
...Akan ada adegan kekerasan yang bisa membuat tidak nyaman untuk dibaca!...
...----------------...
Karena sudah datang, Zeki dan Verlin yang berpengalaman dalam bertarung. Tan, Teo dan Tom merasa sangat lega ada yang bisa diandalkan disaat Felix tidak ada.
Serangan begitu cepat terjadi tanpa aba-aba ataupun persiapan terlebih dahulu. Tan, Teo dan Tom kelihatan kewalahan karena serangan mendadak yang berkelompok itu tapi Zeki dan Verlin membuktikan bahwa pengalaman memang adalah segalanya. Bukan seberapa hebat kau dalam bertarung tapi seberapa banyak pengalaman yang kau miliki sangat berguna dalam keadaan hidup dan mati seperti itu.
"Apa yang kau lakukan?!" Tan kaget melihat Zeki memotong leher seseorang tanpa ragu hingga kepala dan tubuh berpisah.
"Lihat!" Zeki menunjuk Zewhit yang yang keluar dari dalam orang yang sudah dibunuh oleh Zeki itu. Zewhit itu dirantai di leher, perut, tangan dan kaki. Kemudian terlihat ditarik paksa kebelakang.
"Tolong aku!" teriak Zewhit itu saat diseret mundur.
"Kali ini kalian tidak akan menyelamatkan orang hidup, tapi orang mati ... Zewhit lah tujuan utama untuk kita selamatkan agar tidak dimanfaatkan oleh Efrain." kata Zeki mencoba menyadarkan Tan yang kelihatan gemetaran melihat untuk pertama kalinya manusia dibunuh dihadapannya.
"Aku ... aku tidak bisa! aku tidak bisa melakukan ini!" kata Tan menghilangkan Telloppernya kemudian perlahan mundur.
Disaat Tan sedang terlihat dalam keadaan melamun ada seseorang yang berusaha menyerangnya.
"Awas, Tan!" teriak Teo.
Darah memenuhi wajah Tan tapi itu bukan darahnya sendiri melainkan darah dari seseorang yang menyerang itu.
"Oh, tidak ...." Tom melihat kapaknya yang menancap diatas kepala orang itu, "Aku baru saja membunuh ...." Tom menjatuhkan dirinya melihat tangannya yang baru saja membunuh seseorang karena terpaksa untuk melindungi Tan. Meski dengan alasan melindungi tapi bagi Tom membunuh tetaplah tidak bisa dibenarkan.
Mereka memang pernah membunuh tapi itu adalah iblis bukan manusia. Meskipun iblis tapi butuh waktu lama mereka terlepas dari rasa bersalah. Hanya terus memanipulasi otak sendiri berpikir bahwa itu adalah musuh sehingga tidaklah perlu merasa bersalah. Tapi kali ini membunuh manusia adalah cerita lain. Mereka tidak ada kaitannya dengan apa yang sedang terjadi atau hanya dipaksa melakukan itu tanpa sadar. Membunuh manusia yang bersalah saja salah apalagi membunuh manusia yang sama sekali tidak bersalah. Tan sedang bertarung dengan prinsip yang dijaganya selama ini.
"Kau tidak salah, kau baru saja menyelamatkan saudaramu!" kata Verlin membantu Tom bangun tapi Tom menolak atau lebih tepatnya pikirannya sedang kacau.
"Walau kau menyelamatkan mereka ... mereka tidak akan menjalani kehidupannya lagi. Karena iblis dan Zewhit yang ada di dalam sana menguasai tubuh sepenuhnya. Bukankah itu membuatmu bisa lebih mudah dalam memilih prioritas?!" kata Zeki.
"Ow, sudah keluar!" Verlin segera menahan Zewhit yang dirantai itu untuk ditarik tapi Verlin juga perlahan ikut tertarik.
"Aku bantu!" kata Tan masih kelihatan sedang melamun atau pikirannya seperti melayang-layang disuatu tempat tapi tetap ingin membantu.
"Jangan! rantai ini hanya bisa dipegang oleh Ruleorum saja, kalau bukan ... tubuhmu akan mencair." kata Verlin melarang Tan mendekat.
Zeki mencoba menghancurkan rantai itu dengan pedangnya tapi tidak ada kerusakan yang terlihat, "Bagaimana menghancurkan ini?!" tanya Zeki kesal.
"Aku hanya tahu kekuatan ini, tidak tahu secara detail. Lagipula buat apa aku mencari tahunya?! aku juga tidak tertarik masuk ke dalam tubuh manusia dan berpura-pura menjadi hidup lagi dengan tubuh yang bukan milikku." Verlin sambil mengomel.
"Tidak berguna!" maki Zeki.
"Haha ... terimakasih kembali! atas informasi yang kuberikan padamu secara cuma-cuma." balas Verlin sarkastik menganggap makian Zeki barusan adalah ucapan terimakasih.
"Ayo bangun pengecut!" teriak Zeki.
"Jangan menyebutku begitu!" kata Tom menahan amarahnya.
"Kau Alvauden! biasakanlah untuk bersikap realistis dan tidak terbawa perasaan. Melindungi diri sendiri saja kalian tidak bisa apalagi melindungi Caelvita kalian?! Felix sial memiliki kalian!" kata Zeki mengomel sambil memotong tangan dan kaki seseorang sehingga kini tidak bisa berdiri untuk menyerang, "Lihat! yang seperti ini mau kau selamatkan?! bahkan setelah kehilangan tangan dan kaki masih menggeliat untuk menggigit dengan mulutnya. Mereka bukan lagi manusia!" Zeki menusuk jantung orang itu sehingga Zewhit yang ada didalam sana keluar.
Zeki mendengus tertawa dan kembali berhadapan dengan lawan lainnya, "Kalau begitu, teruslah begitu ... sampai kalian di penghujung napas terakhir baru menyesal kenapa harus menjaga hati nurani padahal bertahan hidup adalah segalanya."
"Hey, bantu aku disini!" teriak Teo kesulitan menahan serangan karena Tan dan Tom tidak membantu, "Wow ... jangan sentuh aku! kau sudah terluka terlalu parah!" Teo melihat kulit mereka yang meleleh karena terus menyentuh Teo.
"Mereka tidak akan selamat dengan luka seperti ini! tidak ada yang bisa kalian lakukan, kalaupun ada ... cara satu-satunya hanyalah membunuh mereka! itu adalah cara untuk menyelamatkan mereka." kata Verlin datang membantu Teo.
Meski dengan bantuan Zeki dan Verlin, tapi jumlah lawan lebih banyak dari mereka. Terlebih lagi jika lawan yang dirasuki oleh iblis sangat sulit untuk dikalahkan. Perlahan Zeki dan Verlin pun kesulitan juga.
"Sampai kapan mereka akan melamun saja?!" kata Zeki semakin kesal saja karena hanya berdua dengan Verlin yang serius dalam pertarungan itu.
"Aku bisa mati lagi ... tapi kau ...." Verlin berhenti dan tersenyum dengan tatapan kasihan, "Kau bisa mati dan benar-benar menghilang!" dilanjutkan setelah berhasil membuat tubuh manusia yang dirasuki iblis dibunuh dengan kerjasama.
"Terimakasih ... aku juga sudah tahu itu!" kata Zeki.
"Kita pernah mengalami masa seperti mereka ... tapi lihat sekarang, bagaimana kita membunuh tanpa ragu." kata Verlin.
"Jadi, kau mau kita menunggu mereka?! kita akan mati sebelum itu!" kata Zeki.
"Ya, kau akan mati!" sebuah serangan dari seseorang yang membuat Zeki dan Verlin terpental mundur menghancurkan dinding sebuah toko.
"Aku sangat yakin dia Ditte ...." kata Zeki merasakan sakit di punggungnya.
"Tentu saja ada dia ... dia kan Zewhit juga, tidak mungkin iblis yang masih hidup digunakan. Membunuh manusia yang dirasuki oleh iblis hidup akan membuat iblis yang ada di dalam mati juga. Jadi, strategi yang cocok hanyalah dengan Zewhit Iblis juga." kata Verlin dipaksa berdiri oleh sesuatu yang tidak terlihat.
"Bisa katakan pada mereka untuk membantuku juga?!" kata Zeki.
"Tidak, jangan bantu dia!" kata Verlin.
"Dasar!" maki Zeki.
Tan dan Tom terpaksa kembali melawan atau lebih tepatnya melindungi diri sendiri dan juga lawannya agar tidak terluka. Bahkan Tom masih belum mencabut Sesemaxnya pada kepala orang yang tadi akan menyerang Tan. Tom tidak sanggup mencabut Sesemax yang tertancap di kepala korban.
Tom melawan dengan hanya bermodalkan tinju dan tendangan kakinya. Tapi kali ini sudah tidak terlihat ragu untuk menyentuh walau itu membuat terluka yang dirasuki oleh Zewhit.
"Lebih baik begini daripada aku harus menggunakan senjata." kata Tom dalam hati.
"Mereka bergerak!" kata Verlin membantu Zeki bangun.
"Ya, tapi tidak membantu ...." kata Zeki saat melihat Tan, Teo dan Tom dipojokkan.
Zeki dan Verlin berlari untuk menyelamatkan mereka bertiga tapi kelihatannya tidak perlu. Zeki dan Verlin berhenti berlari saat melihat sebuah gerbang besar yang muncul.
Felix tidak terlihat saat keluar dari dalam gerbang itu tapi saat gerbang itu menghilang banyak lawan yang langsung berjatuhan disana-sini. Kemudian baru terlihat Felix atau hanya punggungnya saja yang bisa dilihat dengan Pedang Caelvitanya yang sudah berlumuran darah. Padahal baru terbilang beberapa detik dia sampai.
"Biar aku yang membunuh mereka semua!" kata Felix tidak terdengar ada keraguan sedikitpun.
...-BERSAMBUNG-...