UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.312 - Yang Pasti Akan Datang



"Kuota Ditte terpenuhi! apa kita harus membeli kue di jalan untuk memberinya ucapan selamat?!" kata Teo dengan gayanya yang bercanda tapi jelas-jelas sangat kesal saat ini.


Tan, Teo dan Tom berniat untuk ikut bersama Felix tapi Felix melarang, "Aku akan kembali sebelum kalian masuk ke dalam kelas!" kata Felix lewat pikiran.


"Aku hanya berharap Nek Hylmi bisa sadar ...." kata Tom.


"Apa kata Felix?" tanya Mertie karena mereka bertiga hanya berjalan menuju kelas tidak mengikuti Felix.


"Katanya dia akan pergi sendiri." jawab Tan.


Tan dan Teo sudah hampir sampai di kelasnya dengan Felix yang sudah ada di depan kelas Tan dan Teo bersandar di depan pintu kelas.


"Bagaimana bisa? tadi kau disana ... tapi sekarang kau ada disini?" Mertie kebingungan.


"Jadi, bagaimana?" tanya Tom.


"Aku sudah terlambat saat sampai, Roh Lian sudah tidak ada. Bahkan aku sudah mencari ke seluruh rumah sakit yang biasanya roh hanya akan berjalan di dekat jasadanya saja sesaat setelah meninggal tapi jejak rohnya juga hilang di dalam kamar menandakan dia langsung dibawa setelah meninggal." jawab Felix.


"Beruntung kita tidak mengundurkan waktu untuk kembali sehingga kau bisa menggunakannya." kata Tan.


"Memang lebih baiknya begitu ... kalau bukan dalam keadaan terdesak barulah kita pakai. Kalau hanya perjalanan biasa tidak usah dipakai walau sangat mengantuk sekalipun, karena kita tidak memiliki Cain lagi ...." kata Felix.


"Bukan hanya berhasil mendapatkan kuota korban yang diinginkan tapi juga mendapatkan rohnya ...." kata Tom kembali ke topik pembicaraan.


"Apa tidak ada petunjuk disana?" tanya Tan.


"Tidak ada ... kita hanya bisa menyisir desa terdekat dari Desa Kimber atau menunggu adanya korban pertama." kata Felix.


"Tidak bisa begitu! tega sekali kau mengatakan itu!" kata Mertie akhirnya ikut bergabung dalam percakapan yang menurut Mertie sudah normal, bukan lagi membahas dunia lain.


"Tidak ada pilihan lain ... tapi setelah itu, kita akan menghentikannya dan tidak ada lagi korban kedua." kata Tom.


"Menyedihkan sekali kalau kita baru bertindak saat sudah ada korban ...." kata Mertie sarkastik.


"Bukannya menunggu petunjuk diberikan pada kita tapi kita akan tetap mencoba mencari ... itu hanyalah andaian saja ...." kata Tom.


"Kau fokus saja mengurus pelatihan osis, biarkan kami yang mengurus ini!" kata Felix.


"Inilah kenapa seharusnya aku tidak menerima tawaran itu ...." kata Mertie menyesal.


"Kau mau dicap jelek dengan mengundurkan diri?!" kata Felix.


"Aku tetap akan membantu ...." kata Mertie.


"Baiklah, selama itu tidak mengganggu aktivitasmu. Tidak masalah ...." kata Tom.


***


FT3 membagi diri mereka untuk memeriksa desa yang berada di dekat Desa Kimber. Walau tidak ikut, tapi Mertie berkontribusi banyak karena memberi peralatan kamera lebih banyak dari sebelumnya.


"Kau memberi Mertie kaca ini gratis?" tanya Teo.


"Ya." sahut Felix.


"Kudengar harga kaca ini di Mundebris 100 koin emas, 130 koin berlian atau ruby, 150 koin safir ...." kata Teo.


"Kalau soal harga saja kau tahu segalanya ...." kata Tom sarkastik.


"Kau tidak mengerti ... Mertie lah yang merasa sangat beruntung." kata Teo.


"Terkadang aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan ... sungguh!" kata Tom.


"Terkadang? aku selalu begitu! selalu tidak tahu apa yang sedang kalian bicarakan." balas Teo yang juga merasakan hal yang sama.


"Kotak mainan kalian tidak ada yang terbuka?" tanya Felix menghentikan percakapan tiada henti itu.


"Tidak ... bagaiamana jika dia ke kota lagi? atau ke desa lain yang jauh darisini ...." kata Tan cemas.


"Inilah kenapa aku tidak bisa selalu jujur dengan kalian ...." kata Felix dalam hati, "Jangan mencemaskan sesuatu yang belum terjadi!" kata Felix.


"Kita belum tahu apa maksud dari pola jumlah korban yang lima itu ...." kata Tom.


"Setelah memasang kamera, kita bertemu di jalam utama!" kata Felix menghentikan mereka untuk terlalu khawatir dan memikirkan hal yang belum terjadi.


Khawatir dan Menyesal adalah perasaan yang menurut Felix tidak bisa dimiliki oleh dirinya dan juga Alvaudennya. Pekerjaan mereka menuntut akan lebih baik jika membuang perasaan itu jauh-jauh walau harus terkesan kelihatan tidak punya hati nurani. Tapi tidak beruntungnya Felix karena memiliki sahabat yang memiliki kedua perasaan itu yang jauh lebih tinggi dari manusia lainnya.


Sudah jam 10 malam lewat mereka bertemu di jalan utama tepatnya di halte bus. Felix datang duluan dan melihat mereka bertiga datang dengan wajah kusut butuh disetrika.


"Cepatlah! kita bisa ketinggalan bus!" teriak Felix.


Mereka berempat menggunakan pelindung sehingga tidak terlihat sekarang karena banyaknya kamera cctv yang dipasang oleh pihak kepolisian disana membuat mereka tidak bisa bergerak bebas. Jadi jika ingin menaiki bus harus cepat karena bus hanya akan singgah sebentar di halte sebagai kewajiban walau tidak ada orang di halte. Jadi mereka harus segera naik setelah pintu bus terbuka.


Suara bip empat kali terdengar di mesin scan kartu transportasi. Sopir bus dan penumpang lainnya kaget mendengar itu karena tidak ada penumpang yang naik ke bus. Sopir bus langsung menancap gas dan penumpang berteriak histeris bahkan sebelum FT3 duduk. Hampir saja mereka jatuh karena kecepatan bus yang langsung berubah itu.


"Sudah kuduga ... di daerah ini pasti akan menjadi angker." kata salah satu penumpang bus.


Kartu transportasi bus Yardley tidak memiliki identitas pemilik jadi mereka tidak perlu khawatir ketahuan. Mereka bertiga duduk di paling belakang disaat penumpang lainnya masih ketakutan.


"Apa sebaiknya kita tidak perlu membayar saja?!" kata Tom.


"Ow ho ... lihat anak nakal ini!" kata Teo memiting kepala Tom.


"Atau memakai uang tunai saja?" tanya Tan.


"Itu lebih menyeramkan lagi. Bayangkan uang yang melayang-layang! lebih baik pakai kartu kan bisa dikatakan kalau mesin error atau apalah ...." kata Teo.


"Kita bisa menyimpannya saat tidak ada yang melihat kan. Uang hanya akan terlihat jika lepas dari tangan ... lagipula error apanya coba? uang jelas-jelas bertambah di mesin!" kata Tan.


"Kau tidak lihat cctv itu? walau tidak dilihat sekarang akan menjadi kehebohan juga!" kata Felix.


"Setidaknya tidak membahayakan penumpang. Lihat bagaimana sopir jadi ketakutan dan mengemudi begini ...." kata Tan.


"Wah ... sejenak kukira kau adalah Cain. Menyebalkan sekali!" kata Felix.


Seperti itulah mereka tiap hari terus melakukan misi supernatural, walau begitu tetap mempertahankan hati nurani mereka untuk selalu jujur. Mereka bisa saja tidak perlu membayar karena tidak kelihatan tapi karena mereka tahu itu adalah hal yang salah.


Seseorang yang berprinsip memang tidak akan menjalani jalan hidup yang mudah tapi suatu saat semua itu akan ada balasannya. Bisa saja mereka saat ini kesulitan karena harus terus melakukan sesuatu berdasarkan prinsip untuk selalu jujur seperti harus membayar biaya bus tapi suatu saat pasti akan ada hal baik yang datang dari kejujuran itu. Entah balasannya akan kembali dalam bentuk apa, tidak ada yang tahu.


Karena kita tidak tahu kapan balasan dari perbuatan baik kita datang dan tidak seharusnya memang kita menunggunya tapi itu akan datang juga pada akhirnya.


...-BERSAMBUNG-...