
Mau disusun berapa kalipun, belum ada pola yang jelas terbentuk. Karena Tiga Kembar absen dari mengumpulkan kayu bakar untuk api unggun nanti malam, Felix harus sendirian mengumpulkan kayu sesuai dengan jumlah per tenda untuk kumpulkan. Felix kesulitan karena harus menutupi ketiga sahabatnya yang sedang sibuk menyusun petunjuk.
"Sepertinya ... yang dikumpulkan Felix adalah petunjuk yang sama semua." kata Tan.
"Apa maksudnya?! mana mungkin." kata Teo.
"Maksudku ... petunjuk berada di tempat yang berbeda-beda. Di dalam hutan hanya ada satu petunjuk, petunjuk lainnya ada di tempat lain." kata Tan.
"Maksudmu ... Felix mengambil semua petunjuk yang ada di dalam hutan?!" Teo akhirnya mengerti.
Tan dan Tom tertawa karena reaksi Teo yang terlambat sadar itu.
"Di dalam hutan ada ini, berarti petunjuk lainnya berada disekitar perkemahan." kata Tom.
"Itu tandanya ... game yang akan kita lakukan nanti pasti yang mengharuskan kita berkeliling disekitar perkemahan." kata Teo memikirkan bagaiamana permainan selalu berhubungan dengan petunjuk harta karun seperti sebelum-sebelumnya.
"Ow, kecepatan berpikirmu sudah berubah dari 1G menjadi 5G." kata Tom.
Tan, Teo dan Tom menghentikan aktivitasnya dan keluar dari dalam tenda karena tidak bisa menyusun petunjuk yang sebenarnya sama itu. Hanya saja ada pengalihan pola hiasan dimasing-masing petunjuk. Sehingga dikira itu petunjuk yang berbeda ternyata sama.
Tiga Kembar keluar tenda kaget mendapati tatapan melotot Felix yang sedang duduk di depan tenda.
"Wah, kau menyelesaikannya sendiri ...." kata Tan tertawa canggung.
"Kan tidak perlu harus terburu-buru juga." kata Tom.
"Iya, yang penting terkumpul sebelum malam ...." kata Teo.
Felix tidak merespon karena kesal, menurut Tiga Kembar itu karena mereka tidak membantu mengumpulkan kayu. Tapi sebenarnya, Felix kesal karena kejadian sebelumnya.
***
Permainan sepertinya sudah akan dimulai, terdengar dari speaker yang baru saja dinyalakan. Pengumuman untuk berkumpul di depan panggung pertunjukan telah disiarkan. Begitupun soal vote pertunjukan kemarin malam yang katanya akan segera ditutup.
"Kita tidak usah repot-repot promosi lagi, sudah pasti kita menang." kata Tom melihat anak-anak sibuk membuat video sosial media untuk mempromosikan kelompoknya lagi karena pengumuman soal vote yang akan segera berakhir.
"Walau tidak dapat juara dari vote sekolah, setidaknya kita dapat juara populer." kata Tan.
Kelompok Felix yang duluan sampai di depan panggung pertunjukan. Sementara yang lain masih sibuk mempromosikan kelompok masing-masing.
"Jadi, permainan apa katanya?!" tanya Teo meminta Felix membaca pikiran Pak Egan di atas panggung.
"Petak umpet." jawab Felix.
"Ooooooow ...." seru Tan, Teo dan Tom sudah menduga.
"Kemana anak-anak yang lain, kenapa tidak datang-datang juga ...." kata Osvald.
"Sampai kapan kita menunggu pak?!" Demelza mulai protes pada Pak Egan.
"Tunggu sebentar ...." kata Pak Egan meminta Demelza sabar.
Hampir sejam tapi baru satu kelompoknya yang ada di depan panggung pertunjukan, wajar jika Demelza mengeluh.
"Bagaimana kalau kita juga dapat banyak vote dari sekolah ...." kata Teo.
"Jangan menghayal!" kata Tom.
"Karena lama menunggu, kau jadi bicara yang tidak jelas." kata Osvald tertawa dengan ucapan Teo yang tiba-tiba itu.
"Jujur saja pertunjukan kita berada tiga teratas, yang lainnya sangat membosankan." kata Teo.
"Kau menyalahkan Felix begitu?!" Tan merasa perkataan Demelza menyinggung.
"Lagipula ... siapa yang peduli dengan vote dari sekolah yang tidak seberapa itu. Kita mendapat jumlah tayangan, suka dan komentar 10 kali lipat dari jumlah siswa Gallagher." kata Demelza.
"Aku jadi bingung, kau baru saja memaki tapi kemudian memuji lagi ...." kata Teo.
Anak-anak yang lain mulai berdatangan membentuk barisan dengan kelompok pertama yang sudah daritadi datang. Pak Egan menghela napas sebelum memulai mengabsen. Karena melihat deretan nama yang panjang harus diabsen.
"Kudengar ada air terjun dekat sini pak ...." kata Osvald setelah absen selesai.
"Semua juga dengar Osvald." kata Pak Egan yang kesal karena baru saja selesai mengabsen, belum sempat istirahat setelah menyebutkan nama yang banyak tapi ditanyai lagi.
"Jadi, apa kita akan bermain labirin air lagi pak?!" tanya Dallas.
"Kalian mau melakukan permainan yang sama seperti kelas tiga dulu lagi?" tanya Pak Egan.
"Bukan pak, maksudnya ... kalau mau bermain itu mohon dipertimbangkan lagi." kata Teo tertawa.
"Iya pak, dingiiiiin ...." seru anak-anak yang lain.
"Kalian pikir kami tidak peka dan setega itu membuat permainan begitu di tempat yang dingin begini ...." kata Pak Egan.
Anak-anak mulai lega mendengar bahwa bukan permainan air yang akan mereka lakukan. Suara air terjun terdengar sampai di perkemahan membuat resah dari hari pertama sampai, karena cuaca yang dingin.
"Permainan yang akan kita lakukan adalah petak umpet. Yang bersembunyi kalian, kami yang mencari. Dimulai dari sekarang!" kata Pak Egan membuat anak-anak panik dan heboh.
"Tapi makan siang kan sebentar lagi pak ...." kata Mertie disaat anak-anak yang lain sudah berlarian.
"Kalau lapar ya silahkan makan!" kata Pak Egan santai, "Pintar-pintarnya kalian bagaimana bersembunyi agar kami tidak temukan. Kalian bisa ke tenda makan saat kami mencari ditempat lain. Kan? apa susahnya coba ...." nada bicara Pak Egan seperti menantang.
"Sengaja mereka melakukan ini di waktu sebelum makan siang, karena pasti akan ada guru yang menjaga di tenda makan untuk menangkap kita sekaligus. Sehingga para guru tidak usah repot-repot berkeliling mencari kita." kata Tom.
"Licik sekali!" kata Osvald mengeluh.
"Tega-teganya mereka melakukan ini pada anak-anak yang sedang dalam masa pertumbuhan. Menguji kita dengan makanan ...." kata Teo mendramatisir.
"Jangan berlebihan! siapa yang peduli soal makan sekarang ... kita kan harus mencari petunjuk!" kata Tan.
"Petunjuk?!" tanya Osvald dan Demelza bersamaan.
Tan, Teo dan Tom tidak berniat menyembunyikan hal itu pada Osvald dan Demelza. Bagaimanapun juga, permainan petak umpet dan mencari petunjuk akan lebih baik kalau banyak orang yang membantu.
"Aku sih tidak terlalu peduli soal mendapat beasiswa, hanya saja kalau soal menang dan kalah dipertaruhkan ... aku tidak akan mundur." kata Demelza.
"Aku belum pernah dapat beasiswa dari acara perkemahan sebelumnya ...." kata Osvald terlihat bahagia sambil berjalan cepat.
"Kau sudah berpikir saja kalau kita akan menang ...." kata Teo tertawa.
"Kalian kan sudah memenangkan beasiswa dua kali. Saat kelas satu dan kelas tiga. Kalian juga sebenarnya kalau mau pasti bisa mendapatkan semua harta karun tiap tahun. Tapi saat kelas dua kalian membiarkan anak-anak yang lain karena sudah menang saat kelas satu. Kelas tiga baru kalian mulai mencari lagi dan kelas empat kalian mengalah lagi. Kelas lima kalian tidak ikut ... jadi aku sudah menduga kalau tahun ini kalian pasti akan berpartisipasi lagi." kata Osvald.
"Kau menganalisa sampai segitunya ...." Tan tertawa keras, tidak menyangka kalau Osvald mengamati selama ini.
"Kalian kan sudah tahu kalau Osvald anak yang kesepian, sudah wajar bagi seseorang yang kesepian suka mengamati orang lain." kata Felix lewat Jaringan Alvauden.
Tan, Teo dan Tom melupakan fakta itu. Padahal dari awal kelompok mereka terbentuk karena ingin membentuk kelompok tim Dunia Zewhit. Dimana mereka sudah mengenal hal yang disembunyikan oleh Osvalda dan Demelza.
...-BERSAMBUNG-...