpa Felix menyelesaikan pertanyaannya.
"Dia meninggal bahkan sebelum Viviandem dibangkitkan, bagaimana bisa?!" tanya Felix kini benar-benar sudah berbalik pada Ratu Sanguiber.
"Beliau Ruleorum, bahkan bisa melihat apa yang belum terjadi ...." kata Ratu Sanguiber.
"Bahkan ... sebelum Sang Caldway lahir. Entah beliau apakah sudah tahu kalau Caelvita yang akan lahir atau putrinya sendiri itu akan berumur pendek atau memang tidak tahu apa-apa tentang itu." jawab Ratu Sanguiber.
"Rasanya aneh mendengar seorang Ratu berbicara formal dan sopan pada seseorang ...." kata Felix menyindir bagaimana Ratu Sanguiber membicarakan ibu Iriana dengan cara seperti itu, tidak seperti karakternya yang kelihatan akan berbicara kasar dan informal pada siapapun itu tanpa terkecuali.
"Ibu dari Sang Caldway juga bukan Quiris biasa dan sangat dihormati di Mundebris. Kau pikir aku ini tidak punya sopan santun?! walau memang kelihatannya begitu ... aku hanya menghormati mereka yang benar-benar memang pantas dihormati saja." kata Ratu Sanguiber.
"Sang Caldway ...." kata Felix ada kesan tawa saat mengucapkan itu.
"Aku benci dengan Efrain tapi bagaimana dia memperlakukan Caelvitanya sangatlah patut dipuji. Membuat peraturan agar tidak ada yang bisa menyebut nama Caelvita-118 dengan sembarangan dan tidak sopan adalah hal yang bijak. Kau juga harus mengajarkan hal itu pada Alvaudenmu. Jangan menjadi Caelvita yang dianggap remeh dan tidak dihormati." kata Ratu Sanguiber.
"Yang didepan sana itu tidak akan membiarkan siapapun menghinaku. Bahkan aku takut kalau mungkin saja suatu saat dia akan membunuh seseorang yang tidak sengaja membicarakan keburukanku." kata Felix.
"Kalau dilihat sebenarnya dia itu sangatlah berhati lembut dan tidak bisa diandalkan. Tapi nyatanya dia Pembantai Perkumpulan Setengah Sanguiber dan berhasil mengumpulkan pasukan untukmu. Semua yang kupikirkan tentang dia langsung terbantahkan. Dia memang sangat cocok menjadi Alvauden. Tapi bukan berarti aku sudah memaafkannya ... kalau ada waktu kosong aku akan membunuhnya." kata Ratu Sanguiber yang tidak ada unsur candaan pada nada bicaranya.
"Dia pasti akan tahu kalau waktu itu datang ...." kata Felix tertawa dalam hati.
"Apa yang mereka bicarakan?!" Teo berusaha menguping pembicaraan Felix dan Ratu Sanguiber yang ada didepan tapi tidak bisa mendengar apapun.
"Tidak usah ikut campur! lebih baik memikirkan bagaimana kita bisa selamat dari raksasa yang segera akan menginjak kita." kata Tom memukul kepala Teo, "Atau ... seperti yang kau katakan tadi, membantu Cain!" Tom menyindir.
"Aku masih sedang berpikir ...." kata Teo dengan senyuman kecut.
Akibat bulu Raja Aluias dan Cain yang bersinar membuat jarak pandang meluas. Walau masih terus diterpa debu tapi penglihatan sudah bisa diajak kerjasama.
Angin kencang menyebar setelah Raja Aluias dan Cain bertemu Raksasa Iblis dan saling berhadapan. Mereka hanya berdua melawan banyak Iblis memang tidak adil dan tentunya sangat sulit tapi kelihatan seimbang juga lama kelamaan. Baik itu Raja Aluias maupun Cain tetap berdiri kokoh menahan Raksasa Iblis dengan kuku dan taringnya. Disaat terus dipukuli dari berbagai arah oleh Para Iblis untuk dibuat menjauh. Tapi tetap tidak diberi jalan untuk melangkah maju oleh Raja Aluias dan Cain.
"Langkahi dulu mayatku dan bunuh aku dalam wujud Zewhit! Saat aku menghilang dari dunia ini, barulah kalian boleh maju." kata Cain menantang.
Raja Aluias menyeringai mendengar Cain mengucapkan itu, "Dia sangat berbeda dari ayahnya ... tapi sepertinya sangat bisa diandalkan untuk berada disamping Felix." kata Raja Aluias dalam hati.
Beberapa saat kemudian, "Aaaaaaaaaa!" teriak Teo melihat kepala Iblis mendarat tepat didekatnya.
"Apa Cain yang melakukan ini?!" tanya Tan.
"Bukan ...." sahut Verlin.
Raja Aluias menampakkan bagaimana sifat aslinya atau bagaiamana gaya bertarungnya yang sebenarnya. Menggigit leher iblis dan menariknya hingga putus. Sekarang saja masih ada kepala iblis di mulutnya dan jantung iblis di kaki depannya tanpa merasa terganggu padahal masih tertinggal tertancap dikukunya.
Beberapa saat kemudian Raja Aluias melemparkan kepala iblis yang ada dimulutnya dengan kasar dan menyingkirkan jantung iblis yang ada di kakinya seperti sedang menendang bola.
"Kini aku tidak heran kalau Felix kenapa bisa begitu ...." kata Teo merinding, "Ayah dan Ibunya sama-sama menakutkan ...."
...-BERSAMBUNG-...