UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.329 - Pentingnya Sebuah Kepercayaan



"Ini tandanya kita harus bekerja lebih keras lagi. Iblis tidak menunggu satu titik selesai atau tidak. Tapi membagi-bagi diri mereka untuk ke titik lainnya. Kita tidak boleh hanya fokus pada satu desa saja." kata Tan.


"Bukan ... ini tandanya iblis mengatur strategi untuk memecah belah kita. Dengan begini kita jadi terpaksa untuk membagi-bagi diri untuk ke titik lainnya." kata Teo.


"Kita harus berbicara dengan Felix secepatnya ...." kata Tan.


"Jaringan Alvauden tertutup, sepertinya ada yang terjadi dengan mereka tapi gelang kita masih utuh jadi tandanya Felix baik-baik saja." kata Teo.


"Misi di Desa Parama sepertinya sudah selesai karena batu permata iblis disana sudah bersinar terang. Entah kenapa Iblis Kuda itu datang ... tapi yang harus kita jaga adalah desa ini. Kita harus menghentikan adanya korban terakhir di desa ini." kata Tan.


"Kita harus ke tempat Felix sekarang, kalau begitu." kata Teo.


"Walau kesana, kita hanya akan membuang waktu percuma saja. Lebih baik kita menunggu kabar dan menjaga disini sampai subuh." kata Tan lebih memilih mengutamakan menjaga desa itu.


"Baiklah ...." kata Teo mudah saja dibujuk.


Tan dan Teo mulai ke tengah-tengah desa yang merupakan pemakaman umum itu. Mereka berdua duduk di tengah-tengah kuburan sambil memandangi kotak mainan.


"Kalau ada yang melihat pasti akan mengira kalau kita hantu." kata Teo.


Tan terlihat hanya diam melamun saja.


"Jangan bilang kau takut? aku saja yang takut Zewhit bisa tahan begini." kata Teo menyenggol Tan.


"Aku hanya memikirkan yang dikubur secara tidak layak itu. Mereka pasti punya keluarga yang sedang menunggu di rumah. Lebih buruk lagi jika keluarganya masih mencarinya, tidak tahu jika itu hanya sia-sia karena yang dicari sudah tidak hidup lagi. Kalau begini ... apa lebih baik iblis membunuh secara terang-terangan daripada sembunyi-sembunyi begini?!" kata Tan.


"Tidak ada yang lebih baik. Semua yang dilakukan iblis itu tidak pantas untuk dipilih mana yang baik. Semua ini tidak perlu terjadi ... seharusnya mereka meninggal dengan cara yang normal sesuai takdir mereka masing-masing tanpa harus ditangan iblis." kata Teo.


"Kau tahu Teo, kalau sebenarnya kau itu yang paling tua diantara kita bertiga. Kau yang duluan lahir katanya ... aku membacanya saat membersihkan di ruangan dokumen di panti asuhan. Kau yang pertama lahir, kedua Tom dan terakhir aku." kata Tan.


"Tapi yang paling dewasa malah kau ...." kata Teo tertawa kecil.


"Katanya memang kalau anak kembar yang terakhir lahir itu kakak karena membiarkan adiknya lahir duluan. Tapi bagiku itu salah ... dalam kasus anak kembar, yang pertama lahir memang adalah kakak. Dialah yang berani maju duluan untuk memeriksa apakah aman dunia diluar sana ... jika iya maka anak pertama yang lahir itu akan menangis memanggil adiknya untuk keluar juga." kata Tan.


"Apa-apaan!" Teo tertawa geli mendengar itu.


"Atau tangisan itu bukan karena diluar sini aman tapi karena aku yang kesepian. Kita sembilan bulan selalu bertiga bersama tapi keluarnya gak barengan." kata Teo kemudian.


"Makanya kalau matipun juga harus bersama-sama. Aku tidak akan membuatmu kesepian seperti saat lahir duluan itu." kata Tan merangkul Teo.


"Tapi, apa hanya aku yang merasa kita perlu pergi darisini ... aku tidak tahan lagi!" kata Teo.


"Hahh ...." Tan untuk sejenak terbawa suasana tapi langsung sadar saat melihat ekspresi Teo yang tidak berhenti melihat sekeliling.


"Aku tidak tahu bagaimana Cain saat selalu dikejar-kejar Zewhit dulu. Kalau itu aku pasti akan terus pingsan ...." kata Teo.


"Tidak akan ada Zewhit! kalaupun ada pastinya sekarang ada bersama Efrain." kata Tan.


"Tapi kenapa aku tidak berhenti merinding begini ...." kata Teo.


"Itu karena kau menakut-nakuti dirimu sendiri!" Tan akhirnya sebal juga.


***


Tom kembali dengan membawa buah-buahan yang berwarna-warni. Cairo merasa ragu untuk memakan buah yang baru pertama kali dilihatnya itu.


"Ini punyaku!" teriak Anaevivindote kecil yang sedang memeluk erat satu buah.


"Ambil saja!" kata Tom memetik buah itu, memisahkannya dari buah lainnya dan memberikannya. Anaevivindote itu langsung mengangkat buah yang masih dipeluk eratnya itu.


"Aku akan menyimpannya!"


"Baiklah ... pergi sana!" kata Tom.


"Apa dia sejenis semut?" tanya Cairo.


"Bentuknya memang tidak sama dengan semut tapi kesukaannya terhadap yang manis-manis sama." kata Tom.


"Berisik!" kata Felix sudah mulai bangun tapi menutup mata dengan lengannya karena silau.


"Cahaya bulan itu karena kau juga tahu!" kata Tom.


"Kurasa Tan dan Teo terus mengetuk tadi, sepertinya ada sesuatu." kata Felix sudah mulai duduk.


"Ow, sudah terbuka. Felix, kami menemukan desa dengan 1 orang meninggal ditambah 3 orang yang dikubur secara tidak layak." kata Tan.


"Berarti sisa satu lagi." kata Felix.


"Sudah mau pagi, untuk lebih jelasnya kita bertemu di terminal bus." kata Tan.


"Baiklah, aku akan mengatur waktu kembali." kata Felix.


"Kalian bisa berkomunikasi lewat pikiran?" tanya Cairo.


"Felix sebagai pusatnya." jawab Tom seperlunya saja.


"Jadi begitu ... sepertinya pria tua itu sudah merencanakan ini. Memberi misi pada Cairo yang memiliki sedikit darah Aluias di dalam dirinya itu. Karena itu juga aku bisa bertemu dengan Iblis yang merupakan sahabat Ratu Sanguiber itu." kata Felix dalam hati berpikir saat Tan menyuruh untuk tidak usah ke Desa Parama lagi.


"Kerja bagus, Tan Teo!" kata Felix.


Felix dan Tom bertemu Tan dan Teo di terminal bus untuk kembali ke sekolah. Sedangkan Cairo menyewa penginapan yang ada di kota tidak jauh dan juga tidak dekat dari desa itu sehingga tidak menimbulkan kecurigaan. Setelah beristirahat sebentar, Cairo berniat melanjutkan kembali penyelidikan Tan dan Teo yang tertunda itu.


***


Di sebuah ruangan yang dipenuhi api besar yang menyala dengan sebuah kursi besar di tengah-tengah api itu duduklah seseorang yang merupakan Raja Iblis, yaitu Efrain.


"Yang Mulia ...." kata Iblis Biawak langsung bersujud ketakutan.


"Kudengar garis terputus ...." kata Efrain membuat Iblis Biawak itu gemetar ketakutan.


"Caelvita baru saat ini bisa mendengar suara dari batu permata." kata Ditte.


"Mustahil!" kata Efrain tidak percaya.


"Dia juga mengatakan bahwa yang kau lakukan saat ini tidak sama dengan Caelvita-46. Itu tidak benar kan? aku mengikutimu sampai saat ini karena mempercayaimu. Aku mengkhianati Zeki yang sudah seperti adikku sendiri itu karena bagaimanapun aku akan mengikuti apa yang dilakukan rajaku demi kebaikan Quiris Mundebris." kata Ditte.


"Kau juga pernah berniat memakan Zeki saat pertama kali bertemu, jika tidak kuhentikan kau sudah memakan Zewhit yang kau anggap adik itu." kata Efrain.


"Lakukan kembali sesuai rencana." kata Efrain lagi.


Ditte dan Iblis Biawak meninggalkan Efrain disinggasananya itu.


"Aku mempercayaimu Efrain." kata Ditte.


...-BERSAMBUNG-...