UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.495 - Mengunjungi Banks



Felix, Tan, Teo dan Tom berjalan disaat kebanyakan lampu sekolah sudah banyak dimatikan. Kebanyakan lampu hanya menyala di kelas tambahan malam, di perpustakaan juga terlihat hanya memakai lampu pada meja membaca masing-masing saja.


Hampir seluruh meja di perpustakaan diisi oleh anak-anak yang sedang belajar. Ada yang memakai baju biasa tentunya pasti tinggal di asrama dan yang masih memakai seragam tinggal di luar sekolah dan akan kembali ke rumah setelah belajar. Memang lebih mudah tinggal di asrama, bisa menghemat waktu untuk istirahat setelah belajar di sekolah tapi saat sedang dalam masa masih berduka saat ini, kebanyakan anak-anak lebih memilih untuk tinggal di rumah untuk bersama keluarga.


Karena kebanyakan masih trauma dan mengingat apa yang telah terjadi di musim gugur yang baru-baru ini lewat. Maka para murid juga bisa lebih fokus lagi hanya untuk belajar saja, untuk bermain dan hal tidak perlu lainnya tidak dilakukan. Para guru entah harus bersyukur karena itu atau sebaliknya. Nilai semua murid tiba-tiba naik.


Felix, Tan, Teo dan Tom tentunya sudah jarang ikut kelas tambahan malam dan belajar di perpustakaan. Lebih memilih tidur atau belajar di kamar asrama daripada harus melapor lagi pada penjaga asrama kalau akan belajar malam, "Sangat menyebalkan dan aku malas terus melakukan itu, begitu kata Teo." kata Dallas menjelaskan alasan Teo tidak pernah lagi datang belajar malam dengan alasan tidak nyaman selalu bolak-balik minta izin padahal sudah sangat mengantuk.


"Sangat khas Teo sekali sih, tapi untuk Felix, Tan dan Tom rasanya untuk melapor masuk dan keluar pada penjaga asrama bukanlah hal yang menyusahkan bagi mereka ...." kata Parish.


"Entahlah ... yang jelas merekapun tetap mendapat nilai bagus dan peringkat bagus daripada kita." kata Osvald yang tangannya masih ada perban tapi sudah dipakai untuk menulis begitu banyak.


"Atau bisa saja mereka baru datang setelah tidur ...." kata Dallas curiga dan tidak mau melonggarkan strategi belajarnya.


"Tidak usah memikirkan mereka bagaimana bisa tetap mendapat nilai yang bagus walau jarang belajar tambahan. Lebih baik memikirkan kenapa kita tidak bisa mengalahkan mereka padahal terus ikut belajar malam." kata Osvald.


"Ooooow ada apa denganmu ...." seru Dallas.


"Mungkin aku membenturkan kepalaku begitu keras saat kecelakaan ...." kata Osvald yang hanya berniat membuat lelucon tapi ekspresi Dallas kelihatan berubah setelah mendengar kata kecelakaan.


Teo berbalik melihat gedung sekolah dan terlihat ada satu kelas yang lampunya menyala dari depan gerbang sekolah, "Mereka pasti sedang belajar ...."


"Ow, itu Mertie ... sepertinya dia sudah mau pulang." kata Tan.


Teo terlihat menyipitkan matanya dan mulai tertawa jahat mendekati Mertie. Teo berniat mengerjai Mertie saat sedang tidak terlihat, tapi Teo baru mengangkat sedikit tali tas Mertie untuk dijatuhkan. Mertie secepat kilat menghantam kepala Teo dengan tasnya itu.


"Hahh! sudah kuduga ...." kata Mertie melihat wujud Teo muncul karena tidak menduga serangan Mertie itu. Sehingga Teo tidak bisa fokus mempertahankan efek ramuan tidak terlihat.


"Kau tahu itu aku?!" Teo tercengang.


"Siapa lagi kalau bukan kau!" kata Tom.


"Diam kau!" teriak Teo.


"Yang lainnya juga disini kan?! kalian mau kemana?!" tanya Mertie sambil melihat sekeliling tapi tidak melihat wujud yang lainnya.


"Memangnya itu penting sekarang?! aku tertangkap kamera cctv muncul secara tiba-tiba!" kata Teo heboh.


"Gampang, aku bisa menghapusnya dengan mudah." kata Mertie santai mengeluarkan smartphonenya.


Teo kembali menghilang dan ingin mengerjai Mertie lagi untuk balas dendam tapi berakhir tersandung dan terjatuh sehingga wujudnya terlihat lagi.


Tan dan Tom tidak bisa menahan tawa melihat itu. Felix juga terlihat tersenyum walau hanya sebentar dan beberapa saat kemudian kembali ke ekspresi datar lagi.


"Jangan gunakan kekuatanmu sembarangan dan terlebih lagi untuk hal buruk!" kata Mertie tidak membantu Teo berdiri melainkan hanya meninggalkan Teo disana.


"Aku hanya ingin melampiaskan perasaanku dengan menjahili seseorang ... tapi itupun gagal!" keluh Teo.


"Itu adalah awal dari terbentuknya kepribadian seorang pembully tahu?! melampiaskan pada orang lain, terhibur setelah melihat orang lain menderita. Kau mau menjadi seorang pembully, ya?!" tanya Mertie.


"Aku hanya bercanda ...." jawab Teo.


"Begitulah awal mula dari seorang pembully, hanya bercanda tapi lama kelamaan mereka menikmatinya juga tanpa merasa bersalah lagi seperti yang sedang kau alami saat ini. Tapi maaf saja, aku tidak akan dibully lagi bahkan oleh seseorang yang tidak kelihatan sekalipun." kata Mertie.


"Itu busmu!" kata Teo.


"Oh, iya ... untuk kau tahu saja, bercanda itu kalau kedua belah pihak merasa itu adalah candaan. Kalau hanya satu pihak yang merasakan, maka itu tidak bisa disebut candaan!" kata Mertie saat menaiki tangga bus.


"Hahh ... kau terdengar seperti Tan saja. Dasar INFJ menyebalkan!" kata Teo sebal.


"Aku pergi! oh, iya ... aku ini ENFJ!" kata Mertie menjulurkan lidahnya.


"Itu bus kita ...." kata Tom tidak peduli dengan suasana hati Teo yang terlihat memburuk setelah bertemu Mertie.


Mereka berempat menyebrang jalan untuk menaiki bus yang menuju terminal bus. Kali ini harus dengan perjalanan lebih panjang karena terminal bus di Kota Pippa berhenti beroperasi beberapa minggu setelah kejadian dengan lubang misterius itu. Maka mereka harus mengambil jalan memutar ke kota Shirley terlebih dahulu baru bisa ke Desa Navaeh dengan bus lainnya.


"Kita juga terkena imbasnya ...." kata Tom.


"Yang masih aku tidak percaya adalah kita tetap membayar bus padahal tidak kelihatan. Kita memang sangat baik sekali!" kata Teo tertawa tidak habis pikir.


***


Mereka telah sampai terminal bus tapi tidak ada kendaraan atau transportasi umum untuk bisa ke Desa Navaeh. Tapi itu bukan pertama kalinya bagi mereka untuk harus berjalan kaki, jadi tidak ada yang mengeluh dan hanya terus berjalan saja di malam yang dingin itu. Sudah menjadi hal biasa kalau tidak ada kendaraan umum yang beroperasi untuk ke desa saat sudah mau tengah malam.


"Ramuan ini ternyata cukup kuat menahan auramu Felix ... buktinya Banks belum menyadari kedatanganmu." kata Tom.


"Sebenarnya lebih kuat dari yang kau perkirakan ...." kata Tan.


"Begitukah?! aku sih hanya belajar bagaimana meraciknya saja, tidak mempelajarinya secara detail." kata Tom yang lebih memilih belajar bela diri dibanding seperti Tan yang mempelajari ramuan dari segi teori dan praktek.


"Aku bahkan sudah lupa ramuan apa saja yang dipakai untuk membuatnya karena sudah lama tidak pernah membuatnya sendiri lagi." kata Teo.


"Kau harus hafal, setidaknya ramuan yang satu ini saja. Kita sangat memerlukan ramuan ini ...." kata Tan.


"Aku juga tahu soal itu." kata Teo.


"Ck!" Tan hanya bisa menahan emosinya mendengar keluhan saudaranya yang sudah biasa itu.


"Sudah seperti benar hutan ...." kata Tan.


"Kita memang di hutan." kata Tom.


"Maksudku, terlihat bukan lagi hutan yang dekat dengan desa ... hutan ini seperti sudah tidak pernah didatangi lagi oleh manusia." kata Tan yang juga sudah lumayan lama tidak kesana tidak menyangka sudah berubah banyak.


"Tanaman lebih cepat tumbuh daripada manusia." kata Teo.


"Kau maksudnya yang tidak tinggi-tinggi juga ...." kata Tom.


"Kalau kau menggangguku lagi, aku anggap kau memang mau berkelahi denganku." kata Teo mengancam.


"Yang Mulia ...." sapa Banks saat Felix memunculkan dirinya.


"Kita benar-benar seperti sedang ada di hutan belantara ...." kata Tan melihat sekeliling.


"Kalian juga datang ...." Banks terlihat bahagia dikunjungi.


"Kau pasti sudah tahu, soal gerbang neraka baru ...." kata Tom tidak berbasa-basi.


...-BERSAMBUNG-...