
Sebuah cincin terlihat bersinar terang muncul di jari Verlin. Dari dalam tanah tepatnya di bawah tangan Verlin mulai terlihat ada retakan. Getaran seperti gempa juga mulai dirasakan dan muncul lah tikus besar dengan bulu berwarna putih.
"Sudah kubilang jangan pernah memanggilku!" kata Tikus raksasa itu.
"Kau bilang, walau kupanggil tidak akan datang ... tapi buktinya kau datang juga!" kata Verlin.
"Bagaimana bisa aku menolak, bodoh?!" kata Tikus raksasa, "Lagipula ... sudah lama aku memang ingin menghancurkan tempat ini akhirnya aku punya alasan juga untuk melakukannya!" Tikus raksasa itu mengendalikan tanah dijadikan sebagai senjata. Tanah mencuat naik dan terus menyerang musuh Verlin dan Zeki disana. Bebatuan yang ada di luar juga mulai masuk menyerbu seperti peluru.
Verlin membawa Zeki kembali ke lantai paling atas di pinggiran yang masih utuh sementara tikus raksasa yang dipanggil Verlin mengamuk di lantai dasar.
"Kau tidak apa-apa?! lukamu yang sebelumnya saja masih belum sembuh sempurna tapi sudah mendapat luka baru lagi ...." kata Verlin khawatir.
"Aku tidak mengira dia akan datang saat kau panggil, terakhir kali dia marah-marah karena hanya dimanfaatkan saja sebagai alat perjalanan kita." kata Zeki tidak memperdulikan lukanya sama sekali.
"Itu sudah lama sekali ... pasti dia sudah berhenti marah. Lagipula, dia tidak bisa menolak panggilanku karena sudah terikat kontrak." kata Verlin.
"Iya ... sudah lama memang. Waktu itu Iriana masih hidup." kata Zeki membuat Verlin jadi tidak tahu harus berkata apa.
Tikus raksasa yang tadinya berbulu warna putih berubah menjadi merah. Semuanya menjadi panik dan mulai membuat perisai masing-masing. Ada sekitar ribuan tikus kecil muncul dengan senjata masing-masing dari dalam lubang yang ditempati Tikus raksasa tadi muncul.
Bahkan dengan memiliki perisai pun tidak bisa menahan serangan serbuan ribuan tikus kecil. Tak lama kemudian beberapa perisai lawan hancur dan tikus kecil itu menyerbu dengan mengerumuni.
"Kau diam saja, dia bisa menghancurkan tempat ini!" kata Verlin mencegah Zeki yang sepertinya ingin kembali ke bawah sana.
"Cain tidak perlu memanas-manasiku untuk melakukan ini, tapi karena ditantang jadi harus aku yang mengakhirinya." kata Zeki melompat dan terus bertahan mengambang di udara. Mulai merobek sesuatu diudara seperti ada kertas disana dan memasukkan tangannya merogoh sesuatu dari dalam sana.
"Tunggu!" teriak Verlin mengerti apa yang akan dilakukan Zeki. Verlin memberitahu tikus raksasa yang dipanggilnya untuk menjauh darisana.
Semua tikus berlarian kembali masuk ke dalam lubang tempat mereka datang tadi. Yang dilakukan Zeki adalah membuka portal dari Dunia Zewhitnya untuk mengeluarkan sesuatu tapi disadari oleh musuh yang ada di bawah sana. Ada yang mulai kabur dengan keluar dari Berenice atau ada yang memasuki Bemfapirav.
Zeki tetap melakukan apa yang ingin dilakukannya. Mengeluarkan sebuah cairan putih kental panas memenuhi seluruh Berenice. Beberapa saat kemudian disaat Berenice sudah mencair berkat cairan panas itu terbentuklah juga patung besar dari lilin sebesar dan setinggi Berenice tadi. Kini patung lilin itu menggantikan jejak Berenice.
"Kau belum mengubahnya ...." kata Verlin tidak asing dengan patung yang tercipta itu.
"Aku tidak punya banyak waktu." kata Zeki memotong salah satu kepala patung hingga jatuh menggelinding.
Patung yang tercipta ada empat, yakni Iriana di depan. Kanan ada Efrain yang kepalanya sudah tidak ada, kiri ada Zeki dan dibelakang Iriana ada Dave. Formasi dari pemerintahan Caelvita-118 dahulu sengaja dibuat oleh Zeki di Dunia Zewhitnya.
"Ayo kita pergi!" kata Zeki menendang kepala patung Efrain, "Sepertinya yang kita lakukan sudah cukup, lagipula tidak ada lagi yang bisa diajak berkelahi."
"Baiklah ...." kata Verlin menghilangkan senjatanya dan memerintahkan pohon yang datang membantunya tadi untuk kembali ke tempat masing-masing, "Tunggu, aku ingin melakukan sesuatu!" Verlin kembali memunculkan pedangnya dan menulis sesuatu di wajah patung Efrain.
"Sebenarnya, Lucy jauh lebih kuat dariku!" tulisan Verlin di wajah patung Efrain itu Membuat Zeki tidak bisa menahan tawa.
***
Bates datang dan api besar yang menyala terbelah membuka jalan untuk Bates ke tempat Efrain berada.
"Ada apa?!" tanya Efrain yang sedang berbaring di atas tempat tidurnya.
"Apa kau bilang?!" Efrain bangun tidak percaya dengan apa yang barusan didengarnya.
"Sepertinya ada yang membuat onar di pusat gerbang neraka yang kau buat ...." kata Bates.
"Tidak mungkin, mustahil ada yang mengetahuinya." kata Efrain terlihat terburu-buru berjalan membuat api yang ada disana semakin membesar.
"Hentikan! kau enak tidak merasakan apa-apa tapi aku seperti daging panggang sekarang." Bates mengeluh.
Efrain tidak memperdulikan apa yang dikatakan Bates dan mulai menghilang. Bates menyusul Efrain ke tempat pusat dari penciptaan gerbang neraka. Tapi setelah sampai mendapati patung yang sangat dikenal oleh Efrain.
"Zeki ...." Efrain menggertakkan giginya dan mulai melelehkan semua patung disana kecuali patung Iriana dengan menyalakan api menggunakan tebasan pedangnya.
"Tidak mungkin Zeki tahu ... mustahil ada yang tahu ... bahkan pemilik Berenice pun tidak akan tahu soal ini." kata Bates.
"Ya, Zeki tidak tahu ...." kata Ditte yang baru muncul, "Aku baru bertemu dengan salah satu pelanggan Berenice di Bemfapirav, katanya dia tidak sengaja menemukan Zeki dan Verlin sedang ada disini. Kau tahu kan semua penjahat di Mundebris adalah musuh Zeki. Seperti biasa Zeki hanya melawan karena terpaksa. Dia tidak mungkin tahu soal rahasia disini ...."
"Jadi, maksudmu ... ini hanyalah kebetulan?!" kata Efrain melampiaskan amarahnya pada patung yang sudah menjadi cairan lilin kembali.
"Tidak ada yang namanya kebetulan di Mundebris ...." kata Bates.
"Lalu apa?! menurutmu dia tahu sesuatu?!" kata Ditte merasa perkataannya diragukan.
"Entahlah ... kita harus menyelidikinya!" kata Bates mulai menghilang.
"Aku juga pergi, Efrain!" kata Ditte pamit.
Efrain masih tinggal disana agak lama mendongak menatap patung Iriana. Setelah dirasakan ada yang datang mendekat barulah dia pergi.
Pemilik Berenice dan para pekerja kembali bekerjasama untuk membangun Berenice kembali seperti semula. Menghancurkan patung Iriana begitu sulit karena Efrain terus mengganggu dari jauh.
"Aku takut seiring berjalannya waktu ... aku jadi lupa bagaimana wajahmu, Iriana ...." kata Efrain sudah benar pergi dan patung Iriana juga berhasil dihancurkan.
***
"Kau terlihat senang?! untuk pertama kalinya kau datang melapor dengan wajah seperti itu ...." kata Felix heran.
"Banyak batu permata yang tercabut, misi yang dilakukan para iblis di masing-masing titik gerbang neraka gagal semua tadi malam Yang Mulia." kata Banks melapor.
"Maksudmu, ada yang membantu kita?! tidak mungkin kan aku tidak menyadari diriku menjadi korban pengganti ...." kata Felix bercanda.
"Sepertinya begitu, Yang Mulia ... sulit untuk menjadi korban pengganti terlebih lagi bukan hanya satu batu permata saja yang tercabut ...." kata Banks meladeni.
Felix terdiam, bingung apa harus senang mendengar itu atau bagaimana. Karena tidak bisa memikirkan apa yang sebenarnya terjadi, "Lucu sekali ... disaat aku sedang mengkhawatirkan gerbang neraka karena perkemahan sekolah. Tiba-tiba saja ada yang membuat gerbang neraka kacau. Yang bisa melakukan ini hanya satu orang ...." Felix menyelesaikan kalimatnya dalam hati, "Cain."
...-BERSAMBUNG-...