UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.418 - Keahlian Masing-masing



Tempat yang ingin dijadikan oleh Tom sebagai tempat berlindung juga hancur. Termasuk sebuah keberuntungan bagaimana mereka masih bisa bertahan dari reruntuhan sampai sekarang ini. Tom menaikkan Sesemax untuk dijadikan sebagai atap setelah melihat bongkahan besar sedang menuju arah mereka. Tan membantu dengan melilitkan Telloper nya membentuk seperti sarang.


Sekarang mereka semua berada di dalam sana tapi Tom lama kelamaan sudah tidak mampu menahan lagi reruntuhan. Teo melihat itu dan menjadikan Moshas nya untuk membantu Tom mengganjal agar bisa meringankan beban Tom.


"Demelza, hentikan!" Osvald tidak berhenti meneriaki Demelza yang terus menutup matanya, "Kita bisa mati karena kemarahanmu ini ...."


Suara benturan mulai perlahan mereda, Demelza juga sudah membuka matanya dan mulai bernapas seakan daritadi ia menahan napas karena marah.


Meski wahana permainan terdengar sudah berhenti tapi reruntuhan ruangan masih terus berjatuhan dan saat ini mereka semua sudah terperangkap di bawah tumpukan reruntuhan.


"Bagaimana kita bisa keluar darisini? pasti kita akan langsung terkena reruntuhan ...." kata Osvald terlihat mulai pasrah.


"Tenang saja soal itu, sekarang yang terpenting adalah kita berhasil bertahan dan selamat ...." kata Tan.


"Kalian sedang terluka tapi bukannya melindungi diri kalian sendiri tetap mengutamakan kami berdua ...." kata Osvald merasa bersalah, pikirannya saat ini sudah dipenuhi berbagai macam hal.


"Kau mungkin sudah lupa ... tapi kau juga terluka tahu!" kata Teo.


Osvald melihat lengannya, "Ini ... tidaklah seberapa dibanding kalian!" Osvald membandingkan lukanya dengan Tan dan Teo saat ini, begitupun Tom yang bengkak di bahunya sudah menjalar hingga ke leher dan punggung. Bahkan dengan keadaan seperti itu, Tom sedang menahan Sesemax yang diatasnya banyak reruntuhan siap mengubur mereka hidup-hidup jika Tom melepas senjata yang digunakan sebagai atap itu.


"Kalian siap?!" kata Tom sudah tidak tahan dan ingin segera melepas Sesemax nya karena tangannya sudah mau mati rasa.


"Oke, dalam hitungan ketiga!" kata Tan saling memberi kode.


Teo juga sudah bersiap mendengar hitungan. Pada saat hitungan ketiga, Tom menaikkan tangannya ke atas seperti atlit angkat beban dibantu oleh Teo dengan Moshas untuk melempar reruntuhan yang ada di atas Sesemax Tom. Disaat bersamaan Tan juga otomatis membantu Tom untuk melempar reruntuhan diatas dan juga langsung mendorong reruntuhan sekitar dengan memutar Tellopper dengan cepat.


Disaat mereka mengira sudah terbebas dan bisa bernapas lega, tiba-tiba ada bongkahan besar menuju arah mereka. Untungnya Teo bisa dengan cepat menghancurkan itu dengan Moshas nya tapi karena sudah terlalu dekat, pecahannya terus mengenai mereka semua.


Mereka keluar dari reruntuhan itu dengan luka akibat reruntuhan dan dipenuhi debu. Osvald kaget ketika tanpa sengaja menginjak tangan seseorang yang terkubur di reruntuhan yang dipijakinya, "Hahh ...." Osvald bernapas lega tapi kemudian panik lagi saat tangan itu memegang kakinya. Teo datang dan menusuk tangan itu dengan Moshas nya. Barulah Osvald bisa tenang kembali.


Osvald mengingat betul bagaimana tadi saat wahana permainan terus berayun masuk menghancurkan gedung yang sekarang hancur dan rata. Bagaimana saat semua hewan aneh dan orang-orang dari desa dunia Zewhit Kurcaci terlempar, tertindih, terkoyak, mati dengan cara yang sangat mengenaskan terus terngiang di ingatan Osvald, "Hal itu bisa saja terjadi padaku ...." katanya dalam hati.


"Itu ...." kata Tom melihat kiri, depan dan kanan ada yang sedang bertarung. Felix melawan Wadi di sebelah kiri, Zeki melawan Ditte jauh di depan, Verlin melawan Juro 2020 di sebelah kanan.


Sedangkan Tiga Kembar, Osvald dan Demelza berada di tengah-tengah menyaksikan semua itu terjadi.


"Mereka semua sudah masuk ...." kata Tan.


Suara tawa terdengar dan mulai muncul Zewhit Badut dari belakang mereka membuat Osvald dan Demelza langsung bangun otomatis berteriak seperti habis tersetrum. Sementara Zewhit Kurcaci datang dari dalam bongkahan reruntuhan di bawah kaki mereka. Paket komplit yang membuat mereka hampir terkena serangan jantung. Mereka tidak memperhatikan lagi sekitar bahkan Osvald dan Demelza tidak penasaran lagi dengan yang sedang bertarung dari kejauhan itu karena di depan matanya sedang ada lawan juga.


"Kau sudah gila, ya?!" kata Demelza.


Karena tidak berhenti tertawa juga, Tom memukul kepala Teo dan akhirnya itu bisa menghentikan Teo tertawa. Setelah berhenti tertawa, reruntuhan dan potongan tubuh manusia dan hewan dirangkai melayang-layang di atas Zewhit Badut dan Kurcaci dengan tulisan yang berbunyi, "Ayo, bermain denganku!"


"Sejak kapan kau meminta, daritadi kau hanya terus mempermainkan kami tanpa izin sama sekali!" kata Tom.


"Tidak usah basa-basi, lakukan saja cepat! supaya aku bisa pulang juga dengan cepat ...." kata Tan yang juga sudah lelah.


Suara dari sebuah radio terdengar, "Apa kalian siap?! inilah saatnya untuk menyelesaikan permainan ...."


Tanpa peringatan lagi, Zewhit Kurcaci langsung terlihat menumbuhkan satu pohon kemudian tumbuh ratusan pohon kini menuju arah mereka.


"Minggir, ini keahlianku!" kata Tom maju dan menebas pohon dengan Sesemax nya.


"Ow, Si Penebang Kayu ...." kata Teo masih saja duduk santai dan belum bergerak sama sekali.


Zewhit Badut terbang naik ke atas pohon yang masih saja terus tumbuh dengan berjalan mundur mengikuti pertumbuhan pohon dan menyerang dengan lima peti mati yang muncul dari belakang punggungnya. Lima peti mati yang desainnya seperti dari mesir itu kemudian terbuka dan mulai maju ingin menangkap mereka. Kali ini Tan yang maju dengan menggunakan Telloper nya dengan cara seperti menjahit kelima peti mati itu kemudian dilemparkan hingga hancur berantakan.


Pohon dari Zewhit Kurcaci masih belum juga berhenti dan Tom hanya bisa terus menyerang dan bertahan tanpa tahu cara menghentikannya.


Osvald menarik Tom mundur membuat Tom panik, "Apa yang kau lakukan?!" sementara pohon itu sudah sangat dekat. Tapi berhenti ketika api membakar semua pohon itu menuju tempat Zewhit Kurcaci berada.


"Aku sudah mengenalnya ...." kata Osvald berhasil menghentikan serangan Zewhit Kurcaci.


Disaat ratusan pohon mulai terbakar habis, Zewhit Badut kembali menyerang dengan membuat lintasan roller coaster menuju mereka. Tan ingin maju menghadang roller coaster itu tapi dihadang Demelza.


Demelza menyambungkan rel roller coaster yang putus di dekat mereka dan membuat rel yang menuju arah Zewhit Badut, "Kalau dia, aku yang lebih mengenalnya ...."


Meski begitu, Zewhit Badut hanya tertawa senang dan menghancurkan dengan mudah roller coaster yang dikembalikan kepadanya itu.


Dari sisa pohon yang terbakar mulai digabungkan oleh Zewhit Kurcaci dan dibentuk menjadi seperti bola, hanya saja bola yang sangat besar dan masih ada apinya. Bola api itu dengan cepat melesat terbang seperti bola bolling siap menumbangkan Tiga Kembar, Osvald dan Demelza.


Tapi Tombak Teo tidak kalah cepatnya datang menghancurkan bola api itu. Moshas kembali ke tangan Teo yang masih saja duduk tanpa meninggalkan tempatnya, "Kalau yang ini aku ahlinya!" Teo tidak mau kalah.


"Dasar tukang pamer!" kata Tom berdecak kesal.


...-BERSAMBUNG-...