UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.277 - Rencana Jangka Panjang



Laki-laki yang terus membenturkan kepala perempuan itu hanya berbalik menyeringai ke arah mereka sebentar dan kembali melakukan aktivitasnya.


"Kenapa kalian tidak menolongnya langsung?" tanya Mertie.


"Terlalu banyak saksi mata!" jawab Tom.


Orang-orang berdatangan ke lokasi kejadian dan mulai ke arah mobil itu untuk menyelamatkan perempuan itu dan menghentikan laki-laki itu. Polisi juga sudah tiba di lokasi kejadian untuk membantu. Tapi laki-laki itu terus saja menyiksa perempuan itu, bahkan saat berusaha dipisahkan.


"Astaga, apa dia sudah gila?!" begitulah kata orang-orang yang melihat kejadian itu. Hanya itu yang bisa menjelaskan tindakan laki-laki itu, tanpa belas kasihan sama sekali.


"Kemana anak-anak yang pertama melihat kejadian ini?" tanya Polisi.


"Sepertinya mereka terlalu takut dan langsung pergi." jawab salah satu orang disana.


"Hahh?! apa ini? apa yang terjadi?" Laki-laki penghipnotis yang dirasuki oleh Iblis itu mulai kembali sadar.


"Dasar! tidak tahu malu!" Polisi menghajar Laki-laki itu.


"Apa yang terjadi? siapa yang sedang ada di dalam ambulance itu? kenapa tanganku penuh darah? apa aku yang melakukannya? tunggu ... bukankah itu ... Freda? apakah itu Freda?" Laki-laki itu terus saja berbicara sendiri, tidak mengingat apa yang baru saja dilakukannya. Hanya menebak-nebak saja dengan apa yang dilihatnya dan bagaimana orang melihat dan memperlakukannya.


Freda, perempuan itu adalah sosok yang menjadi calon pemilik kalung yang dibelinya tadi itu. Seseorang yang dicintainya dan akan segera dilamar tapi berakhir menjadi seperti ini karena kelakukan Iblis yang tidak bisa dimaafkan itu. Memanfaatkan manusia untuk menyakiti manusia lainnya.


...****************...


Keesokan paginya di ruang makan asrama. Tan, Teo dan Tom sarapan begitupun Mertie tapi di meja yang tidak sama. Kejadian tadi malam sudah beredar di berita, artikel internet dan koran. Pelaku ke 11 langsung ditangkap di lokasi kejadian tapi beruntungnya korban tidaklah meninggal. Lukanya sangatlah serius dan masih belum sadarkan diri tapi beruntung tidak bernasib sama dengan korban sebelumnya. Yang menjadi topik pembicaraan hangat adalah, korban itu merupakan tunangan dari pelaku.


Pelaku ke sebelas ini dimasukkan dalam list Pelaku Lupa Ingatan jenis baru. Karena korbannya adalah sosok yang dekat dari pelaku, diduga sebagai dendam pribadi. Tapi pengakuannya yang mengatakan bahwa dia tidak ingat sama sekali perbuatannya masih sedang diperiksa kebenarannya, "Alasan! bilang saja kalau kau memang ingin membunuhnya." komentar teratas di sebuah artikel internet.


"Kita tidak akan dicari kan?" tanya Teo.


"Semua cctv mati jika berada di sekitar Iblis itu, tidak mungkin kita ditemukan ...." jawab Tom.


"Kita berharapnya begitu, karena kalau ketahuan kitalah yang menjadi saksi ... bisa-bisa 100 poin kita akan melayang begitu saja, karena keluar dari asrama diam-diam dan pergi ke mall." kata Tan.


"Ada apa dengan dia?" tanya Seseorang yang mulai bergabung.


"Felix! kau sudah datang ... kupikir kau tidak akan kembali karena sudah menggunakan Gerbang Ruleorum untuk kami pakai." kata Tan.


"Ah, dia ... merasa bersalah karena mengejar orang yang salah. Menurutnya, yang terjadi pada perempuan itu adalah salahnya ...." kata Teo.


Felix diam sejenak memandang Mertie tapi dipukul belakang kepalanya oleh Teo.


"Aw! untuk apa itu?" tanya Felix.


"Jangan biasakan membaca pikiran seseorang, kau kan bisa menanyakannya pada kami! dan juga ... kau ini dipukul begini saja merengek tapi kalau bertarung dengan Iblis tidak kenal sakit sama sekali ... aneh!" kata Teo.


"Aku kan perlu tahu apa yang terjadi kemarin secara detail ... dan kalau bertarung, kena serangan itu sudah biasa karena kita mendapatkannya karena kesalahan kita tapi kau memukulku tanpa adanya perkelahian sama sekali ... bagaimana aku bisa tahu apa yang sedang terjadi? bagaimana aku tahu kalau aku pantas mendapatkan pukulan itu?!" kata Felix.


"Kau ini cerewet sekali!" kata Tom.


"Ambil sendiri!" kata Tom menarik kembali piringnya.


"Kau yang ambil ulang!" kata Felix malahap makanan Tom dengan cepat.


Mertie terlihat terus-terusan murung seharian. Terlihat sedang membaca buku di perpustakaan tapi belum pernah sekalipun dia membalik halaman bukunya.


"Kau tidak apa-apa?" tanya Tan yang mulai duduk disebelah Mertie.


"Sejenak kupikir yang datang adalah Cain ... biasanya hanya dia yang selalu ada di perpustakaan." jawab Mertie.


"Bukannya kau mengharapkannya datang, makanya kesini?" tanya Tan.


"Biasanya, dia yang akan datang menghiburku walau dengan cara yang menyebalkan." jawab Mertie.


"Cain, memang begitu kan? dia selalu saja ikut campur dengan masalah orang lain ...." kata Tan.


"Aku saja merindukannya ... apalagi kalian yang teman dekatnya. Sebenarnya kenapa dia pergi? bukankah dia juga memiliki kekuatan yang sama seperti kalian ... apa ada sesuatu yang tidak kuketahui?" tanya Mertie.


"Bahkan dia memiliki kekuatan yang sangat hebat melebihi kami semua." hanya itu yang bisa dijawab oleh Tan.


"Ada alasan khusus rupanya ...." gumam Mertie.


"Kau tidak perlu tahu secara detail, karena cepat atau lambat Cain akan kembali ... pasti! aku hanya ingin memberitahumu bahwa yang kemarin itu bukan salahmu, Iblis memang ahlinya membuat seseorang merasa bersalah. Saat kau merasa bersalah, saat itulah Iblis itu menang. Jangan membuat Iblis menjadi pemenangnya apalagi menang dua kali, membunuh dan kali ini membuat pikiran kita kacau ... kita tidaklah bersalah sama sekali dengan kejadian kemarin, bahkan mungkin saja perempuan kemarin itu sudah ditakdirkan akan mengalami kecelakaan besar hanya saja yang membuatnya terluka berubah menjadi laki-laki yang kemarin ... semuanya sudah ditakdirkan. Begitulah yang diajarkan Felix pada kami agar tidak terlalu merasa bersalah ... dan sepertinya akulah yang harus mengajarkan itu padamu." kata Tan.


"Kalian itu berani dan hebat sekali. Siapa yang akan mengira kalau anak 12 tahun bisa bertarung melawan Iblis tanpa ketakutan sama sekali. Terimakasih ... berkat kalian, aku sadar bahwa di dunia ini bukan hanya manusia yang tinggal. Bahkan bukan hanya ada satu dunia tapi masih ada dunia lainnya yang tidak diketahui ... kali ini giliranku yang melakukan sesuatu. Rencana jangka panjang ini mungkin akan memakan waktu lebih lama dari perkiraanku tapi pasti aku bisa mewujudkannya." kata Mertie.


"Tanpa ketakukan? tentunya tidak. Kami ketakutan sekali, tidak bisa menebak kalau saat itu mungkin kami akan mati atau terluka parah. Tapi ada Felix yang selalu menjaga kami ... perkataan ini akan sangat dibenci oleh Cain pastinya karena bagi Cain sebaliknya kamilah yang harus menjaga Felix ... aku percaya pada Felix, makanya aku bisa terus bertahan sampai saat ini." kata Tan.


"Apa Felix itu sehebat itu?" tanya Mertie.


Tan menjawab pertanyaan itu hanya dengan senyuman, "Rencana jangka panjang apa maksudmu tadi?"


"Kau tidak perlu tahu, tapi saat waktunya tiba ... kau akan tahu itu adalah aku yang membuatnya." kata Mertie.


"Membuat? semacam teknologi baru? yang kau maksud menggabungkan fantasi dan sains itu?" tanya Tan.


"Ya ... itu!" sahut Mertie.


"Aku tidak tahu apa yang kau rencanakan tapi jika itu kau rasanya aku bisa berekspektasi tinggi." kata Tan.


"Simpan pujianmu itu, oh iya ... aku ingin merahasiakannya sampai benar-benar selesai tapi kurasa tidak bisa karena sepertinya Felix bisa membaca pikiran seseorang ...." kata Mertie tiba-tiba membuat Tan memelototkan matanya.


"Ow, waktu istirahat sudah hampir selesai. Aku pergi dulu ya ...." kata Tan buru-buru pergi.


"Dia sama sekali tidak menyangkal ...." kata Mertie menyipitkan matanya dan kepalanya saat ini penuh dengan pertanyaan.


...-BERSAMBUNG-...