
Gina kini dinobatkan sebagai Peserta petak umpet abadi. Karena bersembunyi untuk selamanya dan tidak pernah ditemukan. Acara pelatihan langsung dihentikan ketika polisi mulai datang. Sudah dua anak yang menghilang harusnya membuat reputasi sekolah Gallagher turun tapi sebaliknya justru membuat sekolah Gallagher sebagai sekolah yang menjadi nomor satu di pencarian dan menjadi nomor satu didamba-dambakan oleh banyak calon murid.
Entah apa yang menyebabkan hal horror yang seharusnya menakut-nakuti agar tidak ada yang mau bersekolah di Gallagher tapi ternyata malah membuat sekolah Gallagher ibaratkan sebuah tempat untuk memacu adrenalin. Dari segi kualitas memang Gallagher tidak ada duanya tapi tak disangka dengan kejadian seperti inipun hanya dianggap sebagai kejadian yang dibuat-buat untuk kedua anak itu sehingga bisa melarikan diri dan hidup bebas. Begitu yang dikatakan para netizen yang berkomentar di web sekolah.
Libur musim dingin tiba adalah salah satu alasan yang membuat netizen percaya bahwa Gina hanya sedang pergi berlibur dan tidak ingin diganggu. Padahal kedua orangtua Gina tidak pernah absen ke sekolah untuk mencari dan disekitar lingkungan sekolah bahkan hampir rumah semua murid didatangi untuk mencari keberadaannya.
"Pola caranya kali ini berbeda! dulu jari Magdalene ditinggal sedangkan Gina tidak meninggalkan jejak sama sekali!" Cain dengan duduk bersila.
"Tapi dengan tidak ditemukannya roh Gina menunjukkan kalau dia kemungkinan masih hidup!" kata Felix.
"Kalian sudah gila ya!" bisik Goldwin menahan diri ingin sekali berteriak.
"Kami sudah mencari di Bemfapirav dan Gina tidak ada dalam korban yang akan diminum darahnya, makanya kami kesini!" kata Felix sambil mengintip dari pohon berwarna-warni.
Goldwin langsung memegang Felix dan Cain dan membawanya kembali ke Mundclariss.
"Aaaaaaa!" teriak Cain dan seorang anak perempuan sesaat setelah sampai.
"Cain?" Mertie menyenteri wajah Cain dan Felix bergantian.
"Apa yang kau lakukan di sekolah malam-malam begini?" tanya Cain heboh.
"Sepertinya aku yang harus bertanya begitu!" balas Mertie.
"Lucu sekali! kau tidak mencari orang yang membully mu itu kan?" kata Felix.
"Bukan urusanmu!" balas Mertie.
"Ada sesuatu tentang Gina yang tidak kami ketahui kan?" Felix menyeringai.
Mertie hanya mengangguk dan mulai menurunkan senternya.
"Sebenarnya Gina adalah anak yang baik! aku tidak tahu bagaimana dia bisa masuk geng halle tapi selama ini aku bisa bertahan dari bullyan salah satu alasannya karena Gina. Kamu juga pasti sudah memperhatikan kan bagaimana sikap Gina ... selama ini aku disiksa dan dipukuli, Gina jarang ikut dan hanya menonton kecuali jika Era memberi perintah. Terkadang juga Gina yang bersedia ingin menyiksaku sendiri tapi nyatanya malah segera melepaskanku dan juga sering memperingatkanku untuk tidak ke sekolah karena emosi geng halle yang lain sedang tidak baik dan itu bisa membuatku jadi sasaran empuk untuk pelepas stres mereka. Saat yang lain menyuruhku mengerjakan tugas, Gina sudah menyelesaikan makanya aku selalu bisa cepat mengerjakan tugas yang lainnya karena Gina sudah selesai ...."
"Apa?!" Cain seperti tidak percaya, "Jadi selama ini dia hanya berpura-pura? apa-apaan? kau berpura-pura dibully dan dia berpura-pura membully? kalian ini sedang main game atau apa?" Cain jengkel.
"Hidup memang memaksa kita untuk berpura-pura, walau tidak disengaja maupun yang kita sengaja!" kata Goldwin.
Cain semakin jengkel mendengar perkataan Goldwin itu.
Felix mulai menceritakan yang berhubungan dengan Dallas dan Parish, siapa tahu bisa membantu tapi Mertie malah kaget mendengar saat nama Dallas disebut.
"Parish mungkin bisa jadi, tapi Dallas ... tidak mungkin!" kata Mertie.
"Aku tidak seperti kalian yang sudah lama mengenal Dallas jadi aku bisa berperan sebagai penengah yang adil dan tidak berat sebelah seperti kalian!" kata Felix.
Mereka bertiga mulai mencari ke segala penjuru sekolah bahkan sampai pagi tiba tapi tidak ditemukan sama sekali jejak keberadaan Gina.
"Apa akhir-akhir ini tidak ada yang mengganggumu?" tanya Felix.
"Maksudmu Ted? langsung saja!" kata Mertie tidak suka berbasa-basi.
"Aku juga menanyakan kalau saja ada hantu yang lain ...." balas Felix.
"Tidak ada! kehidupanku sama seperti biasa! normal!" kata Mertie santai.
"Katanya kau masuk untuk menjadi tim pelatihan osis kalau kelas 6 nanti?" tanya Cain diluar topik.
"Katanya kau juga?!" Mertie balik bertanya.
"Aku sih tidak tertarik! ada hal lain yang lebih penting harus kulakukan!" kata Cain.
"Kau benar berpikir kami ini dukun ya?" Cain mulai tertawa.
"Hem ... bagaimanapun juga, coba pikirkan lagi! masuk tim pelatihan osis bisa mendapat tiket free pass masuk pengurus osis saat SMP nantinya tanpa harus mengikuti pelatihan lagi!" Mertie mengalihkan pembicaraan.
"Kita berpisah disini!" kata Felix saat berhasil melompat turun dari pagar belakang sekolah.
"Apa kalian tidak bisa mengikutkan aku dalam misi kalian?" tanya Mertie menghentikan langkah Felix dan Cain yang sudah ingin meninggalkan Mertie.
"Tentu saja bisa!" kata Felix.
"Felix!" teriak Cain tidak setuju.
"Cari segala sesuatu yang bisa menjadi petunjuk ... kita tidak bisa mengecualikan semua asumsi, bisa jadi benar jika Gina memang sedang kabur ... berusaha untuk tidak diganggu. Untuk soal hal yang tidak normal biar kami yang urus!" kata Felix.
"Kalau itu sih, sudah aku lakukan! apa yang kalian lakukan itu berbahaya? dunia yang pernah aku masuki itu saat melarikan diri dari Ted, apa aku tidak bisa memasukinya lagi?" kata Mertie.
"Kenapa? kau ingin masuk Bemfapirav juga?" tanya Cain.
"Saat kulihat Ted waktu itu tiba-tiba menghilang, ia pergi ke dunia itu kan?" kata Mertie.
"Kenapa? kau ingin mendatanginya dan membalas dendam?" tanya Felix.
Mertie hanya diam membuat Felix dan Cain telah mendapatkan jawaban secra tidak langsung dan mulai meninggalkan Mertie.
"Aku mohon tolong temukan Gina!" teriak Mertie.
"Tanpa kau memohon pun akan aku cari! kejadian seperti Magdalene, aku berharap tidak akan terulang kembali dan Gina bisa kembali dengan selamat!" kata Felix.
***
Di halte bus untuk pulang ke panti mereka bertemu dengan Luna.
"Ow!" Cain dengan wajah melongo, "Kak Luna!" habis pulang kerja ya?"
"Yup!" jawab Luna.
Felix mengeluarkan sesuatu dibalik jaketnya dan mulai mengarahkan itu pada Luna. Cain kaget melihat itu tapi ia juga tahu kalau Felix tidak mungkin melukai Luna.
Datanglah yang ditunggu-tunggu Felix, hantu pelindung Luna. Langsung mendorong Luna untuk menjauh dari Felix.
"Eh?!" Luna bingung siapa yang mendorongnya.
"Siapa kau?" Felix mulai mengejar hantu itu.
"Kau mau kemana?" teriak Luna.
"Kakak pulang duluan saja!" kata Cain mulai mengejar Felix.
Felix memegang tangan hantu itu untuk dihentikan tapi akibatnya hantu itu langsung menampakkan diri dan bisa dilihat oleh manusia. Cain yang baru tiba melihat kejadian itu langsung membawa Felix dan hantu itu ke Bemfapirav.
"Tidak seharusnya orang meninggal bisa dilihat? kau ini berpikir tidak sih?!" Cain dengan nada kesal setelah tiba di Bemfapirav memarahi Felix, "Kenapa kau jadi tidak seperti biasanya begini?"
"Kau Caelvita kan? kenapa kau mau melukai Luna?" tanya hantu itu.
Felix mengeluarkan benda tadi yang sebenarnya hanya pisau mainan.
...-BERSAMBUNG-...