UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.207 - Gerakan Cepat



Tom tertawa, "Tidak masalah sih, mau mereka mengawasi kita sampai kapanpun juga!"


"Iya, kita bisa pergi tanpa sepengetahuan mereka ...." kata Teo.


"Kenapa mudah sekali Efrain mempengaruhi manusia untuk mempercayainya?" tanya Tan.


"Entahlah ... mau itu dia menggunakan kekuatan untuk memperdaya manusia atau memang dia pintar meyakinkan dengan cara biasa." jawab Felix tidak terlalu tertarik dengan metode apa yang digunakan Efrain.


"Menakutkan rasanya ... kalau kita tidak bisa menghentikan Efrain, aku bisa membayangkan dunia seperti apa nantinya!" kata Tom.


"Kita harus menghentikan itu sebelum terjadi!" kata Cain.


Pulang dari sekolah mereka berkeliling memakan cemilan, memasuki toko buku, bermain game, melakukan apa yang seharusnya dilakukan oleh anak sekolahan biasa karena mereka sedang diawasi.


"Seharusnya kita melakukan hal seperti biasa saja ...." kata Tan.


"Pulang sekolah langsung kembali ke rumah adalah hal yang sama sekali tidak dilakukan anak sekolah!" kata Teo.


"Kau mau mereka mencurigai kita?!" kata Tom sepakat dengan Teo.


"Bilang saja kalau kalian memang ingin bermain!" kata Cain.


"Kau juga menikmatinya!" Teo dan Tom protes bersamaan.


"Yes!" kata Cain menang dari Teo bermain game, "Ehhem ...." Cain tidak menyadari dirinya begitu menikmati permainan.


"Seharusnya memang kami seperti ini ...." kata Felix dalam hati melihat sahabatnya asyik bermain.


"Kau tidak apa-apa Felix? kita bisa kembali sekarang ... rasanya sudah cukup bermain-mainnya!" kata Tan.


Cain, Teo dan Tom sadar diri setelah Tan menanyakan hal itu dan langsung berdiri, "Ayo kita pulang!"


"Apa kita minta saja mereka mengantar kita pulang?" tanya Teo mengundang tawa, "Mereka terlalu jelas!" kata Teo melirik sedikit ke arah mobil Kramer dan Linn.


Bus akhirnya datang dan mereka menaiki bus dengan minuman hangat di tangan. Teo bahkan menggenggam dua gelas minuman karena kalau satu katanya tidak cukup untuk menghangatkan badan.


"Mereka pulang malam sekali!" kata Linn.


"Karena mereka tidak punya orangtua, makanya bisa bebas begitu!" kata Kramer.


"Tapi, bagaimanapun juga mereka bisa mengontrol diri mereka dengan baik bahkan tanpa orangtua! andaikan aku dulu begitu pasti belum pulang sekarang. Bermain sampai pagi dan bolos sekolah ...." kata Linn.


"Tapi apa mereka itu benar seperti yang diceritakan? mereka hanya seperti anak lainnya ... bahkan kalau boleh dibilang, mereka itu hanya anak yang tidak beruntung!" kata Kramer.


"Tapi, setelah melihat itu ... bagaimana mungkin kita tidak percaya!" kata Linn.


"Benar juga ...." kata Kramer.


Tidak ada pilihan lain selain pulang ke panti karena tadi Felix membaca pikiran mereka berdua ternyata mereka tidak tahu soal Rumah Daisy. Jadi Felix tidak ingin membuat Rumah Daisy terungkap maka terpaksa harus pulang ke panti yang jauh.


"Haha ... bagaimana mereka bisa mengikuti kita kalau di jalanan yang sunyi begini!" kata Teo tertawa.


"Apa sebaiknya kita jalan pelan supaya mereka lelah menunggu ...." kata Tom usil.


"Cain!" seru Felix.


Cain segera menggambar garis pelindung dengan cekatan. Bahkan jika telat sedikit saja mereka akan dalam bahaya. Ada 6 iblis yang datang tepat di hadapan mereka tapi melewati mereka begitu saja karena tidak bisa melihat kehadiran mereka disana berkat garis pelindung Cain.


"Langsung hilang!" kata salah satu iblis.


"Padahal masih bisa kuraskan Viriaer yang begitu banyak!" kata Iblis lainnya.


"Untung saja, dua produser itu masih ada di dekat halte bus belum masuk ke lorong sini!" kata Tom.


"Mereka tidak mengikuti kita dengan jalan kaki kan, Felix?" tanya Tan khawatir.


"Mereka baru turun dari mobil sekarang!" kata Felix memejamkan matanya mendengar suara.


"Kalau begitu ...." kata Cain.


"Lari!" seru Felix.


Mereka semua lari dengan sekuat tenaga seakan ada yang mengejar dan menarik mereka dengan paksa. Dalam sekejap mereka sampai di panti, ini mungkin kali pertama mereka begitu cepat sampai ke panti.


Cain segera membuang tasnya dan melompat ke atas pagar langsung membuat perisai. Belum sembuh tangannya kemarin karena membuat perisai kini terpaksa Cain membuka lukanya yang sudah mulai mengering. Felix segera menggembok pagar dan berjaga di sana. Tan membawa tas Felix dan tas Cain masuk, Teo menuju kamar Kiana dan Tom memeriksa keadaan di dalam panti untuk menghentikan siapapun untuk keluar.


Tan datang di samping Felix dan Cain datang seperti kehabisan napas langsung menjatuhkan dirinya setelah memutari pagar panti membuat perisai. Tan segera mengobati luka pada tangan Cain. Enam iblis melihat mereka dari kejauhan dan langsung berlari dengan tawa keras. Tapi saat hendak merusak pagar mereka malah terpental jatuh ke belakang. Felix menambahkan kekuatan perisai Cain dengan membenturkan tongkatnya ke tanah membuat perisai emas Cain bercampur dengan sinar hijau dari tongkat emerald Felix.


Teo keluar dari dalam panti dan berteriak membuat Felix, Cain dan Tan kaget, "Ayo maju, kalau berani!" teriak Teo.


"Berisik!" kata Tom memukul kepala Teo.


Felix dan Tan membantu Cain berdiri. Enam iblis masih belum jera dan terus menerus memukul-mukul perisai Cain dan Felix itu.


"Ayo cepat masuk, ada Kramer dan Linn mengintip di luar!" kata Felix.


Luna membuatkan mereka makanan hampir tengah malam. Hanya mereka berlima yang makan di ruang makan yang luas itu.


"Kalian tidak rindu suasana panti?" tanya Luna.


"Rindu! tapi kalau harus memilih ... rasa rindu terkalahkan dengan rasa lelah!" jawab Teo.


Mereka setuju dengan perkataan Teo itu, memang mereka lebih nyaman tinggal di panti tapi perjalanan ke sekolah sangat jauh, terlebih lagi berjalan kaki dari panti ke halte bus yang hanya di kelilingi hutan. Untuk keadaan sekarang akan sangat berbahaya, mereka terpaksa pulang ke panti karena Linn dan Kramer yang mengikuti tidak ingin membuat Rumah Daisy terungkap.


"Felix, kau tidak terlihat sehat ...." kata Luna.


"Hanya flu biasa!" kata Felix.


"Kukira kau tidak mudah kena flu ...." kata Luna.


Tom melirik jam tangannya, "Sudah selesai!"


"Apa yang sudah selesai?" tanya Luna.


"Itu ... acara tv!" Teo membantu Tom mencari alasan. Padahal maksud Tom adalah diri mereka yang lain sudah selesai menukar kematian.


Teo dan Cain membuka smartphonenya yang berisik oleh notifikasi grup. Rupanya teman sekelasnya sedang membagikan kejadian siaran langsung disaat Lander terjatuh. Luna mengintip handphone mereka, "Wah anak SD juga membahas soal beginian!"


"Memangnya anak SD dalam bayangan kakak akan membahas apa?" tanya Cain tertawa.


"Kupikir kalian akan membahas soal film kartun ...." kata Luna membuat mereka semua termasuk Felix tidak bisa menahan tawa.


"Zaman kakak dengan kami berbeda!" kata Tom.


Setelah selesai makan, mereka tidak langsung kembali ke kamar tapi meminum susu hangat dulu dan menonton tv besar yang tergantung di ruang makan. Teo membantu Luna mencuci piring, Cain tiduran di kursi panjang menggunakan paha Tan yang sedang membaca buku sebagai bantal, Tom dan Felix mengisi teka-teki silang yang ada di koran.


Mereka sengaja begadang karena akan berangkat lagi ke stasiun penyiaran untuk mencegah kebakaran terjadi. Goldwin datang langsung di atas dada Cain membuat Cain sesak napas.


"Kau sudah siap?" tanya Goldwin dengan wujud kucing yang menggemaskan.


...-BERSAMBUNG-...