UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.352 - Memilih Prioritas Utama



Cairo mendapati dirinya kembali di dalam kamarnya. Melihat debu beterbangan dari sinar matahari yang masuk dari jendela kamarnya karena bangun secara terburu-buru.


"Tunggu ... bukankah saat ini pedang itu sedang ada di kantor polisi, disimpan sebagai barang bukti." Cairo berhenti berlari.


Jantung Cairo berdegup begitu kencang dengan keringat dingin dan penglihatannya yang kabur karena langsung bangun tanpa mempersiapkan tubuhnya yang belum siap bangun dan bekerja secara tiba-tiba seperti itu.


Layaknya mesin di dalam tubuhnya yang bekerja secara tiba-tiba tanpa persiapan membuat segalanya menjadi kacau dan mesin otomatis langsung error. Cairo langsung duduk untuk menstabilkan irama jantungnya dengan merilekskan diri dengan teknik pernapasan. Lama kelamaan Cairo sudah merasa sudah lebih baik.


"Kukira aku akan pingsan ... rasanya aku seperti tertidur lama sekali." Cairo kemudian melihat jam tangannya yang menunjukkan dia baru tidur selama 20 menit lebih membuatnya tidak bisa menahan tawa, "Serasa aku baru saja tidur selama 20 hari ...." Cairo menutup matanya dengan tangannya karena silau matahari tapi beberapa saat kemudian tangan yang dipakai untuk menutup mata itu menangkap secara otomatis sebuah benda yang serasa terbang dengan begitu cepat kemudian mendarat di tangannya dengan disertai angin kencang, "Ini kan ...." Cairo memandang sebuah pedang yang berada di tangannya, "Bagaimana mungkin ...."


Cairo tidak langsung memakai pedang itu sesuai yang diperintahkan orang yang datang ke dalam mimpinya itu. Bagaimanapun juga Cairo takut jika pedang itu meramalkan bahwa dirinya akan mati. Tapi lebih terbebani lagi jika akan menjadi pahlawan. Apapun itu Cairo merasa dirinya masih belum siap dan hanya menyimpan pedang itu saja di dalam kamarnya untuk terus dipandang di atas mejanya.


"Aku belum siap ...." Cairo meninggalkan kamarnya karena merasa sesak melihat pedang itu terus menerus.


***


Sementara itu Kayle berhasil menangkap 15 orang hilang dari Desa Quinlan. Tapi kehilangan jejak dari 1 orang yang merupakan anak 5 tahun itu. Kayle mengerahkan semua anggota timnya untuk mencari anak itu. Dikiranya akan mudah dicari saat pagi karena kesadaran anak itu pasti kembali normal dan menjadi anak 5 tahun pada umumnya lagi dengan kebingungan mencari orangtuanya tapi ternyata tidak ada tanda-tanda keberadaan anak itu sama sekali.


Bahkan orangtua dari anak itu yang sudah kembali sadar juga ikut mencari tapi masih belum ditemukan titik terang. Orangtuanya yang mengalami kerasukan tidak mengingat apa-apa saat sedang kerasukan jadi tidak terlalu membantu dalam pencarian.


Felix dan Tiga Kembar kembali ke asrama sekolah dengan kemenangan yang seperti menghisap permen karet. Serasa manis sesaat tapi kemudian pahit karena gagal menangkap satu orang lagi. Pertarungan yang sebenarnya harus semuanya atau akan menjadi tidak sama sekali.


"Kita berhasil menangkap 15 dari 16 tapi rasanya sama saja dengan tidak menangkap siapapun." kata Tom.


"Apa kami ini hanya lukisan?! yang harusnya dipajang di rumah saja dan ditinggalkan begitu saja?! kau seharusnya membawa kami Felix! seperti kau selalu membawa pedangmu bersamamu ... daripada lukisan lebih baik jika kami ini kau anggap bagian dari pedangmu." kata Teo protes.


"Ambil sisi positifnya saja, jika kita bersama Felix pasti kita tidak akan ke taman hiburan ...." kata Tan.


"Apanya yang positif?! kita kesana tidak melakukan apa-apa juga!" kata Teo kesal.


"Setidaknya kita bisa tahu cara kerja kalung kita ini." kata Tom.


"Kalian benar-benar sangat mirip, tidak heran kalau kalian bersaudara!" kata Teo membuat Tan dan Tom melongo tidak habis pikir dengan perkataan Teo itu, "Okey ... setidaknya kita bisa membuktikan bagaimana kerennya Felix pada seseorang yang mendengar kita sekarang." Teo mengetuk-ngetuk microphone alat komunikasinya. Sayangnya Mertie tidak mendengar perkataan Teo itu karena sedang tertidur menggunakan keyboard laptopnya sebagai bantal.


Mertie baru terbangun setelah mendengar ketukan keras yang dibuat di telinganya oleh Teo, "Ada apa?!" Mertie bangun dengan kaget.


"Kau sedang sengaja pura-pura tidak dengar kan?!" kata Teo menyeringai.


"Ow, kalian sudah sampai!" Mertie memanipulasi kembali keamanan sekolah untuk mereka agar bisa melalui rute aman untuk masuk kembali ke asrama tanpa ketahuan, "Sudah pagi ya?!" Mertie menguap dan membuka jendela kamarnya. Untungnya Mertie hanyalah sendiri di kamarnya. Belum mendapatkan teman sekamar jadi bisa bebas melakukan apa saja.


***


FT3 bersiap-siap seperti biasa dengan make up natural mata panda mereka masing-masing.


"Akhir-akhir ini aku selalu diejek karena lingkaran hitam ini ...." Teo berkaca dengan case handphone nya yang bagian belakang merupakan cermin.


"Bahkan ada yang mengataiku sedang memakai make up hallowen padahal ini baru juni ...." kata Tom.


"Kalian duluan saja!" kata Felix yang memutar arah langkah kakinya.


"Kenapa lagi dia?!" kata Teo heran.


"Aku bahkan sudah tidak penasaran lagi!" kata Tom tidak peduli lagi.


"Aaaaaaaah!" Tiga Kembar bersorak bersamaan setelah melihat kedatangan Dea di hadapan mereka.


"Eh, dimana Felix?" tanya Dea.


"Dia sudah di kelas!" sahut Tom.


"Aku dari sana, tidak ada!" kata Dea.


"Coba periksa lagi! Mungkin kau melewatkan laci kecil yang tersembunyi. Felix suka bersembunyi di tempat kecil." kata Teo.


"Hahaha, ya ya ya lucu sekali!" kata Dea kesal.


Tapi pada akhirnya Dea menurut dan kembali berlari lagi. Tiga Kembar juga akhrinya mengetahui kenapa Felix harus repot-repot mengambil jalan memutar yang jauh. Ternyata karena ada Dea yang mendekat.


"Aku jadi penasaran kenapa Felix begitu menghindari Dea?!" kata Teo memegang dagunya seperti karakter dari anime detektif yang sering dinontonnya.


"Felix juga lama-lama seperti mengidap penyakit selebriti saja!" kata Tom membuat Tan dan Teo tertawa.


"Berpikir positif saja, Felix pasti punya alasan yang kuat kenapa melakukan itu. Selama ini dia selalu diganggu tapi tidak menghindar seperti ini juga. Pasti ada sesuatu! jadi kita bantu Felix saja untuk menghindari Dea." kata Tan setelah puas tertawa.


"Kau selalu saja mengatakan positif positif positif! sekali lagi kau mengatakan itu aku akan menunjukkan bagaimana negatif itu ... kau akan melihat sendiri bagaimana jadinya jika positif dan negatif bertemu." kata Teo sebal.


"Tidak masalah, lagipula kalau tekananmu rendah juga tidak akan berpengaruh apa-apa. Begitulah negatif!" kata Tan.


"Jangan menyesal saja! kau bisa saja merasakan bagaimana tekanan listrik yang setara seperti bom nuklir." kata Teo masih tidak mau kalah.


"Hahh ...." Tan dan Tom menghela napas bersamaan.


"Kalian membosankan! aku tidak akan bermain lagi dengan kalian!" Teo berjalan cepat mendahului mereka berdua yang sedang tertawa.


"Ah, lucunya!" teriak Tom.


"Jangan mengatakan itu! menjijikkan!" teriak Teo semakin mempercepat larinya setelah mendengar ucapan Tom barusan.


Dea yang masih stay berada di depan pintu masuk kelas Felix terpaksa membuat Felix kembali memutar arah, lagi.


"Kau mau kemana? bukankah kelasmu disana!" kata Mertie yang berpapasan dengan Felix. Tapi Felix hanya berlalu saja tanpa melihat, menoleh atau membalas perkataan Mertie.


"Dasar! memangnya dia pikir dirinya keren atau apa?!" kata Mertie dalam hati, "Kau mendengarnya kan?! dasar sok keren menyebalkan!" Mertie sengaja memaki karena tahu Felix pasti mendengarnya. Tapi Felix tidak bereaksi apa-apa hanya terus berjalan.


"Bukan saatnya untukku mengetahui apa yang terjadi di masa lalu! tapi kenapa sepertinya aku sudah tahu dan sengaja menghindar." kata Felix yang sudah tiba di atas atap sekolah tingkat SMA di Gallagher, "Apapun itu ... aku hanya perlu pura-pura saja kalau begitu! sekarang bukan saatnya memikirkan mereka yang tidak bisa kuselamatkan lagi tapi memfokuskan diriku bagaimana memikirkan cara untuk mereka yang bisa kuselamatkan. Ya ... itulah yang tepat!" Felix merasakan angin sepoi-sepoi mengenai rambutnya. Membuat aroma spray warna hitam pada rambutnya bisa tercium.


...-BERSAMBUNG-...