UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.87 - Beliau, Siapa?



Kelelawar merah besar yang kini menyapa dengan senyuman lebarnya, "Tuan Muda!"


"Bagaimana kau tahu aku ada disini? apa kau memang sedang berada didekat sini?" tanya Felix yang sudah tahu jika auranya masih tidak terlalu luas untuk bisa dirasakan.


"Ah ... it ... tu ... eh ... emm ...." kata Duarte terbata-bata tidak bisa menjelaskan.


"Eh, mencurigakan sekali ...." kata Verlin menyeringai.


"Sebenarnya akhir-akhir ini saya selalu datang kesini untuk mengecek apa Tuan Muda datang dan beberapa jam yang lalu juga bulan purnama, saya kira Tuan Muda ada disini tapi tidak ada ... makanya saya kembali ke istana dulu sebentar karena ada panggilan dan bertemu seseorang dan diutus kesini ... saya bilang padanya saya baru saja kesana tapi katanya dia sudah benar-benar datang." Duarte sambil menirukan suara yang mengutusnya.


"Siapa dia?" tanya Felix.


"Eh ... katanya Tuan Muda sedang kesulitan karena ulah Setengah Sanguiber." jawab Duarte ngeles.


"Bagaimana kau bisa tahu? siapa yang mengatakan itu?" tanya Felix.


Verlin yang melihat Duarte kesusahan menghindari pertanyaan yang tidak bisa dijawab membantu, "Sekedar informasi Duarte adalah Unimaris Sanguiber!"


"Sanguiber juga memiliki Unimaris?" tanya Cain.


"Semua kerajaan yang ada di Mundebris memiliki masing-masing Unimaris walau berbeda tugas tapi fungsinya sama yakni partner sehidup semati Viviandem." jawab Verlin.


"Berarti kau juga punya Unimaris?" tanya Cain.


"Ya ... tentu saja." kata Verlin memaksakan tersenyum, "Dia sedang sibuk mungkin sekarang!" lanjutnya.


"Masing-masing Viviandem punya Unimaris, apa Caelvita tidak punya?" kata Cain.


Verlin, Duarte dan tanaman yang mendengar tertawa. Bahkan rumput yang diinjak membuat mereka bergoyang-goyang hampir jatuh karena rumput tertawa terbahak-bahak membuat pijakan tidak stabil.


"Ah, semua tanaman dan hewan yang ada di Mundebris ibarat Unimaris Caelvita ... makanya mereka hanya memanggil Tuan Muda?!" kata Cain mencoba duduk dengan hati-hati karena takut jika melukai rumput. Tapi rumput yang diduduki itu malah terlihat senang dan melambai-lambai.


"Itu lain lagi! semua tanaman dan hewan yang ada di Mundebris adalah keluarga Caelvita ... dulu mereka tetap memanggil Yang Mulia tapi Caelvita yang ke-47 merubahnya karena merasa aneh dipanggil dengan hormat oleh keluarga sendiri." kata Verlin mulai keluar dari Curisnya.


"Mulia sekali Caelvita ke-47!" kata Cain bernada menyindir.


"Tu ... permisi ... Tuan Muda!" kata Duarte merasa terlupakan.


"Eng?" sahut Felix terpaksa karena sebenarnya ingin membalas candaan sindiran Cain.


"Apa Tuan Muda mau ke istana Sanguiber sekarang? disana akan banyak pengetahuan untuk membantu mengatasi masalah Setengah Sanguiber!" balas Duarte.


"Katakan siapa yang mengutusmu?" tanya Felix.


"Dia tidak akan bisa menjawabnya!" kata Verlin sambil tersenyum miring.


"Kenapa?" tanya Cain.


"Kau juga tidak bisa membaca pikirannya!" kata Verlin setelah melihat Felix mencoba, "Walau terlihat begitu, tapi dia adalah Unimaris terhebat di kerajaan Sanguiber!" sambung Verlin.


"Terlihat begini?!" Duarte jadi melihat seluruh tubuhnya.


"Bukankah katanya kau keluargaku?" tanya Felix.


"Walaupun keluarga tapi tetap saja masing-masing juga memiliki rahasia sendiri yang tidak bisa dibagi Tuan Muda!" balas Duarte dengan senyuman ramah.


Sebuah cabang pohon menjalar menuju tangan Felix dengan buah apel berwarna ungu. Felix segera menengadahkan tangannya untuk menerima. Setelah itu cabang pohon itu langsung memendek dan kembali ke tempat semula.


Felix membagi dua apel itu dan dilemparkannya pada Cain dan Duarte. Cain yang masih memperhatikan isi apel itu sedangkan Duarte langsung memakannya.


"Bagianku mana?" tanya Verlin.


"Ini kan depan rumahmu! kau bisa tiap hari makan ini!" balas Felix.


"Dia itu pelit! tidak pernah memberiku buah apelnya ... padahal aku sudah berbaik hati memberinya lahan untuk tumbuh ... dasar! tidak tahu berterimakasih!" kata Verlin.


Cabang pohon itu kemudian datang di dekat Curis Verlin membuat Verlin jadi heboh, "Saya minta maaf Tuan Pohon Apel yang mulia!" bujuknya melihat cabang pohon akan menggores Curisnya.


"Walau kelihatan begitu, tapi dia adalah pahlawan perang!" kata Duarte memuji Verlin.


Verlin jadi terdiam dan menunduk sedih akhirnya Nenek Alviani mengajak untuk masuk ke dalam rumah.


Duarte merubah dirinya menjadi kecil dan kini terlihat sangat lucu duduk di bahu Felix.


"Bagaimana caranya agar aku bisa memanggilmu? saat ini aku masih tidak bisa pergi ke istana Sanguiber ... nanti setelah libur musim dingin mungkin baru aku bisa kesana!" kata Felix pada Duarte, "Sebenarnya siapa yang mengutusmu? tentu saja bukan Viviandem kan karena belum dibangkitkan? Setengah Sanguiber? apa tidak semua Setengah Sanguiber jahat?" tanya Felix beruntun membuat Duarte kebingungan dan menggaruk-garuk kepalanya.


"Saya jawab yang mana dulu ya?" tanya Duarte yang sebenarnya mulai mencari-cari alasan.


"Semakin kau ingin menghindari, semakin aku akan memaksamu untuk terus menjawab dan memberi pertanyaan!" kata Felix membuat Duarte kecil panik.


"Coba Tuan Muda gigit ujung jari!" perintah Duarte yang langsung dituruti Felix.


Duarte langsung menjilati darah yang ada pada ujung jari Felix itu.


"Tidak terjadi apa-apa?!" kata Cain yang mengamati.


"Tentu saja, tidak terjadi apa-apa!" kata Verlin.


"Apa maksudnya?" tanya Felix.


"Tidak bisa dijelaskan, tapi suatu saat akan kau ketahui sendiri!" jawab Verlin, "Kau ingin bertanya soal perkumpulan Setengah Sanguiber kan? langsung saja karena kau tidak akan punya cukup waktu saat kami menjelaskan, hari di Mundclariss akan berganti!" sambung Verlin sambil menatap Duarte.


"Di istana sudah disediakan yang lengkap oleh beliau, tapi untuk sekarang biar pengetahuan dasar saja dulu ... Verlin juga punya pengalaman dalam perang dengan Setengah Sanguiber dan saya adalah Unimaris Sanguiber jadi Tuan Muda silahkan bertanya?!"


"Beliau?" tanya Felix, "Berarti yang mengutusmu adalah orang penting dan dihormati di Istana Sanguiber dan sepengetahuanku saat ini Viviandem seharusnya masih tidak ada kan?" lanjut Felix.


Verlin adu tatap dengan Duarte, "Jangan melihatku! itu salahmu sendiri kenapa keceplosan!" kata Verlin cuek.


Lama Duarte hanya menunduk membuat Felix jadi kasihan juga, "Baiklah! kau tidak perlu menjawab jika tidak bisa!" sambil menghela napas panjang Felix mengalihkan pembicaraan, "Jadi bagaimana Iriana mengalahkan Setengah Sanguiber?"


"Kau duluan!" kata Verlin.


"Saya nanti bagian meluruskan, seharusnya kamu duluan karena ikut peperangan kan?!" balas Duarte.


Verlin mengalah dan mulai bercerita, "Saat itu Sang Caldway berusia 17 tahun dan sudah menjadi Caelvita resmi dengan membangkitkan Viviandem jadi banyak yang turut ikut serta dalam perang itu. Perang besar yang mau tidak mau harus terjadi karena Perkumpulan Setengah Sanguiber benar-benar tidak bisa diatur lagi. Padahal Sang Caldway sudah sebisa mungkin memaklumi kaum setengah Sanguiber tapi tanpa sepengetahuan, mereka diam-diam membuat perkumpulan besar dan akhirnya memicu perang ...."


"Aku baru 10 tahun dan belum menjadi Caelvita resmi apa bisa mengatasi ini?" tanya Felix merasa tidak mampu.


"Tapi ada variabel baru, yakni seseorang yang mengutus Duarte itu! akan mengubah segalanya!" jawab Verlin.


...-BERSAMBUNG-...