
"Bagaimana bisa?" tanya Tan, padahal dia sendirilah yang mengatakan kalau Felix sudah menghubungi pihak panti.
Tidak ada yang mengetahui kalau ada yang mengabari Daisy maupun Dokter Mari soal ini.
"Felix yang menghubungi kami!" jawab Daisy.
"Seharusnya Felix hanya menghubungi Dokter Mari saja ...." kata Tom dalam hati menyesalkan.
"Berita penculikan ini tidak boleh disiarkan dimanapun!" kata Daisy.
Tan, Teo dan Tom bingung mendengar perkataan Daisy itu. Bukan hanya karena Daisy seorang jurnalis tapi untuk menyelamatkan Cain seharusnya menyiarkan berita tentang penculikan ini.
"Kenapa Bu Sissy seakan berpihak pada kita?" tanya Teo.
"Apa maksudmu? ini merupakan penculikan anak dibawah umur. Sudah seharusnya ini diberitakan secara nasional untuk membantu pencarian. Tidak sepertimu saja yang biasanya, seharusnya sekarang menjadikan ini sebagai berita perdana ...." kata Hubert, Polisi yang sudah mengenal Daisy.
"Sekarang aku datang kesini bukannya menjadi wartawan, tapi menjadi wali korban. Pastinya berita sudah menyebar dan wartawan akan ada yang datang untuk meminta informasi, jangan berikan identitas korban yang diculik. Cukup beritahu bahwa masih dalam tahap penyelidikan apa benar penculikan atau tidak ...." kata Daisy.
"Apa yang kau rencanakan? tunggu ... wali? maksudmu anak yang diculik itu keluargamu?" tanya Hubert.
"Dia anak angkatku!" jawab Daisy.
"Hahh?!" Hubert tidak percaya Daisy yang masih terlihat muda memiliki anak usia 11 tahun, "Dari pihak polisi memang belum bisa memberitahu soal identitas korban karena belum mengkonfirmasi kasus penculikan ini ... tapi pasti dari pihak sekolah akan membeberkan informasi, bahkan pasti sudah ada yang memberitakan ini. Seperti kau tidak tahu saja bagaimana wartawan berebut berita ekslusif ...."
"Berita tidak akan ada muncul walau ada yang memberitakan!" kata Daisy.
"Apa yang membuatmu begitu percaya diri?" tanya Hubert.
"Koneksiku sebagai jurnalis luas ... jika aku menyuruh untuk menurunkan berita, pasti akan langsung diturunkan. Jadi kalian, pihak polisi hanya perlu diam saja dan temukan Cain!" jawab Daisy.
Daisy juga berbicara dengan Pak Egan untuk meminta kasus penculikan Cain ini bisa dirahasiakan, "Tapi sepertinya sudah terlambat ...." kata Pak Egan.
"Walau begitu, saya minta kerjasamanya ...." kata Daisy.
"Kenapa Bu Sissy melakukan itu?" tanya Teo.
"Entahlah ... ibu berniat menyuruhnya tapi sebelum disuruh dia sudah melakukannya!" jawab Dokter Mari.
"Apa Felix yang memberitahu?" tanya Tan.
"Jadi, Felix dimana sekarang?" tanya Tom.
"Dia menelepon dengan telepon umum!" jawab Dokter Mari.
Teo dan Tom memeriksa handphone untuk melihat apa ada berita yang sudah keluar. Tapi ternyata tidak ada berita penculikan sama sekali yang muncul.
"Apa ini benar karena koneksi Bu Sissy? apa dia sehebat itu?" tanya Tom.
"Kalian mendengarku?" Tan, Teo dan Tom dikagetkan oleh suara yang seperti masuk ke dalam kepala mereka secara tiba-tiba.
"Felix? kau dimana?" tanya Tiga Kembar lewat pikiran.
"Dengarkan aku baik-baik! Cain sekarang ada di pabrik daging Carlton Group. Mertie sudah mengirim bukti ke polisi, tapi bukan sebagai Hantu Merah Muda hanya sebagai saksi tanpa nama ...." kata Felix.
"Jadi apa yang harus dilakukan? pasti tidak akan ada yang percaya kalau itu bukan informasi dari Hantu Merah Muda ...." kata Tom.
"Jangan khawatir soal itu, Bu Daisy yang akan melakukan semuanya ...." kata Felix, "Kerja bagus Tan! berita soal permainan ini tidak boleh lagi muncul ... kerja bagus sudah mencegah pihak panti tahu soal ini!"
"Tapi kenapa suaramu begitu?" tanya Teo yang mendengar suara Felix seperti kehabisan napas.
"Jadi apa yang akan kita lakukan untuk menyelamatkan Cain?" tanya Tom.
"Yang akan menyelamatkan Cain adalah Bu Daisy dan polisi nantinya, kita akan menyelamatkan Cain di Mundebris!" jawab Felix.
"Cain yang di pabrik hanyalah tubuh saja, roh Cain saat ini kemungkinan besar ditahan oleh Efrain! aku sudah memeriksa tubuh Cain tapi rohnya tidak ada di dalam tubuh ...." jawab Felix.
"Apa?!" teriak Tan, Teo dan Tom.
"Kita terlalu santai, tidak mengira kalau Efrain akan terlibat dalam penculikan ini ... kita mengira kalau ini hanyalah perbuatan dari keluarga Dobry atau Inas tapi ternyata Efrain memanfaatkan ini ...." kata Felix.
"Jadi kami harus kemana untuk membantumu?" tanya Tom.
"Sekarang kalian kembali ke panti untuk menjaga Kiana, biar Dokter Mari yang ke Mundebris, beritahu Dokter Mari untuk membuka gerbang di sekolah! kalian tahu kan, kastil perkumpulan iblis di sisi lain sekolah yang ada di Mundebris ... aku ada disana sekarang!" jawab Felix.
Daisy yang sudah kenal baik dengan polisi bersama-sama saling membantu penyelidikan dan langsung memeriksa informasi anonim seperti sudah mengetahui dari awal kalau memang ada informasi disana yang sudah dikirim Mertie.
"Kau tidak memberitahu yang sebenarnya kan pada Bu Sissy?" tanya Teo.
"Memangnya itu penting sekarang? yang terpenting sekarang adalah menyelamatkan tubuh Cain agar rohnya bisa kembali! percuma kita menyelamatkan rohnya kalau tubuhnya tidak bisa diselamatkan begitupun sebaliknya sih ... Bu Daisy dan Dokter Mari menjadi faktor penting untuk menyelamatkan Cain sekarang." jawab Felix.
"Kami juga ingin ikut kesana!" kata Tom.
"Kiana siapa yang akan menjaga?!" teriak Felix, "Dokter Mari punya banyak pengalaman dalam bertarung ...."
"Jadi kau meremehkan kami sekarang?!" kata Teo.
"Aku mempercayakan Kiana pada kalian, kalian pikir aku meremehkan kalian?! Kiana alasan utama kenapa kita ikut dalam permainan ini, kalau Kiana tidak selamat dari permainan ini ... semua yang kita lakukan selama ini, semua kesulitan yang kita rasakan, semuanya akan percuma saja ... kalian masih berpikir aku meremehkan kalian? aku mempercayai kalian untuk menjaga Kiana sekarang! mendapatkan masalah Cain diculik tidak terpikirkan sama sekali menjadikan kita harus bersatu, harus saling percaya ... dengan begitu semuanya bisa kita atasi!" kata Felix.
Tan, Teo dan Tom ke panti sesuai perintah Felix dan Dokter Mari ke tempat Felix berada. Saat mendekati panti, sebuah cahaya biru terlihat mengelilingi panti. Mereka berlari begitu cepat untuk memeriksa apa yang terjadi.
"Apa ini?" tanya Tom melihat sinar berwarna biru dari dalam tanah mengelilingi panti.
"Disana juga!" tunjuk Teo melihat cahaya biru yang lebih banyak lagi ada di belakang panti.
Kolam ikan yang baru-baru dibuat juga memancarkan cahaya biru tapi bukan dari dalam tanah melainkan dari pasir yang jelas terlihat karena air yang jernih.
"Kalian kenapa bisa cepat sekali pulang?" tanya Luna, "Ah, ini ... aneh kan? bahkan sungai yang di dekat panti membeku, tapi kolam ini tidak ...." sambungnya setelah melihat ekspresi Tan, Teo dan Tom.
"Kak Luna tidak bisa melihatnya kan?" bisik Teo.
Tom memasukkan tangannya ke dalam kolam untuk meraih pasir berwarna biru dan bersinar terang itu.
"Heh?! jangan! dingin ...." kata Luna ngeri melihat Tom memasukkan tangannya ke dalam air.
Tom mengeluarkan tangannya setelah mengambil segenggam pasir, "Ini ... batu permata safir kan?" tanya Tan.
"Em? bukan! itu pasir hias yang dibeli Felix ...." jawab Luna.
"Felix yang menaruh pasir ini?" tanya Teo.
"Iya, berulang kali dia datang menambahkan pasir hias itu!" jawab Luna.
"Jadi semua yang mengelilingi panti saat ini ...." kata Tom melihat sekeliling panti yang dipenuhi oleh sinar biru seperti yang ada di kolam.
"Semuanya adalah batu permata safir! dibawah panti sudah dipenuhi dengan ini ...." kata Tan mengambil pasir di tangan Tom.
"Bagaimana mungkin dia melakukan ini semua? tidak ... sejak kapan dia memulai semua ini?!" tanya Teo melihat luasnya daerah panti.
"Kelabang itu?! kalian ingat kan para kelabang yang pernah datang kesini ...." kata Tom.
"Apa ini yang akan melindungi Kiana?" tanya Tan.
...-BERSAMBUNG-...