UNLUCKY

UNLUCKY
Ch.293 - Petaka Tidak Jujur



Setelah liburan pendek, tahun ajaran baru resmi dimulai lagi. Itu tentunya menandakan kelas baru lagi. Semuanya sedang duduk di kantin untuk menunggu pemberitahuan masuk lewat smartphone masing-masing, dengan notifikasi bahwa ditempatkan di kelas mana tahun ini.


Felix yang tidak memiliki handphone dan Tiga Kembar hanya memiliki satu handphone yang digunakan bersama harus bergantian memeriksa dengan memasukkan username dan password di web sekolah.


Bagi yang sudah mengetahui ditempatkan di kelas mana, segera bergegas menuju kelas untuk mendapatkan tempat duduk terbaik.


Tan yang duluan memeriksa kelasnya, "6-1!" katanya sambil mengoper handphone.


"Wah ... kau masuk kelas 6-1 lagi?!" kata Teo melongo karena belum pernah masuk kelas 1 sebelumnya. Walau Gallagher bukan berdasarkan peringkat tapi menurutnya angka 1 itu adalah angka terbaik.


"Felix yang mendapat nilai tertinggi saja tidak pernah di kelas 1, jadi jangan mengkategorikan bagusnya kelas dari angka!" kata Tan.


"Aku juga 6-1!" teriak Teo setelah login masuk dan melihat pemberitahuan di akunnya.


"Wuuuuuuh!" seru Tan ikut senang dan merangkul Teo.


"Tadi kau bilang sendiri kalau kelas bukan karena angka!" Tom menatap Tan yang seperti lupa akan perkataannya sendiri yang bahkan belum lewat lima menit itu.


"Aku hanya senang bisa satu kelas dengan Teo!" kata Tan membela diri.


"Bagian 1, tingkat 1!" Teo membanggakan dirinya yang diikuti Tan juga.


"Ck, kalian berdua!" Tom sebal dan mulai masuk dengan akunnya kali ini.


"Jadi, kau masuk kelas mana?" tanya Tan.


"6-4 !" sahut Tom langsung mengoper handphone ke Felix.


Teo dan Tan saling lirik dan menahan tawa.


"Jangan tertawa!" Tom melemparkan sepatunya tapi menyebalkannya tidak ada yang mengenai mereka berdua karena berhasil menghindar. Bukannya lega tapi malah tambah kesal karena harus memungut sepatunya kembali tanpa hasil.


"Ayo, Tom!" kata Felix berdiri.


"Hem? kau sudah mengecek kelasmu?" tanya Tom.


"Kita sekelas!" kata Felix.


"Huh?" Teo dan Tan berhenti tertawa.


"Felix yang memiliki nilai tertinggi di angkatan kita berada di kelas yang sama denganku ... 6-4 adalah kelas terbaik sepertinya!" Tom akhirnya bisa memulihkan harga dirinya dan memasang sepatunya dengan bangga.


Tan dan Teo merasa rendah diri setelah mengetahu bahwa Felix dan Tom sekelas.


"Sudah semua? hehh? tidak ada Dea?!" Tom tertawa karena biasanya dimana ada Felix disitu ada Dea.


"Kau tidak dengar ya, kalau kemarin itu dia membayar sekolah untuk ditempatkan di kelas yang diinginkannya. Sekarang sepertinya sekolah sudah tidak bisa menerima lagi uang sogokan ... lagipula penempatan kelas di sekolah kita adalah sesuatu yang menjadi misteri dan tidak seharusnya dikacaukan oleh anak sepertinya." kata Parish.


"Misteri?! kau juga terlalu melebih-lebihkan ...." kata Tom tertawa kecil.


"Ini tahun terakhir kita di SD, sangat menyenangkan bisa tidak sekelas dengannya!" kata Felix.


"Haha ... kupikir kau tidak terlalu memperdulikannya? ternyata kau juga merasa terganggu dengan kehadirannya ya?" tanya Tom.


Pak Egan masuk ke dalam kelas membuat beberapa anak bersorak tidak suka, "Bapak lagi?!"


"Jangan khawatir, bapak lebih bosan lagi daripada kalian ...." kata Pak Egan.


Felix dan Tom duduk sebangku di sebelah kiri ruangan kelas bagian depan dekat jendela. Felix yang menginginkan itu dan Tom hanya menurut saja. Padahal biasanya Felix suka duduk di bagian tengah atau bagian belakang. Karena tidak suka terlalu mencolok duduk di depan.


Bel pulang sekolah disertai dengan pengumuman untuk pengambilan seragam baru diumumkan. Setelah pengumuman di speaker sekolah berhenti terdengar suara anak perempuan yang sedang protes dengan nada tingginya.


Felix tahu siapa pemilik suara itu dan hanya mengabaikannya saja karena tidak ingin menjadi fokus dan malah masuk lebih dalam membaca pikirannya. Selama ini Felix selalu menahan dirinya untuk tidak membaca pikiran Dea.


Dea saat ini sedang protes karena ingin masuk ke kelas 6-4 yang merupakan kelas yang sama dengan Felix.


"Dea ... lama-lama aku jadi takut dengannya!" kata Tom terlihat bergidik ngeri, "Kau pasti tahu kan kenapa dia begitu dengan membaca pikirannya?" tanya Tom menyeringai, "Tapi sebenarnya tanpa itupun sudah sangat jelas ...."


"Aku tidak pernah membaca pikirannya!" kata Felix.


"Benarkah? kenapa? kau tidak penasaran?" tanya Tom dengan ekspresi meledek.


Felix meninggalkan Tom setelah melihat ekspresi menyebalkannya itu yang sering dilihatnya dari Cain sebelum-sebelumnya. Felix menuju tempat pengambilan seragam baru. Tom mengikut dibelakang Felix dan tidak sengaja berpapasan dengan Tan dan Teo.


"Kali ini pola apa ya?" tanya Teo tidak sabar.


Pola gambar seragam baru tahun ini bertambah. Tapi masih belum jelas pola apa yang dimaksud.


"Jadi, pola ini hanya bisa kita dapatkan kalau selesai SMA disini ya bu?" tanya Tom.


"Tentu saja, kalau kalian misalkan pindah sekolah ya ... kalian tidak akan tahu pola apa yang akan muncul. Jadi tetap di Gallagher saja kalau penasaran." jawab Bu Janet yang membantu membagikan seragam, "Kalian yang penerima beasiswa kan?" tanya Bu Janet kemudian.


"Iya bu!" sahut Tan.


"Perlengkapan sekolah kalian yang lain sudah ada di depan kamar asrama kalian." kata Bu Janet.


"Biasanya dikirim ke panti ... sekolah jadi hemat biaya kirim." kata Teo bercanda.


Mereka kembali ke asrama dan melihat boks di depan pintu kamar asrama. Felix membawa masuk boks itu dan hanya menaruhnya tanpa tertarik untuk membuka. Tidak seperti Tiga Kembar yang langsung membuka boks setelah masuk ke dalam kamar.


"Wah, kali ini bukan hanya buku dan alat tulis tapi tas juga ada." kata Teo begitu bahagia.


"Apa karena biaya kirimnya ya? jadi karena merasa bersalah menambahkan satu item untuk mengisi biaya." gumam Tan.


***


"Masih jam 11 siang, kalian tidak ada rencana masuk ke Mundebris?" tanya Felix lewat Jaringan Alvauden.


"Kami sudah masuk!" jawab Tiga Kembar kompak.


Felix mengira mereka bercanda tapi setelah memeriksa aura mereka memang pudar dua kali lipat yang menandakan memang mereka sedang ada di Mundebris.


"Teo, kau tidak menemani Mertie?" tanya Felix.


"Setelah Purgaedis, mana mungkin akan ada yang terjadi dalam waktu dekat ...." kata Teo santai.


"Kita tidak boleh lengah sedikitpun juga ... bukankah sudah aku bilang kalau efeknya hanya akan sebentar." kata Felix.


"Kau terlalu merendahkan dirimu sendiri Felix, percayalah pasti efeknya akan bertahan lama!" kata Tom.


"Iya, Felix ... jangan khawatir!" kata Tan.


"Kalian ini!" Felix kesal bukan main tapi tidak bisa juga memberitahu mereka yang sebenarnya yang bisa membuat mereka tambah khawatir.


...-BERSAMBUNG-...